
Dibalkon rumah Hyunjie, selagi menunggu Hyunjie yang tengah bersiap dikamarnya, Jiso dan Keenan melakukan percakapan sederhana layaknya sepasang teman baik, seraya menikmati teh hangat yang Keenan buat untuk Jiso.
“apa kau akan ikut menemani kita shopping?” tanya Jiso mengawali percakapan.
“enggak..” jawab Keenan dingin.
“kenapa? bukannya kau juga tidak ada kegiatan dirumah.” Jiso tampak sangat kecewa.
“aku akan bermain basket di kompleks, sebentar lagi Joe datang.” Ujarnya seraya menyesap teh hangatnya.
“begitu, amm Keenan.. sebentar lagi kita akan lulus ada hal yang..”
“tunggu..” Ucap Keenan menaikan nada suaranya juga memotong kalimat Jiso.
“biarkan aku menyukaimu..” sambungnya lagi dengan mempercepat nada suaranya.
Dan hal yang Keenan takutkan menjadi nyata, berusaha mungkin Keenan menghentikan Jiso, namun sepertinya Jiso tak perduli gadis itu tetap membulatkan tekadnya untuk mengungkapkan isi hatinya kali ini.
Keenan tersenyum smirk sebelum merespon ungkapan Jiso.
“kau tahu aku tak pernah menganggapmu sebagai wanita, dari awal kita bertemu hingga sampai saat inipun kau masih seperti adik perempuan bagiku.” Papar Keeenan.
“tak masalah jika kau tak meresponnya, hanya biarkan aku yang menyukaimu kumohon.” Pinta Jiso yang masih berusaha meraih cintanya.
“aku tidak bisa.” Tegas Keenan lengkap dengan raut wajah seriusnya agar Jiso mengerti jika Keenan tidak sedang bermain-main.
“ini gak adil! Kau bisa bersama Jennie kenapa tidak bersamaku?! Aku yang lebih dulu mengenalmu aku juga yang lebih lama didekatmu tapi kenapa harus Jennie?” serunya seraya menatap tajam kedua mata Keenan.
“tak ada pertemanan setelah cinta, kau ingin mengorbankan pertemanan kita hanya karena emosimu sesaat, Jika cinta itu tak berhasil kau fikir kita masih bisa berteman?”
“maafkan aku Keenan, tapi aku sudah sejauh ini aku tak ingin kembali atau menyerah, karena kau sendiri yang bilang dulu, jika aku harus mengejarnya dan aku sudah siap untuk konsekuensinya. Aku tak ingin terluka karena perasaan yang terus ku pendam.” Katanya lagi masih tetap ingin pada pendiriannya.
“jadi aku cinta pertama yang pernah dia ceritakan.” Batin Keenan. “ aku memiliki seseorang yang kutunggu.” Keenan bergumam.
“aku tak perduli! Kau ingat kau juga dulu yang menyuruhku untuk menghancurkannya.” Balas Jiso dengan dipenuhi ambisi yang menggebu-gebu dalam hatinya, ia tetap tak ingin mundur begitu saja, setelah apa yang sudah ia mulai.
“kenapa kau bertindak sampai sejauh ini..” Keenan kembali bergumam seraya memandangi wajah temannya itu lekat.
“karena sikapmu yang membuatku yakin, setidaknya kau memiliki sedikit perasaan untukku hanya saja kau yang tak menyadarinya. Hal-hal sepele seperti perhatianmu, caramu menjagaku juga menghiburku itu semua sudah cukup membuatku yakin untuk mengambil langkah pertama agar kau bisa menyadari perasaanmu padaku.” Jelasnya.
Sontak membuat Keenan membulatkan kedua matanya, sebab apa yang telah difikirkan gadis itu tentang bagaiamana situasinya adalah hal yang sangat keliru.
“ayo Jiso tante sudah siap..” seru Hyunjue dari dalam.
Merasa sudah cukup apa yang harus ia katakan pada Keenan, ia pun pergi menghampiri Hyunjie ke dalam.
“iya tante aku datang,” begitu Jiso berbalik berjalan masuk ke dalam, Keenan pun ikut memutar tubuhnya untuk memperhatikan langkah kecil Jiso.
“kau keliru mengartikan sikapku padamu, jika kau terus seperti ini mungkin aku harus mengatakan alasan yang sebenarnya padamu nanti.” Gumam Keenan.
***
“aku harus pulang dulu untuk mandi dan mengganti pakaianku tante, gpp kan?” ucap Jiso yang berjalan mendekati Hyunjie.
“tentu , ayoo kita pergi sekarang.”
“okee.. let’s goo!!”
