To My Youth

To My Youth
BAB 36



Time Jun.


Begitu sampai ditempat, untuk sesaat mereka berdua saling menatap, mungkin bingung permainan apa dulu yang akan mereka mainkan.


                “bagaimana kalau VR?” lagi-lagi Brian yang bersuara untuk menentukan pilihannya, Keenan tersenyum lebar mengiyakan keinginan adik angkatnya itu, mereka berdua langsung ngacir ke tempat VR yang kebetulan saat itu memang sedang tidak ada yang memainkan.


Terlihat senyum merekah baik dari bibir Brian maupun Keenan, sebelum mereka berdua memulai permainannya.


                “APA INI KENAPA SEMUA SETANNYA JELEK-JELEK!!” gerutu Brian saat memulai permainannya.


Berbeda dengan Keenan yang terlihat santai menghadapi tantangan dalam VR, meski sesekali ia kedapatan terkejut karena setan yang muncul tiba-tiba, namun ia bisa mengatasinya dengan cara yang cool layaknya lelaki sejati.


                “AAHHHH HYUNG TOLONG AKU, SETANNYA TERUS MENGIKUTIKU.”  Rengek Brian yang terus mengganggu Keenan yang asyik dengan dunianya sendiri.


                “Heyy!! berhenti mendorongku, aku tak bisa berkonsentrasi menemukan barang-barangku.” Keluh Keenan.


                “TIDAK.. TIDAK HYUNGGG!! apa ditempatmu ada yang mengesot?” kata Brian lagi seraya mengaitkan lengannya pada lengan Keenan.


Berulang kali Keenan mengomeli Brian karena terus mengganggu konsentrasinya, namun Brian tak memperdulikannya ia mendorong dan juga menendang Keenan seolah ia tengah berperang dengan setan yang nyata disampingnya.


Kaki dan tangannya tampak sibuk berkeliaran kesana kemari, hingga akhirnya membuat Keenan mulai terbiasa dengan serangan dadakan oleh Brian yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.


Tak sampai disitu, setelah puas bermain VR mereka langsung pindah untuk bermain balapan mobil, kebersamaan yang terjalin di antara mereka hari ini semakin membuat mereka merasa nyaman satu sama lain.


Mereka tersadar jika kenyamanan dalam berteman bukan dari berapa banyak waktu mereka mengenal, namun karena mereka merasa cocok satu sama lain.


Canda tawa yang terdengar pun begitu nyaring, seolah beban fikiran yang mereka miliki terlupakan untuk sementara waktu.


***


Apartemen Andheera.


Andheera dan Vivian tampak tengah bersiap-siap dikamar, “aku juga mengajak kak Brian, gak apa-apa kan?” tanya Andheera seraya melirik ke arah Vivian yang sudah selesai mengganti pakaiannya berniat untuk keluar kamar mendahului Andheera.


                “iya terserah kau saja.” responnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan kemudian berjalan keluar.


Pandangan Andheera tak bisa beralih, sampai pintu kamarnya kembali tertutup, tampak jelas raut wajah Vivian yang langsung berubah ketika dirinya menyebut nama lelaki yang disukainya.


***


Kediaman Reza, lebih tepatnya di dapur.


Setelah Andromeda kembali dari Agensi (Tempatnya bekerja) ia langsung sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk makan malam dibantu oleh asisten rumah tangganya bi Dharma.


Bukan hanya daging namun ia juga membuat kudapan, seperti pudding strawabery kesukaan adiknya dan beberapa kookies sebagai cemilan.


Sudah seperti seorang Ibu yang sangat paham akan makanan favorite putrinya, Andromeda berusaha mungkin selalu memberikan yang terbaik yang ia bisa, agar adiknya itu tak kekurangan sedikitpun kasih sayang dari keluarganya.


                “dagingnya banyak sekali den meda, kalau ga habis mubazir lho.” ujar bi Dharma yang melihat tumpukan daging dengan porsi yang tak biasa.


                “pasti habis kok bi, Vivian juga datang soalnya hihihihi.” jawab Andromeda seraya menunjukan deretan giginya yang rapih pada bi Dharma ia terlihat bahagia sekali.


                “ooh pantas hehehe bibi kira yang makan Cuma den meda sama nona dheera aja.” balas bi Dharma lengkap dengan senyum ramah yang menenangkan.


