To My Youth

To My Youth
BAB 63



Setelah hampir 1 jam berlalu..


Diruang tamu.


                “sudah larut nih, ayo pulang.” Ajak Andheera yang membuat Vivian terhentak dari tidur sesaatnya di sofa.


                “kalian nggak nginep aja disini..?” saran Ahreum, melihat keadaan Vivian yang mengkhawatirkan sebab kedua matanya masih sangat lengket seakan enggan untuk bangun dari tidurnya.


                “tidak, terimakasih tante, lain kali saja.” Respon Andheera seraya menepuk-nepuk pelan bokong Vivian agar cepat tersadar dalam mimpinya.


                “ahhh.. iyaa..iyaa aku bangun.” Gumam Vivian seraya mengerang dan meregangkan tubuhnya.


                “apa kak Brian masih dikamar Ben..” gumam Andheera yang kemudian berjalan menuju kamar keponakannya untuk memastikan keberadaan seniornya, diikuti oleh Vivian yang masih mencoba mengucek-ucek matanya.


Dan benar saja, begitu Andheera membuka pintu kamar Ben, ia mendapati 2 lelaki yang tengah tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan, membuatnya mengerutkan dahinya untuk sesaat karena mengingat pertengkaran yang terjadi di dapur sebelumnya, hubungan mereka tak begitu bagus.


                “dia pasti sangat lelah..” gumam Vivian yang juga ikut memandangi pemandangan yang ambigu dihadapannya itu, refleks Andheera melirik kearahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


                “selama ini dia gak pernah hidup susah, semua apapun kebutuhannya selalu terpenuhi, dan siapa sangka kini dia lebih memilih jalan yang menyulitkan dirinya sendiri, hanya karena ambisinya sesaat.” Sambung Vivian yang membuat Andheera tersenyum penuh arti untuk menanggapinya.


                “tante sudah memesankan taxi, kalian akan pulang sekarang..?” tanya Ahreum seraya berjalan menghampiri kedua gadis tersebut yang masih terdiam di depan pintu kamar Bennedict.


                “okee terimakasih tante.. ayoo.” Ujar Andheera pada Vivian yang masih terlihat memandangi lelaki yang pernah disukainya sepenuh hati.


                “aku titip kak Brian yaa tante, tolong bangunkan jam 08:00 pagi, dia harus kerja paruh waktu.” Tambahnya sebelum benar-benar pergi.


                “iyaa baiklah..” jawab Ahreum lengkap dengan senyum ramahnya.         


                “Vivian pulang ya tante, terimakasih untuk makanannya, Vian akan sering mampir keresto.” Pamit Vivian seraya memeluk Ahreum sebagai tanda perpisahannya.


Vivian pun berjalan cepat menyusul Andheera setelah berpamitan dengan Ahreum.


***


Di dalam taxi.


                “besok kau ada acara..?” tanya Vivian yang mengawali percakapan sederhana antara dirinya dengan Andheera.


                “hmm..” jawab Andheera yang masih memandangi suasana luar dari balik jendela taxi.


                “Andheera.. aku tak menyalahkanmu untuk apa yang telah kak Brian pilih, aku hanya..”


                “terimakasih.. (potong Andheera) karena sudah mempercayaiku, tetap berada disisiku meski sebenarnya ada saat dimana kau juga merasa takut padaku.” Lanjutnya lagi seraya menoleh kearah Vivian untuk menunjukan rasa tulusnya.


Melihat ketulusan yang terpancar dalam sorot mata Andheera membuat senyum lebar Vivian terukir dalam wajahnya.


                “bukankah ini arah kerumahku..? kenapa..? bukannya lebih dekat jika mengantarmu dulu.” Ujar Vivian yang baru menyadari akan jalan yang dilalui adalah jalan menuju kediamannya, ia tak berhenti mengedarkan pandangannya ke arah luar sebelum Andheera menjawab pertanyaannya.


                “aku harus ke suatu tempat, jadi aku memilih untuk mengantarmu lebih dulu.” respon Andheera.


                “kemana..?” tanya Vivian penasaran.


                “membeli sesuatu..” jawabnya masih berbelit-belit.


                “iyaa kemana..?!” tanya Vivian terkekeh.


                “sudah sampai nona.” Timbrung sang supir taxi.


                “sudah sampai tuh cepat turun..!” kata Andheera seraya membukakan pintunya lalu mendorong Vivian agar cepat keluar dari mobil.


Tak dapat melakukan perlawanan akhirnya Vivian pun pasrah dan keluar dari mobil tanpa mendapat jawaban pasti atas pertanyaannya.


Dalam perjalanannya menuju tempat yang ia tuju, Andheera sedikit gugup juga gelisah, ia hanya takut ada hal tak terduga lagi yang akan menimpanya.


