To My Youth

To My Youth
BAB 82



“kenapa kau.. masih bisa.. tersenyum setelah apa yang sudah ku lakukan padamu selama 1 tahun terakhir ini..?” Vivian tak kuasa menahan kesedihan juga penyesalan dalam hatinya.


“padahal kau melihat sendiri aku mengabaikanmu, aku meninggalkanmu, disaat kau selalu diganggu juga dipukuli hingga tubuhmu.. hiksss..


dipenuhi memar.. dan.. dan aku hanya melewatimu begitu saja bahkan aku tak melaporkannya pada guru.” Isakan itu semakin jelas terdengar di telinga Yerim.


Yerim sangat tahu jika saat ini karibnya itu tengah diselimuti rasa penyesalan yang begitu dalam, bahkan suara isakannya pun terasa sangat menyakitkan membuat Yerim tak dapat berkata-kata, dan hanya bisa membiarkan Vivian mengeluarkan unek-uneknya hingga selesai.


“harusnya kau membenci dan memakiku Yerim, bukan.. bukan malah tersenyum padaku..!” lirihnya seraya terus menyeka air mata yang terus mengalir dengan derasnya.


Mendengar kalimat terakhir Vivian membuat Yerim teringat akan masa lalunya.


3 tahun yang lalu.


Di area kompleks XXX, kompleks elit yang berada di Jakarta selatan, yang juga menjadi tempat tinggal keluarga Alvharez saat ini.


Lebih tepatnya di pinggir lapang basket, tampak Yerim tengah memperhatikan permainan seseorang di lapangan bersama dengan teman-teman sekolahnya, ia hanya terdiam seraya tersenyum sesekali ke arah salah satu pemain basket tersebut.


Namun tampaknya seseorang yang diperhatikan olehnya tidak perduli sama sekali dengan kehadirannya, ia tetap melanjutkan permainan hingga akhir dan membuat gadis malang itu terus menunggu dengan sebotol air mineral yang digenggamnya.


“mau sampai kapan kau akan terus menungguku..?!” pekik seorang lelaki yang akhirnya menghampiri gadis malang tersebut di pinggir lapang dengan tubuh yang sudah di penuhi keringat.


“yaa.. sampai kakak selesai bermain dong, hehe..” responnya seraya tertawa kecil.


“kau itu terlalu baik atau memang bodoh sih..!” ketusnya seraya berkacak pinggang.


“ka.. kakak kenapa..?


Minum dulu kak, kakak haus kan..” ucapnya seraya memberikan botol air mineral yang sedari tadi digenggamnya pada lelaki yang berada dihadapannya lengkap dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapih dan putih.


Brruuukk..!! suara botol air mineral menghantam aspal begitu kerasnya, saat lengan kekar lelaki tersebut menepis kuat botol yang digenggam Yerim hingga menumpahkan seluruh isi air dalam botol tersebut.


“kau sudah tahu semuanya bukan..!


jika aku bersamamu bukan karena aku benar-benar menyukaimu, kau hanya ku jadikan bahan taruhan dengan teman-temanku, aku hanya mempermainkanmu Yerim..!!


jadi cukup, berhenti berpura-pura semuanya baik-baik aja.” Tegasnya seraya menajamkan kedua matanya ke arah Yerim.


“aku..”


Baru saja Yerim ingin buka suara, namun lelaki itu tampak nya belum mengizinkan Yerim berbicara.


“aku bukan lelaki yang baik untuk mu Yerim, aku udah jahat padamu, apa kau tak mengerti juga..!! kenapa kau bersikeras mengganggap semuanya baik-baik aja padahal kau sangat terluka..?!


seharusnya kau bisa memaki ku, bisa menamparku apapun itu yang membuat hatimu merasa lebih baik, bukan hanya diam dan membiarkan semuanya begitu aja.”


“aku baik-baik aja dengan semua itu kak, karena aku tau kau tak bermaksud seperti itu, kakak hanya sedang terbawa suasana..”


“tidak..!


