
Kembali ke kediaman Denise, betapa terkejutnya kala gadis itu mendapati Andheera muncul dibalkon kamarnya, kemudian perlahan berjalan dan membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, lengkap dengan tatapan tajam juga senyum smirk yang sangat menakutkan.
Membuat Denise yang tengah berdiri di samping ranjangnya tak dapat berkata-kata, ia terus memperhatikan langkah Andheera yang semakin mendekat padanya.
“Ba.. bagaimana bisa..?” ucap Denise terbata-bata seraya mulai mencoba melangkah mundur perlahan-lahan.
Melihat raut wajah Denise yang tampak jelas ketakutan semakin membuat Andheera bersemangat untuk terus mendekatinya.
“bukankah sudah kubilang untuk menjauhi Son Yerim..?!” kecam Andheera yang masih terus berjalan perlahan bersamaan dengan langkah Denise yang bertolak belakang dengan dirinya.
“apa kau TULI..!!” sentak Andheera.
Brukk..!! suara hantaman pelan antara tubuh Denise dan pintu kamarnya membuat dirinya sedikit terkejut namun juga merasa sedikit lega, sebab ia merasa memiliki kesempatan untuk meloloskan diri dari gadis menyeramkan yang kini berada dihadapannya.
Namun ketika jemari Denise hendak menarik handle pintu, tanpa di duga pisau kecil melesat secepat kilat lalu menancap di pintu dan hampir saja mengenai pipi mulus Denise.
Iya.. Andheera memang tidak berniat untuk melukai Denise, ia hanya ingin mencoba memberikan banyak tekanan pada gadis malang tersebut. Sontak kedua kakinya mulai melemah dan hampir saja membuat dirinya terjatuh ke lantai, karena saking shocknya.
“HEY..!! apa kau seorang PSIKO..!!
Kau hampir saja membunuhku..!!” rengek Denise yang masih bersandar di pintu kamarnya, sebelum akhirnya ia membenarkan posisi berdirinya.
“tak cukup kau membunuh anjingku yang tak bersalah, dan kini kau akan membunuhku..!! apa kau benar-benar waras.” lanjutya lagi.
“Hey Andheera, apa kau benar membunuh anjing temanmu itu..?! apa kau sudah gila..?” oceh seseorang dalam earphone yang di pakai oleh Andheera yang tak lain adalah pamannya yang tengah mendengar percakapan diantara mereka berdua.
“jika kau sudah berhenti saat itu, mungkin aku tak akan bertindak sejauh ini bukan..!” Andheera tak menghiraukan ocehan pamannya, ia masih terfokus pada gadis yang berada di hadapannya.
“kau bertindak sejauh ini hanya untuk gadis munafik itu..?!
kau tau, kau sudah ditipu oleh wajah polosnya. Suatu saat nanti pun dia akan mengkhianatimu, seperti apa yang sudah dia lakukan padaku..!” katanya dengan meninggikan suaranya.
“kau yakin, Yerim yang melakukan itu padamu..?” tanya Andheera yang mencoba tenang agar Denise pun bisa berfikir dengan jernih dan tidak diselimuti amarah lagi.
“tentu saja, karena hanya dia yang mengetahui rahasiaku.” Sahutnya mantap.
“kau benar-benar yakin hanya Yerim..?” tanya Andheera kembali, membuat Denise terdiam sesaat untuk mengingat-ingat akan masa lalunya.
“tidak..
Tidak mungkin Rayya..” gumamnya, seraya mengalihkan pandangannya sejenak dari Andheera.
“kenapa tidak mungkin..?
kau bisa melacak alamat email yang sudah menyebarkan rumor tentangmu kan, tapi kenapa kau hanya berasumsi jika Yerim yang melakukannya, padahal kau tau sendiri Yerim tidak memiliki social media apapun, dan kau fikir dia memiliki banyak waktu untuk hal seperti itu padahal hidupnya saja sudah sangat sibuk untuk membantu keluarganya mencari nafkah.”
Denise terdiam sejenak mendengar penjelasan dari Andheera membuat hatinya mulai luluh dan mencoba untuk berfikir segala kemungkinan yang terjadi.
