
Ruang IGD.
Andheera masih mengistirahatkan dirinya di ranjang IGD, sementara Lyra tengah pergi meninggalkannya sebentar untuk menyelesaikan pembayaran di ruang Administrasi.
Tak lama..
Suara gaduh yang berasal dari ruangan sebelah mengusik kedamaian tidurnya.
“suster.. suster dimana adikkku..?!” tanya Andromeda yang baru saja datang dengan Vivian yang berada di sampingnya.
“hey kau fikir adikmu itu terkenal, sebutkan namanya..!” Timpal Vivian.
“ahh iyaa, pasien yang bernama Andheera sus.. dimana dia?” tanyanya lagi masih dengan kepanikan yang luar biasa.
“oh nona Andheera ada diruangan sebelah.” jawab suster tersebut, tanpa menunggu lagi, mereka berdua bergegas menuju ruangan yang ditunjukan oleh suster tadi.
Mendapati adiknya yang masih terbaring dengan menutup kedua matanya, sontak membuat Andromeda kembali panik hingga memanggil suster yang tadi ditemuinya.
“SUSTER..!” panggil Andromeda yang membuat suster tersebut menghampirinya.
“iya ada yan bisa dibantu?” responnya ramah.
“kau yakin sudah memeriksanya dengan benar? Kenapa adikku masih pingsan?”
“apa Andheera terluka parah sus?” timbrung Vivian lengkap dengan ekspresi khawatirnya sama seperti Andromeda.
“tenang yaa, kalian sedang berada di rumah sakit, jika..”
“hey apa yang sedang kalian lakukan?” tiba-tiba saja suara Andheera mengalihkan perhatian Andromeda juga Vivian, hingga mereka berdua pun buru-buru menghampiri Andheera kembali, dan meninggalkan suster yang bahkan belum sempat menuntaskan kalimatnya.
Suster itu pun hanya bisa menggelengkan kepala, kemudian pergi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
“apa yang kau rasakan sekarang, dimana yang sakit?” ujar Andromeda seraya memandangi adiknya lekat.
“iyaa kau tak pernah pingsan sebelumnya, aku sangat khawatir sekali Andheera.” tambah Vivian.
“tenanglah, aku hanya kelelahan tak seperti aku sedang sekarat.” Ujarnya, sebab ia merasa sangat malu dengan kelakuan 2 makhluk yang berada dihadapannya, kemudian mencoba untuk bangun dari tidurnya dan mencari posisi duduk yang nyaman untuknya.
“ohh syukurlah, lain kali jika oppa menyuruhmu untuk beristirahat saja dirumah jangan membantah..! lihat sekarang kau malah pingsan kan.” Kata Andromeda.
“ayah tak tahu kan aku ada di rumah sakit?” tanya Andheera yang tidak memperdulikan perkataan kakaknya barusan.
“tentu tidak, jika ayah tahu kau dirumah sakit, mungkin ayah akan menghapus namaku dari kartu keluarga, karena tidak bisa menjagamu dengan baik huhh.” Paparnya.
“seharusnya kau bicara padaku jika kau merasa tidak enak badan Andheera.” ucap Vivian yang masih tampak sangat khawatir.
“sudahlah kalian ini berisik sekali.” Keluh Andheera membuat keduanya akhirnya berhenti berbicara.
“aku sudah membayar biaya rumah sakitmu, kau boleh pulang saat infusmu habis.” Ujar Lyra yang baru saja hadir ditengah mereka.
“hey Vivian, kau sudah menyelesaikan ujianmu?” tanya Lyra yang beralih pada Vivian yang tengah berdiri disamping ranjang Andheera masih dengan ransel besar dipunggungnya.
“siapa?” tanya Andromeda seraya melirik ke arah adiknya untuk meminta penjelasan.
“kak Lyra dokter UKS sekolahku, oppa.” Ucap Andheera lalu disambut dengan anggukan ramah dari kakaknya.
“begitu, ibu yang membawa adik saya ke rumah sakit?” tanya Andromeda seraya mengarahkan pandangannya pada Lyra.
“iyaa kondisi Andheera sebelumnya sangat mengkhawatirkan, demamnya sangat tinggi sampai dia terjatuh dari ranjang UKS.” ungkapnya.
“apa..! kau terjatuh Andheera? oppa sudah bilangkan untuk istirahat saja dirumah kau ini keras kepala sekali.” Gerutu kakaknya seraya menatap tajam kedua mata adiknya yang sama sekali tak perduli dengan amarahnya.