                “oia, tolong sekalian bawakan semuanya ke atap ya bi, aku mau mandi dulu.” Pinta Andromeda kemudian di respon dengan anggukan serta senyum oleh bi Dharma.


Tak lama setelah Andromeda pergi, bi Rina pun muncul menghampiri bi Dharma setelah ia selesai membersihkan bagian dalam rumah.


                “bagaimana kabarnya dikampung, ran?” tanya bi Dharma yang melihat Rani tengah berjalan mendekatinya.


                “sepertinya aku harus benar-benar pulang bi.” jawabnya seraya membantu bi Dharma meletakan mangkok juga alat makan di atas baki.


                “begitu ya, ya sudahlah kalau itu sudah menjadi keputusan akhirmu, terus bagaimana dengan gadis tetanggamu yang akan menggantikanmu.” percakapan ringan antara bi Dharma dan bi Rani terus berlanjut selagi mereka berdua mengatur beberapa makanan untuk diletakan diatas baki.


                “setelah kondisi ibunya membaik dia akan datang kesini, mudah-mudahan 1 atau 2 minggu dia sudah bisa datang.” Sahutnya sedikit tak bergairah.


                “iya sudah.” kata bi Dharma yang mengakhiri percakapan singkatnya kemudian berniat untuk berjalan pergi membawa baki yang sudah berisikan makanan ke atap.


                “mau ku bantu, ini semua akan dibawa kemana?” tanya bi Rani saat bi Dharma lebih dulu berjalan meninggalkannya tanpa memberikan aba-aba padanya.


                “ke atap, den meda, nona dheera, dan nona Vivian ingin makan disana katanya.” sahut bi Dharma sembari terus melanjutkan langkahnya.


                “bukannya cuaca sudah mendung bi, sepertinya akan turun hujan.” seru bi Rani sedikit meninggikan suaranya saat bi Dharma sudah berjalan jauh meninggalkan dapur, bi Rani menghela nafas kemudian berbalik untuk membawa baki dan menyusul bi Dharma ke atap.


Beberapa jam berlalu, kini langit pun telah berganti warna begitu pun dengan tugas sang matahari yang telah digantikan oleh terangnya bintang dan bulan penuh di malam hari.


Di tambah dengan untaian lampu tumblr yang Andromeda tempel di dinding pembatas, membuat suasana di ruang atap itu semakin meriah.


Semua makanan, minuman tak lupa juga kompor untuk memanggang daging, serta segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memanggang telah disiapkan di atas meja pendek, tempat mereka akan menghabiskan malam bersama.


                “waaahhh, heol daebak!! beneran nih oppa nyiapin daging dan juga kudapan sebanyak ini, kau yakin bisa menghabiskannya?” ujar Vivian yang takjub saat melihat pemandangan atap yang begitu indah, kemudian melirik gadis yang berada disebelahnya.


                “kenapa melirik ku, porsi makanmu lebih banyak dariku.” Protes Andheera.


                “hey sudahlah ku yakin kalian berdua bisa kok menghabiskannya hihihihi.” Sahut Andromeda yang sudah berada diposisinya.


                “oppa, tak sekalian undang semua warga kompleks XXX aja.” Ujar Andheera lalu berjalan untuk duduk diseberang kakaknya.


                “aaahh kalian ini suka pura-pura, oppa malah ragu segini apa sudah cukup untuk kalian.”


                “astaga kau ini.” Gerutu Andheera.


                “oiia, laki-laki ini siapa? Pacar mu dheera?” tanya Andromeda yang melihat seorang lelaki disamping Vivian hendak duduk disebelah Andheera.


                “bukan” jawab Andheera “iya” jawab Brian mereka serempak menjawab dengan jawaban yang berbeda, mencoba untuk tidak perduli, Vivian juga ikut duduk dan bergabung duduk di sebelah Andromeda.


                “kalian sedang bertengkar?” tanya Andromeda lagi seolah disana hanya ada mereka bertiga, dan Vivian hanyalah sebuah patung.


                “iya iya deh, aku Brian kak, senior kedua gadis ini dan hanya teman sekolah mereka.” Brian akhirnya mengenalkan dirinya dengan benar.


