To My Youth

To My Youth
BAB 30



Di sekitar kompleks kediaman Brian.


Lelaki tampan yang sangat mirip dengan Kim Taehyung itu tengah menunggu seseorang dengan harap-harap cemas, takut jika jawaban yang ia dapat adalah hal yang tak seharusnya ia ketahui.


                “kau memanggilku Brian? ada apa?” terdengar suara yang dinantikannya telah datang dari belakang.


                “karena Kakak sibuk, aku akan langsung menanyakan hal yang ingin ku ketahui.” Brian membalikan badan menghadap sekretaris Daniel, yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


                “bertanya?” sahut sang sekretaris tersebut.


                “siapa Hyunjie?” tanpa keraguan ia bertanya sembari menatap tajam kedua mata sekretaris ayahnya, terlihat wajah Bima lelaki yang 8 tahun lebih tua dari Brian terkejut mendengar nama yang tak terduga.


“sepertinya benar dugaanku, Hyunjie bukan orang biasa, siapa dia? Apa hubungannya dengan ayahku?” lanjut brian karena Bima masih tak merespon dirinya yang tengah penasaran.


                “dia hanya teman kuliah ayahmu.” jawab Bima sesingkat mungkin.


                “benarkah? Lalu kenapa kau harus mengawasinya, dan melaporkan keadaan nya setiap satu tahun sekali? Apa perlu ayah melakukan hal itu jika hanya teman KULIAH?!!” teriak Brian tak mampu mengontrol emosinya.


                “itu.. “ Bima masih ragu, apa ia harus menceritakan yang sebenarnya pada putra sulung Daniel.


                “kau sudah menganggap aku sebagai adikmu kan, kak bima. Ku mohon ceritakan semuanya padaku, siapa wanita itu sebenarnya.” Brian meraih lengan Bima seraya menunjukan kedua matanya yang berkaca-kaca.


Brian berusaha menyembunyikan keadaan hatinya yang tidak baik-baik saja, namun air mata itu sepertinya tak bisa di ajak kompromi, terbukti saat Bima membuka mulutnya ingin menjelaskan Brian mulai terisak.


Brian sangat takut kenyataan bahwa ayahnya memiliki wanita lain, dan mencoba menyembunyikannya dari Jesika/Ibunya. Meski ia sudah mengira ini akan terjadi, setelah ia menguping pembicaraan ayahnya tapi ia tetap ingin memastikan, berharap ia salah dengar dan semua baik-baik saja.


***


Dalam perjalanan pulang Andheera, karena ia tak terbiasa naik taxi ataupun Gerobak ia harus berjalan sedikit jauh menuju halte bus.


BRUUKKKKK .. sesuatu yang keras jatuh ke atas kepala Andheera, “aaw..” ringis Andheera seraya mengelus kepalanya yang malang.


“OH SHITT!! SIALAN BRE**@, Anj*#, fgjk@@*##h!!” gadis itu terus mengumpat meski rasa sakit dikepalanya sudah menghilang, ia mengambil buah yang tadi terjatuh ke atas kepalanya lalu mendongakan kepalanya ke atas untuk melihat siapa yang melakukan hal ini padanya.


“YAAAAAAA!!” teriak Andheera saat mendapati ternyata tak lain adalah temannya sendiri, iyaa Anha yang masih nangkring tepat diatas kepalanya tengah memandanginya dari atas sembari nyengir merasa bersalah.


                “HEEYYY KAU PENCURI!!!!” seru bapak-bapak dari kejauhan sembari menunjuk ke arah mereka berdua.


Sontak Anha terkejut lalu menjatuhkan dirinya  sendiri tepat ke arah gadis yang berada dibawahnya.


Andheera tak sempat menghindar yang mengakibatkan dirinya kini lagi-lagi tertimpa, karena terjadi tiba-tiba, Andheera yang tak bisa menahan beban tubuh Anha akhirnya mereka berdua terjatuh dengan tubuh berisi Anha menimpa tubuh Andheera yang langsing.


Tanpa berlama-lama sebelum bapak-bapak itu sampai, Anha mengambil buah mangga yang dicurinya tadi, kemudian bangkit dan menarik tangan Andheera untuk berlari pergi.


