
25 menit sebelum konser dimulai.
Terlihat antrian panjang didepan studio, sama seperti yang Andheera dan lainnya lakukan, mereka semua tengah mengantri untuk bisa masuk ke dalam Venue.
Dan jauh dibelakang antrian tampak Keenan juga kedua temannya, Eunjiso dan Joenathan sedang mengantri sembari sesekali mengecek ponselnya masing-masing.
“Andheera..” panggil ayahnya yang berdiri dibelakang putrinya, Andheera pun membalikan tubuhnya untuk merespon panggilan ayahnya.
“kau yakin dengan keputusanmu..? maksud ayah.. ayah masih tak menyangka saja kalau kau tiba-tiba ingin menjadi idol.” Ujar ayahnya yang masih tak percaya dengan apa yang putrinya katakan sewaktu dalam perjalanan menuju tempat konser.
“aku hanya ingin bersenang-senang ayah, bolehkan..?” respon Andheera lengkap dengan senyum tipisnya.
“iya tapi, bagaimana dengan sekolahmu, kau yakin bisa mengimbanginya..? bukankah kau ingin melanjutkan studymu di Korea.” Reza tampak begitu khawatir dengan keputusan Andheera yang tiba-tiba dan sekaligus membuat dirinya tak mengerti.
“ayah ngga usah khawatir, cukup percaya saja padaku.” Ucapnya dengan senyum yang semakin melebar, seolah ia ingin mengatakan pada ayahnya jika ia benar-benar menginginkan jalan ini.
“baiklah.. ayah akan selalu mendukung apa yang kau ingin lakukan..” ucapnya seraya mengusap lembut kepala putrinya dengan senyum hangat yang terukir diwajahnya.
Selagi Andheera dan ayahnya mengobrol, Vivian dan Tsuyu tampak sangat antusias sekali sembari sesekali menggoyang goyangkan army bomb yang mereka pinjam dari Andheera.
10 menit berlalu..
Mereka pun sampai didalam Venue, suasana didalam tak diragukan lagi sudah pasti sangat ramai oleh lautan manusia dengan lightstik yang mereka nyalakan secara bersamaan.
Konser pun dibuka oleh penampilan dari artis Indonesia yang turut memeriahkan konser tersebut, kemudian diselingi oleh obrolan sang MC sebelum akhirnya sampai pada puncak acara, yaitu penampilan yang sangat ditunggu-tunggu penggemar.
Penampilan boy band dari Korea BTS, boy band yang tengah naik daun kala itu, dan semakin membuat ramai suasana Venue dengan teriakan-teriakan para Army yang sudah tak sabar menunggu penampilan dari idolnya.
“waaahh, Andheera kenapa mereka cantik sekali..?” celetuk ayahnya yang juga ikut menikmati konser tersebut sembari menggoyang goyang kan army bomb milik putrinya.
“mereka lelaki tulen ayah..!” seru Andheera karena tak terima dengan pernyataan ayahnya.
“YEAAAHHHH.. KIM NAMJOON..KIM SEOKJIN..” teriak Tsuyu dan Vivian, mereka berdua benar-benar sangat menikmati konser tersebut hingga bisa melupakan kesedihan yang telah dilaluinya kemarin malam.
Terlihat dari cara mereka berdua menggoyang goyangkan army bomb milik Andheera, membuat Andheera yang melihatnya merasa kasihan sekali pada nasib Army bomb miliknya.
“jangan terlalu kencang..! kalian bisa merusak lightstik milikku..!” seru Andheera pada keduanya.
Namun sepertinya mereka berdua tampak tak perduli dengan ocehan Andheera disampingnya, ia tetap melakukan hal yang mereka inginkan, berteriak, ikut bernyanyi meskipun hanya beberapa kata diakhir lagu, sembari menggoyang lightstiknya dengan ganas.
“AUGHH SHIT..!” umpat Andheera.
Merasa diabaikan oleh kedua temannya, akhirnya Andheera pun mengalah dan kembali ikut menikmati lagu yang tengah dinyanyikan oleh boy band BTS.