                “begitu, kukira salah satu dari gadis ini adalah pacarmu hehehe.” Goda Andromeda seraya melirik ke arah Andheera dan Vivian secara bergantian.


                “pengennya sih hihihihi.” Balas Brian lengkap dengan box smile andalannya.


                “ku sarankan sih jangan dengan Andheera, dia itu menakutkan hahahaha.” Ledek Andromeda yang membuat adiknya mengerutkan dahi.


                “kau sedang membicarakan adikmu sendiri oppa.” Gumam Andheera sembari mencoba mencicipi beberapa kudapan manis didepannya.


                “hehehehe maaf, udah ayo makan.” Pungkas Andromeda mengakhiri perbincangan ringannya kemudian memulai untuk tujuan utamanya, makan malam bersama.


                “oke makasih makanannya kak meda.” Kata Vivian dan Brian serempak, beda dengan Andheera yang sudah mulai menyantap makanan yang ia ingin makan terlebih dahulu.


Akhirnya mereka berempat memulai suapan pertamanya, dengan Andromeda yang bertugas memanggang daging, lalu membiarkan yang lebih muda yang memakannya dulu.


Kehangatan yang terjalin diantara mereka membuat Andheera lupa akan beban dan rasa sakit dihatinya sejenak.


Tawa lebar itu seakan ikut menghiasi malam panjang mereka, semua tampak nyata tak ada yang dibuat-buat.


Sesekali Brian dan Andromeda melontarkan lelucon garing untuk menambah keseruan malam itu, selalu disambut dengan tawa hangat oleh Vivian begitu pun dengan Andheera yang tampak menikmatinya, sembari terus mengunyah daging kesukaannya.


***


Bandara Daegu Yogyakarta.


Setelah Diana dan Mina selesai melakukan check-in, Mina meminta ijin untuk ke toilet sebentar, sementara itu Diana duduk di ruang tunggu seraya memperhatikan kerumunan orang-orang yang berseliweran dihadapannya.


Tak terduga ia mendapati sosok yang familiar tengah berjalan menuju ke arahanya, bersama seorang gadis cantik disampingnya.


Hanya butuh beberapa langkah lagi mendekati dirinya, namun tampaknya sang wanita berhenti dan berbicara pada lelaki itu kemudian pergi ke lain arah.


Sedangkan lelaki tadi melanjutkan langkahnya sampai tepat dihadapan Diana, lalu ia duduk disebelah Diana seolah ia tak mengenali nenek tua itu, ia hanya terfokus pada ponsel yang ditatapnya.


                “lama tak bertemu Keenan.” Sapa Diana seraya menoleh ke arah Keenan disampingnya, Keenan sedikit terkejut mendengar suara itu, seperti suara yang tak asing baginya, Keenan memberanikan diri untuk memastikan siapa yang ada disampingnya.


                “omma.. (gumam Keenan pelan seraya membulatkan kedua bola matanya, karena terkejut melihat kehadiran Diana yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan bertemu disini)


bagaimana omma bisa ada disini?” tanya Keenan sedikit gugup.


                “omma hanya berkunjung, kakek dikremasi dikota kelahirannya.” Papar Diana seraya menyunggingkan senyum seramah mungkin.


                “aah begitu.“ otak Keenan baru menyadari akan satu hal, dengan gesit kedua bola mata Keenan mencari-cari sosok yang sangat dirindukannya, namun ia tak menemukan siapapun disana hanya Diana.


                “kedua cucu omma tidak ada yang ikut, hanya omma yang berkunjung.” Tambah Diana lalu mengalihkan pandangannya kembali dari wajah Keenan.


                “aah hehe.” pencariannya selesai saat Diana memberitahu Keenan jika orang yang dicarinya tidak ada disana, terlihat jelas raut wajah kecewa Keenan.


“apa Andheera baik-baik saja, omma?” tanya Keenan dengan nada yang penuh kekhawatiran seraya menundukan kepalanya.


                “iya sangat baik. “jawab diana, suasana hening beberapa saat keduanya hanya terpaku pada hal yang ada dihadapannya sampai Diana kembali melanjutkan pembicaraannya.


“Omma hanya punya satu pertanyaan untuk mu, bisakah kau menjawabnya dengan jujur.” Tiba-tiba suara Diana terdengar sangat serius.