Kau fikir dengan kau bersikap seperti ini aku akan berubah fikiran dan kembali padamu..?


kau malah membuatku muak..!! aku benci orang-orang bodoh sepertimu, yang tak pernah bisa menyampaikan emosimu dengan benar, kau hanya menyimpannya untuk dirimu sendiri. Kau tahu, dengan seperti itu kau hanya membuat orang-orang di sekitarmu tampak buruk..!”


***


“baiklah kalau begitu, bagaimana kalau aku mengumpatmu..?


Dasar gadis jahat tak punya hati..!” ucap Yerim hati-hati takut jika ucapannya malah membuat hati Vivian terluka.


Mendengar itu Vivian malah tertawa kecil seraya menyeka air matanya yang tak henti mengalir membasahi kedua pipi gembilnya.


“kau sebut itu umpatan..?” respon Vivian yang merasa jika kalimat tersebut belum cukup kejam untuk dirinya.


“kalau dasar Babi gendut..! An@#****..!!”


“YAAK..!” sentak Vivian saat umpatan Yerim sudah mulai berkembang, akhirnya mereka berdua pun tertawa bersama lalu berpelukan.


Sementara itu dari kejauhan, tampak Andheera tengah memperhatikan adegan penuh haru tersebut, membuat sudut bibir nya sedikit terangkat. Tak dapat dipungkiri hatinya benar-benar merasa bahagia bisa melihat kedua temannya kembali berbaikan.


“kau bisa bernafas lega sekarang, karena gadis itu tak akan masuk penjara, ia hanya akan direhab untuk beberapa bulan sampai dirinya sembuh total.”


Tiba-tiba pamannya datang dan berdiri disampingnya seraya memandangi hal yang sama dengan keponakannya.


“ya, terimakasih untuk bantuanmu paman.” Ucapnya kemudian pergi.


“tunggu, kau masih berhutang jawaban padaku Andheera..!” seru pamannya yang terus menempel pada Andheera.


“apa..?” respon Andheera sembari berjalan menuju parkiran rumah sakit.


“anjing itu, kau benar-benar membunuhnya..?” Tanya pamannya yang penasaran.


“ahh iya selagi kau membahasnya, bagaimana kalau kau yang merawatnya..?” ujar Andheera seraya berbalik sejenak untuk melihat wajah pamannya.


“merawat..?” ulang oliver karena semakin bingung dengan maksud dari perkataan Andheera.


“iyaa, anjing itu ada di dorm ku, aku tak bisa membiarkannya tinggal lebih lama lagi karena member termuda di grup ku alergi bulu anjing.” Jelasnya seraya berdiri di samping pintu mobil menunggu oliver menekan tombol di kunci yang tengah digenggamnya.


Beep.. beep..


Bersamaan dengan berakhirnya bunyi suara itu, keduanya pun masuk ke dalam mobil dan langsung memakai safety belt.


“jadi kau menculiknya..?” Tanya Oliver yang masih ingin membahas tentang anjing tersebut seraya menyalakan mobilnya kemudian mulai berjalan meninggalkan parkiran rumah sakit haneul.


“setidaknya aku tidak membunuhnya.” Sahutnya.


“paman juga tak bisa merawatnya, kau fikir paman pengangguran..? kau kan tahu sendiri bagaimana sibuknya paman.” Paparnya.


“ciihh..!” umpat Andheera seraya memalingkan wajahnya ke balik jendela.


“ahh.. iya, karena pertemuan mendadak kita, paman sampai lupa menanyakan kabarmu, dan Andromeda.” Ucapnya seraya melirik sesaat ke arah Andheera.


“seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.” Sahutnya tanpa menoleh membuat pamannya menggeleng kepala dengan sikap dingin keponakannya tersebut.


“kakakmu..?” tambah Oliver.


“dia akan baik-baik saja selama tidak ada pemicunya,” responnya datar seraya masih memandangi jalanan diluar dari balik jendela mobil sang paman.


