
Malam harinya.
Masih di agensi BangQit, tepatnya di sebuah ruangan yang biasa dipakai untuk para member berlatih menari, saat itu masih giliran grup Namjoon CS yang berlatih sedangkan para member lainnya berada diruang latihan yang berbeda atau tengah bersantai di dorm masing-masing dengan anggota grup lainnya.
Tergantung jadwal yang sudah diberikan oleh pihak agensi kepada member grup masing-masing, sehingga tidak akan terjadi saling berdesakan dalam ruang latihan karena padatnya para member yang berlatih.
Hanya tinggal 10 menit lagi giliran Yeji CS yang akan memakai ruang latihan, sementara temannya yang lain seperti Seokjin, Namjoon juga Hobie sedang berlatih dengan tenaga yang masih tersisa, Yonggi dan Ben tengah berbaring dipojokan, seraya memandangi langit-langit dengan beralaskan lengannya sendiri untuk menjadi bantal dadakan keduanya.
“apa tadi itu pacarmu kak..?” tanya Ben yang penasaran akan kejadian tadi sore, seraya memiringkan tubuhnya agar bisa melihat dengan jelas raut wajah kakaknya itu dari samping.
“bukan..” jawab Yonggi tanpa ragu.
“lalu kenapa kakak memandanginya seperti itu..?” celoteh Ben lagi yang tak hentinya mengajukan pertanyaan yang tak ingin Yonggi dengar.
“seperti apa memangnya..?” Yonggi malah balik bertanya seraya melirik ke arah Ben yang sedari tadi sudah menatapnya dengan tatapan serius.
“seperti ini..” ucap Ben seraya membulatkan kedua bola matanya untuk memperagakan apa yang telah Yonggi tunjukan tadi sore, hingga Yonggi pun tersenyum dibuatnya.
Ceklek..
Suara pintu ruangan pun tiba-tiba terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu, membuat semua mata mengarah pada seseorang yang baru saja datang dengan membawa beberapa minuman kaleng di dalam keresek putih, kemudian berjalan menghampiri para member.
“Hey semuanya, kalian sudah bekerja keras, minumlah ini lalu istirahat pulang oke..! kakak juga sudah memesankan makanan untuk kalian ke dorm, sekitar 30 menit lagi mungkin sampai.” seru Andromeda seraya membagikan minuman kalengnya kepada seluruh member yang ada di ruang latihan lengkap dengan senyum merekah yang menghiasi wajah tampannya.
“makasih kak meda, tapi lain kali kakak ga perlu belikan kami makanan, aku bisa masak kok..” ujar Seokjin setelah meneguk minumannya.
“oke, kalau begitu nanti kakak belikan bahan makanannya aja ya hihi..” sahut Andromeda masih tak ingin mengalah kemudian ikut meneguk minuman yang tersisa untuknya.
“kapan kakak akan belanja bahan makanan..?” tanya Ben yang sudah bangun dari tidurannya sejenak.
“akhir pekan mungkin, kenapa..?” sahut Andromeda.
“aku ikut boleh..?” seru Ben layaknya seorang bocah yang merengek ingin ikut ibunya ke pasar.
“oke, nanti kakak lihat jadwal latihanmu dulu.” Paparnya seraya sesekali meneguk minuman kalengnya.
“oh iya kak, Brian dan Jimin masih belum kembali..?” tanya Namjoon, sebab sebagai seorang leader ia dituntut haru bisa menjaga dan melindungi para adik-adiknya.
“iya katanya sih syuting MVnya sampai larut malam, kemungkinan besok baru bisa kembali ke Jakarta.” Respon Andromeda.
Ceklek..
Untuk yang kedua kalinya pintu ruang latihan pun terbuka, membuat semua yang ada dalam ruangan lagi-lagi menoleh ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang kali ini.
“Andheera..” gumam kakaknya.
“ah iya, sekarang sudah waktunya kalian latihan ya, hehe sory ya.” Ucap Seokjin, terlalu banyak berbincang dengan sang manager (Andromeda) membuat semuanya lupa akan waktu yang terus berjalan.
“iya santai aja kak, teman-temanku juga masih dalam perjalanan.” Kata Andheera seraya berjalan masuk kemudian duduk disamping Benedict.
“kalian ngga berangkat bareng..?” tanya Andromeda yang sedikit heran.
“engga, yang lainnya masih di tempat kuliah saat aku bersiap kesini.”
