To My Youth

To My Youth
BAB 66



Malam harinya.


Kembali ke BangQit agensi, tepatnya disalah satu ruang latihan yang berada di lantai 17. Setelah banyak berlatih gerakan dance yang rumit Brian berhenti sejenak untuk sekedar mengecek ponselnya, yang ia letakan disudut ruangan bersama dengan ponsel para trainee lainnya.


Sembari menyeka keringatnya dengan baju yang ia kenakan, ia mengklik satu persatu pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


                “Brian..” panggil Andromeda yang baru saja masuk ke dalam ruang latihan seraya berjalan menghampiri Brian disudut ruangan.


                “apa kau sudah mengemas semua pakaianmu..? kau akan 1 dorm bersama Jimin, Seokjin, Namjoon, Yonggi, Hoby juga Bennedict, ku dengar kalian nantinya akan menjadi satu tim jadi bekerja keraslah agar tim mu bisa debut lebih dulu dari tim yang lain.” Jelasnya sembari memandangi wajah Brian yang tampak gugup.


                “iya kak meda aku akan berusaha..”


                “okay, beristirahatlah hari ini hanya pemanasan, besok mungkin akan lebih melelahkan lagi.” Ujarnya lagi seraya menepuk lembut bahu Brian ditambah senyum ramah yang ia pancarkan sebelum pergi meninggalkan Brian.


                “mulai kapan kau akan pindah ke dorm..?” tanya Namjoon yang menghampiri Brian dengan botol air mineral digenggamannya.


                “malam ini, aku akan pulang dulu untuk mengemas pakaianku.” Jawabnya seraya memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.


Namjoon menyodorkan air mineralnya untuk bisa berbagi dengan Brian, dengan senang hati Brian menyambut botol air mineral milik Namjoon lalu meneguknya beberapa kali.


                “kau akan makan malam bersama..?” tanya Namjoon lagi.


                “tidak, mungkin aku juga akan datang sangat larut, aku harus menghadiri acara keluarga.”


                “begitu ya, baiklah, hati-hati.” Pungkasnya sembari menepuk bahu Brian kemudian kembali pada formasinya untuk mulai berlatih.


Setibanya Brian di loby, ia melihat sosok yang tak asing tengah duduk di sofa sembari menaruh ponsel ditelinganya layaknya seseorang tengah menelfon.


Meski hatinya ingin mengabaikan sosok gadis tersebut, namun kedua mata nya tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah manis sang gadis.


Hanya untuk beberapa saat ia terpesona akan kecantikan yang gadis itu pancarkan, sampai akhirnya ia pun tersadar ia harus bergegas menuju tempat yang sudah direncanakan oleh ayahnya.


Ketika pandangannya sudah tak lagi mengarah pada gadis tersebut.


Kini giliran Eunjiso yang menyadari kehadiran Kimbrian, namun ia hanya bisa melihat punggungnya dari kejauhan karena Brian memutuskan untuk mempercepat langkahnya.


***


Apartemen Andheera.


Karena Tsuyu sudah lebih dulu membersihkan dirinya, ia memutuskan untuk merilekskan tubuhnya dengan menonton acara kartun diruang tengah sembari menyemil cemilan milik Andheera yang ia ambil dari kulkas.


Ceklekk.. tak beberapa lama Andheera pun muncul sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ia taruh diatas bahunya.


Kemudian berjalan santai menuju kulkas untuk mengambil yogurt strawberry sebelum akhirnya bergabung diruang tengah bersama Tsuyu.


                “aku akan membantumu untuk mengirim ibumu ke rumah sakit jiwa, tapi.. kau juga harus berjanji 1 hal.” Ucapnya mencoba untuk memulai kembali obrolannya.


                “apa..?” sahut Tsuyu yang masih fokus pada siaran kartunnya.


                “jangan kembali pada Andromeda..” lanjut Andheera yang membuat Tsuyu melirik ke arah Andheera dengan tatapan sedikit terkejut.


                “kau benar-benar membenciku rupanya.” Gumam Tsuyu yang masih memandangi bagian samping wajah Andheera.


                “Andromeda.. juga memiliki gangguan mental, mungkin saat ini kau mengira kakakku baik-baik saja, tapi ada saat dimana kau akan melihat sisi nya yang lain, yang mungkin takan pernah bisa kau bayangkan.” Ungkapnya tanpa membalas pandangan Tsuyu, Andheera lebih memilih mengarahkan pandangannya pada siaran kartun dihadapannya.


                “terlebih lagi jika kakakku tahu apa yang sudah ibumu lakukan, bukankah lebih baik kalian berpisah dengan cara seperti ini, agar kakakku bisa mengingatmu sebagai gadis yang pernah dicintainya daripada diingat sebagai anak dari seorang pembunuh.” Sambungnya yang membuat Tsuyu tak bisa berkata-kata lagi.