“oke baiklah,


Ngomong-ngomong, kau jadi kan akan meneruskan studimu di korea, paman sudah merenovasi rumah agar tampak seperti yang kau inginkan.”


“ya,” jawabnya.


“lalu bagaimana dengan agensimu..? jika kau hanya bermain-main seharusnya kau tak perlu memulainya bukan.”


“itu.. adalah kesalahan yang tak dapat terhindarkan.” Ucapnya seraya kembali mengingat kejadian pada saat dirinya tertipu oleh temannya sendiri, membuat dirinya merasa konyol hingga ia pun tertawa kecil tanpa sadar.


***


Malah harinya di dorm Yeji CS, tampak sebagian member masih berada di ruang tamu tengah menikmati waktu istirahat setelah seharian ini disibukan oleh aktivitas sekolah yang cukup melelahkan, dengan menonton tv dan berbagai cemilan yang berada di atas meja.


Saat pintu dorm tiba-tiba terbuka, semua mata pun tertuju pada seseorang yang akan muncul dari balik pintu tersebut.


“akhirnya kau pulang juga..” celetuk Yuna seraya mengunyah cemilan yang ada di genggaman tangannya.


“hay.. kak dheera.. hacciiw..!” sapa Ryujin dengan diakhiri bersin yang cukup menggelegar dan membuat Andheera sedikit terkejut.


“i.. ya.. hay juga.” Andheera membalas sapaan Ryujin dengan lambaian tangannya yang singkat.


“Yontann..!” Andheera mencoba memanggil anjing Denise yang kini telah menjadi miliknya.


“ahh iya, sory yaa.. anjing mu itu ku berikan dulu pada Brian, karena Ryujin sudah tak bisa lagi menahannya jadi ku titipkan sementara pada temanmu.” ujar Yeji.


“bagaimana bisa..?”


“tadi sore aku membawa Yontan jalan-jalan keluar karena Ryujin terus bersin-bersin, lalu aku ketemu Brian di taman, siapa sangka dia langsung menyukai Yontan dan terus mengajaknya bermain, jadi yaa aku minta tolong padanya untuk merawat Yontan sementara ini.” jelasnya.


“kau .. tidak apa-apa kan..?” lanjut Yeji seraya memandangi Andheera, takut jika keputusannya itu malah membuat Andheera marah padanya.


Alih-alih merespon perkataan Yeji, gadis tersebut malah berbalik lalu berjalan ke arah pintu, membuat ketiga temannya saling memandang keheranan melihat sikap Andheera.


“ini salahku, coba aja kalau aku ngga alergi.. hacciiww..!” Ryujin merasa sangat bersalah lengkap dengan raut wajah murungnya.


“engga kok, Andheera ga seperti itu, mungkin dia terburu-buru ingin melihat keadaan Yeontan makanya langsung pergi gitu aja tanpa pamit..” ucap Yeji menenangkan seraya membelai lembut kepala Ryujin.


***


Di area loby dorm yang lebih mirip seperti aparteman, tempat tinggal khusus bagia para trainne di agensi BangQit.


Karena peraturan yang tidak memperbolehkan trainne wanita untuk mengunjungi dorm trainne lelaki, Andheera memutuskan untuk mencoba menelfon Brian di loby dan berencana untuk mengajaknya bertemu di luar dorm.


Namun sudah beberapa kali Andheera mencoba menelfon karibnya itu, hasilnya nihil, telfonnya tidak diangkat, kemungkinan ia masih berlatih di agensi atau sedang berada diluar, pada akhirnya ia pun mencoba menelfon salah satu member Namjoon CS yang tak lain adalah keponakannya sendiri.


Sama hal nya Brian, ternyata Ben pun sangat sulit untuk dihubungi sampai pada panggilan ke 3 kalinya..


“halo..” sapa seseorang dalam telfon yang tampak bukan seperti suara pemilik asli ponsel tersebut.


“Ben..?” tanpa berbasa-basi Andheera langsung menanyakan keberadaan keponakannya tersebut.