Sama hal nya dengan hari ini pun, ia mendengar kabar jika kakek dari teman terbaiknya ikut terlibat dalam penutupan kasus kecelakaan beruntun itu, membuatnya merasa dunia ini telah mempermainkannya.


***


Sesampainya di kediaman Darren Erlingga kakek dari Vivian.


Seperti pada umumnya pada kediaman seorang pengusaha besar yang memiliki banyak pengawal juga asisten rumah tangga, sama hal nya pada kediaman kakek Darren yang tak luput dari banyaknya CCTV juga pengawal yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan bela dirinya.


Namun karena mereka semua sudah mengenal Andheera, bukan hal yang sulit bagi Andheera untuk bisa masuk ke dalam kediaman kakek Darren tanpa perlu diperiksa tubuhnya terlebih dahulu.


Gadis yang akan memasuki usia 17 tahun itu melangkah dengan tenang menuju ruangan Darren, dengan sesekali menerima sapaan dari para asisten rumah tangga Darren juga pengawalnya yang berkeliaran di dalam rumah.


Begitu Andheera membuka pintu ruangan kakek Darren, ia sudah mendapati kakek Darren tengah berdiri memandangi suasana diluar dari balik pintu kaca sembari memegangi secangkir teh hangat dan menyesapnya sesekali.


                “lama tak bertemu Andheera, bagaimana kabarmu?” sapa sang kakek sembari membalikan tubuhnya.


Bukannya membalas sapaan kakek Darren, gadis itu malah mengunci pintu ruangan Darren, membuat situasi terasa lebih menegangkan.


“sepertinya kau kesini bukan hanya sekedar mengunjungi kakek.” Tambahnya lagi yang masih mencoba untuk tenang.


Sontak Darren membulatkan kedua matanya juga lengannya mulai bergetar, pertanyaan itu benar-benar tak terduga.


                “bu..kankah sudah jelas penyebab kecelakaan itu adalah, salah satu rem mobil blong yang mengakibatkan semua mobil yang ada ditempat kejadian bertabrakan secara beruntun.” Jawabnya sedikit terbata-bata seraya menaruh teh hangatnya di atas meja kerjanya.


                “haruskah aku memberitahukan ini pada Vivian..! Agar Vivian semakin membenci kakek.” Balas Andheera yang semakin membuat kakek tua itu tersudut.


                “kenapa kau bersikeras sekali, sebenarnya apa hubunganmu dengan kecelakaan itu..?!” seru Darren yang masih kekeh membungkam mulutnya.


                “KARENA IBUKU TERLIBAT DALAM KECELAKAAN ITU..!!” bentak Andheera yang begitu nyaring hingga terdengar samar keluar.


                “itu.. itu hanya sebuah kebetulan Andheera, kau tahu semua orang memiliki takdir hidup dan mati tanpa kau ketahui, dan ibumu..” dalih sang kakek yang malah semakin memacu emosi dari dalam diri Andheera.


                “aku tak butuh petuah mu kakek, dan berikan aku jawaban atas pertanyaan ku tadi..!” tukas Andheera tajam.


                “apa seperti ini sikapmu pada orang yang lebih tua darimu Andheera.” ujar kakek seraya sedikit berjalan menuju tombol yang ada disudut meja, tombol tersebut berfungsi untuk memanggil para pengawalnya dalam keadaan darurat.


                “ku mohon kakek, selagi aku masih memintanya dengan baik, jika kakek terus menyembunyikannya, itu hanya akan membuat pandanganku berubah pada kakek, kakek juga tahu kan bagamaina saat aku diluar kendali.”


Tangannya seolah tengah meraih sesuatu di balik tubuhnya yang ramping, merasa dirinya akan berada dalam bahaya Daren terlihat gemetar juga ketakutan, tangannya hampir tak mampu meraih tombol darurat yang sedikit lagi diraihnya.


Namun Andheera lebih dulu mengacungkan sebuah pistol tepat kearah kening Darren, sontak kakek tua itu membulatkan kedua matanya karena saking terkejutnya dengan apa yang dilakukan gadis tersebut.


                “apa.. apa yang kau lakukan Andheera?” ujarnya terbata-bata seraya mengurungkan niatnya untuk memencet tombol darurat.


                “jika kakek tetap bungkam, bukankah itu artinya kakek dalang dari kecelakaan itu..!” Andheera mencoba menyimpulkan menurut pemikirannya sendiri.


                “bu.. bukan kakek, ada orang lain Andheera. Oke baiklah jika kakek ceritakan semuanya apa kau berjanji mau membiarkannya, kecelakaan itu sudah 11 tahun yang lalu.


Bermula dari seorang wanita yang memiliki dendam pada wanita lain, dia terus mengejar wanita itu tanpa memperdulikan kendaraan sekelilingnya seolah sedang kerasukan ia semakin memacu kendaraannya hingga berkali-kali menabrak bagian belakang mobil wanita yang dikejarnya.