Hatinya benar-benar hancur seiring dengan bulir air mata yang mulai membasahi kedua pipinya, ia benar-benar tak menduga akan mendengar sisi kelam dari seorang Andromeda, yang terkenal dengan sosok lelaki yang humoris, ceria juga sering menebarkan tawa dan senyumnya.


                “ba.. iklah.. bagaimana rencanamu..?” sahut Tsuyu dengan nada getir seraya mencoba mengendalikan emosinya.


                “rencanaku mungkin akan sedikit membahayakan dirimu, kau tak apa..?” respon Andheera seraya melirik ke arah Tsuyu yang sudah banjir air mata.


                “iyaa, selama kau bisa pastikan ibuku akan terkurung selamanya dan tak akan pernah membahayakan nyawa orang lain lagi.” Jawab Tsuyu tanpa ada keraguan sedikitpun dalam hatinya.


                “baiklah, kau bisa beristirahat aku mau keluar dulu.” Ujarnya seraya bangkit dari sofa dan menaruh handuk kecilnya disembarang tempat.


                “hmm..” Tsuyu hanya menanggapinya dengan dehaman kecil kemudian meraih bantal sofa untuk menutupi seluruh wajahnya yang mulai membengkak karena tak bisa berhenti menangis.


Andheera yang melihat kondisi Tsuyu saat ini seolah ikut terbawa suasana, sebenarnya ia juga tak ingin mencampuri hubungan kakaknya.


Tapi ia juga tak bisa membiarkan Andromeda kembali depresi jika Andromeda tetap bersama dengan Tsuyu, cepat atau lambat semuanya akan terungkap.


Jadi Andheera terpaksa memilih jalan ini, meski awalnya mungkin akan terasa sakit baik bagi kakaknya maupun Tsuyu, namun itu hanya untuk sementara, Karena mereka berdua masih sangat muda, dan masih banyak hal yang belum mereka temui di masa depan.


Semuanya akan baik-baik saja.. ‘batin Andheera saat hendak membuka pintu apartemennya, ia menoleh sejenak ke belakang kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


***


Hotel Zeus Jakarta.


Tepatnya disebuah ruangan VIP yang sudah dipesan dari jauh-jauh hari sebagai tempat bertemunya 2 keluarga yang akan membahas soal perjodohan putra juga cucu perempuannya.


Suasana yang sedari tadi baik-baik saja, namun berubah seketika saat Vivian mulai menyela obrolan antara ayah Brian juga kakeknya.


                “tiba-tiba..?! ada apa Vivian, bukankah kau sendiri yang bilang jika sangat menyukai Kimbrain..?” seru Daniel yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


                “apa..?! kau yakin itu alasan sebenarnya, bukan karena pilihan Brian yang tidak ingin meneruskan bisnis Hotel milik paman..?”


                “ada apa Vivian, apa sesuatu terjadi padamu, kau yakin ingin membatalkan perjodohan ini..?” timpal kakek Daren lengkap dengan raut wajah khawatirnya.


                “tidak, perjodohan ini tidak bisa dibatalkan.. (Daniel terkekeh masih dengan tujuan awalnya) baiklah paman akan memberikan sedikit waktu lagi untuk kau berfikir, dan juga jika kau keberatan dengan pilihan Brian, paman akan membicarakan hal ini lagi dengan Brian.” sambungnya.


                “ayah..! (sahut Brian dengan meninggikan nada suaranya) bukankah kita sudah sepakat, aku bisa memilih jalanku sendiri asalkan aku bisa melepas semua fasilitas yang ayah berikan..!!” Brian yang tak terima dengan sikap ayahnya yang tidak konsisten pun akhirnya ikut bersuara.


                “dengarkan ayah..!!” tak ingin mengalah begitu saja Daniel pun ikut menaikan nada suaranya, hingga membuat suasana berubah menjadi sangat menegangkan.


                “untuk apa kau terus bertahan dengan impian konyolmu itu..!! sampai harus mempersulit dirimu sendiri. Sadarlah..!! itu hanya obsesi sesaatmu, pada akhirnya kau pasti akan kembali.


Karena dirimu sudah terbiasa hidup mewah, kau fikir sampai kapan kau bisa bertahan diluar sana tanpa bantuan ayah..!!” seru Daniel yang sudah dipenuhi amarah yang bergejolak dalam hatinya, sebab Brian terus membantah perkataannya.


                “AYAH..!!” teriak Brian seraya bangkit dari tempat duduknya dan menatap wajah ayahnya tajam.


Untuk sesaat Daniel sangat terkejut dengan respon putranya itu, karena ia baru pertama kali melihat Brian dengan mata yang berapi-api seolah ia akan melampiaskan semua emosinya yang selalu ia pendam.


Namun lengan Vivian lebih dulu menggenggam erat lengan Brian, mencoba untuk menenangkan lelaki yang tengah dipenuhi amarah itu.


                “kakek.. aku ingin membatalkan perjodohan ini karena aku menyukai orang lain, apa alasan itu sudah cukup untuk membuat kakek mengerti, ku mohon jangan sampai kakek melakukan kesalahan yang akan membuat kakek kehilangan orang yang kakek cintai lagi.” Jelas Vivian seraya memandangi wajah kakeknya lekat.