“tapi meskipun kau sudah tau kebenaran yang terjadi, jika semua ini bukan ulah Yerim, ku rasa permintaan maaf pun tak akan cukup, aku akan tetap membawa kasus ini ke jalur hukum dan kau harus menerima balasan atas semua yang telah kau perbuat pada Yerim..!” ucapnya mantap dengan di akhiri senyum smirk yang menjadi andalannya.
Mendengar kalimat terakhir Andheera membuat tubuh Denise akhirnya jatuh terkulai tak berdaya dengan bersandarkan pintu, perasaan menyesal yang amat sangat tiba-tiba saja menyelimuti hatinya hingga air mata penyesalan pun tak dapat terhindarkan.
Merasa sudah cukup akhirnya Andheera pun berniat untuk pergi lalu membalikan tubuhnya.
“kau fikir bisa pergi dengan mudah..?
Lalu bagaimana dengan anjingku..?! jika aku harus dipenjara ku pastikan kau pun akan ikut bersamaku..!” pekiknya saat Andheera menarik handle pintu kamar Denise.
“silahkan saja..!
Aku gak takut tuh, lagipula memang nya kau punya bukti jika aku yang membunuhnya..? mayat anjing nya pun tak kau temukan, HAHAHA..!” sahutnya seraya membalikan tubuhnya sejenak untuk menatap kedua mata Denise yang sudah dipenuhi air mata.
Kemudian berjalan pergi menuju balkon lalu meloncat ke bawah, hingga membuat kedua bola mata Denise membulat dan mulutnya sedikit menganga, untuk kesekian kalinya ia dibuat terkejut oleh gadis mengerikan tersebut.
***
Di lain tempat, rumah sakit Haneul Jakarta.
Setelah berhasil menenangkan dirinya sendiri, Vivian pun memutuskan untuk berkunjung ke tempat karibnya itu di rawat dengan membawa sekeranjang buah yang ia beli dalam perjalanannya menuju rumah sakit.
Langkah nya tampak ragu juga beberapa kali ia terhenti sejenak untuk mengatur fikirannya yang tak karuan, namun dirinya yang lain terus mendorong nya untuk tetap maju dan meneruskan tujuannya, hingga akhirnya ia pun sampai di ruangan yang ditujunya.
Untuk beberapa alasan gadis itu masih memandangi pintu ruangan Yerim dengan tatapan yang menyedihkan juga mengeratkan genggamannya pada keranjang buah yang dibawanya. Tak dapat dipungkiri rasa takutnya kini semakin menjalar ke dalam tubuhnya hingga reflex kakinya mencoba mundur kembali 1 langkah.
Brruukk..!
Sebuah hantaman kecil datang dari seseorang yang tengah berjalan dibelakangnya.
“oh, sory.. sory, aku sedang terburu-buru, kau tak apa kan..?” ucap seorang lelaki yang sudah menubruk bagian bahu Vivian, hingga reflex Vivian pun berbalik padanya.
Vivian hanya menggangguk pelan juga menyunggingkan senyum tipisnya, tanda ia merasa baik-baik saja, namun setelah lelaki itu kembali melanjutkan perjalanannya, Vivian seolah teringat lelaki yang pernah di temuinya di kafe komik beberapa tahun lalu.
Karena wajahnya yang cukup tampan membuatnya mudah untuk mengingat wajah itu.
“apa yang dia lakukan..?” gumam Vivian saat melihat lelaki yang menubruknya tadi berjalan menyusuri lorong rumah sakit seraya melihat-lihat ke dalam semua ruangan yang di laluinya, seolah ia tengah mencari seseorang.
Tak ingin terlalu memikirkannya ia pun kembali memfokuskan pandangannya ke dalam ruangan karibanya.
Ceklek..
Suara pintu ruangan Yerim terbuka, membuat nya sedikit terkejut ketika seseorang keluar dari ruang Yerim yang tak lain adalah ibunya Yerim seraya membawa sebuah termos kosong.
“Vivian..
kenapa tidak masuk..? ayo masuk, Yerim sudah menunggu mu.” Sapanya lengkap dengan senyum ramah seorang ibu pada umumnya.
