
Diluar Resto.
“tadi aku sempat melihat badut itu membuka kepalanya dan dia sangat cantik.” gumam Jessy saat berjalan keluar bersama Ben, mereka berdua berdiri menunggu Andheera di sisi yang lain sembari memperhatikan sang badut yang masih bekerja untuk menyebarkan selembaran promosi.
“lalu? Menurutku kau lebih cantik.” sahut Ben.
“Yaa!! Berhenti menggodaku seperti itu.” Geram jessy seraya memukul bahu Ben yang malah terlihat cengengesan.
“awww.. (ringis Ben) aku tidak menggodamu aku berkata jujur.” Tambah Ben.
“aiissh.. sudah berapa banyak gadis yang kau goda, aku kasihan sekali pada gadis-gadis malang itu.” Gerutunya seraya menunjukan raut wajah masamnya.
“apa kau cemburu hihihi.” Goda Ben.
“aku cemburu hahaha!!! Aku sudah punya Brian oppa tuh.”
“kau!!”
“Jessy..” panggil Andheera yang menghentikan perdebatan Ben dan Jessy.
“kau bisa pulang sendiri kan Jessy, karena arah kita berlawanan dan ini untukmu.” Ujar Andheera sembari memberikan 1 kantong keresek besar yang berisikan makanan untuk dibawa Jessy pulang.
Jessy tak bisa menahan rasa bahagianya hingga kedua matanya membesar serta mulutnya menganga, ia tak percaya akan dibelikan makanan sebanyak ini oleh Andheera.
“kenapa? Aku bisa mengantarnya pulang.” protes keponakan lelakinya itu.
“noona ingin bicara denganmu.” Ujar Andheera lembut.
“iya gak apa-apa eonni, rumah ku gak jauh dari sini kok jalan juga gak sampai 15 menit, terimakasih banyak untuk makanannya eonni.” balas Jessy kemudian sedikit membungkukan tubuhnya untuk mengungkapkan rasa terimakasih dan juga pamit pulang.
“bye Ben.” Tambahnya dengan lambaian dan senyum manisnya kemudian kembali fokus pada jalanan.
“apa kau harus menunjukan dengan jelas jika kau menyukainya Ben.” Gumam Andheera saat ia melihat Ben masih saja menatap kepergian Jessy.
Tak ingin berlama-lama Andheera pun berjalan lebih dulu melewati Ben, ia berniat untuk mengambil sepedanya yang masih terparkir di tempat toko komik, dengan berat hati akhirnya Ben mengikuti langkah Andheera.
“aku harus ke apotik dulu noona.” kata Ben sembari menaiki sepedanya.
“kau makan seafood?!” sontak Andheera menoleh dengan tatapan tajamnya.
“mana bisa aku menahannya selagi itu ada dihadapanku.” respon Ben yang mulai merasa gatal-gatal.
“AUGHHH!! Kau sama saja dengan ayahmu.”gerutu Andheera pelan lalu menaiki sepedanya dan pergi lebih dulu meninggalkan Ben yang masih menahan rasa gatalnya.
“apa kau bilang?” untungnya Ben tidak mendengar kalimat yang dilontarkan Andheera barusan.
Tak ingin ditinggalkan oleh noonanya, Ben pun berusaha menyusul Andheera dengan kekuatan penuh bak seorang pembalap.
Setelah selesai membeli obat diapotik dekat taman kota mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak, juga memulai percakapan sederhananya di taman bermain sembari berayun-ayun menikmati angin sore yang sejuk.
“ammm.. yang jaga toserba tadi itu teman noona?” tanya Ben sembari menjilati es krim yang dibelikan Andheera setelah ia berhasil meminum obat pahitnya.
“hmm..” respon Andheera seraya mengayunkan ayunannya pelan. “kau sudah merasa lebih baik?” Andheera khawatir dengan kondisi Ben yang terlihat masih sesekali menggaruk bagian tubuhnya.
“nanti juga baikan kan udah minum obat.” Sahutnya.
“apa kau harus memaksakan diri padahal kau tahu tak bisa memakannya.” Kata Andheera dengan nada lembut layaknya seorang kakak yang sedang menasehati adik lelakinya yang bandel.
