To My Youth

To My Youth
BAB 65



Keesokan harinya, di area sekitar taman kota.


Saat Brian tengah mengenderai sepeda milik Ben, kedua matanya langsung tertuju pada seorang gadis yang tengah terduduk di bangku taman lengkap dengan setelan training berwarna pink.


                “apa kau sedang berolahraga..?” tanya Brian yang menyempatkan waktunya untuk menyapa teman kecilnya itu.


                “ahh.. kak Brian..” responnya seraya menatap wajah Brian. “iyaa mau diet hehe..” tambahnya lagi.


                “hmm..” Brian turun dari sepeda serta memarkirkannya dipinggir, agar ia bisa duduk mengobrol dengan Vivian meskipun hanya beberapa menit.


                “apa kau sudah siap dengan keputusanmu..?” lanjur Brian yang sudah duduk disamping Vivian.


                “iyaa, jika pertunangan kita berlanjut, mimpimu itu tak akan bisa diwujudkan.” Sahutnya dengan nada lirih serta mengarahkan pandangannya pada kedua sepatu ketsnya.


                “amm.. Vivian..” panggil Brian yang membuat Vivian menoleh kearahnya kembali.


                “tahun depan, aku akan menemanimu mengunjungi kedua orang tuamu, seperti sebelum-sebelumnya yang selalu kita lakukan, saat kau masih berada di panti Cameron.” Ujarnya seraya mengusap lembut kepala Vivian lengkap dengan tatapan lembutnya.


Tak tahan dengan suasana haru itu, Vivian akhirnya menghambur ke dalam pelukan Brian untuk mencoba menyembunyikan tangis pilunya dalam dekapan hangat Brian.


Merasa tak keberatan sama sekali, Brian malah melanjutkan mengusap lembut kepala gadis malang tersebut.


***


Kembali ke kediaman Reza alvarhez.


Seorang gadis berparas cantik juga ditunjang dengan tubuhnya yang ideal tengah menuruni tangga, seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan seolah tengah mencari sesuatu.


                “apa ayah dan kakakku masih di ruang makan..?” tanya Andheera saat salah satu asisten rumah tangganya yang tak lain adalah mira berjalan melewatinya sembari membawa beberapa alat kebersihan.


                “iyaa nonna, tak ada yang  berani membangunkannya.” Jawabnya seramah mungkin.


                “hmm.. tolong buatkan sup tauge untuk ayah dan kakak ku, juga sampaikan pada mereka kalau aku tak akan pulang hari ini, aku akan menginap dirumah temanku.” Katanya lalu pergi setelah menerima anggukan dari sang asisten rumah tangganya.


***


Berbeda dengan hari ini, Andheera lebih memilih untuk pergi memakai angkutan umum yaitu Busway karena ia akan pergi ke tempat yang sedikit jauh dari kediamannya.


Setelah 10 menit berlalu..


Ia melihat sosok yang tak asing muncul dari pintu masuk, buru-buru ia pun memalingkan wajahnya agar seseorang yang dikenalnya itu tidak menyadari dirinya sudah ada di dalam bus tersebut.


Namun usaha yang dilakukan Andheera sia-sia, ternyata temannya itu bisa menemukannya meski setengah wajahnya sudah ia sembunyikan.


                “Hey, kau mau kemana..?” sapa Anha yang kemudian duduk disebelah Andheera.


                “siapa yaa..?” sahut Andheera yang berpura-pura tak ingin kenal dengan gadis yang duduk disampingnya.


                “ciihhh..! aku penasaran bagaimana mungkin Vivian mau berteman baik dengan gadis kasar seperti mu hehe.”


Meski sebenarnya Andheera tak ingin perduli dengan teman sekolahnya itu, pandangannya tetap tak bisa lepas dari bucket bunga yang tengah digenggamnya erat.


                “aku akan mengunjungi ayahku..” paparnya mencoba menjawab rasa penasaran Andheera yang tak bisa ia utarakan.


                “apa kau tahu kecelakaan tragis 11 tahun yang lalu, yang banyak memakan puluhan korban jiwa, salah satunya adalah ayahku.” Tambahnya lagi seraya mencoba tersenyum didalam luka masa lalu yang kelam.


***


Sesampainya di tempat tujuan, yaitu di Kolumbarium/rumah abu, mereka berdua berjalan beriringan sebab tujuan mereka sama, yaitu ke tempat pemakaman masal yang kini telah dijadikan sebuah tugu untuk menghormati para korban kecelakaan pada saat itu.