“ahh begitu..” respon Andromeda.
“kalau begitu kita duluan ya, FIGHTING..!” seru Namjoon seraya menunjukan kepalan tangan juga ekspresi wajahnya yang sangat mendukung untuk menyemangati Andheera.
“Semangat Andheera..!”
Giliran seokjin yang menyemangati, seraya menyodorkan kepalan tangan kearah Andheera tanda ia ingin melakukan tos dengan dirinya, tak keberatan Andheera pun menyambut kepalan tangan Seokjin tersebut seraya menunjukan senyum tipisnya.
“jangan lupa pemanasan dulu ya, kalau tidak nanti kau bisa kram..” lanjut Hobie yang kemudian mengusap kepala Andheera saat ia berjalan melewatinya.
“aku duluan ya, bye noona..” pamit Ben yang langsung pergi berlari menyusul kakak-kakaknya yang telah lebih dulu pergi.
“oppa tunggu di kantor ya, begitu kau pulang kabari oppa, oppa akan mengantar kalian pulang.” Disusul dengan Andromeda yang juga pergi meninggalkan Andheera dan Yonggi yang masih berada dalam ruangan.
“hmm..” respon Andheera.
Sementara itu Min yonggi tengah mengutak-atik ponselnya lengkap dengan raut wajah seriusnya, tak sadar jika teman-temannya sudah pergi lebih dulu meninggalkannya.
“kak Yonggi, teman-temanmu sudah pada pergi loh..” celetuk Andheera yang membuat Yonggi akhirnya tersadar dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari teman-temannya yang ternyata memang sudah pergi.
“ahh, sory-sory kau mau latihan ya, aku duluan ya.” Pamit Min yonggi yang kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan melewati Andheera.
“waahh daebak, Hanyoora akhirnya jadian juga..!” seru Andheera seraya memandangi layar ponselnya lengkap dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buatnya hanya untuk memastikan sesuatu.
Sesuai dugaannya, langkah kaki Min yonggi terhenti sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya, dan hal itu semakin membuat Andheera yakin jika keduanya memang saling mengenal.
***
Keesokan harinya, di Kirin school Jakarta.
Lebih tepatnya di pinggiran lapang basket yang berada diluar ruangan, terlihat Jaehyun tengah terduduk seraya meminum beberapa teguk air mineral yang sedang digenggamnya, dan juga pandangannya yang terfokus pada pertandingan basket teman-teman club nya.
Dan..
Tiba-tiba saja seseorang hadir lalu duduk tepat disampingnya masih dengan ransel yang dikenakan di belakang punggungnya, kemudian memperhatikan permainan basket dengan seksama layaknya seorang pelatih yang tengah mengawasi permainan peserta didiknya.
“ternyata benar, berita tentang kedatanganmu ke sekolah, ku kira sampai lulus pun kau hanya akan mengikuti ujian akhir.
Kau baik-baik saja..?” sapa Jaehyun setelah melirik sesaat ke arah sampingnya hanya untuk memastikan siapa yang duduk di sebelahnya.
“hmm..” respon Andheera tanpa menoleh sedikitpun.
“ciih..! kau masih sama aja, menyebalkan..!” Jaehyun mendengus.
“btw.. bagaimana hubunganmu dengan Hanyoora..”
“awalnya semua berjalan lancar, tapi saat semester kedua, dia tampak seperti gadis yang emosional, mood nya tak pernah bisa ku tebak, kadang dia terlihat tertawa begitu lepas kemudian tak lama ia akan menangis tanpa tahu penyebabnya apa.
Aku tak mengerti dengan perubahan sikapnya itu, hingga kita memutuskan sama-sama untuk mengakhiri hubungan ini, beberapa bulan yang lalu.” Paparnya seraya masih memfokuskan pandangannya ke pertandingan basket teman-temannya.
“mungkin dia sedang ada masalah, kau tak bertanya padanya..?” saran Andheera.
“dia sangat tertutup, sejak dulu dia ga pernah mau cerita tentang masalahnya pada siapapun bahkan dengan teman terdekatnya sekalipun.” Jelasnya dengan nada yang tampak sangat putus asa.
“begitu..” respon Andheera seadanya sebab tak ingin membahasnya lebih lanjut.
“kalau kau yang bertanya mungkin dia mau cerita, coba saja..” ujarnya seraya menoleh ke arah Andheera dengan raut wajah yang penuh harap.