“menungguku..?” ulang Vivian seraya mengerutkan keningnya.
“Iya, Yerim menanyakanmu karena hanya kau yang belum datang menjenguknya.” Jelasnya masih dengan senyum lembut di akhir.
Iya maaf tante karena aku baru bisa menyempatkan waktuku hari ini.” Responnya dengan mencoba memaksakan untuk tersenyum.
“Iya gak apa-apa, ayo masuk..” ucap Ibu Yerim seraya membukakan pintunya agar Vivian bisa masuk dengan mudah karena kedua tangannya tengah memeluk sebuah keranjang buah.
Setelah Vivian masuk ke dalam ruangan, Ibu yerim kembali menutup pintu ruangannya kemudian melanjutkan perjalanannya untuk mengambil air panas dan mengisi termosnya.
Tampak Yerim tengah tertidur di atas ranjangnya bersama adik bungsunya Uju yang juga tengah tertidur pulas di sampingnya.
Melihat kondisi tubuh Yerim yang di penuhi memar membuat hatinya benar-benar terluka, tanpa terasa bulir air mata itu pun kembali mengalir membasahi pipinya, tak ingin mengeluarkan suara tangisnya satu lengannya mencoba menutup mulutnya untuk sedikit meredam suara isakannya.
Namun karena tak sanggup menahan berat dari keranjang buah hanya dengan 1 tangannya, akhirnya keranjang itu pun terjatuh dan membuat Yerim sontak terbangun dari tidurnya. Sedangkan Uju masih terlelap dan tak terganggu sama sekali dengan suara berisik tersebut.
Saat Vivian hendak memungut kembali buah yang berserakan di lantai, karena parsel buahnya tersobek ketika menghantam lantai, Yerim mencoba duduk dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari sumber suara yang membuatnya terbangun.
“Vivian..” panggil Yerim lemah namun terdengar jelas di telinga Vivian hingga membuatnya menoleh.
Melihat Yerim tengah memandanginya, membuat dirinya kembali gelisah haruskah ia melanjutkan tujuannya kemari untuk meminta maaf atau malah melarikan diri kembali seperti seorang pengecut.
Dan..
“Vivian..!” panggil Yerim sedikit lebih nyaring dari yang sebelumnya, saat ia melihat Vivian berlari keluar ruangannya dengan wajah yang memerah.
“ehh.. Vivian sudah..” belum sempat ibu Yerim menuntaskan kalimatnya, Vivian lebih memilih untuk terus berlari melewati ibu Yerim yang baru saja kembali dengan termos di tangannya.
“kakak mau kemana..?” seru sang ibu saat kembali mengalihkan perhatiannya pada sang putri di atas ranjangnya.
Yerim mencoba turun dari ranjangnya serta berniat membawa tiang infusan bersamanya, membuat ibunya khawatir apa yang sebenarnya terjadi antara putri dan temannya tersebut.
“kakak belum bisa jalan lama-lama kan, biar mama antar ya.” Ucapnya lagi seraya cepat-cepat menaruh termos di meja kecil kemudian mencoba menyusul putrinya.
“engga mah, Yerim mau menyusul Vivian, mamah disini aja.” Katanya mencegah ibunya untuk ikut bersamanya.
“tapi kondisimu..” ibunya masih tetap khawatir.
“kakak sudah lebih baik mah, mama percaya kakak kan.” Ucapnya seraya tersenyum kecil kemudian kembali berjalan untuk menyusul temannya yang sudah pergi entah kemana.
“iya baiklah,” gumamnya pelan.
Akhirnya sang ibu membiarkan putrinya pergi sendiri, ia berfikir mungkin keduanya perlu waktu untuk berbicara berdua dan menyelesaikan permasalahan yang ada diantara keduanya.
***
Sore harinya di agensi BangQit.
Tak sepertinya yang selalu ramai oleh trainee yang sedang berlatih, namun kali ini berbeda karena pihak agensi memberikan beberapa hari libur untuk sebagian grup trainee nya, dan hanya beberapa yang masih tampak berlalu lalang di agensi untuk berlatih.