Selagi Anha menaruh bunga serta mendoakan mendiang ayahnya, Andheera hanya terdiam dibelakang sembari memperhatikan temannya dengan tatapan lirihnya.


                “Andheera..!” seru Yerim yang tiba-tiba muncul dari belakang lengkap dengan bucket bunga seperti yang Anha bawa barusan.


                “apa anggota keluargamu juga ikut terlibat dalam kecelakaan tragis 11 tahun silam..?” sambungnya mencoba menyimpulkan sendiri.


                “iyaa..” sahutnya.


                “lalu kenapa kau hanya berdiri disini, ayoo..” ajak Yerim seraya menarik lengan Andheera, namun sepertinya Andheera lebih ingin menatapnya dari jauh saja ketimbang harus mendekati area tugu tersebut.


                “kau saja..”


                “ahh begitu, baiklah, aku kesana dulu yaa.” Ujar Yerim yang kemudian menyusul Anha yang sudah lebih dulu berada di area tugu tersebut.


Meski sebenarnya kematian ibunya bukanlah diakibatkan oleh kecelakaan tersebut, namun tetap saja jika kecelakaan itu tidak terjadi, ibunya tidak akan koma dirumah sakit dan insiden mengerikan itu pun tidak akan pernah terjadi pada ibunya.


Seolah ada yang tengah mengawasinya, kedua mata tajam Andheera langsung menemukan seseorang yang diduga telah memperhatikan dirinya sedari tadi dari kejauhan.


Begitu Andheera menatapnya sontak gadis tersebut membalikan tubuhnya serta berniat pergi untuk menghindari Andheera.


Tak ingin membiarkannya begitu saja, berusaha mungkin Andheera mengejarnya lalu meninggalkan kedua temannya yang masih khusuk mendoakan keluarganya masing-masing hingga tak menyadari kepergian Andheera.


Di atap Kolumbarium.


Gadis tersebut yang tak lain adalah Tsuyu adik dari Kimbrain, masih tak sadar jika Andheera berhasil mengejarnya sampai ke atap, Tsuyu berjalan perlahan menuju dinding pembatas kemudian berusaha untuk menaiki dan duduk didinding pembatas tersebut.


                “kau tidak kembali ke Inggris..?” tanya Andheera yang membuat Tsuyu refleks menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang datang.


                “hehee.. ku kira, kau sudah kehilangan jejakku, ternyata kau berhasil menemukanku.” Responnya yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan Andheera.


                “tanganmu baik-baik saja..?” tanya Andheera lagi yang beralih pada lengan Tsuyu yang terbalut kain kassa.


                “ahh ini.. iya tentu aku sudah mengobatinya, ngomong-ngomong kau kenal dengan kakakku..?” giliran Tsuyu kali ini yang mengajukan pertanyaan.


                “kita satu sekolah.” Sahut Andheera.


                “Kirin School..?” ucap Tsuyu memastikan.


                “iyaa.” Respon Andheera singkat.


Suasana kembali canggung saat Tsuyu memilih untuk kembali membalikan tubuhnya dan memandangi area bawah Kolumbarium, lebih tepatnya pandangan gadis itu mengarah pada tugu besar sebagai symbol penghormatan para korban kecelakaan, seperti ada yang tengah disembunyikannya, ia hanya terdiam dan terus menatap ke bawah dengan sorot mata penuh luka.


Sampai..


                “itu bukan salahmu..” ucap Andheera yang membuat Tsuyu sontak membulatkan kedua matanya dan perlahan menoleh kembali memandangi Andheera dengan penuh tanda tanya.


                “ibumu yang menyebabkan semua itu terjadi bukan..? dan ayahmu yang menutupinya haha.. sungguh keluarga yang mengerikan.” Lanjutnya lagi yang semakin membuat Tsuyu gelisah dan gugup.


                “lalu apa alasanmu menghindari Brian dan Andromeda..?” tanya Andheera mengubah topik pembicaraannya.


                “kau tak akan mengerti juga tak akan percaya padaku, karena keluarga ku sendiri pun tidak pernah mempercayai apa yang ku katakan.” Lirihnya seraya menundukan pandangannya untuk kembali memandangi area bawah.


                “apa ibumu terlihat seperti monster yang mengerikan, dan hanya padamu dia menunjukan jati dirinya yang sebenarnya..?” tebak Andheera.


                “bagaimana kau bisa tahu..?” Tsuyu kembali menoleh kebelakang.


                “aku melihatnya, ibumu.. sepertinya memiliki penyakit mental atau bisa dibilang seorang psikopat, bagaimana mungkin dia terlihat baik-baik saja setelah membunuh puluhan orang yang tak bersalah.