***
Kembali ke kediaman Reza, terlihat Andheera tengah berjalan-jalan diruang tamu seraya mengedarkan pandangannya mencoba mencari seseorang dengan raut wajanhnya yang kebingungan.
Sampai bi dharma pun memutuskan untuk menghampiri Andheera dan menanyakan apa yang sebenarnya Andheera cari.
“apa ada yang bisa bibi bantu nona?” ujar bi Dharma.
“kakak ku pergi kerja? Bukannya ini akhir pekan.” Kata Andheera.
“ooh den meda, den meda bilang ada yang harus diselesaikan di kantor jadi tadi den meda langsung buru-buru pergi tadi.” Jawabnya ditambah senyum ramah diakhir kalimatnya.
“huhh.. yaudah kalau gitu aku juga pergi bi, tolong sampaikan pada kakak ku, aku akan pulang telat bye.” Ujarnya kemudian pergi begitu mengetahui keberadaan kakaknya.
“baik nona, hati-hati.” Sahut bi Dharma.
***
Begitu memutuskan tempat yang akan ia tuju, ia langsung bergegas membawa sepedanya dari garasi lalu mulai mengayuh keluar dari halaman rumahnya, sembari menyenandungkan sebuah lagu untuk mengiringi perjalanannya ke tempat yang akan ia tuju.
Selang 20 menit, akhirnya Andheera sampai di tempat tujuannya yang tak lain adalah Toko komik tempat Brian bekerja part time.
Gadis remaja itu memarkirkan sepedanya dengan baik kemudian melangkah masuk ke dalam toko komik, sembari menebar senyum manisnya ia menyapa Brian yang tengah melayani seorang pelanggan.
“hay Kak Brian..” sapa Andheera seraya melambaikan tangannya dan berjalan ke samping meja kasir untuk menunggu Brian melayani seorang pelanggan.
“hay juga Andheera, kau mau beli komik?” Brian membalas sapaan Andheera lengkap dengan box smile nya yang tak kalah menggetarkan hati Andheera.
“tidak, aku ingin mengajak kak Brian makan siang, kapan shift kakak berakhir?”
“hanya 1 jam lagi, tapi..”
“tenang aja kali ini aku yang traktir, kayaknya di depan ada resto yang baru saja dibuka, mau makan disana aja?” ujarnya seraya melirik ke arah resto yang baru saja buka di seberang toko komik.
“okee.” Responnya masih dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya.
“hay kak Brian!!” sapa seorang gadis remaja yang tiba-tiba ikut bergabung ke dalam percakapan Andheera dan Brian lengkap dengan senyum lebarnya ia berjalan menghampiri Brian.
Andheera sedikit bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
“aku hanya mampir selagi mengantar pesanan Roti.” Katanya lagi seraya menunjukan beberapa kantung yang berisikan roti-roti hangat juga minuman dingin di satu tangannya yang lain.
“begitu,” respon Brian seadanya.
“siapa?” timbrung Andheera karena merasa diabaikan.
“Jessy Fans pertamaku hihihi.” Ungkapnya diselingi dengan tawa renyahnya.
“tunggu, kau seperti..”
Belum sempat Andheera menuntaskan kalimatnya, “ayooo Jessy!! pesanan kita belum beres.” Seru seseorang yang tampak seumuran dengan gadis remaja tadi masuk ke toko untuk mengingatkan temannya.
“Ben!” gumam Andheera seraya memandangi wajah keponakannya itu seakan tak percaya jika yang dihadapannya kini adalah Ben keponakannya.
“noona kok bisa disini?” sahut Ben yang juga terkejut melihat Andheera.
“harusnya aku yang bertanya sejak kapan kau pindah ke Jakarta? Kenapa tidak menemuiku jika kau ada disini.”
“kalian saling kenal?” giliran Jessy yang kali ini kebingungan.
“dia sepupuku, Andheera noona.” Ujar Ben, yang mencoba memperkenalkan Andheera pada teman sekolahnya.
“noona?” timpal Brian yang tak mengerti.
“aah noona itu panggilan kakak perempuan dalam bahasa korea, noona yang menyuruhku untuk memanggilnya begitu.” Ben menjelaskan.
“jadi kakak seorang KPOPers? Waaah senang berkenalan denganmu eonni.” seru Jessy seraya mengulurkan lengannya untuk mulai berkenalan secara resmi.
“aah iya.. Andheera.” balas Andheera sedikit canggung.
“oiya tadi kau bilang mengantar pesanan roti, apa kau sedang bekerja part time Ben?” setelah berkenalan dengan Jessy ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Ben.
“aamm sory apa kalian bisa ngobrol di dalam saja, kalian menghalangi pelangganku.” Potong Brian melihat beberapa pelanggannya terlihat menunggu dibelakang sebab terhalang oleh gerombolan teman-temannya.