Song FIRE- BTS.
“FIREEEEEEE.. FIREEEEEE..!!!” teriak semua penggemar yang menggila akan penampilan dari idolnya.
Sampai..
Ditengah lagu ada kejadian yang membuat Andheera berada dipuncak emosinya, ada salah seorang fans yang nekad berdiri diatas kursinya membuat Andheera sulit untuk melihat idolanya karena terhalang gadis gila tersebut.
“OH SHITT..!!! B@#!GJJ#!!..” berbagai macam umpatan Andheera keluarkan untuk mengekspresikan kekesalannya.
Namun umpatan itu berakhir saat kepala lighstik milik Vivian terpental tepat kearah kepala gadis tersebut, membuat gadis itu akhirnya turun seraya menoleh sesaat ke belakang untuk mencari tahu siapa yang telah melemparnya, sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit akibat lemparan army bomb yang dipegang Vivian.
Sedangkan Vivian sendiri tak menyadari jika lightstik yang dipegangnya sudah tidak memiliki kepala, melainkan ia hanya memegang gagangnya saja.
Andheera yang menyaksikan dengan jelas kejadian tersebut tak dapat menghentikan tawa lebarnya, ia merasa lucu sekaligus puas dengan kejadian tersebut, karena dendamnya sudah terbalaskan oleh karibnya.
Beberapa jam berlalu, konser pun berakhir dengan damai tanpa ada kericuhan diantara para penggemar.
Namun saat kelompok Andheera hendak berbalik dan mengikuti arus para penggemar yang akan keluar Venue, Andheera tiba-tiba terpisah dari rombongan, gadis itu tertinggal cukup jauh dibelakang karena ada beberapa fans yang menghalanginya berjalan.
Sementara itu tak jauh dari tempatnya berdiri, Keenan pun ikut tertinggal dari rombongannya karena tali sepatu ketsnya tiba-tiba terlepas, membuat dirinya menghentikan langkahnya sejenak untuk menalikan kembali sepatunya.
Eunjiso dan Joe tak menyadari jika 1 temannya tertinggal, mereka berdua terus berjalan tanpa menoleh kebelakang.
Diluar Venue..
“dimana Andheera..?” ayahnya yang menyadari putrinya menghilang terus mengedarkan pandangannya ke tengah kerumanan orang-orang yang baru keluar dari studio.
“tadikan disamping om Reza..” sahut Vivian yang juga ikut mencari keberadaan karibnya.
“apa Andheera terjebak didalam..?” timpal Tsuyu.
“aku akan mencarinya..” kata Vivian yang hendak melangkahkan kakiknya untuk kembali masuk.
“tidak perlu, nanti Andheera keluar kau yang malah hilang, kita tunggu di kafe depan aja.” Ujar Reza, yang kemudian merangkul kedua teman putrinya untuk berjalan pergi ke kafe di seberang.
“ohh iyaa sebentar.. om akan beritahu supir om dulu, kalian duluan saja.” Ucap Reza seraya menghentikan langkahnya sebelum menyeberangi jalan, kemudian kembali berbalik menuju parkiran untuk menemui supirnya yang tengah menunggu.
“oke, nanti aku yang akan hubungi Andheera..” sahut Vivian yang kemudian kembali berjalan beriringan dengan Tsuyu.
Reza hanya membalasnya dengan anggukan.
Kembali ke dalam Venue, disaat Keenan tengah menalikan sepatunya yang terlepas, tanpa ia sadari jika Andheera berjalan melewatinya.
Tidak seperti sebelumnya yang hanya meninggalkan jejak aroma parfumenya, kali ini Andheera meninggalkan jejak tambahan, yaitu gelang miliknya yang terjatuh tepat diatas sepatu kets Keenan.
Sontak Keenan terkejut, lagi-lagi ia mencium aroma parfume yang familiar ditambah sebuah gelang yang terjatuh diatas sepatu ketsnya, membuat pandangannya langsung terangkat dan mencari sosok yang diharapkannya.