Tertimpa 2 kali membuat Andheera tak bisa berfikir jernih, ia mengikuti Anha berlari tanpa mengeluh seolah orang yang menggenggamnya adalah Vivian.


                “okeeey huuhh.. haahh.. “ Anha melepas genggamannya setelah berlari sejauh mungkin, lalu coba mengatur pernafasannya sembari memandangi Andheera yang kini mulai bereaksi, Andheera menatap aneh Anha yang berada disebelahnya.


                “huuhh.. haaahh tunggu, kenapa aku harus berlari bersamamu.” otak Andheera mulai kembali bekerja.


Melihat ekspresi Andheera yang terlihat sangat lucu karena kebingungan, Anha hanya bisa tertawa renyah, ia juga tak menyangka bisa bertemu dengan gadis kasar itu hari ini.


                “hhahahaa..!! jika aku tak menarikmu, kau bisa jadi kaki tangan pencuri karena kau ada di bawah pohon mangga tadi.” Jelasnya.


                “oh shit! Aku hanya lewat, dan apa? kau tadi mencuri?!!” Andheera menatap Anha dengan tatapan tak percaya jika seorang Anha, ketua kelas yang baik hati dan banyak orang yang segan terhadapnya karena cara kepempimpinanya di kelas, ternyata seorang pencuri.


                “istri bosku sedang ngidam, katanya pengen manga.” Anha menjelaskan agar temannya itu tak salah paham dengan kata pencuri.


                “kau bisa membelinya.” ujar Andheera masih tak mengerti kenapa Anha melakukan hal tecela seperti itu.


Tanpa dirinya sadari ia sudah banyak berinteraksi dengan orang lain selain Vivian dan lelaki tampan.


                “dia inginnya mangga curian hhehehe.. sudah yaa aku harus kembali kerja makasih udah mau berlari bersamaku.” Anha melambaikan tangannya, lalu berlari pergi meninggalkan Andheera yang tampak masih tak percaya dengan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.


                “waaaahh .. daebak, heol, jinjja, hhhahahaa !!” Andheera menertawakan dirinya sendiri karena merasa tak pernah membayangkan hal seperti ini akan datang padanya.


“aku tak percaya bertemu dengan 2 orang konyol sekaligus hari ini, bahkan saat tanganku ditarik aku tak bisa melepasnya, apa mereka memiliki lem ditangannya, aughh sialan..!!” lanjut Andheera lagi yang masih memandangi tajam punggung Anha, yang berlari semakin jauh dari pandangannya.


“kuharap ini yang terakhir.” pungkasnya lalu berbalik arah karena ia sudah berlari terlalu jauh hingga harus kembali menuju halte.


*** 


Toserba.


Setelah Bima menceritakan semuanya, ia kembali ke Hotel untuk melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Brian memilih berjalan-jalan disekitaran kompleks untuk menjernikah fikirannya, sampai ia kelelahan karena terus berjalan tanpa tujuan.


Akhirnya ia berhenti di Toserba dekat taman kota, kemudian membeli beberapa minuman kaleng dan meminumannya di kursi yang disediakan oleh pihak Toserba di halaman depannya.


Brian menyentakan kaleng minuman diatas meja, lalu memegangi kepalanya yang mulai terasa sangat pusing.


Terasa air mata mulai mengalir kembali di pipi lelaki yang akan lulus sekolah dalam beberapa bulan yang akan datang, ia tak sanggup menerima kenyataan pahit tentang kisah cinta ayahnya di masa lalu.


                “Hyunjie adalah mantan pacar Pak Daniel sewaktu kuliah,”


                “bukannya itu udah puluhan tahun yang lalu, apa ayah masih berharap kembali dengan wanita itu,”


                “Ayahmu ingin mengambil alih Hotel Zeus sepenuhnya dari Nyonya Jesica, itulah alasannya kenapa Ayahmu meninggalkan pacarnya yang sudah menemaninya sangat lama, dan memilih menikah denganNyonya  Jesica."  


"Ayahmu ingin terus mengawasi/menjaga Nonya Hyunjie diam-diam karena dia merasa bersalah sudah meninggalkan wanita itu sendirian, ditambah baru-baru ini ayahmu tahu kalau ternyata dia memiliki anak bersama nyonya Hyunjie, dan itu semakin membutanya merasa bersalah.”