“ANDHEERA..!!" seru Yerim yang tiba-tiba muncul dari balik tirai ruangannya.
"kau baik-baik saja kan? Aku sangat khawatir saat aku mendengar kabar kau masuk ke rumah sakit..!” tambahnya lagi seraya menghambur memeluk karibnya yang tengah terduduk lemas diatas ranjangnya.
“Hey..! tenanglah ini rumah sakit, kau ingin membuat kegaduhan lalu di usir?!” timpal Hanyoora yang muncul setelah Yerim, kemudian disusul dengan kehadiran Anha yang sama-sama masih menggendong ransel sekolahnya.
Mendapati situasi yang tak terduga ini, Andheera refleks melirik ke arah Lyra yang berdiri di dekat tirai yang tengah mengendap-endap untuk kabur.
Namun Andheera keburu memergokinya hingga ia menghentikan langkah kakinya dan hanya tersenyum lebar padanya.
“aku hanya mengabari temanmu Vivian, dan yang lainnya aku tak tahu..” ujarnya seraya mengangkat kedua tangannya.
“aku yang memberitahu mereka, kenapa..?! Kau ingin mengeluh padaku?” timpal Vivian seraya melipat kedua tangan diatas dadanya dan memandangi Andheera.
Dengan berat hati Andheera hanya menarik nafas panjangnya seraya memutar kedua bola matanya, sebab jika Vivian dalang dari semuanya, ia tak akan bisa berkata apa-apa dan hanya membiarkan semuanya terjadi.
“waaahh kalian yang waktu itu kan..” timbrung Andromeda.
“hey oppa tampan.” Sapa Hanyoora seraya memberikan wink imutnya, membuat yang lain sontak terkejut dibuatnya kemudian diakhiri dengan tawa renyah bersama.
“hahaha..!!”
“apa kau cacingan?” celetuk Andheera lengkap dengan raut wajah eoh nya.
“hey apa kalian mendengar sesuatu?” tanya Hanyoora yang pura-pura tak mendengar perkataan tajam Andheera.
“enggak tuh..” sahut Vivian yang juga ikut mengabaikan Andheera, membuat tawa meraka kembali mengiringi kehangatan yang terjalan kala itu.
Sementara teman-temannya melakukan percakapan ringan juga diselingi dengan candaan random Hanyoora, Andheera hanya bisa memperhatikan mereka semua dengan tatapan sendunya, dan mendengarkan setiap kata yang teman-temannya lontarkan tanpa ikut menimbrung ke dalam percakapan tersebut.
“apakah ini rasanya dicintai, beginikah rasanya memiliki banyak teman, begitu hangat..” tiba-tiba setetes air matanya membasahi pipinya bersamaan dengan garis bibirnya yang perlahan terangkat tanpa ia sadari.
Disaat mereka semua terlalu sibuk mengobrol, namun Lyra diam-diam melirik ke arah Andheera yang tengah tersenyum tipis memandangi suasana hangat dihadapannya, membuat dirinya ikut tersenyum bahagia.
Karena Andheera kini perlahan sudah menunjukan tempat dirinya berada, hanya tinggal teman-temannya yang harus tetap berada disampingnya, agar ia mau keluar dari tempat persembunyiannya yang selama ini sudah mengurungnya dari dunia luar.
***
Kediaman Hyunjie.
Tepatnya diruang tengah, tampak Hyunjie masih mengenakan piyama tidurnya, ia baru saja terbangun setelah seharian tertidur karena bergadang menonton drama.
Kini ia pun tengah mencari-cari channel Televisi yang sesuai dengan seleranya, sembari memeluk bantal kursi dan sesekali menyemil keripik yang ada di meja.
“gak ada yang rame, apa aku nonton drama lagi aja ya.” Gumamnya yang masih terus mencari tontonan yang ia sukai.
“aku pulang..!” seru Keenan yang baru saja datang membuat fokus Hyunjie pun beralih pada putranya.
“akhirnya kau pulang juga, ayo kita masak, mama sudah lapar.” Ujarnya seraya melebarkan senyumannya.
“mama baru bangun?” tanya Keenan yang mendapati ibunya masih memakai piyama tidurnya, Hyunjie pun hanya bisa nyengir.
“mama mandi aja biar aku yang masak.” Kata Keenan yang kemudian menaruh ransel sekolahnya di sofa.