Kemudian terjadilah kecelakaan beruntun saat mobil lainnya pun ikut terlibat, mereka saling menghantam satu sama lain membuat jalanan menjadi kacau dan ledakan mobil akibat banyaknya benturan pun tak terhindarkan.” Paparnya sembari masih menahan rasa takutnya kalau-kalau gadis tersebut menarik pelatuk pistolnya.


“Suami dari wanita itu adalah kenalan kakek, dia meminta bantuan kakek untuk menyudahi kasusnya karena istrinya juga sudah mendapatkan hukuman yang setimpal, wanita itu lumpuh permanen tak ada yang bisa dilakukannya ia hanya duduk dikursi roda.” Tambahnya lagi untuk menutup cerita singkatnya.


                “berapa yang kakek dapat dari menutupi kasus itu..?!” tanya Andheera yang masih mengacungkan pistolnya.


                “bukan uang, tapi kebahagian Vivian yang tak dapat ternilai oleh uang. Kakek meminta untuk menjodohkan putranya dengan cucu kakek, karena kakek tahu Vivian sangat menyukai Kimbrian.” Jelasnya.


                “Kimbrian?” ulang Andheera seolah tengah mengingat seseorang yang ia kenal, mungkinkah Kimbrain yang dimaksud kakek adalah Kimbrian yang dikenalnya.


                “iya kau juga mengenalnya karena dia seniormu di SMA Kirin school, apa sudah cukup..?” tanya sang kakek tua yang masih belum bisa tenang sebab Andheera belum menurunkan pistolnya.


Seakan tak dapat berkata-kata Andheera hanya terdiam memandang ke sembarang arah, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar tentang kebenaran dibalik kecelakaan beruntun 11 tahun yang lalu.


                “hanya karena menginginkan kebahagiaan satu orang, kakek sampai mengabaikan luka puluhan keluarga korban yang terlibat dalam kecelakaan tersebut, haha..!! kau tahu, hewan pun bahkan lebih baik darimu..!” tukas Andheera tajam lengkap dengan senyum menyeringainya yang menambah situasi mencekam kala itu.


TOKKK.. TOOKK..!! terdengar suara ketukan pintu yang begitu nyaring dibalik pintu membuat Andheera lengah dan menoleh sesaat kebelakang.     


“TUAN.. TUAN.. !! TUAN BAIK-BAIK SAJA..!!” panggil salah satu pengawalnya dari luar sembari terus menggedor juga mencoba membuka pintu tersebut.


Menyadari situasi yang menguntungkan baginya, kakek Darren pun dengan gesit mengambil paksa pistol yang berada dalam genggaman Andheera.


Bukannya merasa cemas atau khawatir sebab pistolnya telah direnggut oleh kakek tua tersebut, Andheera malah tertawa penuh arti seraya memandangi kakek Darren yang seolah tengah mengamankan pistol miliknya.


                “hahaha..!!” mendengar tawa Andheera membuat kakek mengerutkan dahinya karena kebingungan harus bagaimana mengartikan tawa gadis tersebut.


                “aku hanya anak SMA yang bahkan belum memiliki KTP, kakek fikir darimana aku bisa memiliki pistol asli..!” sambungnya lagi seraya berlalu pergi meninggalkan sang kakek tua yang masih terlihat shock dengan sebuah pistol mainan yang digenggamnya.     


                “ambil saja jika kakek mau, itu milik keponakanku.” Imbuhnya seraya membuka kunci pintu ruangan Darren kemudian membukanya.


Seperti dugaannya, beberapa pengawal sudah berkumpul didepan ruangan Darren dan tengah bersiap untuk mendobrak pintunya.


Namun karena Andheera lebih dulu membukanya, membuat para pengawal langsung bersiap dengan mengacungkan pistol ke arah siapapun yang keluar dari dalam ruangan Darren.


                “Annyeong..” sapa Andheera pada semua pengawal Darren lengkap dengan senyum lebar yang menyeramkan.


                “apa yang nona Andheera lakukan disini..?” tanya sang ketua dari pengawal tersebut seraya menurunkan pistol anak buahnya yang mengarah pada Andheera.


                “hanya menyapa, oh iya kurasa paman harus memanggil dokter pribadi kakek, sepertinya..”


                “ada apa dengan tuan Darren..? apa penyakit jantungnya kambuh..?” paniknya, kemudian mengisyaratkan beberapa anak buahnya untuk mengecek kondisi majikannya didalam.


                “bukan jantungnya, tapi otaknya yang terganggu..! hahaha..!!” celetuk Andheera kemudian pergi berlalu.


Untuk sesaat beberapa pengawal juga asisten rumah tangga diluar saling bertatapan, sebelum akhirnya mereka semua menghambur masuk ke dalam ruangan untuk memastikan kondisi dari sang majikan baik-baik saja.


Sementara itu sang ketua tampak lebih memilih mengejar Andheera keluar.  


***