“gak mau tuh, bukan urusanku.” Pekiknya kemudian bangkit dari tempat duduknya, berniat untuk mengakhiri sapaan singkatnya pada pagi hari ini.
“astaga..! gadis kulkas itu benar-benar tak pernah berubah, sepertinya waktu ibunya mengandung dia dulu, ngidamnya cabe rawit sekarung.” Gerutunya saat Andheera berjalan pergi meninggalkannya.
“aku masih bisa mendengarmu Jae..!” teriak Andheera yang masih tak terlalu jauh dari keberadaan Jaehyun.
Tak ingin menanggapinya dengan suara, Andheera pun memilih mengacungkan jari tengahnya ke arah Jaehyun sembari terus berjalan menuju kelasnya.
“waaah.. aku tiba-tiba menyesal pernah menyukainya dulu.” Gumamnya seraya menggeleng kepalanya dan masih memandangi bagian belakang Andheera hingga menghilang dari pandangannya.
Setibanya dikelas.
Andheera langsung berjalan lurus menuju bangku miliknya yang berada disudut pojok ruangan.
“Yerim kemana..?” tanya Andheera pada Anha yang kebetulan duduk didepannya, setelah menaruh ransel dibangkunya juga mengedarkan pandangannya ke sekitar ia tak melihat 1 temannya itu.
“ah masa sih, aku lihat tadi dia sudah datang kok.” Sahutnya masih dengan memegangi bukunya ia juga mencoba untuk mengedarkan kedua bola matanya ke setiap sudut ruangan.
“Loh iya.. ya.. tapi tadi ada lho di bangkunya, dia lagi makan roti, mungkin dia ke kafetaria beli minum.” tambahnya mencoba berfikir positif, kemudian kembali pada aktivitasnya beberapa menit yang lalu.
Meski dalam hatinya terbesit sedikit keraguan, namun dirinya yang lain berusaha untuk mempercayai apa yang dikatakan Anha dan mencoba untuk tidak perduli pada Yerim.
Tidak mungkin jika para pembully itu masih mengganggu Yerim, mengingat apa yang sudah ia lakukan kemarin pada ketua geng mereka sudah bisa membuat dirinya kapok dan tak akan mungkin mengulanginya kembali ‘fikir Andheera.
Dikelas yang berbeda, lebih tepatnya di kelas Ben dan Ryujin.
“ben, kau sudah mengerjakan PR bahasa Inggris kemarin..?” tanya Ryujin pada Ben yang sedang asyik memainkan game di ponselnya.
“ahh.. belum, aku malah lupa kalau kita ada PR.” Sahutnya masih tak bisa lepas dari layar ponselnya.
“astaga kau ini, besok loh harus dikumpulkan.” Tambahnya lagi.
“kau sendiri kenapa belum mengerjakan PR..?” tanya Ben seraya mempause game nya sejenak lalu memandangi Ryujin yang masih berdiri di sampingnya.
“aku.. yaa sebagian sudah ku kerjakan, cuma ada beberapa soal yang tak ku mengerti, tadinya..”
“BENN..!!” panggil seseorang dari luar kelas seraya melambaikan 1 lengannya untuk memberi tanda akan keberadaannya pada Benedict.
Sama hal nya dengan gadis yang memanggil Ben diluar, dirinya pun ikut tersenyum ke arahnya kemudian bangkit dan sedikit mendorong Ryujin yang berdiri menghalanginya.
Ryujin hanya bisa memandangi punggung Ben yang berjalan pergi menjauhinya, tampak sekali ekspresi yang kini ia tunjukan bahwa ia sedang tak baik-baik saja melihat Ben pergi begitu saja tanpa memperdulikannya yang sudah berbicara lebih dulu dengannya.
“ada apa..?” tanya Ben begitu sampai menghampiri Jesy di depan kelasnya.
“tidak..
aku hanya ingin menanyakan kabarmu, karena sudah lama kita tidak bertemu..”
“apa kau merindukanku..?” goda Ben lengkap dengan senyum jailnya.
“hahahaa..!! PD banget sih.” Sanggah Jesy.
“hehehe.. aku baik-baik saja kok, kau tak perlu mengkhawatirkanku Jesy.”
Dingg Dongg..! suara bel yang nyaring sedikit mengejutkan mereka berdua, sekaligus memberi tanda jika mereka harus berpisah dan memasuki kelas masing-masing.