Namun karena dari banyaknya penggemar yang saling berdesakan, membuat Keenan tak dapat menemukan sosok yang dicarinya.
Setelah selesai menalikan sepatunya dan memasukan gelang pada saku kemejanya, ia pun bergegas mencari sosok tersebut hingga mencoba menerobos kerumunan dihadapannya.
“Andheera..!!” panggil Keenan saat ia semakin frustasi karena tak juga menemukannya, ia berharap ada seseorang yang berbalik ketika ia meneriakan namanya.
Namun tak ada satu pun yang berhenti ataupun berbalik, membuat dirinya terus berlari kecil dan mencoba mencarinya hingga keluar Venue.
“Keenan.. kau darimana saja, ku kira kau pingsan didalam..” seru Joe yang datang bersamaan dengan Jiso dari belakang.
Begitu melihat Keenan sudah keluar dari gedung, mereka berdua langsung berjalan menghampiri temannya itu.
“kau kenapa..? cari apa..?” lanjut Joe, merasa kebingungan melihat temannya seolah tengah mencari sesuatu.
“kalian pulang aja duluan..” kata Keenan yang masih tak bisa berhenti mengedarkan pandangannya ke segela arah.
“kenapa..? apa yang kau cari, siapa tahu kita bisa membantu.” Timbrung Jiso yang menawarkan bantuan pada Keenan.
“tidak.. kalian bisa pergi tanpa aku, oke..” ujar Keenan kemudian pergi meninggalkan kedua temannya yang masih kebingungan dengan sikap Keenan yang tak seperti biasanya.
“sepertinya aku mendengar nama seseorang.. siapa yaa..” gumam Joe seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Andheera..” respon Jiso bersamaan dengan senyum tipis yang terukir diwajahnya yang cantik.
“aahh iya benar..! Btw, Andheera siapa..?” tanya Joe polos seraya memandangi wajah teman perempuannya tersebut.
“cinta monyetnya, kita ngopi dulu yuk ada kafe tuh diseberang.” Ajak Jiso sembari berjalan lebih dulu menuju kafe tersebut, kemudian disusul oleh Joe yang mengikuti langkahnya dari belakang.
“kau tak akan kembali ke agensi..?” tanya Joe dalam perjalanan menuju kafe.
“nanti, habis ngopi..” jawabnya yang berjalan selangkah didepan Joe.
Di depan kafe.
Saat Eunjiso hendak mendorong pintu kafe, ada seorang gadis disampingnya yang lebih dulu mendorong pintu tersebut hingga pandangan Jiso refleks memandanginya.
Tak hanya paras gadis tersbut yang sangat cantik namun aroma parfume yang tak asing pun menjadi fokusnya, seolah ia tengah mengingat aroma tersebut untuk beberapa saat ia terus memandanginya hingga gadis tersebut sampai pada mejanya.
“kau tak akan masuk..?” suara Joe yang berdiri dibelakangnya mampu membuyarkan fokusnya.
“hah.. iya.. ayo..” sahutnya dengan terbata-bata, kemudian masuk ke dalam dan memilih duduk di meja yang tak jauh dari meja gadis yang tadi ditemuinya.
“kau ingin kopi seperti biasa kan..?” tanya Joe yang hendak memesankan kopi untuk temannya yang sudah lebih duduk itu, Jiso hanya menanggapinya dengan anggukan kecil sembari sesekali melirik ke arah meja gadis yang tadi.
“kau terjebak didalam..?” tanya Vivian seraya memandangi wajah Andheera.
“hmm..” jawabnya lalu meminum minumannya yang sudah dipesankan terlebih dahulu oleh Vivian.
“habis ini mau kemana lagi..?” tanya ayahnya setelah menyedot beberapa kali kopi yang dipesannya.
“gimana kalau sepedahan ditaman kota, suasananya sangat mendukung sekali bukan..?” seru Tsuyu yang menyuarakan pendapatnya padahal sebenarnya dia tidam bisa mengendarai sepeda..