“Tapi untuk kembali padanya kurasa tidak mungkin, karena Ayahmu sudah memiliki kalian, jadi jangan khawatirkan ini lagi okee.”


Brian mencoba menahan tangis namun ia tak bisa berhenti terisak karena tak tahu apa yang harus  ia lakukan.


Ia mengira jika wanita yang bernama Hyunjie adalah orang ketiga diantara kedua orang tuanya, namun nyatanya wanita itulah yang menjadi korban atas perlakuan ayah dan ibunya yang tak bertanggung jawab.


                “apa kau sedang putus cinta?” seseorang yang tiba-tiba duduk didepannya mengajak Brian bicara sembari sesekali meneguk minuman kaleng yang baru saja dibelinya.


Perlahan Brian mengangkat kepalanya agar bisa melihat jelas wajah seseorang yang ada didepannya.


                “tidak,” respon Brian dengan tatapan yang menyedihkan membuat seseorang tadi merasa simpatik terhadapnya.


                “hmm, kau bisa bermain basket? Apa disini ada lapang basket.” tanya seseorang tadi seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari sebuah lapangan.


                “tidak ada,” jawab Brian datar.


                “kita ke sekolahanmu saja.” ajak seseorang itu lalu bangkit dari kursinya.


                “kau ingin menghiburku yaa.” tebak Brian masih terlihat tak bersemangat.


                “yaa sudah kalau tak mau.” ketusnya sembari berjalan pergi.


                “ke arah sini broo..” seru Brian yang berjalan mendahului seseorang tadi.


Sebuah pertemanan yang tak terduga terjalin diantara mereka bedua, meski belum berkenalan secara benar namun mereka terlihat akrab berjalan bersama, bahkan sebenarnya mereka belum mengetahui nama masing-masing.


Langit semakin gelap, matahari telah menyelesaikan tugasnya hari ini, kemudian perlahan digantikan oleh beberapa bintang yang mulai bermunculan satu-persatu, diiringi dengan rintik hujan yang mulai membasahi Kota Jakarta kala itu. 


Tak ada yang mengira jika hari ini akan turun hujan, karena ramalan cuaca di pagi hari menyatakan hari ini akan cerah seperti biasanya.


Namun tiba-tiba saja rintik hujan menambah semangat kompetitif antara Brian dan lelaki asing tadi yang tak lain adalah Ray Keenan, bukannya berteduh mereka berdua malah semakin bersemangat bermain basket, meski hanya berdua tak menyurutkan keseruan permainan basket mereka.


Karena tak dapat dipungkiri, Brian bukan lawan yang mudah begitupun dengan Keenan yang sudah bermain basket sejak kecil, ia sudah terbiasa jatuh, bangun terpeleset hingga tubuhnya dipenuhi goresan dan luka lebam, akibat terlalu agresif dalam bermain basket, sebab ia tak bisa menerima kekalahan.


                “kau takan menyerah?” ujar Brian yang tampak kelelahan sembari mendribel bola, ia masih tetap memaksakan diri bermain meladeni teman barunya.


Keenan menyeringai menunggu Brian lengah lalu mengambil alih bola yang tengah dalam genggaman Brian.


                “apa kau lelah?” akhirnya Keenan berhasil merebut bola dari Brian, kemudian membawa dan memasukannya ke dalam ring, lagi-lagi Keenan mencetak poin, Keenan tersenyum penuh arti ke arah Brian yang mulai kehabisan nafas setelah hampir 1 Jam lamanya mereka bermain.


                “tidak!! aku tak lelah sama sekali.” kata Brian meski tubuhnya ingin berhenti, namun harga dirinya memaksa Brian untuk tetap meladeni permainan Keenan.


Mereka kembali bermain ditengah rintik hujan yang sesekali membuat mereka terpeleset, sudah seperti pertandingan dalam olimpiade olahraga.


Mereka bermain sampai titik darah penghabisan, tak ada yang mau mengalah baik Brian maupun Keenan, padahal tubuh mereka sudah benar-benar kelelahan dan banyak luka goresan dimana-mana akibat terjatuh berkali-kali, namun mereka tak perduli sama sekali.


***