Sama hal nya dengan grup Namjoon CS, hanya terlihat Jimin yang sedang beristirahat di sofa seraya meneguk es kopi yang diletakannya di atas meja. Jimin memang member yang paling sibuk dari member lainnya.
Karena meskipun Jimin belum debut sebagai idol namun ia sudah seringkali mendapat job dari beberapa iklan juga tak jarang menjadi lawan main di MV artis penyanyi solo.
“berikan nomor rekening mu, aku akan membayarnya setiap bulan saat aku mendapatkan gaji.” Ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul di sampingnya.
Jimin yang kala itu tengah memainkan ponselnya, ia hanya bisa melihat kedua kaki yang berdiri dihadapannya.
“tak perlu, uang segitu tak ada apa-apanya bagiku, hanya seperti aku membeli permen.” Katanya seraya bangkit dari sofa dan memandangi kedua mata Anha untuk beberapa saat sebelum ia melangkah pergi.
“aku tak ingin berhutang padamu, jadi tolong berikan nomor rekeningmu.” Tegas Anha seraya menatap tajam bagian belakang Jimin, hingga akhirnya Jimin pun kembali berbalik.
Kedua mata itu kembali bertemu, meski Anha mencoba untuk menyembunyikan luka hatinya dihadapan Jimin, namun nyatanya tanpa Anha mengucapkan apapun lelaki itu bisa melihat kondisi Anha yang sebenarnya dari sorot matanya kini.
Sebelum air mata itu mengalir dari pelupuk matanya, 1 lengan Jimin mencoba menempatkan kepala Anha pada dada bidangnya agar Anha bisa menangis dalam dekapannya.
Sementara itu dilantai bawah, saat Brian berjalan diloby agensi, ia tak sengaja menengadahkan kepalanya ke lantai atas hingga pemandangan romantic itu tampak jelas terlihat oleh kedua matanya.
Sontak ia pun tersenyum penuh arti seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya, kemudian langsung memotretnya menggunakan fitur zoom agar terlihat jelas.
“hihihi..!” Brian tertawa kecil seraya memandangi hasil jepretannya beberapa detik yang lalu.
“lihat saja, kalau dia mengejekku lagi dengan Andheera, aku akan menunjukan foto ini ke member yang lainnya.” Ocehnya kemudian melanjutkan perjalanannya sembari masih memandangi layar ponsel miliknya.
“hey.. (sapa hobie dari belakang dan langsung merangkul Brian)
Kenapa kau senyum-senyum sendiri..?” lanjutnya ketika melihat Brian yang terus tersenyum memandangi layar ponselnya.
“ahh.. engga kok, hahaha..” dustanya seraya memasukan ponselnya ke dalam saku celana.
“ahh, masa sih, kau menyembunyikan sesuatu dari kakak ya, apa itu..” godanya seraya mencoba mengambil ponsel milik Brian yang sudah dimasukan ke dalam saku celana, hingga membuat Brian kegelian dan terus tertawa di sepanjang perjalanan menuju ruang latihan.
***
Di pekarangan rumah sakit Haneul Jakarta.
Yerim masih mencoba mencari Vivian yang tiba-tiba berlari dari ruangannya, hingga sampai ke pekarangan belakang rumah sakit.
Kedua matanya tampak berbinar kala ia bisa menemukan keberadaan karib nya tersebut, bersamaan dengan sudut bibirnya yang terangkat karena merasa senang, Vivian belum pergi dari rumah sakit melainkan tengah terduduk di bangku sendirian seraya menatap lurus ke depan, seolah banyak hal yang membebani fikirannya.
“kau bolos sekolah ya..?” ucap Yerim.
Vivian pun langsung menoleh ke belakang mendengar suara yang tak asing di telinganya, ia mendapati Yerim sudah berdiri disampingnya lengkap dengan senyum lebar seperti biasanya.
“ke.. kenapa kau ada disini..?” Vivian bangkit dari bangkunya seraya memandangi Yerim.
“aku merindukanmu..” ucapnya seraya tak hentinya memberikan senyuman pada Vivian.
***