“ben sudah tidur, ini siapa..?” Tanya nya karena nama yang tertera di ponsel milik Ben adalah Noona bukan nama asli Andheera.


“Andheera, kak,” responnya.


“ahh kmu, maaf ya, aku lupa panggilan Ben padamu, ada apa..?


Kau perlu berbicara dengan Ben, akan ku bangunkan.” Ucapnya sembari melirik sejenak nama yang tertera di layar ponsel milik Ben.


“tidak perlu, membutuhkan waktu lama untuk membangunkannya.” Cegah Andheera.


“hehe, iya juga sih.” Respon Yongi seraya tertawa renyah.


“aku hanya ingin bertanya, apa kak Brian ada di dorm..?” imbuhnya.


“tidak, sejak tadi sore dia ijin jalan-jalan, sampai sekarang masih belum kembali.” Jelasnya.


“jalan-jalan..?” ulang Andheera seraya mengerutkan keningnya.


“iya, bilang nya sih ke sekitaran taman kota, mau bertemu dengan teman-temannya.” Tambahnya.


“ah begitu, baiklah, terimakasih.”


“ok” pungkasnya kemudian mengakhiri percakapan singkatnya dengan Andheera.


***


Setelah mendapat informasi tentang keberadaan Brian, Andheera pun langsung bergegas pergi untuk mendatangi Brian ke taman kota.


Masih dengan setelan hodie hitam yang di padupadankan dengan celana jins berwarna hitam, sebab Andheera tak sempat untuk mengganti pakaiannya. Jadi ia masih mengenakan pakaian yang sama sejak pagi tadi.


Sesampainya di taman kota.


Ia mencoba berjalan-jalan menelusuri sekitaran taman dengan pandangan yang tak hentinya mencari sosok yang dulu pernah menjadi kekasih hatinya.


Sampai langkahnya pun terhenti oleh pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Iya.. Andheera memang menemukan Brian tengah bersantai di depan sebuah café, meski masih banyak tempat yang kosong di dalam café tersebut, namun karena Brian tengah bersama dengan seekor binatang maka ia hanya bisa bersantai di bangku café yang di sediakan di luar ruangan.


Hal yang membuat Andheera terkejut adalah, sosok teman kecilnya dahulu yang juga ikut bergabung dalam keseruan kala itu, dan gadis berparas cantik yang duduk di samping Keenan yang tak lain adalah gadis yang sama.


Gadis yang pertama kali ia lihat, saat berhasil bertemu kembali dengan teman masa kecilnya itu beberapa waktu lalu. Semakin menambah keyakinannya jika mereka bukan hanya sekedar teman biasa, melainkan gadis special yang bisa menggantikan posisi dirinya dalam hati lelaki tersebut.


Andheera pun mengurungkan niatnya menemui Brian untuk sementara ini, sebab ia tak ingin mengganggu kebersamaan mereka bertiga dengan kehadiran dirinya yang tak diharapkan.


Namun saat Andheera ingin berbalik, Brian yang kebetulan pada saat itu duduk mengarah pada posisi Andheera berdiri ia pun langsung mencoba bangkit dari tempat duduknya dan berniat mengejar kepergian Andheera.


“hey.. kau mau kemana..?” seru Keenan saat Brian mencoba bangkit dari kursinya.


“sebentar..” ucap Brian seraya membawa anjing yang bernama yeontan itu bersamanya.


“dia mau kemana sih, buru-buru banget.” Gerutu Jiso saat Brian sudah mulai berjalan menjauhi mejanya.


Kemudian keduanya pun kompak membalikan badan, mengarahkan tubuhnya untuk mengikuti kemana langkah Brian pergi.


“siapa itu, kekasihnya..?” gumam Jiso seraya menyipitkan kedua matanya sebab seseorang yang akan di temui Brian lumayan jauh dari keberadaannya saat ini.


“mungkin, tapi bukannya seorang idol ga boleh berkencan ya.” Respon Keenan seraya kembali membenarkan posisi duduknya seperti awal yang kemudian disusul oleh Jiso.


