To My Youth

To My Youth
BAB 40



Kelas X-2.


                “Hay Andheera (sapa Yerim lengkap dengan senyum lebarnya)


kau mau roti, aku bawakan untukmu juga.” Lanjut Yerim sembari menyodorkan sebungkus roti hangat pada Andheera yang baru saja masuk ke kelas.


                “hmm..” respon Andheera tak banyak berkata, ia hanya melewati bangku Yerim seraya menyambar roti yang Yerim tawari tadi, sontak Yerim membelalakan kedua matanya karena terkejut Andheera akhirnya mau menerima roti yang Yerim buat.


Gadis mungil itu terus memandangi langkah Andheera yang berjalan ke belakang menuju bangkunya disudut, Ia masih tak percaya jika yang barusan lewat adalah Andheera yang kasar.


                “waaah aku tak percaya Andheera mau menerima rotiku.” mendengar gumaman Yerim membuat Hanyoora yang duduk di bangku sebelahnya merasa terusik, ia melirik ke arah Yerim yang masih memandangi Andheera.


                “jangan senang dulu siapa tahu dia menerima untuk dia buang hihihi..” goda Hanyoora kemudian menoleh ke belakang melihat apa yang Andheera lakukan terhadap roti buatan Yerim.


Pemandangan yang tak terduga pun terjadi membuat Yerim juga Yoora saling menatap satu sama lain, seakan masih tak percaya pada hal yang baru saja mereka lihat, benarkah dia Andheera yang ku kenal? begitulah kira-kira yang ada dalam benak Hanyoora maupun Yerim.


                “dia memakannya.” Gumam Hanyoora masih melongo tak pecaya pada hal yang baru saja ia lihat.


                “Yeaahh, Andheera teman ku sekarang hahaha.” Seru Yerim bahagia.


Melihat sikap Yerim yang berlebihan, Hanyoora malah mengernyitkan keningnya, lalu melanjutkan aktifitasnya kembali membaca buku.


Beberapa menit kemudian, setelah Anha kembali dari ruang guru, ia berjalan ke tengah kelas seolah ada hal yang ingin ia sampaikan pada teman-temannya.


                “teman-teman!!" seru Anha di depan kelas membuat teman-temannya menghentikan aktifitasnya sejenak, dan beralih mendengarkan pengumuman apa yang akan ketua kelas sampaikan.


"karena Pak Chen tidak masuk hari ini, sebagai gantinya kalian harus mengerjakan soal  Bab 5.” Belum sempat Anha menyelesaikan kalimatnya, antusias teman-teman sekelas akan guru yang tidak masuk, membuat mereka tak bisa menahan rasa bahagia sehingga langsung menyorakan kesenangannya.


                “HUUUUU YEEAAAHHH !!” lagi-lagi sorakan bahagia itu menggema disetiap sudut ruangan.


                “BEBAS YEAAAHHH!!” sahut yang lainnya, seakan mereka semua datang ke sekolah memang untuk bermain bukan untuk belajar.


Beberapa sorakan terdengar nyaring bahkan sampai ke kelas sebelah, sampai Anha harus memukul papan tulis untuk membuat teman-temannya berhenti bersorak, sebab masih ada yang harus ia sampaikan.


BUUKKK.. BUUKKK!!


                “MOHON PERHATIANNYA AKU BELUM SELESAI TEMAN-TEMAN!!” teriakan nyaring Anha mampu membuat teman-temannya kembali tenang.


“latihan soal Bab 5 akan dikumpulkan hari ini bersama dengan PR matematika sebelumnya oke sekian.” Kalimat penutup Anha membuat teman-temannya mendengus kesal, ada juga yang membanting tempat pensilnya untuk mengekspresikan kekecewaannya.


Seperti itulah keadaan sekolah pada umumnya selalu bahagia disaat salah seorang guru tidak masuk, karena bisa bebas belajar apapun yang diinginkan, atau hanya bermain-main dikelas.


Lebih seperti sekolah hanya untuk bermain dan belajar hanya bonus, bukan sekolah untuk belajar dan bermain hanya bonus hihihi.


Begitu selesai Anha langsung berjalan menuju bangku Andheera, “Andheera..” panggil Anha membuat pandangan Andheera kini teralih.


“kulihat tadi kau bermain basket.” Ujarnya dengan wajah serius.


Andheera sedikit bingung dengan maksud perkataan Anha.


“kau ikut berpartisipasi dalam kegiatan tahunan sekolah, kau akan bergabung dengan tim basket perempuan.” Sambungnya lagi namun terdengar seperti perintah.


Vivian yang mendengar percakapan kedua temannya itu, kemudian menoleh ke belakang dengan tatapan serius seolah ia tengah bergabung dalam percakapannya.


                “gak mau tuh.” Respon Andheera lalu kembali melihat pemandangan diluar jendela yang mengarah ke lapang basket, seraya mengunyah sisa roti yang ada dimulutnya.


                “aku tidak sedang bertanya tapi memberitahumu kau tahu!” balas Anha tak mau kalah.


                “kalau begitu aku hanya tak perlu datang saat acara tahunan kan.” Respon Andheera santai.


