
Sementara itu Andheera masih terus mengikuti sosok yang mengusiknya sedari tadi dengan jarak sekitar 10 langkah dari belakangnya. Sosok tersebut yang tak lain adalah teman kecil nya dahulu Ray keenan, apa yang dilakukannya disini.. mungkinkah dia sedang check up’fikirnya.
Mengingat beberapa hari yang lalu dia pernah dirawat di rumah sakit tersebut.
“Keenan..!” panggil seseorang yang cukup jauh dari keberadaan Keenan sembari melambaikan tangan juga tersenyum lebar pada Keenan.
“katanya kau tak ada waktu untuk menemaniku chek up, lalu sedang apa kau disini..?” ketus Keenan begitu gadis yang melambaikan tangan padanya telah berada di hadapannya.
“kau ngambek yaa..? hahaha..” godanya seraya mengaitkan lengannya pada lengan Keenan lalu kembali berjalan keluar rumah sakit.
“maaf ya aku terlambat, tapi setidaknya aku bisa menemanimu pulang kan.” Lanjutnya seraya terus menempel pada Keenan layaknya kedua pasangan yang tengah bermesraan.
Tak ingin kalah mesra Keenan pun melepas kaitan lengan gadis tersebut, untuk beralih merangkulnya dan sesekali mengusap bagian atas kepala gadis yang ada disampingnya itu lengkap dengan senyum merekahnya.
Seolah ada yang menusuk dadanya hingga ia pun terdiam sesaat, “tidak, tidak bisa begini..” gumam Andheera yang kemudian berlari mencoba untuk mengejar temannya tersebut yang telah jauh dari pandangannya.
“setidaknya biarkan aku meminta maaf padamu Ray..” gumam Andheera yang terus berlari mencari Keenan.
Namun begitu sampai di halaman rumah sakit, Keenan telah menghilang, membuat Andheera sangat frustasi, meskipun ia sudah mengedarkan pandangannya pada sekeliling halaman rumah sakit, ia tak juga menemukan teman kecilnya itu.
Hingga tanpa sadar bulir air matanya pun mengalir membasahi kedua pipinya, rasa sakit dan rindu bercampur menjadi satu membuatnya tak bisa lagi mengendalikan emosi yang bergejolak dalam hatinya.
“Andheera..” panggil seseorang dari belakang, membuat Andheera perlahan membalikan tubuhnya.
Andheera terkejut mendapati Keenan kini tengah berada di hadapannya, tanpa berkata apapun Andheera langsung memeluk erat lelaki tersebut, meski disampingnya ada seorang gadis yang diyakini Andheera adalah kekasih Keenan.
Ia tak perduli sama sekali dengan gadis tersebut, sebab yang menjadi fokusnya saat ini adalah Ray keenan, hingga ia mengabaikan kekasih Keenan yang tampak sangat kesal dengan pelukan Andheera yang tiba-tiba.
Iya gadis yang kini berada di samping Keenan adalah teman SMP juga SMA nya yang tak lain adalah Eunjiso. Gadis yang selalu berada di samping Keenan, meski Keenan tak pernah sekalipun memandangnya sebagai wanita.
Namun Eunjiso tetap gigih memperjuangkan cintanya dengan terus bertahan disamping Keenan, meski dirinya harus berperan sebagai teman, ia tak perduli asalkan tetap bersama dengan Keenan itu lebih baik daripada harus berpisah dengannya.
-----
“apa yang kau fikirkan Andheera..?” ucap seseorang yang tiba-tiba saja berada disamping Andheera, hingga membuyarkan bayangan Andheera bebepa saat yang lalu.
“ahh, apa..?” respon Andheera sedikit terkejut dengan kehadiran karibnya tersebut.
“apa yang kau fikirkan..?
Kau tak mendengar panggilanku..?! aku memanggilmu dari tadi sejak di lobi, tapi kau malah terus berjalan sambil memandangi lelaki tadi. Sebegitu tampannya ya dia, sampai kau tidak bisa mendengar apapun..!” keluhnya kesal seraya memalingkan wajahnya dari Andheera.
“kenapa kau diam saja..?! kau masih terpanah sama lelaki tadi, cih.. apa penyakitmu kumat lagi, tiap ada lelaki yang tampan kau sikat.” Gerutu Vivian seraya menyenggol bahu Andheera yang masih juga tak bergeming.
“dia..
Ray keenan.” Ungkap Andheera sembari memberikan senyum tipisnya pada Vivian kemudian berjalan pergi menuju parkiran rumah sakit.