Sedangkan Brian yang mendengar hal itu sontak langsung menoleh kearah Vivian dengan kedua matanya yang membulat, ia tak menyangka jika Vivian akan bertindak sejauh itu.


Pada akhirnya pertemuan itu berakhir dengan kemauan Vivian juga Brian yang ingin mengakhiri perjodohan mereka.


Tidak seperti Daniel yang pulang dengan kekesalan juga kekecewaan yang sangat mendalam, kakek Daren pulang dengan senyum yang merekah dalam wajahnya, ia mengira sudah memberikan yang terbaik yang cucunya inginkan.


Namun pada nyatanya semua itu palsu, mundur dalam perjodohan bukanlah hal yang Vivian harapkan, justru sebaliknya hal itu malah membuat hatinya sangat terluka karena harus melepaskan orang yang sangat dikasihinya.


Setelah ayahnya pergi lebih dulu, juga kakek Daren yang tak lama menyusul meninggalkan mereka berdua.


Vivian juga Brian berjalan beriringan keluar Hotel dengan perasaan canggung yang menyelimuti mereka.


                “kau terlihat cantik dengan gaun putih itu Vivian..” ucap Brian saat sudah sampai didepan Hotel Zeus, Vivian yang berada selangkah didepannya pun perlahan membalikan tubuhnya bersamaan dengan senyum tipis yang terukir diwajahnya.


                “terimakasih..” sahutnya yang masih berusaha menahan rasa pedih didalam hatinya.


                “aku berharap kau akan bertemu dengan lelaki yang tulus menyukaimu.” Lanjut Brian yang membalas senyuman Vivian.


Vivian hanya menanggapinya dengan anggukan juga senyum tipis yang masih terukir diwajahnya, sebelum akhirnya ia pergi dengan taxi yang sudah dipesannya beberapa menit yang lalu.


Meninggalkan Brian yang masih berdiri ditempatnya seraya memandangi taxi yang dinaiki oleh Vivian sampai taxi itu menghilang dari pandangannya.


Didalam taxi.


Meski berusaha mungkin Vivian menyembunyikan kesakitan nya namun isakan kecilnya benar-benar tak bisa ia tahan lagi, ia pun membiarkan air matanya mengalir seraya membungkam mulutnya dengan pungung tangannya agar bisa meredam suara isakan pilu yang keluar.


***


Chimi Café.


Tepat 1 jam sebelum café itu ditutup, tampak Eunjiso juga Joe tengah mengobrol ringan dengan ditemani secangkir kopi hangat juga beberapa cemilan yang ada diatas mejanya.


                “kau yakin tak akan berbaikan dengan Keenan..?” tanya Joe seraya menyesap kopi hangatnya sesekali.


                “aku terlalu malu untuk bertemu dengannya lagi..” sahutnya yang juga ikut menikmati kopi hangatnya.


                “hahaaa..! sejak kapan kau memiliki malu, sudahlah lupakan gengsimu itu, lagipula masih banyak lelaki tampan yang akan kau temui nanti, di agensi mu, di tempat kuliahmu, kau pasti bisa melupakan Keenan.” Ujarnya.


                “entahlah..” respon Eunjiso lengkap dengan raut wajah malasnya.


                “EEyyy..!! ayolah, kalau kalian masih canggung seperti ini, besok ga akan seru dong.” Keluh Joe yang masih mencoba membujuk karibnya itu.


                “aku berubah fikiran, ga akan ikut, kau saja dengannya.” Sahut Eunjiso seraya menyantap cemilan yang ada dihadapannya.


                “tidak bisa..!! aku sudah membeli 3 tiket, kau fikir aku membelinya dengan daun..!!” seru Joe seraya menaikan nada suaranya.


                “ku ganti, berapa nomer rekeningmu.” Sahut Eunjiso seraya mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya yang ia taruh di atas meja.


                “HEY..!!” bentak Joe yang membuat sebagian orang didalam café melirik kearah mereka dengan tatapan sinis.


                “jangan teriak-teriak kau fikir kita sedang dihutan belantara..!” tukas Eunjiso seraya membungkam mulut Joe untuk beberapa saat.


                “ayoolaah.. aku hanya tinggal beberapa hari lagi  berada di Indonesia, aku hanya ingin menghabiskan waktu ku disini bersama dengan kalian berdua, kau ini gak pengertian banget.” Rengeknya layaknya seorang bocah yang kekeh minta ditemani bermain.


                “aiisshh.. giliran ada maunya aja ngebaikin huhh..” celetuk Eunjiso seraya memicingkan matanya.


Lalu dibalas dengan senyum lebar Joenathan yang menampilkan deretan giginya yang putih juga rapih.


Jauh dalam hatinya, Eunjiso juga tak ingin mengakhiri hubungan pertemanannya dengan Keenan, namun untuk saat ini ia masih terlalu malu untuk bertemu dengan Keenan.


***