Sudah jelas bukan..? dia sakit jiwa..!” Andheera menekankan pada 2 kata dalam kalimat terakhirnya, seraya menatap tajam gadis mungil yang tengah terduduk disebelahnya.


                “apa kau menatap matanya..?” respon Tsuyu dan Andheera hanya mengangguk untuk menanggapinya.


Itulah sebabnya lebih baik aku menjauhi Andromeda aku tak ingin ibuku sampai bertemu dengannya.” Tuturnya lagi lengakap dengan tatapan yang menyedihkan.


                “apa kau keberatan jika ibumu aku kirimkan ke rumah sakit jiwa..?” tanya Andheera.


                “hahaa, kau bercanda..?! kau fikir kau bisa mengatasi orang sepertinya, kau hanya anak-anak sama sepertiku.” Sahut Tsuyu yang meremehkan Andheera.


                “tentu tidak sendiri, kau juga akan ikut andil dan mungkin akan sedikit terluka.” Tambahnya seraya menunjukan senyum smirknya.


                “bagaimana caranya..?” tanya Tsuyu yang mulai tertarik dengan ajakan Andheera.


                “akan kufikirkan nanti..


BTW kau tak jadi melompat..?” goda Andheera lengkap dengan senyum penuh arti.


                “aku.. aku hanya sedang menikmati pemandangan dari sini kok, siapa bilang aku akan melompat.” Dalih Tsuyu.


                “tidak, aku hanya menyarankan jika ingin bunuh diri seharusnya kau mencari tempat yang lebih tinggi, jika kau jatuh dari sini kau hanya akan mendapatkan patah tulang atau lumpuh.” Ujar Andheera kemudian berjalan pergi meninggalkan Tsuyu yang tengah mencoba membalikan tubuhnya untuk turun dari dinding pembatas.


                “Hey..!! kau ini kasar sekali, walau bagaimanapun aku akan menjadi kakak iparmu, dan kau harus sopan padaku tau..!” seru Tsuyu seraya berjalan cepat untuk menyusul Andheera yang lebih dulu meninggalkannya.


                “cihh..!! bukankah kau sudah memutuskan kakak ku, lagipula aku tak sudi memiliki kakak ipar yang lebih muda dariku.” Ketus Andheera seraya berjalan menuju lift dan di susul oleh Tsuyu yang hanya beberapa langkah dari belakangnya.


***


BangQit agensi.


Setelah menyelesaikan kerja paruh waktunya ia langsung bergegas untuk memulai latihan bersama dengan trainee lainnya.


Karena tak ingin terlambat, ia pun mencoba berlari kecil sampai akhirnya ia tak sengaja menabrak seorang gadis yang tangah berjalan, dan hampir membuatnya terjatuh.


Namun dengan sigap lengan kekarnya menangkap tubuh mungil gadis tersebut.


Untuk beberapa saat mereka saling memandangi satu sama lain, layaknya adegan pada sebuah drama romance pada umumnya.


                “maaf, aku tak sengaja, kau baik-baik saja kan..?” Brian pun tersadar seraya menarik pinggul gadis tersebut agar bisa berdiri dengan benar.


Iyaa, gadis tersebut tak lain adalah Eunjiso yang juga tergabung dalam agensi BangQit, karena saat ini ia sudah tinggal di Jakarta membuatnya akan lebih sering mengunjungi agensi, tidak seperti sebelumnya yang hanya berkunjung 2 atau 1 kali dalam sebulan.


                “iya..” sahut Jiso lengkap dengan senyum ramahnya.


Brian pun membalas senyuman Jiso sebelum ia kembali berjalan menuju ruang latihannya, begitupun dengan Eunjiso yang kembali melanjutkan perjalanannya seraya menggenggam beberapa lembar kertas ditangannya.


***


Apartemen Hyunjie.


Wajahnya tampak berseri-seri kala ia melihat meja makan nya sudah di penuhi oleh masakan yang dibuat putra tunggalnya.


Seolah rasa letih yang ia rasakan setelah bekerja semalaman karena shift malamnya terobati oleh masakan putranya yang begitu menggugah selera.


Tanpa berlama-lama ia pun langsung berlari kecil menuju meja makan setelah membantingkan tas nya kearah sofa.


Ceklek.. suara pintu kamar putranya terbuka, membuat Hyunjie mengalihkan pandangannya sesaat ke arah putranya yang keluar dari kamarnya.


