To My Youth

To My Youth
BAB 41



Kembali ke SMA Kirin School Jakarta, lebih tepatnya di Kafetaria Kirin school.


suatu pemandangan yang tak pernah terjadi sebelumnya, iya Andheera akhirnya bergabung dalam kelompok 4 serangkai.


Yerim sang maknae tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, ia terus memandangi Andheera sembari menyantap makan siangnya.


Seolah tengah terserang virus bucin, Yerim tak bisa mengalihkan pandangannya dari Andheera yang memilih duduk di depan dirinya.


#sebutan Maknae biasanya di pakai untuk seseorang yang paling muda dalam sebuah geng atau circle pertemanan, banyak digunakan pada Idol kpop korea.


                “hey berhenti menatapnya matamu nanti jatuh.” Ujar Vivian seraya mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Yerim, membuat Yerim akhirnya berhenti memandangi Andheera, dan melanjutkan aktifitaa makan siangnya.


                “hehehe aku hanya senang aja akhirnya Andheera mau gabung sama kita.” Ungkapnya dengan penuh rasa bahagia.


                “iya nih aku juga, oia ngomong-ngomong makasih ya tadi kau sudah menyelamatkan aku dari amukan Jaehyun.” Timpal Hanyoora sembari mengunyah makanannya.


                “tapi aku tak membenarkan perbuatanmu itu Andheera, bagaimana jika Jaehyun melaporkan ini pada Guru kau akan mendapat masalah.” Sanggah Vivian, ia hanya khawatir jika kejadian dulu akan terulang kembali.


                “aah iya benar, aku tidak berfikir sampai kesana.” Sahut Yerim lagi.


                “tenang saja ku yakin Jaehyun tak akan melakukannya.” Kata Hanyoora, seolah ia sudah mengenal dengan baik pribadi Jaehyun.


                “kenapa?” tanya Yerim polos masih dengan mulut yang penuh dengan makanan yang belum ia kunyah.


                “jika dia melaporkan ada seorang gadis yang menyeranganya, itu hanya akan melukai harga dirinya sebagai laki-laki, yang perlu dikhawatirkan sekarang, apa Jaehyun masih mau mewakili kelas kita untuk lomba, setelah apa yang Andheera lakukan padanya.” tutur Hanyoora.


                “mudah-mudahan Anha bisa membujuknya. (saut Vivian) 


dan kau yang memiliki salah kenapa daritadi hanya diam, apa kau tak merasa bersalah sama sekali.” Tambah Vivian terlihat tak bersahabat ia terus menatap tajam wajah Andheera.


                “aku tidak menendangnya, itu hanya sedikit dorongan.” Sahutnya dengan nada datar seperti biasanya, seraya menyantap dengan santai makan siangnya.


                “Andheera!” seru Vivian menaikan nada suaranya bersamaan dengan hentakan sendoknya ke atas meja makan.


                “sudahlah Vivian, Andheera melakukan itu untuk melindungiku.” timpal Hanyoora mencoba menenangkan salah satu temannya.


                “tapi gak harus ditendang juga Hanyoora.” Tegas Vivian dengan penuh tekanan dalam setiap kalimatnya.


                “Hey kalian sudah selesai?” tanya Anha lalu duduk di sebelah Andheera seraya meletakan baki makanan nya.


                “belum kita akan menemanimu makan.” saut Hanyoora sedangkan Yerim membalas sapaan Anha dengan senyum lebarnya.


                “benarkah..” respon Anha kemudian memulai makan siangnya.


                “aku duluan ya, pak Suho memintaku untuk mengambilkan beberapa buku di kelas musik.” Pamit Vivian kemudian pergi dengan membawa baki makanan yang sudah kosong.


                “okay.. oiia kau terlihat baik-baik saja Anha, bagaimana dengan Jaehyun apa dia masih mau berpartisipasi dalam lomba?” tanya Hanyoora penasaran dengan apa yang terjadi.