“coba saja itu terjadi padamu noona, apa kau bisa menahan hal yang kau sukai.” Balas Ben yang tak mau kalah.
“baiklah aku tak ingin berdebat denganmu, bagaimana kabar tante Ahreum?” tanya Andheera yang akhirnya mengalah dan mengganti topik pembicaraannya.
“ibuku baik-baik saja, hanya tempat makan Ibuku tidak seramai dulu jadi kami hampir diusir oleh pemilik gedung karena selalu telat bayar sewa.” Paparnya masih sembari menikmati es krim favoritenya.
“itu alasannya kau bekerja ditempat roti temanmu?” tanyanya lagi.
“iya setidaknya aku bisa meringankan biaya sekolahku.”
“tante Ahreum tahu kau bekerja?”
“tidak, aku bilang saja aku dapat beasiswa jadi aku tidak meminta apapun untuk sekolahku.”
“apa kau masih membenci ayahmu Ben?” pertanyaan yang tak terduga muncul membuat Ben sedikit terhentak dan langsung melirik Andheera.
“tiba-tiba, kenapa noona membicarakannya?”
“jika kau berbaikan dengan Ayahmu bukankah kau tak perlu bekerja seperti ini lagi dan Ibumu tidak akan kesusahan juga.” Ujarnya mencoba memberikan saran untuk situasi sulitnya saat ini.
“tapi ibuku akan terluka, setiap kali ibu melihat wajah ayah, ibu pasti teringat akan pengkhianatan ayah. Noona.. didunia ini tidak semua hal memiliki kesempatan kedua, aku tahu maksudmu baik tapi keluargaku memang sudah hancur sejak saat itu, kau bahkan melihatnya kan ketika ibuku hampir gila dan menyakiti dirinya sendiri. Butuh waktu cukup lama untuk ibuku bisa stabil seperti sekarang ini, maafkan aku noona.” Tuturnya lirih seraya mengayunkan ayunannya pelan.
“kenapa kau meminta maaf, kau benar Ben ketika ada yang mengambil langkah yang salah sangat sulit untuk kembali, karena semua tak akan pernah bisa sama seperti pada awalnya.” Sahut Andheera seraya mengusap lembut kepala keponakannya itu.
“apa noona kecewa padaku?” Ben menghentikan ayunannya sejenak untuk fokus menatap wajah Andheera.
“tidak Ben, noona yang egois, terus memaksamu untuk baikan dengan Ayahmu disaat noona sendiri tak tahu rasa sakit yang kau dan ibumu rasakan, maafkan noona.” Ujarnya lengkap dengan senyum hangat yang ia pancarkan untuk keponakan lelakinya.
“ngomong-ngomong apa noona ga tertarik menjadi idol seperti kak Brian, suara noona kan sangat merdu.” Giliran Ben yang kini mengubah topik pembicaraannya.
“noona gak tertarik, bagaimana denganmu apa kau ingin menjadi Idol? Daripada kerja seperti itu kau bisa menjadi trainee di sebuah agensi dan debut menjadi Idol.” Kata Andheera.
“menjadi trainee tidak akan menghasilkan uang noona, aku harus menunggu sampai debut itu pun kalau berhasil, bagaimana jika hanya membuang-buang waktu karena tak berjalan sesuai keinginan.” Ujarnya mencoba berfikir realistis.
“noona akan membantumu, kau pasti berhasil kau percayakan pada noona?” ujarnya seraya menggenggam erat tangan Ben.
“iya tapi bagaimana dengan kebutuhanku sekarang, kalau aku..”
“noona yang akan membiayai semuanya, jadi berhentilah bekerja part time oke?” ujar Andheera yang berusaha meyakinkan Ben.
“bukannya aku tak percaya, tapi sekarang aku masih SMP, belum nanti SMA, biaya pendidikan itu gak sedikit noona, aku akan menuruti noona untuk ikut audisi tapi aku akan tetap bekerja part time.” Ujarnya.
“berhenti membantah, kau tahu, noona mu ini lebih kaya dari yang kau bayangkan.” Seru Andheera.
“tidak, uang yang kuberikan padamu itu sudah jadi milikku.” Seru Andheera yang juga tak mau mengalah kali ini.