“begitu ya, oke baiklah mama mandi dulu ya.” Sahut Hyunjie lalu pergi menuju kamar mandi.
Setelah menaruh ransel juga melepas blazernya diatas sofa, kemudian ia menaikan sedikit lengan seragam putih panjangnya, seraya berjalan menuju dapur untuk memulai aksinya.
Selang beberapa menit, begitu Keenan selesai memasak ibunya pun keluar dari kamarnya lengkap dengan senyum cerahnya, ia pun langsung bergegas menuju dapur untuk membantu putranya menaruh masakannya di meja makan, juga menyiapkan alat makan seperti biasa yang ia lakukan.
“bagaimana ujianmu hari ini Keenan, sulit?” tanya Hyunjie yang mengawali obrolan ringan selagi mengambil beberapa lauk makan untuk ia taruh dipiringnya.
“engga, biasa aja.” Sahutnya datar lalu duduk dikursi seberang ibunya seraya memulai mengambil lauk pauk seperti yang ibunya lakukan.
“iya.” Respon Keenan seadanya.
“apa kau butuh bantuan mama untuk masuk jalur koneksi?” percakapan itu terus berlangsung disela mereka mengunyah makanannya.
“mama meragukan kemampuanku?” sahut Keenan seraya memberikan tatapan tajamnya.
“bukan begitu, hanya jaga-jaga saja, kau tahu kan Sevit University adalah..”
“aku tahu, mama tak perlu khawatir aku pasti bisa masuk Sevit University bagaimanapun caranya.” Ujarnya.
“hmm.. iya baiklah, mama kira basket hanya sekedar hobimu, ternyata kau benar-benar ingin menjadi atlet basket rupanya.”
“aku hanya ingin menepati janjiku pada seseorang.” Gumam Keenan pelan.
“haah.. apa katamu?” tanya Hyunjie yang hanya mendengar samar-samar.
“tidak.” respon Keenan.
“ngomong-ngomong bagaimana dengan Eunjiso, mama dengar gadis itu juga akan pindah ke Jakarta, dia akan kuliah dimana?” tiba-tiba saja Hyunjie membelokan arah pembicaraannya pada gadis yang tak ingin Keenan bahas.
“maa..”
“iyaa, kenapa?”
“aku tak memiliki perasaan apapun padanya, jadi berhentilah untuk mendorongnya padaku, aku tak suka.” Pungkasnya, karena sudah tak berselera untuk makan ia pun menghentikan aktifitas makannya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan ibunya yang masih menatapanya dengan keheranan.
“apa aku salah bicara..” gumamnya seraya masih memandangi punggung putranya yang berjalan menuju kamarnya.
***
Setelah Andheera mendapat perawatan yang cukup di rumah sakit, ia pun pulang bersama kakak dan teman baiknya Vivian, sedangkan ketiga teman lainnya sudah lebih dulu pulang untuk melanjutkan aktifitasnya masing-masing.
Hanyoora yang memiliki les, Anha dengan kerja paruh waktunya dan Yerim yang harus membantu kedua orang tuanya menjaga toko roti.
Sementara kak Lyra masih berada di rumah sakit, karena ada seorang rekan sesama dokternya yang memintanya untuk bertemu.
-Kediaman Reza Alvarhez.
Saat yang lainnya sudah lebih dulu berkumpul di ruang keluarga, Andheera yang hendak berjalan menuruni tangga tiba-tiba bersin refleks membuat Andromeda juga Vivian menoleh ke arah sumber suara serempak.
“HACIIHHH..!!”
“kau masih sakit dek?” tanya Andromeda khawatir.
“seharusnya kau istirahat saja, kenapa malah turun.” Tambah Vivian yang juga ikut memperhatikan Andheera yang tengah berjalan menuju ruang keluarga, kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada pudding strawberry yang berada di meja.
“tidak, kurasa ada yang membicarakanku.” Ujarnya seraya mengucek-ucek hidungnya yang sedikit gatal.
“siapa?” tanya Andromeda polos membuat Vivian tersedak saat mencoba mencicipi pudding buatan bi Dharma.
“uhuuk.. uhukk..” buru-buru Vivian meraih gelas yang berisikan air mineral di meja setelah meletakan sejenak pudding strawberry nya, lalu meminumnya.
“jika aku tahu aku akan membunuhnya..!”
BYURRRR..!! belum sempat air itu tertelan oleh Vivian, ia memuncratkannya kembali tepat ke Andromeda yang berada disampingnya.