“bener tuh, kita bisa menyewa sepeda dan berkeliling di sekitar taman kota, lalu pulangnya kita bisa beli cemilan dipinggiran taman..” Vivian menambahkan lengkap dengan raut wajah antusiasnya.
“okee ayoo, gimana denganmu..?” tanya ayahnya yang menatap wajah putrinya seolah tengah menunggu jawaban dari putrinya.
Tak ingin banyak berkata Andheera hanya menanggapinya dengan anggukan masih sambil menyedot kopi ice Americano miliknya.
“dimana gelangmu..?” tanya Vivian yang menyadari jika gelang pemberiannya menghilang dari pergelangan tangan temannya.
Mendengar itu Andheera langsung mengecek lengannya, dan benar saja gelang itu tidak ada
“entah.. kurasa gelang itu terjatuh saat tadi sedang berdesakan di Venue..” jawab Andheera santai.
“heol..!! bagaimana mungkin kau menghilangkan hadiah pemberianku..?” gerutu Vivian yang kesal karena Andheera tak pernah bisa menjaga sesuatu dengan baik.
“itu salahmu, karena tidak menguncinya dengan benar, jadi gelang itu terjatuh.” Dalih Andheera yang merasa tak bersalah sama sekali.
“YAAA..!!” bentak Vivian yang membuat beberapa pengunjung kafe meliriknya dengan tatapan risih.
Buru-buru Reza meminta maaf untuk mewakili teman putrinya yang tengah dilanda amarah tersebut.
“sudahlah, kalian ini kalau ribut gak lihat tempat, malu-maluin aja.” Ujar Reza yang mencoba menengahi keduanya.
Sedangkan Tsuyu yang menyaksikan keributan dari kedua temannya itu malah senyum-senyum sendiri seolah ia terhibur karena sikap kekanakan dari kedua temannya.
***
Di taman kota.
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, setelah mereka beristirahat sejenak sembari menikmati kopi yang mereka pesan, mereka semua langsung menuju taman kota untuk bermain sepeda.
Saat yang lain terlihat mengambil sepeda yang mereka inginkan, Tsuyu hanya berdiri dan terus memandangi ke arah teman-temannya yang sudah menaiki sepedanya masing-masing.
“kenapa kau diam saja, kau tak memilih sepedamu..?” tanya Andheera.
“ahh iya, kau tak bisa naik sepeda ya, kalua begitu..” ucap Vivian.
“sini naik dengan om saja, Tsuyu..” potong Reza lengkap dengan senyum merekah juga melirik ke arah kursi belakang sepedanya.
Dengan senang hati gadis mungil itu langsung berlari kecil menghampiri ayah Andheera dan duduk dikursi penumpang sembari melingkarkan lengannya di perut ayah temannya itu, seolah ia merasa jika lelaki dewasa itu adalah ayahnya sendiri.
“let’sss goooo..!!” seru Vivian yang mengawali perjalanan sepedanya mengelilingi taman kota lalu diikuti oleh Andheera juga ayahnya yang menggoes dengan santai.
“YANG KALAH HARUS MENGABULKAN KEINGINAN PEMENANG..!!” teriak Vivian lagi-lagi mencoba berkompetisi dengan karibnya itu.
“JANGAN MIMPI, KAPAN KAU PERNAH MENANG DARIKU..!!” balas Andheera tak kalah nyaringnya.
Sementara itu ayahnya yang tertinggal dibelakang hanya bisa menggeleng kepalanya, dan Tsuyu sendiri tampak sangat menikmati kehangatan momen yang terjadi saat ini, seolah ia telah mendapatkan keluarga baru yang menyayanginya.
Hingga bisa melupakan sejenak masalah yang tengah menimpanya..
Gadis itu berharap jika waktu akan berhenti saat ini agar ia hanya akan mengenang masa bahagianya bersama keluarga barunya, bukan masa kelam yang selalu menghantui dirinya sampai saat ini.
***