“APA..!! jadi kau mengenalnya..?” kaget Vivian seraya meninggikan suaranya dan berjalan menyusul Andheera.
“apa maksudmu..? memangnya kau pernah bertemu dengannya.” respon Andheera.
“aku.. ga.. kenal sih.. cuma ya aku sering melihatnya.” Sahut Vivian seraya menyamakan langkahnya dengan Andheera.
“haha..!” ledek Andheera seolah ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Vivian.
“hey..! kau tak percaya padaku.” Protes Vivian kemudian memencet tombol untuk membuka kunci mobilnya.
Masih dengan posisi sebelumnya, Vivian yang mengemudikan mobilnya, pada awalnya memang Andheera berniat untuk membawa mobil Jaehyun, namun karena Vivian juga ikut bergabung jadi Andheera mengembalikan kunci mobil milik Jaehyun, dan beralih menjadi penumpang di mobil milik Vivian.
“sejak kapan kau membawa mobil ke sekolah..?” Tanya Andheera seraya menyandarkan kepalanya sedikit ke jendela.
“tahun kemarin.” Sahutnya. “yak..! kau benar-benar tak percaya padaku..? waaah.. kau ini sungguh menyebalkan.”
Tak ingin berkomentar apapun, Andheera lebih memilih memejamkan kedua matanya sejenak.
“lelaki itu pelanggan tetap di toko komik yang sering ku datangi, dan kurasa dia juga mengenal kak Brian karena aku pernah melihat mereka sedang mengobrol di depan toko sembari makan mie instan.” Paparnya, meski Andheera tidak meresponnya setidaknya ia tahu jika Andheera pasti mendengarnya, sebab ia hanya berpura-pura tidur.
“padahal aku berusaha untuk membuatmu tidak melihatnya di toko komik dahulu, karena pasti kau akan mengincarnya lagi. Haha, siapa sangka ternyata kalian berdua saling mengenal.” Batin Vivian seraya menoleh sekilas ke arah karibnya tersebut yang masih berpura-pura tidur.
***
Kembali ke rumah sakit.
Diruangan Hanyoora, setelah Jaehyun menjelaskan apa yang telah terjadi pada ibu Hanyoora, bahwa Andheeralah yang menyelamatkan Hanyoora dari aksi nekadnya di kamar mandi sekolah. Jika bukan karena Andheera yang merelakan lengannya menahan sayatan pisau tersebut, mungkin saja kini Hanyoora masih belum sadarkan diri dan bahkan telah tiada.
Setelah beberapa jam menunggu di dalam ruangan, baik Anha maupun Jaehyun tampak kelelahan hingga tertidur di sofa panjang tak jauh dari ranjang Hanyoora. Sedangkan Sanha harus pergi sebab tugasnya hari ini masih belum berakhir, hingga Sanha pun kini mempercayakan tugas menjaga Hanyoora pada Jaehyun juga Anha.
Saat Hanyoora tersadar ia melihat kedua temannya itu tengah tertidur pulas di sofa, membuat kedua sudut bibirnya terangkat juga air mata haru beberapa kali menetes membasahi bantal yang ditidurinya.
Ceklek..
Suara pintu ruangannya terbuka, membuat pandangan Hanyoora kini beralih pada seseorang yang baru saja hadir dalam ruangan tersebut.
“kak Yongi..” kejutnya seraya mencoba untuk bangun dari tidurnya, dengan sigap Yongi berlari kecil menghampiri Hanyoora untuk membantunya duduk dengan bersandarkan bantalnya.
Mendengar suara Hanyoora membuat Jaehyun reflex terbangun dari tidurnya, disusul dengan Anha yang juga tiba-tiba terbangun beberapa detik setelah Jaehyun.
“kau sudah sadar Hanyoora..” seru Jaehyun seraya berlari kecil menghampiri ranjang Hanyoora.
Saking fokusnya pada Hanyoora, Jaehyun sampai tak sadar jika sudah ada yang bergabung diantara mereka dan juga tengah memperhatikan dirinya.
“kak Yongi.. kok bisa disini..?” Tanya Anha seraya bangkit lalu berjalan mendekat ke arah ranjang karibnya seraya mencoba mengikat rambutnya kembali yang sudah kacau balau.
Setelah Anha menyebut sebuah nama, barulah Jaehyun tersadar dan melirik ke arah lelaki tersebut yang tengah berdiri di sisi ranjang Hanyoora yang lain. Menyadari situasi canggung seperti itu Hanyoora langsung memperkenalkan Yongi pada Jaehyun begitu juga sebaliknya.