                “kau ini..”


                “sudah-sudah aku saja yang akan bergabung di tim basket.” Timbrung Vivian yang berjalan menghampiri meja Andheera.


                “ya gak bisa begitu Vivian, semua teman-teman kita sudah berpartisipasi dalam perlombaan, hanya Andheera yang belum ikut berpartisipasi.” Anha terkekeh.


                “amm, bagaimana kalau lomba vocal bukankah bisa duet? Biarkan Andheera duet dengan Jaehyun oke.” Ujar Vivian memberikan saran lain.


                “tidak mau!!” saut Jaehyun seraya menoleh ke belakang, tepat ke kerumunan antara Anha dan Vivian.


                “lagipula siapa juga yang mau duet dengan mu.” Gumam Andheera masih belum bisa lepas dari pemandangan luar jendela juga rotinya yang tidak habis-habis.


Mendengar Andheera yang seolah meremehkan kemampuan vocal Jaehyun, kedua bola mata Jaehyun tampak berapi-api.


“Heh!!” tak tahan lagi, Jaehyun bangkit seraya menatap tajam ke arah Andheera yang masih memalingkan wajahnya keluar.


“kesombongan dan keangkuhanmu itu sudah diluar batas Andheera, apa kau sedang meremehkanku sekarang?!” tambah Jaehyun tak bisa lagi menahan kekesalannya.


                “hey.. hey ayolah kalian ini kenapa sih.” Anha mencoba untuk menengahi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ia sendiri bingung kenapa perkara lomba basket bisa jadi sekacau ini.


                “Hey Jaehyun, baru kali ini aku lihat kau bersuara biasanya kau diam-diam saja, hehehe apa kau sedang menarik perhatian Andheera.” ditengah situasi ini masih saja ada yang membuat candaan garing, teman nongkrongnya yang bernama Lucas itu malah berceloteh yang tidak-tidak.


                “aku suka padanya? Apa aku sudah tak waras!” ketus Jaehyun kemudian hendak pergi keluar meninggalkan kekacauan yang ada saat ini.


                “HEYY!!” seru Hanyoora yang tiba-tiba ikut bergabung dalam kekisruhan yang ada, Jaehyun pun menghentikan langkahnya sejenak lalu berbalik, menatap ke arah sumber suara.


“kalau kau benar-benar suka pada Andheera, seharusnya bilang saja tak perlu ingin terlihat BAD BOY dihadapan nya, mungkin kau fikir itu keren tapi menurutku kau NORAK!!” seru Hanyoora malah membuat yang lainnya terkejut heran, apa yang sebenarnya Hanyoora ingin sampaikan.


                “apa kau bilang! aku norak?” sahut Jaehyun seraya menyunggingkan senyum smirk yang mematikan.


                “IYA!! semua laki-laki yang beranggapan dengan bersikap kasar pada perempuan agar terlihat seperti bad boy itu keren, kau salah, karena lelaki bad boy itu..”


Jaehyun sudah bersiap untuk mendekati Hanyoora dengan langkah panjangnya, namun diluar dugaan Andheera berjalan cepat untuk menghentikan langkah Jaehyun.


Kemudian menendang bagian dada bidang Jaehyun, hingga lelaki yang disebut bad boy itu pun tersungkur bersamaan dengan wajah syoknya.


Andheera membuat jejak kakinya terpampang jelas di seragam putih Jaehyun, karena saat itu Jaehyun melepas blazernya.


Melihat Jaehyun kesakitan sembari memegangi dadanya, semua teman laki-lakinya berhamburan menghampiri Jaehyun yang masih terduduk dilantai.


Sedangkan teman-temannya yang lain, yang masih duduk di bangku masing-masing, kini malah terlihat kompak berdiri sesaat setelah Andheera menendang keras bagian dada Jaehyun.


Namun situasi semakin tak terkendali kala Jaehyun telah sadar dari syoknya, kemudian hendak menghampiri Andheera lagi ke dalam kelas.


Beruntung beberapa temannya berhasil menahan Jaehyun dan membawanya lagi keluar, disisi lain gadis yang sudah membuat keributan tersebut masih berdiri kokoh, seraya menatap tajam ke arah pintu yang baru saja dilalui Jaehyun dan teman-temannya.


***


BangQit Agensi - tempat Andromeda bekerja.


Andromeda terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor, setelah ia menyelesaikan sesi pemotretan untuk MV terbaru yang akan rilis beberapa hari mendatang. Kini ia harus memilih dan mengedit foto yang akan di pakai nantinya.


Nada dering lagu Twice **, suara panggilan telfon membuat konsentrasi Andromeda buyar seketika, tanpa berlama-lama ia meraih ponsel yang berada tak jauh dari jangkauannya.


                “hallo.” Sapa Andromeda yang langsung mendekatkan ponsel ke telinganya.


                “KAKAK!! jauhkan telingamu ini panggilan Video tahu.” Teriakan nyaring hampir membuat gendang telinganya pecah, buru-buru lelaki yang setengah sadar itu menjauhkan ponsel dari telinganya, kemudian memeriksa layar di ponselnya, ia melihat sesosok gadis mungil nan imut tengah memandanginya dari dalam layar ponsel.