                “tentu dia malah menantang Andheera untuk duet dengannya.” Katanya sembari mengunyah makan siangnya.


                “gak mau.” Gumam Andheera yang sudah selesai makan siang, kemudian beralih memainkan ponselnya.


                “kalau begitu aku akan melaporkanmu atas penyerangan teman sekalasmu, mungkin kau harus memanggil ayahmu datang ke sekolah.” Balas Anha yang mampu membuat Andheera tak dapat berkata-kata akibat ancaman sang ketua kelas.


                “shitt!!” umpat Andheera pelan selagi memainkan ponselnya, namun masih terdengar jelas oleh Anha karena ia berada disampingnya.


***


Kelas musik.


Brian tengah duduk di depan Piano, masih ragu untuk memainkannya karena terakhir kali ia bermain piano sudah sekitar 5 tahun yang lalu.


Tapi jemari-jemarinya tak bisa menahannya lagi, dengan hati-hati ia mencoba nada dasar yang pernah dimainkannya dahulu.


Meski tak selincah dulu, namun ternyata ia masih ingat sedikit melodi yang selalu ia mainkan bersama dengan adik perempuannya, senyum kotaknya pun merekah menambah ketampanan Brian kala itu.


Tak lama setelah ia bersenang-senang dengan permainan jemarinya selama beberapa menit, ia merasa ponselnya bergetar dalam saku celana sekolahnya


Tak menunggu lama ia merogoh ponsel yang dikantonginya, kemudian mengklik panggilan video call yang tak lain adalah adiknya.. Tsuyu.


                “Kakak!! (Seru Tsuyu yang menyapa Brian dengan penuh antusias)


bagaimana kabar kakak? Aku sangat merindukanmu.” Tambahnya lagi.


                “baru sekarang kau menghubungiku? 1 tahun ini kemana saja, kau hampir lupa kalau kau memiliki kakak disini hah.” Gerutu Brian yang tak terima, sebab adiknya itu tak pernah mengabari dirinya sejak kepergiannya hampir 1 tahun yang lalu.


                “maaf kakak, sebenarnya aku disini juga sangat kesulitan, kau tahu kan bahasa inggrisku tidak terlalu lancar, jadi aku harus berusaha untuk cepat menyesuaikan diri dengan sekolah baruku. Bahkan pola makan dan tidurku juga berantakan karena waktu ku habis untuk belajar setiap harinya.” Paparnya.


                “begitu, maafkan kakak karena tak bisa melindungimu Tsuyu. Kakak janji setelah kakak sukses tak perlu bantuan ayah lagi, kakak akan membawamu kembali, kau akan hidup bersama kakak oke.” Ujarnya mencoba untuk sedikit menghibur adik perempuannya yang malang itu.


                “kakak yakin dengan jalan yang kakak ambil? menjadi Idol itu gak mudah kak, ditambah tanpa dukungan dari Ayah, kakak yakin bisa melaluinya?”


                “tentu kakak sangat yakin dengan kemampuan kakak, kau hanya perlu terus menyemangati kakak oke.” Serunya penuh percaya diri, seolah semuanya akan berjalan sesuai rencanaya.


                “iya baiklah, aku menyayangimu kak.” Pungkas Tsuyu sebelum mengkhiri percakapan singkat dengan kakak lelakinya.


                “kakak juga.” Respon Brian lengkap dengan box smilenya, ia hendak mengakhiri video call dengan adik perempuannya, Namun..


Kreett..  suara pintu terbuka membuat pandangan Brian langsung teralihakan, ia melihat Vivian yang berdiri masih memegangi gagang pintu, seraya memandangi Brian dengan tatapan terkejut bisa bertemu dengan Brian di ruang musik.


Brian menyambut kehadiran Vivian dengan senyum manisnya, kemudian mengurungkan niatnya untuk mengklik tombol merah dilayar ponselnya.