“apa?” sahut Ben yang tak memahami kalimat Andheera.
“selain uang bulanan dari Ayahku, aku dapat dari Oppa dan Omma, semua itu lebih dari cukup untuk kita berdua jadi kau tak perlu khawatir tentang biaya apapun lagi, karena kau memiliki noona.” Ujarnya seraya mengnggem lebih erat juga menatapnya lekat.
“oke baiklah, ketika aku sukses nanti aku akan mengembalikannya 2 kali lipat.” Kata Ben yang akhirnya mengalah untuk mengikuti apa yang noona nya perintahkan.
“hey, 3 kali lipat.” Sahut Andheera dengan nada songongnya.
“ahahahahaa oke 3 kali lipat, terimakasih noona kau tahukan aku sangat menyayangimu.” Ujar Ben yang turun dari ayunan nya lalu beralih untuk memeluk Andheera yang masih duduk di ayunan.
“hmm noona juga, ayo noona antarkan kau pulang.” Balas Andheera yang kemudian bangkit dari ayunan dan berjalan beriringan bersama Ben menuju sepedanya yang masih terparkir di depan toserba.
“gak perlu aku kan lelaki dan sudah besar masa diantar sama perempuan.” Kata Ben.
“ciihh! dimataku kau itu masih piyik kau tahu.” Ujarnya lalu menggenggam kembali lengan Ben dan mengayun-ayunkannya.
“aaahh noonaaa..” rengek Ben seperti bocah yang digoda oleh kakak perempuannya, sedangkan Andheera hanya tersenyum lebar menanggapi rengekan Ben.
***
Kediaman Ray Keenan, seharian bermain diluar dengan karibnya membuat Keenan merasa sangat lelah, sesampainya di rumah ia langsung membantingkan tubuhnya diranjang seraya merebahkan kedua lengannya yang kekar.
Tak lama ia merasakan ponsel bergetar dalam saku celananya, dengan perasaan malas lengan panjangnya merogoh ponsel, kemudian mengangkat tanpa melihat layar ponselnya terlebih dahulu.
“hallo.” sapa Keenan tanpa tahu siapa yang tengah berbicara dengannya.
“hallo Ray ini bibi, bagaimana kabarmu?” seseorang didalam telfon menerima sapaan Keenan, lelaki yang baru beranjak dewasa itu sedikit terkejut dengan suara yang tak asing dari dalam telfon.
“sudah lama bibi tidak mendengar kabarmu, kau baik-baik saja kan disana.” Tambah bibinya lagi sebab Keenan masih mencoba mengatur fikirannya.
“R.. ray baik-baik saja bi..” sahut Keenan lalu terbangun mencoba mengatur posisi duduk ternyamannya.
“maaf bi, akhir-akhir ini Ray sibuk berlatih basket dan juga mempersiapkan segala sesuatu untuk melanjutkan kuliah di jakarta.” Sambungnya.
“jakarta?” sahut bibinya.
“iya bi, mama diminta untuk pindah ke Rumah sakit Haneul Jakarta, kebetulan Universitas yang Ray tuju juga ada di Jakarta jadi kami akan pindah ke Jakarta, bibi baik-baik saja kan disana?”
“oh begitu, tentu bibi baik-baik saja disini kau tak perlu mengkhawatirkan bibi, fokus saja dengan belajar dan cita-citamu, bibi yakin kau pasti bisa menjadi pemain basket professional seperti yang kau impi-impikan.” tuturnya penuh dengan kelembutan disetiap bait kalimatnya.
“terimakasih bi, bibi selalu mendukung Ray, meskipun Ray bukan benar-benar keponakan bibi tapi bibi sudah seperti keluarga bagi Ray.” Ungkapnya.
“kenapa kau berbicara seperti itu, kita kan memang keluarga, baiklah kau jaga dirimu baik-baik disana ya Ray jangan lupa akhir tahun nanti peringatan kematian kedua orang tuamu, bibi harap kau bisa datang, Lisa juga sudah sangat merindukanmu disini.” Paparnya.
“aah iya tentu bi aku pasti pulang, aku tak akan pernah melewatkan satu kalipun.” Sahutnya.