                “mama gak mandi dulu..?” tanya Keenan seraya mengerutkan keningnya lalu berjalan menuju meja makan.


                “nanti saja, perut mama lebih utama.” Sahutnya seraya menciduk nasi juga lauk makan ke dalam piringnya.


                “kau akan pergi kemana lagi..?” tambah Hyunjie yang sesekali melirik kearah Keenan yang sudah berdandan rapih lalu duduk diseberangnya.


                “aku hanya ingin berjalan-jalan..” responnya seraya menciduk nasi juga lauk pauk seperti yang sudah ibunya lakukan.


                “mau mama temani..?” tawar ibunya seraya memasukan suapan pertamanya.


                “tidak perlu.” Tegasnya.


                “baiklah, tapi sebelum jam 6 kau sudah harus kembali.” Katanya.


                “kenapa..?” tanya Keenan seraya mulai menyantap makanannya.


                “mama tak ingin kau tersesat, jika hari sudah gelap kau akan sulit membedakan arah jalan, bagaimana kalau nanti ada tante tante yang menculikmu.” Ujarnya membuat Keenan tersedak dan tak dapat menahan batuk yang menyerang kerongkongannya akibat kalimat ibunya yang tak masuk akal.


                “kau ini, makanya pelan-pelan..” sambung ibunya sembari menuangkan air kedalam gelas putranya.


                “sebaiknya mama cepat menikah agar aku bisa tinggal sendiri.” Celoteh Keenan setelah menghabiskan air didalam gelasnya.


                “apa kau sedang mengejek mama..? mama kan sudah putus.” Ujarnya seraya menunjukan raut wajah sinisnya.


                “putus..? hahahaa.. mama sudah terlalu tua untuk bermain tarik ulur tahu..!” ledeknya seraya bangkit dari tempat duduk dan menaruh piring kotornya di wastafel.


                “kalimat itu seperti de ja vu..” gumam Hyunjie sembari menatap makanannya dengan tatapan kosong.


                “aku pergi dulu, jangan menungguku mungkin aku akan pulang larut.” Pamitnya kemudian pergi tanpa menunggu respon dari ibunya.


***


Di dalam lift apartemen Bougenville.


Karena tak bisa meninggalkan Tsuyu sendirian berkeliaran gak jelas diluaran, akhirnya Andheera pun memutuskan untuk membawa Tsuyu ke apartemennya.


Meski Tsuyu terlihat baik-baik saja dengan menunjukan senyum dan tawa kecilnya, namun jauh didalam hatinya ia benar-benar seperti gadis kecil yang tengah berperang melawan rasa takut juga rasa sakit yang menyelimuti dirinya.


Jika bukan karena kehadiran Andheera yang mengulurkan tangannya lebih dulu pada gadis malang tersebut, mungkin hari ini adalah hari terakhirnya.


Dari luar mungkin Andheera tampak seperti gadis yang tak perduli pada apapun, dan lebih sering menunjukan sikap kasarnya.


Tapi sebenarnya Andheera hanya memiliki cara berbeda untuk menunjukan kepeduliannya.


                “jika kau murid Kirin school itu artinya kau juga kenal dengan kak Vivi..?” tanya Tsuyu.


                “iya..”


                “tunggu.. kau tidak sedang menjalin hubungan dengan kak Brian kan..? atau kalian terlibat cinta segitiga..?”


                “kenapa..? kau takut aku akan mengacaukan perjodohan kakakmu..?”


                “jadi maksudmu kalian benar-benar berada dalam cinta segitiga..? waaahh, kukira hal seperti itu hanya akan ada dalam drama.”


Sementara itu Keenan tengah berdiri didepan lift menunggu pintu lift terbuka.


                “jika aku tidak bilang akan kembali ke Inggris, mungkin hari ini aku akan menghadiri acara keluarga, lebih tepatnya membahas pertunangan kak Brian dengan kak Vivi.” Lanjut Tsuyu.


                “sepertinya hari ini aku akan sibuk..” gumam Andheera seraya menghela nafas panjangnya dan melipat kedua lengannya diatas dadanya.


Begitu pintu lift terbuka Andheera pun keluar sembari membawakan koper besar milik Tsuyu, dan beberapa menit kemudian giliran pintu lift Keenan yang terbuka, untuk beberapa saat ia sempat terdiam seraya fokus mencium aroma wangi dari dalam lift tersebut.


                “astaga sepertinya aku mulai berhalusinasi, tak mungkin gadis jahat itu berada disini.” Gumamnya seraya menggelangkan kepala juga diiringi senyum renyahnya.


***