                “Hey Vivian, kau sudah selesai makan siang?” Sapa Brian.


                “ada kak Vivi boleh aku bicara dengannya.” Tsuyu yang menyadari kemunculan Vivian diruangan itu pun langsung terlihat anstusias ingin bertemu dengan Vivian.


Mendengar suara yang tak asing di telinga Vivian, membuat kedua kaki dirinya bergerak lebih cepat untuk mendekati Brian, dan memastikan jika suara yang tak asing itu benar berasal dari ponsel milik Brian.


                “apa itu Tsuyu?” tanya Vivian lalu duduk dengan santai di samping Brian,seraya melihat ke layar ponsel Brian yang ditaruh di atas piano.


                “HEY KAK VIVI!! (seru Tsuyu lengkap dengan lambaian tangannya)


kau semakin cantik saja kak Vivi.” Puji Tsuyu, dan berhasil membuat Vivian tersipu malu.


                “kau ini bisa saja, dari dulu selalu membuatku malu, bagaimana kabarmu disana Tsuyu?” tanya Vivian.


                “aku baik kak Vivi, oiia bagaimana hubunganmu dengan kakak ku sudah sejauh mana? Hehehe.” Tsuyu cekikian menggoda Vivian.


Merasa canggung karena digoda oleh adiknya, Brian memlih pergi meninggalkan ponselnya bersama Vivian.


                “kak Brian malu-malu tuh kayaknya hehehe.” Tak berhenti disitu Tsuyu masih terus menggoda kakaknya dan Vivian.


Tak ingin membuat Tsuyu berfikir yang tidak-tidak, Vivian hanya meresponnya dengan ukiran senyum hangat di wajahnya.


Percakapan diantara mereka berlangsung cukup lama sampai berakhirnya bell istirahat.


Pelajaran selanjutnya untuk kelas X-2 adalah pelajaran olahraga, setelah selesai berganti seragam semua murid berjalan santai menuju lapangan sekolah.


Seperti pada umumnya, sebelum berolahraga pasti selalu dimulai dengan pemanasan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kram otot contohnya hihi.


Iya siapa lagi.. tentu gadis itu Andheera, selain terkenal dengan pribadinya yang kasar, ia pun memliki hal buruk lainnya.


Yaitu kemagerannya terhadap apapun, ia hanya melakukan apa yang diinginkannya saja, sampai semua guru yang berhadapan langsung dengannya merasa kewalahan dan menyerah, untuk membiarkan Andheera dengan dunianya sendiri.


10 menit berlalu.


Pemanasan pun berakhir, semua murid dibolehkan beristirahat sejenak duduk di pinggir lapangan, sebelum melanjutkan kegiatan berikutnya.


Namun tiba-tiba ada seorang murid dari kelas lain tampak menghampiri Anha sang ketua kelas X-2 di pinggir lapang.


Mereka berdua mengobrol serius sampai akhirnya Anha pun bangkit, kemudian berjalan mendekati Pak Sehun bersama murid tadi, seolah tengah meminta ijin untuk absen dari pelajaran olahraga.


Pak Sehun mengangguk memperbolehkannya pergi, mereka berdua pun pergi berjalan keluar lapang sembari masih melanjutkan obrolan dalam perjalanannya.


                “oke perhatian anak-anak!” seru Pak Sehun membuat perhatian semua murid menjadi terfokus padanya yang tengah berdiri di tengah untuk menginstrusikan sesuatu.


“istirahatnya sudah cukup ayo kembali ke lapang.” Tambah pak Sehun.


Meski para murid terlihat masih lemas, namun mereka tak memiliki pilihan selain mengikuti apa yang dikatakan guru olahraga tersebut.


Setelah semua berkumpul membentuk setengah lingkaran.