“idol juga manusia, kau fikir kita ga boleh bahagia..?” celetuknya lalu kembali menyeruput minumannya.


“bukan begitu, Ahh sudahlah,


Oh iya, kau masih belum jawab kenapa tadi ga menjemputku di rumah sakit..?” tanya Keenan.


“kau bisa pulang sendiri kan.” Jawabnya.


“ciih..!” Keenan mendengus kesal.


“kau tak perlu mengantarku akhir pekan nanti, aku serius, untuk kali ini aku hanya ingin sendiri.”


“jadi sekarang kau sudah dewasa..?


Kau malu jika aku melihatmu menangis nanti..?” goda Keenan sembari menyenggol bahu Jiso.


“kamvrett..!!” umpat Jiso lengkap dengan tatapan sinis nya.


“hahahaha..!!”


***


“kau mencari Yeontan..?” Tanya Brian yang berlari kecil kemudian berhasil mendahului Andheera.


“aku hanya ingin memastikan keadaannya aja.” Ucapnya kemudian membungkuk untuk mengelus kepala Yeontan lengkap dengan senyum bahagianya, sebab bisa melihat Yeontan kembali.


“Iya kudengar Ryujin alergi bulu anjing, jadi aku menawarkan diri untuk merawatnya untuk sementara.” Ungkapnya.


“kalau untuk selamanya, bisa..?” Tanya Andheera hati-hati seraya kembali berdiri dan menatap kedua mata Brian yang juga tengah menatap ke arahnya.


“tentu, untukmu apa sih yang ga bisa..!” serunya seraya menyunggingkan box smile andalannya membuat Andheera pun ikut tersenyum padanya.


“ahh iya kau sedang bersama teman-temanmu kan..” ucapnya seraya mencoba berbalik ke belakang, namun 1 lengan Brian dengan sigap membuat kepala Andheera kembali mengarah padanya.


Membuat Andheera kebingungan akan sikapnya tersebut hingga mengerutkan keningnya.


“ammm.. iya aku sedang bersama teman-temanku, dan aku tak bisa mengenalkanmu pada mereka, maaf.” Paparnya.


“kenapa..?” Tanya Andheera yang malah semakin penasaran.


“ga ada apa-apa, pokoknya kau tak boleh bertemu dengannya, lebih baik kita kembali ke dorm aja ya, ayo.” Ajaknya seraya menarik lengan Andheera dan satu lengannya yang lain menggenggam tali yang mengikat ke tubuh Yeontan.


“kenapa sih, kok aku malah makin penasaran, apa dia tampan..?!” Andheera mencoba mengisengi Brian dengan terus menoel-noel pinggang Brian dengan jemari telunjuknya.


“engga kok, dia jelek, masih tampan Yeontan tuh.”


“ah kak Brian bohong ya..!! dia pasti sangat tampan hahaha..” goda Andheera.


“kau ini, selalu aja terobsesi dengan wajah lelaki yang tampan, gak ada gunanya tampan karena pada akhirnya kau juga akan menua.”


“bener dong dugaanku, teman kak Brian itu tampan hahahaa..!! kenalkan dong..!!” serunya lengkap dengan tawa palsu yang dibuatnya seolah seperti nyata.


“tidak, aku tak akan pernah mengenalkanmu padanya.. titik..!!!” ucapnya mantap kemudian diakhiri dengan memiting kepala Andheera.


“hahahaaa.. oke.. oke.. aku menyerah, aku ga akan meminta dikenalkan padanya..! lepaskan, sakit tau..!”


“awas aja kalau kau diam-diam mengikutiku, agar bisa bertemu dengannya.” Ancam Brian, sementara itu Andheera hanya menanggapinya dengan senyuman palsunya.


“kau tak perlu khawatir, kisah ku dengannya sudah berakhir sejak aku memilih pergi meninggalkannya, dan sekarang.. aku takan mungkin bisa kembali padanya.” Batin Andheera seraya memandangi langit malam untuk sejenak, seolah mencoba mencari ketenangan dalam kegelapan malam.