“iya, amm Ray, bibi tak tahu kau masih menunggunya atau tidak, gadis itu sampai sekarang tak pernah kembali kesini, tapi mungkin jika kau pindah ke Jakarta, peluang mu untuk bertemu dengannya akan bertambah. Karena Andheera juga berada di Jakarta.” Tambahnya lagi.
“benarkah? Bukankah dulu Nenek Andheera bilang dia pindah ke Kalimantan.” Respon Ray yang sedikit kebingungan.
“tidak, Andheera dan keluarganya ada di Jakarta.” Pungkasnya.
Begitu mereka berdua selesai berbicara ditelfon, Keenan terdiam sejenak seolah tengah mengingat sesuatu yang mungkin saja ia lewatkan.
“aroma unik parfume itu, apa itu Andheera.” gumamnya seraya mencoba berfikir keras mengingat kejadian-kejadian saat dirinya berada di Jakarta, mungkinkah selama ini ia sudah berkali-kali berpas-pasan dengan gadis yang ditungguinya itu, ataukah itu hanya perasaan Keenan saja yang memang sangat merindukan teman kecilnya.
***
Dalam perjalanan pulang Andheera dan keponakannya Ben, masih sembari mengayuh santai sepedanya dibelakang Ben, kedua mata tajamnya mendapati sosok tak asing tengah bermain-main di depan halaman sebuah panti asuhan, dan yang lebih menarik perhatiannya adalah seseorang yang tengah mengawasi orang-orang yang berada dipanti dari kejauhan.
“BEN!” panggil Andheera membuat Ben langsung berhenti dan menoleh kebelakang dengan tatapan polosnya.
“tunggu sebentar.” Tambahnya sembari memperhatikan seseorang yang mencurigakan itu, jauh di atap sebuah gedung yang terbengkalai.
Gadis itu tiba-tiba kembali teringat ketika kejadian beberapa waktu lalu, seseorang yang tampak mencurigakan seolah tengah mengawasi temannya Vivian di cafe.
Sementara itu, sadar jika Andheera berada di depan gerbang, Vivian pun yang tengah bermain-main di halaman mencoba menghampiri Andheera keluar lengakp dengan ekspresi bingungnya.
“Andheera, kok bisa ada disini?” panggil Vivian membuyarkan perhatiannya pada sosok mencurigakan itu, hingga sosok itu kembali menghilang secepat kilat saat Andheera hanya menoleh selama beberapa detik.
“ahh aku kebetulan saja lewat sini, aku mau mengantarkan keponakanku pulang.” Kata Andheera lalu mengarahkan pandangannya pada Ben, namun ..
“kemana dia..” gumam Andheera mendapati Ben hilang didepannya, kemudian ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keponakan nya itu.
“NOONAAAA aku mau main dulu disini!!” seru Ben yang ternyata sudah berada di halaman panti dan bermain dengan anak-anak panti.
“itu keponakanmu?” tanya Vivian seraya memandangi Ben yang tengah asyik bermain dengan anak panti lainnya.
“iya, argh! seharusnya aku tidak memintanya untuk berhenti tadi.” Gumam Andheera seraya menuntun sepedanya masuk ke panti dan melewati Vivian.
“waahh sepertinya gen dalam keluargamu tidak ada yang mengecewakan.” ujar Vivian yang mengikuti langkah Andheera hingga mereka pun berjalan beriringan.
“jika aku dilahirkan kembali aku ingin terlahir dari keluargamu hihihi.” Celetuk Vivian ngasal.
“kau yakin akan terlahir kembali sebagai manusia?” kata Andheera yang membuat suasana hati Vivian jatuh seketika.
“astaga! Mulutmu itu masalahnya, mulutmu!” gerutu Vivian tak terima dengan perkataan Andheera.
“hey kau mau kemana?” seru Vivian saat melihat Andheera terus berjalan sembari menuntun sepedanya menuju halaman belakang.
“halaman belakang sepertinya aku melihat ayunan.” Sahutnya tanpa menoleh.
“kalau begitu taruh saja sepedanya disini, tak perlu kau bawa ke belakang.” Ujarnya, Andheera menurut kemudian melanjutkan perjalanannya menuju halaman belakang diikuti oleh Vivian yang berjalan lebih lambat selangkah dari Andheera.
***