                “kau cantik sekali Tsuyu aku sangat merindukanmu.” Ungkapnya seraya menunjukan ekspresi wajah terimut yang ia miliki.


                “hahaha benarkah?” sahut Tsuyu tak kalah manjanya.


                “heemm, kau cantik dan juga imut seperti anjing kecil.” Kata Andromeda masih tak bisa lepas dari kecantikan gadis yang tengah membuatnya dimabuk cinta.


                “oppa samakan aku dengan anjing?” seru Tsuyu tak terima.


                “bukan begitu maksudku.” Bantahnya.


                “aah sudahlah, pokoknya aku juga sangat merindukanmu, aku jarang ngasih kabar padamu maafkan aku, tapi aku usahakan libur semester nanti aku akan sempatkan waktu untuk ke Indonesia, mari kita bertemu.” Ujar Tsuyu sebelum mengakhiri percakapan singkatnya.


                “okayy ku tunggu anjing kecil.” 


                “kau sedang bekerja apa aku mengganggumu?”


                “tidak, aku senang kau akhirnya menghubungiku aku sudah lama menunggu.”


                “benarkah hahaha apa sekarang kak meda jatuh cinta padaku?”


                “mungkin.”


                “hahahaha..!!”


Begitulah akhirnya mereka menutup telfonnya setelah memberikan kabar masing-masing.


***


SMA Shinwa Yogyakarta.


Lebih tepatnya dilapang basket, Keenan yang masih mengenakan seragam olahraga tengah berbaring di tempat duduk pinggir lapang basket, dengan menutup setengah wajahnya memakai siku lengan seperti biasanya.


Sementara itu Jiso yang sudah menyelesaikan makan siangnya di Kafetaria, terlihat mengedarkan pandangannya kesetiap sudut Kafetaria seolah sedang mencari seseorang.


Namun ia tak juga menemukannya, kemudian ia memutuskan untuk mencari Keenan setelah mengantarkan baki makanan ke tempatnya.


Gadis cantik itu berjalan keluar Kafetaria masih celingak celinguk mencoba mencari karibnya yang tak juga muncul untuk makan siang.


                “kau pasti mencari Keenan? Kulihat dia tiduran tuh di pinggir lapang.” Ujar salah seorang teman sekelasnya yang berjalan melewatinya.


                “ohh okay thank’s.” balas Jiso namun sepertinya temannya itu tak perduli akan respon Jiso karena ia hanya bicara lalu lewat.


Takut Keenan keburu pergi dari lapang basket, Jiso pun mempercepat langkah kakinya menuju lapang basket untuk menemui Keenan.


Benar saja Keenan masih disana, tanpa disadari senyum manis Jiso merekah menghiasi wajah cantiknya, Jiso berjalan mendekati Keenan lalu duduk di samping kepala Keenan yang tengah tiduran.


                “kau tak bermain.” Kata Jiso seraya menyilangkan kakinya serta menyenderkan tubuhnya seolah tengah mencari posisi yang nyaman.


                “apa aku terlihat sedang bermain?” balas Keenan ketus.


                “hmm (Jiso mencoba untuk tidak terpancing akan sikap kasar Keenan)


kau sudah memutuskan dimana kau akan kuliah di Jakarta?” sambungnya lagi.


                “iya.” Jawabnya sesingkat mungkin.


                “dimana?” sahut Jiso penasaran.


Keenan bangun dari tidurnya kemudian menatap tajam wajah Jiso membuat hati Jiso seketika berdegup lebih cepat.


                “kenapa aku harus memberitahumu, bagaimana jika kau malah ikut mendaftar di Uni yang sama denganku.” Kata nya seraya menatap tajam kedua mata Jiso di sebelahnya.


                “hey ayolah, ku yakin kau pasti mendaftar kuliah di Uni yang khusus atlet, aku takan mungkin bisa mengikutimu kesana.” Jiso sedikit canggung.


                “baguslah, akan bosan jika terus melihatmu lagi setiap hari.” Responnya.


                “cih! Apa kau tak bosan selalu jahat padaku Keenan.” Balas Jiso seraya memalingkan wajahnya dari Keenan.


                “bukankah daridulu aku sudah seperti ini, aku tak pernah berubah, kaulah yang berubah.” Keenan mengakhiri percakapan singkatnya dengan Jiso dan berniat bangkit meninggalkan Jiso.


                “Hey ayoolaah!! (seru Jiso yang berlari mengejar langkah panjang Keenan)


kau fikir aku power ranger yang bisa berubah hahahaha.” Jiso mencoba mencairkan suasana dengan candaan garing nya seraya merangkul bahu lebar Keenan.


                “kau itu bunglon yang bisa berkamuflase.” Keenan menepis rangkulan Jiso namun tampaknya Jiso tak ingin mengalah, ia terus merangkul Keenan meski tangannya sudah di tepis beberapa kali hingga Keenan menyerah lalu membiarkan lengan Jiso merangkulnya, sembari cekikikan menggoda Keenan yang masih bersikap dingin terhadapnya.


***