“kau harus masuk ke kelasmu Jesy, sampai nanti di kafetaria ya.” Pamit Ben yang ingin mendahului Jesy untuk masuk kembali ke kelasnya.
“Ben..” panggil Jesy saat Ben hendak membalikan tubuhnya.
“kau tak lupa hari ini kan..?” lanjut Jesy.
“hari ini..?” ucap Ben lengkap dengan raut wajah yang kebingungan.
“aah tidak, lupakan saja, aku masuk kelas dulu Ben..” pungkas Jesy seraya membalikan tubuhnya lalu pergi tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dikatakannya barusan.
***
Rumah sakit Haneul Jakarta.
Terlihat Keenan masih berada di atas ranjangnya dengan posisi terduduk seraya memainkan ponsel miliknya.
Ceklek..!!
Pintu ruangannya pun terbuka, iya.. ibunya masuk untuk memastikan keadaan putranya hari ini, lengkap dengan jas putih yang biasa para dokter kenakan disaat tengah bertugas.
“kau sudah merasa baik Keenan..?” tanya ibunya seraya berjalan masuk menghampiri putranya.
“belum, aku masih ingin dirawat disini.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
“ada apa..?
Kau ada masalah di tempat kuliahmu Keenan.” Tebak Hyunjie yang kemudian duduk disebelah ranjang Keenan seraya memandangi wajah putranya dengan tatapan tulus seorang ibu pada umumnya.
“tidak..” jawabnya tanpa ragu.
“hmm.. baiklah, tapi kalau kau memiliki kesulitan sebaiknya beritahu mama, jangan kau simpan sendiri Keenan.” Ucap ibunya seraya memegang kaki putranya itu lengkap dengan tatapan penuh kasihnya berharap jika putra tunggalnya itu akan jujur padanya.
“aku baik-baik aja ma..” ujarnya seraya melempar senyum tipis pada ibunya dan menaruh ponselnya sejenak.
Ceklek..
Lagi-lagi pintu kamar Keenan kembali terbuka, kali ini ternyata Jiso yang datang dengan membawa bucket buah ditangannya, dirinya mencoba menyempatkan waktunya untuk menjenguk Keenan ditengah jadwal padatnya.
“Jiso, kau datang..” sapa Hyunjie lengkap dengan senyum ramah untuk menyambut kehadiran teman baik putranya, kemudian bangkit dari tempat duduknya.
“tante..” Jiso membalas sapaan Hyunjie dengan senyumnya yang lebih lebar, kemudian berjalan menghampiri Keenan ke sisi yang satunya, dan meletakan bucket bunga yang dibawanya diatas lemari kecil disamping ranjang Keenan.
“amm, mama pergi dulu ya, udah ada Jiso yang nemenin.” Goda Hyunjie dengan sedikit senyum nakalnya kemudian pergi meninggalkan putranya dan Jiso di ruangan.
“dih, apa sih..” sahut Keenan yang kemudian kembali terfokus memainkan ponselnya.
“apa yang sebenarnya terjadi Keenan..? kau bukan tipe orang yang mudah sakit, apa kau kesulitan di tempat kuliahmu.” Tanya Jiso yang mengawali pembicaraan dan masih berdiri ditempatnya.
“gak mudah sakit bukan berarti aku ngga bisa sakit kan..? aku juga manusia.” Sahutnya yang masih asyik memainkan ponselnya.
“apa kuliahmu tidak berjalan dengan baik..?” tebak Jiso yang masih terus memandangi Keenan yang bahkan tidak meliriknya sedikitpun.
“berhentilah berasumsi yang tidak-tidak, aku hanya sedikit lelah dan butuh istirahat untuk beberapa hari, itu aja.” Katanya dengan meninggikan nada suaranya.
“baiklah, kurasa kau memang baik-baik aja, kalau begitu aku pergi.” Pamitnya kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan Keenan.
“sebentar lagi hari peringatan kematian ibumu, kau ingin ku temani..?” tiba-tiba saja Keenan kembali bersuara saat Jiso hendak menarik handle pintu ruangannya.
“gak usah, kali ini aku ingin pergi sendiri.” Jawabnya tanpa menoleh lalu pergi berlalu meninggalkan Keenan yang ternyata masih memandangi nya dari belakang sampai dirinya menghilang dari pandangannya.
***
Eunjiso..