“astaga VIANNN..!! oppa baru saja mengganti baju..!” gerutu Andromeda seraya menyeka wajah basahnya dengan bagian baju bawahnya yang tidak terkena muncratan air Vivian.
“maaf oppa.. maaf.”
“kau mau menginap disini?” tanya Andheera seraya duduk di antara kakak dan temannya, untuk menghentikan perdebatan yang terjadi.
“yes alright..! pinjam bajumu dong.” Kata Vivian sembari memindahkan channel Televisi.
“gak mau tuh, terakhir kali kau memakai kaos ku, kau membuatnya melebar 3 kali lipat.” Celetuk Andheera lalu mencoba mengambil pudding strawberry di atas meja.
“lalu kau ingin aku memakai seragamku seharian..?!” seru Vivian.
“pinjam kaos oppa saja.” Sahutnya seraya merebut paksa remot yang tengah digenggam Vivian untuk mengganti ke channel acara favoritenya.
“boleh..! oppa punya kaos berwarna pink kok.” Timbrung Andromeda yang akhirnya ikut bersuara.
“benarkah..?” sahut Vivian terlihat sangat antusias.
“iyaaa ada gambarnya juga loh..!” kata Andromeda lagi.
“waaah gambar apa?” tanya Vivian lengkap dengan wajahnya yang berseri-seri.
“BABI..!!” goda Andromeda yang membuat Vivian seketika naik pitam, kemudian dengan liarnya ia bangkit dan berdiri disofa, seraya memukul-mukul Andromeda dengan bantal sofa, hingga Andheera terpaksa harus sedikit merunduk agar tidak terkena pukulan ganas Vivian, masih sembari menikmati pudding strawberry kesukaannya.
“OPPAAAA..!! KENAPA KAU TEGA SEKALI PADAKU..!! RASAKAN INI..!!” seru Vivian yang masih terus melampiaskan kekesalannya pada Andromeda yang malah cengengesan di samping adiknya, sembari menahan hantaman bantal kursi memakai kedua tangannya.
“ayah pulang..!” seru Reza yang baru saja datang membuat Vivian akhirnya menghentikan aksi liarnya.
“hey Vivian.. kau ada disini rupanya, kau akan menginap?” sapa Reza pada Vivian yang masih berdiri memegangi bantal kursi.
“iyaa om, bolehkan..?” tanya Vivian lengkap dengan raut wajah imut yang dibuat-buat.
“hahaha.. tentu kenapa tidak, om masuk kamar dulu yah, jangan naik-naik sofa nanti jatuh.” Ujar Reza lalu berjalan menuju kamarnya setelah menyapa seluruh anggota keluarganya.
“hehehe..” Vivian nyengir kemudian perlahan turun dari sofa dan kembali duduk dengan nyaman.
“bukankah seharusnya kau belajar Vivian, besok ujian bahasa Inggris.” Ujar Andheera mengingatkan temannya.
“apa kau bisa memberikanku pencerahan, seperti soal-soal apa saja yang akan keluar dalam ujian?”
“HA..HA..HA..HA..!!” tawa Andromeda pun tak terelakan kala ia mendengar Vivian meminta adiknya untuk membantunya dalam hal pelajaran, membuat Vivian juga Andheera benar-benar terkejut mendengar suara khas tawanya yang sudah seperti seseorang tengah mengelap kaca mobil.
“kakakmu kenapa sih..! Apa dia sudah gila?” celetuk Vivian seraya mengernyitkan dahinya.
“kurasa setelah berpacaran dengan gadis dibawah umur, otaknya sudah tak dia pakai lagi.” Sahut Andheera dengan nada datarnya seraya memandangi siaran televisi.
“Hey..! dia hanya setahun dibawahmu tahu..!” Protes Andromeda lengkap dengan nada ngegasnya.
“huhh.. seharusnya dia memanggilmu ahjusi.” Celotehnya lagi.
“AHAHAHAHA..!!” giliran Vivian yang kini tertawa mendengar ejekan Andheera pada kakaknya.
“Aaughhh..!! kalau begitu kau juga seharusnya memanggilku ahjusi bukan oppa..!” geram Andromeda yang masih belum bisa santai dalam nada bicaranya.
“oke ahjusi.” Sahut Andheera datar.
“HEYY..!!” seru Andromeda dengan terus menaikan nada suaranya.
***
Note : Ahjusi adalah panggilan paman dari bahasa korea, yang berarti lelaki yang lebih tua dari seorang kakak.
-Vivian