“ahh iya.. kak yongi ini Jaehyun teman sekolahku, dan Jae ini kak Yongi, kakak kelas di tempat les ku dahulu.” Ucapnya.
Tanpa adanya senyuman mereka berdua pun mencoba terlihat baik di depan Hanyoora dengan saling berjabat tangan meski dengan raut wajah yang sama-sama datar. Sebab keduanya menyadari jika mereka akan menjadi rival nantinya, hahaha.
“yoora, apa kau sadar apa yang kau lakukan tadi itu sangat berbahaya..?” ucap Anha seraya menggeser tubuh Jaehyun yang berada di depannya, sebab ia ingin lebih dekat dengan Hanyoora, hingga mereka berdua pun bertukar posisi.
“ahh iya, bagaimana dengan Andheera..?! apa dia juga dirawat disini..? diruangan mana..?” tiba-tiba saja ia teringat akan Andheera yang telah menyelamatkan hidupnya beberapa jam yang lalu.
“Andheera baik-baik saja, dia bahkan sudah pergi.” Sahut Anha yang kemudian mencoba duduk di samping ranjang Hanyoora seraya menggenggam lengan Hanyoora yang terluka.
“pergi..? bukankah tangannya lebih terluka daripada aku..”
“jadi Andheera juga terluka..?” timpal Yongi.
“kak Yongi kenal Andheera..?
Ahh iya aku lupa, kalian satu agensi, hehe.” Ucap Hanyoora diakhiri dengan tawa renyahnya.
“jika Andheera terluka kenapa dia juga ga dirawat..?” kini giliran Yongi yang bertanya akan keberadaan Andheera.
“kak Yongi terlihat cemas sekali dengan Andheera.” Respon Anha seraya menoleh dan memandangi Yongi yang tampak salting.
“tidak, bukan begitu, sewaktu Andheera menelfon kak meda, dia bilangnya yang terluka hanya temannya aja. Jadi Andheera berbohong pada kak Meda.” Jelasnya.
“amm.. aku ke kantin dulu ya, sepertinya aku sedikit lapar.”
“aku juga..!” seru Anha yang sama-sama merasakan lapar sedari tadi.
“TIDAK..!” bentak Jaehyun spontan, membuat Anha terkejut yang tadinya sudah menurunkan kakinya ke lantai kini kembali duduk di ranjang.
“amm.. maksudku kau disini saja nanti biar ku bawakan makanan yang kau suka, oke, kau harus menjaga Hanyoora, hehe. Siapa tahukan tiba-tiba ada orang yang mau menculik Hanyoora.” Lanjutnya seraya tersenyum penuh arti dan melirik ke arah Yongi.
“apa sih, memangnya siapa yang mau menculik yoora, kau ini ada ada saja..!” protes Anha.
“diam sajalah..!! nanti ku bawakan semua makanan yang ada di kantin.” Bujuknya seraya berjalan keluar ruangan Hanyoora.
“SETUJU..!” seru Anha seraya tersenyum sumringah.
***
Begitu Jaehyun keluar ruangan, lengannya langsung merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya, kemudian mengetikan sebuah nama di pencarian kontak telfon lalu mengkliknya.
“kau dimana..?!” Tanya Jaehyun dengan nada tegas tak seperti biasanya seraya berjalan menuju kantin.
“apa sih..” ketus seseorang di seberang sana.
“kau bukan wonder women Andheera, kau fikir lukamu bisa sembuh dengan sendirinya, kembali ke rumah sakit kau perlu beberapa jahitan di telapak tanganmu.” Perintahnya.
“aku bisa menjahitnya sendiri dirumah, dengan warna benang favoriteku.” Celetuknya ngasal.
“YAAK..!!
Kau fikir lenganmu itu kain lap yang bisa kau jahit pakai sembarang benang..!! jangan bercanda, cepat kembali ke rumah sakit. Tante Sanha sendiri nanti yang akan menjahitnya.” Tukasnya tajam.
“idiih ogah..!
Sudah ah, kau urus saja urusanmu sendiri.”
Beeppp ..! telfon pun dimatikan seketika.
“Sial..!! sepertinya bukan cuma hatinya yang tak memiliki rasa, tapi semua anggota tubuhnya pun tak memiliki rasa sama sekali.” Gerutu Jaehyun seraya memandangi layar ponselnya yang sudah beralih ke mode kontak Andheera kembali.
***
Di aparteman Andheera.