                “kalian akan bertanding basket untuk pelajaran olahraga hari ini, silahkan bagi tim kalian masing-masing. 1 lagi, sebaikanya kalian bermain sungguh-sungguh ya! jika beruntung diantara kalian bisa terpilih ikut lomba basket untuk mewakili sekolah yang akan di selenggarakan akhir bulan ini.” paparnya dengan nada tegas seorang guru.


                “BAIK PAK.” Jawab semua murid serempak kecuali Andheera yang malah sedang memperhatikan hal lain, bukannya mendengarkan Pak Sehun bicara didepan.


                “kau ikut main kan?” bisik Vivian ke telinga Andheera.


                “enggak, kau saja.” Respon Andheera masih terfokus memperhatikan sesuatu yang cukup jauh.


                “issh kau ini benar-benar..” Vivian menghentikan kalimatnya saat ponsel dalam sakunya bergetar, jemari berisinya pun langsung merogoh saku celana olahraga begitu ada notif pesan masuk.


                “bukannya itu ponsel kak Brian.” kata Andheera saat ia mengalihkan perhatiannya ke arah Vivian yang berdiri disamping tengah membuka layar ponsel milik Brian.


                “amm.. tadi aku habis video call dengan adik kak Brian, kau tahu kan kalau kita pernah bertetangga.” Jelas Vivian sedikit gugup takut Andheera salah paham.


                “kalau begitu biar aku saja yang kembalikan.” Pinta Andheera seraya menyodorkan telapak tangannya agar Vivian menyerahkan ponsel Brian padanya.


Begitu Andheera mendapat ponsel milik Brian, ia langsung melesat pergi meninggalkan Vivian tanpa sepatah kata pun.


                “Andheera kau mau kemana?” seru Vivian.


Ia tak menyangka jika Andheera akan mengembalikan ponsel itu sekarang, disaat jam pelajaran masih berlangsung, bahkan mungkin Brian pun masih berada di kelasnya, lantas gadis angkuh itu buru-buru mau kemana dengan membawa ponsel milik Brian.


***


Atap Kirin school Jakarta.


Dari balik pintu atap sudah terdengar nyaring suara musik bergenre hip hop, dengan hati-hati Andheera membuka pintu atap agar Brian tidak menyadari kehadirannya.


Andheera mengendap-endap mencoba lebih dekat lagi, ia senang sekali bisa melihat langsung Brian tengah berlatih menari di atap sendirian.


Untuk sesaat Andheera dibuat kagum dan terpana sampai ia lupa untuk mengedipkan matanya.


Namun saat Brian melakukan gerakan memutar, akhirnya ia menyadari kehadiran makhluk lain selain dirinya di atap, membuat nya berhenti menari seraya mematikan musik yang berasal dari ponsel yang ia pinjam dari temannya.


                “kenapa berhenti, kapan lagi aku bisa menonton konser gratis kan hehehe.” Goda Andheera lalu berjalan dan duduk di bangku.


                “sejak kapan kau disitu, aku tak mendengarmu membuka pintu.” Sahutnya seraya menyeka keringat dilehernya menggunakan handuk kecil yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


                “amm cukup lama tuh.” Respon Andheera seraya melipat kedua lengan diatas dadanya.


                “kau bolos pelajaran olahraga.” tebak Brian lalu ikut duduk disamping Andheera, seraya meraih botol mineral yang ia taruh di samping bangku dan meneguknya dengan cara yang keren, lagi-lagi lelaki tampan itu membuat kedua mata nakal Andheera tak bisa beralih memandanginya.


                “bagaimana jika aku katakan, aku menyesal berpisah denganmu.” Gumam Andheera yang membuat lelaki disebelahnya sangat syock hingga...


Byuurrrr.. Brian memuncratkan kembali air yang barusan ia teguk, hingga Andheera tak dapat menahan tawa gemasnya karena tingkah Brian yang masih salting terhadapnya.


                “kau sengaja kan Andheera!!” geram Brian seraya menatap tajam wajah Andheera yang masih tersenyum manis.