                “tentu, apa itu omma?” respon Keenan.


                “Andheera.. apa dia benar-benar kehilangan ingatannya?” tanya Diana kemudian ikut menoleh hingga mata mereka pun kembali bertemu, terlihat Keenan menaikan sedikit garis bibirnya seolah ia sudah lama menantikan pertanyaan itu dari seorang nenek paruh baya yang berada disampingnya.


                “aamm.. aku tahu omma sangat membenciku karena Andheera selalu berakhir berkelahi dengan orang-orang yang membullyku dulu, karena Andheera selalu terlibat kekerasan untuk membelaku." tuturnya.


"Jika aku katakan Andheera sama sekali tidak kehilangan ingatannya, apakah omma akan percaya padaku?” sambung Keenan dengan tatapan yang diselimuti amarah, membuat Diana sontak terkejut melihat perubahan kedua sorot mata Keenan seperti orang yang berbeda.


Kini Keenan tak tampak seperti anak bocah lemah seperti dulu ia benar-benar telah berubah sepenuhnya.


                “Andheera mengingat semuanya?” Diana ingin meyakinkan sekali lagi.


                “iya bahkan saat insiden perampokan yang menewaskan kakek kala itu, Andheera mengingatnya dengan jelas.” tambah Keenan lagi kemudian kembali memalingkan wajahnya dari Diana.


“Omma.. ada hal yang sebenarnya ingin ku katakan lebih dari ini, tapi jika Andheera tahu aku memberitahu omma, itu tidak benar." ujarnya.


"Karena Andheera sudah percaya padaku, aku tidak bisa mengatakan lebih dari ini. Jadi ku mohon carilah kebenaran yang terjadi dan meminta maaf pada Andheera, dia sudah banyak mengalami kesulitan selama ini.” pungkas Keenan.


Kemudian bersiap untuk bangkit dari tempat duduk untuk mengakhiri percakapan singkatnya dengan Diana, ditambah kedua mata tajam Keenan mendapati Jiso sudah kembali dan tengah berjalan menuju ke arahanya.


                “Keenan..” namun panggilan dari seorang wanita paruh baya itu menghentikan langkah pertamanya, Keenan menoleh sejenak kebelakang untuk merespon panggilan diana.


“terimakasih karena sudah disisi Andheera untuk waktu yang lama.” Ucap Diana tulus, seraya menyunggingkan senyum lembut sebagai tanda perpisahan mereka, senyum itu kemudian disambut hangat oleh Keenan sebelum ia kembali berbalik melangkahkan kakinya lalu berjalan menghampiri Jiso yang tak jauh di depannya.


Meski itu hanyalah pertemuan singkat begitu juga dengan percakapannya, namun kenyataan jika Andheera mengingat semuanya membuat Diana berfikir keras, mengapa gadis kecilku membohongiku selama ini? sebenarnya apa yang telah terjadi atau apa yang telah ku lewatkan.


Sejak saat itu Diana tak ingin kembali berfikir negative pada cucu perempuannya, ia mulai menyelidiki semuanya dari awal dengan bantuan beberapa koneksi yang ia miliki.


Dan juga beberapa orang yang bisa ia andalkan, Diana bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya Andheera sembunyikan darinya selama ini.


***


“kau berbicara dengan siapa?” tanya Jiso karena ia melihat Keenan menoleh ke arah seorang nenek yang sedang duduk dibelakangnya.


                “hanya saling menyapa.” Jawab Keenan seadanya tak ingin menjelaskan lebih lanjut, kemudian mereka berdua berjalan bersama keluar bandara menuju mobil jemputan Jiso, yang sudah lama menunggu diluar.


                “karena supirmu sudah disini, kau duluan saja aku mau ke tempat Joe dulu sebelum pulang.” Ujar Keenan tanpa menunggu respon Jiso ia langsung berjalan pergi menuju taxi yang kebetulan berhenti di depan mobil Jiso.


                “aiish, setidaknya dengarkan sampai aku merespon ia selalu berbicara sambil berlalu, memangnya aku ini tembok hah!!” gerutunya lalu menendang ban mobilnya sendiri, supir Jiso yang melihat kelakuan putri majikannya hanya bisa menghela nafas dan menggelangkan kepalanya.


***