Lebih tepatnya di area balkon aparteman, setelah mandi juga mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, ia pun bersantai di bangku seraya menikmati ice Americano yang dibelinya di perjalanan pulang tadi.
“siapa..?” tanya Vivian yang baru bergabung dengan Andheera kemudian duduk di kursi seberangnya seraya menaruh teh hangat buatannya di atas meja kecil diantara kursi yang mereka duduki.
“Jaehyun..” sahutnya seraya memainkan ponselnya dan sesekali menyedot ice americanonya.
“ada apa..?” Tanya nya lagi mengawali obrolan yang akan semakin berkembang dengan di selingi menyeruput teh hangat miliknya.
“dia ingin aku ke rumah sakit, untuk menjahit lukaku.”
“bukankah dia pernah berpacaran dengan Hanyoora, kenapa dia malah mengkhawatirkanmu.” Responnya.
“entahlah, kau fikir saja sendiri.” Ketusnya acuh.
“ciihh..!
Apa sih yang kau lihat di ponselmu.” Seru Vivian seraya mengambil secara paksa ponsel yang tengah digenggam Andheera.
“apa kau berusaha menemukan Ray di social media..?” ucap Vivian yang kemudian mengembalikan ponsel milik Andheera, setelah ia memastikan apa yang tengah dilihat karibnya itu.
“bukan urusanmu.” Sahut Andheera datar.
“sudah ku bilang dia selalu ke toko komik saat akhir pekan, kau ini benar-benar keras kepala ya..!”
“aku percaya.” Ucap Andheera yang kembali memainkan ponselnya.
“lalu kenapa kau masih mencarinya lewat social media..? kau bisa temui dia akhir pekan nanti.”
“menurutmu, apa dia akan memaafkanku..? atau dia malah merasa canggung kalau aku kembali muncul dihadapannya.” Ucapnya seraya menaruh ponsel di meja kemudian menyedot beberapa kali ice americanonya.
“sudah berapa kali kubilang, coba saja dulu menemuinya Andheera, kau ini keras kepala sekali..!” geram Vivian sebab Andheera masih tak mau mendengarkan saran darinya.
“bagaimana jika dia mencampakanku, atau berpura-pura tidak mengenaliku..?”
“OUGHH SHIITT..!!
ITU KAN SALAHMU ANDHEERA, jika dia seperti itu ya kau terima saja, kau juga dulu pernah meninggalkannya begitu saja seolah dia tak berarti apa-apa bagimu bukan..?”
“kalau begitu aku tak akan pernah menemuinya.” Ucapnya mantap kemudian pergi meninggalkan Vivian.
“sial..!!
Dia pasti mulai lagi..” gumam Vivian lalu bangkit dan berjalan ke dalam menyusul Andheera.
Benar saja, langkah Andheera langsung mengarah pada ruangan tempat latihan taekwondonya, suatu hal yang sangat Vivian khawatirkan. Andheera pasti akan meninju samsaknya untuk meredakan stress yang menjalar di otaknya.
Namun saat Andheera hendak menyentuh handle pintu, Vivian sudah lebih dulu menghadang dengan memblokir pintu menggunakan tubuh berisinya seraya merentangkan kedua tangannya.
“apa yang kau lakukan..?” ketus Andheera.
“harusnya aku yang tanya begitu padamu, apa yang mau kau lakukan dengan tanganmu yang masih terluka, Andheera..!” bentak Vivian seraya menajamkan kedua matanya.
“bukan urusanmu, minggir..!” pekik Andheera seraya mencoba menggeser tubuh Vivian yang menghalangi pintu.
Namun Vivian tak menyerah begitu saja, ia tetap mempertahankan posisinya sekuat tenaga, meski Andheera terus mengintimidasinya dengan tatapannya, Vivian tetap tak mau mengalah.
“OKE..!!
Kalau kau tetap ingin menambah luka ditanganmu, aku akan menelfon kak meda juga om reze, akan ku katakan yang sebenarnya, jika telapak tanganmu sobek..!”
“kau mengancamku..?!” respon Andheera.
“YAAKK..!!
Aku tau, kau tak pernah membiarkan kakakmu tahu jika kau terluka, sekarang mau ku beritahukan yang sebenarnya padanya..?!”
“ciihh..!
Kau ini picik sekali, seperti rubah.”
Merasa tak ada gunanya berdebat dengan Vivian, akhirnya Andheera mengalah, ia pun berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
“sial..!
Dia tak pernah sadar , bahwa dia juga seekor rubah.” Gumam Vivian seraya berjalan mengikuti langkah Andheera.