                “ini ponselmu.” Andheera mengembalikan ponsel Brian, dan mengabaikan keluhan Brian barusan.


                “darimana kau dapat..” belum sempat menuntaskan kalimatnya Andheera keburu memotongnya.


                “Vivian, aku bilang pada Vivian akan mengembalikan ponsel kak Brian, tapi sebenarnya  itu hanya alasan saja agar aku tak perlu ikut ke dalam tim basketnya.” Papar Andheera.


                “untuk acara tahunan sekolah kau sudah memutuskan untuk berpartisipasi dalam lomba apa?” tanya Brian kemudian kembali meneguk air mineral yang masih dalam genggamannya.


                “itu amm, kurasa lomba vocal, ketua kelasku sudah mendaftarkannya.” Sahutnya pasrah.


                “benarkah kau akan menyanyi solo? Aku harus menonton berarti, aah tapi seingatku perlombaan vocal itu selalu bentrok dengan pertandingan basket.” Ujarnya.


                “tidak, aku akan duet.” Jawab Andheera.


                “APA!!” seru Brian seraya bangkit dari tempat duduknya, mendengar kenyataan Andheera bukan menyanyi solo membuat Brian sangat terkejut, bahkan lebih terkejut dari saat Andheera menggodanya tadi.


                “astaga!! Kaget aku, kenapa kau ini?” seru Andheera yang tak kalah terkejutnya melihat respon berlebihan mantan kekasihnya itu.


                “tidak, kau tidak boleh duet.” Kata Brian sembari memelototi gadis yang ada disampingnya.


                “itu sudah diatur oleh ketua kelasku aku tak bisa menolaknya, lagipula memangnya kenapa kalau duet, sebenarnya partner duet ku juga tampan kok.” Ujarnya dengan nada polos, seolah ia tidak mengerti situasinya.


                “HEYYY!!” sentak Brian dengan semua amarah yang ia luapkan, membuat Andheera lagi-lagi terkejut mendapat teriakan yang tak terduga.


                “apa sih, hehehe..” Andheera nyengir, karena berhasil membuat Brian cemburu.


Merasa sudah terlalu lama berada di atap ia harus segera kembali sebelum jam pelajaran olahraga habis.


Andheera pun beranjak dari tempat duduknya berniat pergi meninggalkan Brian yang masih menatapnya tajam.


Namun saat Andheera bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan Brian, tangan Brian menyambar pinggul Andheera lalu mendorongnya hingga ke tepi dinding pembatas atap.


Karena Andheera memiliki tinggi yang tak terpaut jauh dari Brian, wajah mereka hampir saja beradu akibat terlalu dekatnya wajah mereka saat ini.


Layaknya adegan drama Romance mereka berdua malah saling terdiam sesaat, sembari terus saling memandang dengan jarak yang hanya 10 cm.


                “kenapa kau selalu menggodaku seperti ini.” Gumam Brian seraya menatap kedua mata sipit Andheera, tidak seperti anak gadis lainnya yang akan salah tingkah, Andheera malah tersenyum menyeringai semakin membuat Brian tidak tahan dan ingin melahapnya hidup-hidup.


Perlahan Brian mendekatkan wajahnya, seolah pasrah Andheera hanya terdiam sembari memejamkan matanya menunggu bibir Brian sampai pada bibirnya.


Hanya tinggal 1 cm lagi bibir mereka bertemu, tiba-tiba kedua mata Andheera terbuka lebar seiring dengan tangannya yang meremas lengan Brian, membuat Brian pun ikut terkejut lalu menjauh seketika.


                “kau kenapa ?” tanya Brian khawatir seraya memegang wajah kecil Andheera dan menatapnya lekat.


                “aah tidak, maaf aku harus kembali.” Masih dengan ekspresi yang kebingungan Andheera berlari meninggalkan Brian, sama halnya dengan Brian, ia juga sama bingung nya, sebenarnya apa yang terjadi pada Andheera.


***