“ohh sory-sory ayo kita kesana.” ajak Andheera seraya menarik lengan Ben.
“tunggu noona tapi aku harus mengantar pesanan dulu.” kata Ben.
“begitu, yaudah ayo noona bantu ada berapa pesanan lagi memangnya?” Andheera memutar langkahnya dan berjalan keluar seraya merangkul Ben, gadis itu berniat untuk membantu Ben dan Jessy mengantar pesanan.
“aku pergi dulu sebentar kak.” ujar Andheera saat hendak membuka pintu toko, Brian hanya merespon dengan kedua jari jempol dan telunjuk membentuk tanda oke lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada beberapa pelanggannya.
***
Mall Matalari di Yogyakarta.
Keduanya tengah asyik memilih pakaian sembari saling memberi pendapatnya tentang pakaian yang dipilih.
“tante..” tiba-tiba nada suara Jiso berubah menjadi lebih serius.
“iya sayang kenapa?” respon Hyunjie lembut masih melihat-lihat baju yang digantung.
“tante tahu kriteria perempuan yang disukai Keenan?”
“amm tante rasa Keenan menyukai gadis manis sepertimu.” Goda Hyunjie seraya menyentuh dagu Jiso untuk menunjukan rasa kasih sayangnya.
“tapi..”
“tunggulah mungkin sekarang ini Keenan sedang fokus pada pendidikannya, kau tahukan mendaftar kuliah di Sevit University itu tidak mudah, lagipula kalian juga masih sangat muda, tante dulu mulai berkencan saat tante kuliah lho hehe, kau hanya perlu terus disampingnya agar dia sadar tidak ada gadis yang lebih baik darimu.” Kata Hyunjie lengkap dengan nada lembut seorang ibu pada umunya.
“terimakasih tante sudah mendukungku.”
“tentu, itu karena tante sangat menyukaimu Jiso karena kau sangat manis dan menggemaskan.” Hyunjie mencubit pelan pipi Jiso seraya tersenyum lebar ke arahnya seolah ia benar-benar telah menemukan seorang menantu idaman untuk putra lelakinya.
***
Sementara itu di lapang basket Kompleks Keenan, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya Keenan akan bermain basket bersama dengan Joe.
Setelah menunggu Joe selama kurang lebih 30 menit karibnya itu muncul dengan senyum cerahnya menghampiri Keenan yang sudah lebih dulu bermain sendiri.
“hanya kita berdua? Kau tak mengajak yang lainnya juga.” Ujar Joe yang baru saja datang menghampiri Keenan di lapang basket.
“tidak, mereka sibuk belajar ditempat les.” Sahutnya seraya mendrible bola basketnya kemudian mencoba shott pertama.
“iya juga sih, diantara team kita hanya kau yang serius dengan bidang ini, sedangkan yang lain hanya menjadikan basket sebagai hobi.” Imbuhnya seraya memandangi Keenan yang tengah asyik bermain sendiri.
“bagaimana denganmu? Apa kau juga menjadikan basket hanya sebagi hobi?” tanya Keenan kemudian berhenti sesaat sembari memegangi bola basketnya menunggu jawaban dari temannya itu.
“tentu, aku masuk team basket karena Ibuku yang menginginkannya, Ibuku bilang aku harus lebih laki-laki jadi aku terpaksa masuk team basket huh.” gerutunya seraya mendengus kesal.
“HEY! jika kau tidak ikut-ikutan jadi Fanboy, ibumu tak akan mungkin menyuruhmu untuk bergabung dalam team basket.” Balas Keenan kemudian melempar bola basket kearah Joe tanda ia ingin memulai permainan basket dan mengakhiri percakapannya.
“semua orang memiliki cara berbeda untuk kebahagiaannya kan.” Sahut Joe dengan senyum smirk nya, ia mendribel bola yang baru saja ia terima dari Keenan.
“apa sih yang kau sukai dari mereka, wajah mereka semua palsu hahaha.” Ledek Keenan sembari mencoba merebut bola dari Joe yang akan membawanya ke dalam ring.
“Shitt!! Ku doakan kau menyukai cewe seorang Fangirl!!”
“HAHAHAHAA!!” Keenan membalas perkataan temannya itu dengan ledakan tawa yang membuat Joe semakin geram.
Begitulah awal dari persaingan sengit diantara Keenan dan Joe, emosi Joe yang meluap-luap karena Idolanya di ledek oleh Keenan membuatnya tak terima hingga terjadilah kompetisi permainan basket dengan ditambah bumbu kekerasan, sebab mereka berdua saling menyikut dan mendorong tak ada satupun yang mau mengalah.
***