
Baik Lyra maupun Andheera yang tengah berdiri dibalik pintu ruangan, mengernyitkan dahinya secara bersamaan, kebingungan dengan kalimat terakhir Anha yang menyatakan jika Andheera tidak bisa berkelahi dan juga Andheea adalah gadis yang lemah.
Sebab semua itu bertentangan dengan diri Andheera yang sebenarnya.
“Anha kau benar-benar tak tahu Andheera hhahahaha, kau tahu seb..”
Krreett.. suara pintu ruangan Lyra terbuka, sontak Lyra dan Anha menoleh ke arah pintu bersamaan. Keduanya tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Andheera yang tak terduga.
“Andheera, bukannya aku sudah bilang untuk istirahat aja, kenapa kau kembali kesini?” tanya Anha keheranan, melihat Andheera yang berjalan perlahan mendekatinya.
“aku.. aku baik-baik saja, kau saja yang pulang aku yang akan berjaga disini.” Andheera tergagap.
“tak perlu, disini banyak perawat ko yang bisa membantuku, kalian berdua pulang saja. Sebagai gantinya kalau aku pulang nanti kalian harus menjemputku oke.” Seru Lyra lengkap dengan senyum lebarnya.
“kakak sedang sakit mana bisa ditinggal sendiri.” Anha terkekeh.
“tak apa, lagipula bukannya kau harus kerja kan, aku baik-baik saja ko.” Kata Lyra lagi.
“iya sih, sebentar aku akan meminta bantuan ibuku.” ucap Anha seraya merogoh ponsel dari saku Jinsnya kemudian berniat menelfon ibunya.
“Anha.. (Lyra menghentikan jemari Anha agar tidak melanjutkan niatnya untuk menelfon ibunya) aku baik-baik saja percayalah, kalau ada yang terjadi aku akan langsung menghubungimu oke.” Lyra dan Anha tetap kekeh dengan pendiriannya, membuat Andheera memutar kedua bola matanya karena malas menghadapi perdebatan tak berguna seperti ini.
“baiklah, kalau begitu setelah part time ku selesai aku akan kembali, kakak ingin ku bawakan makanan apa? Kakakku sangat pandai memasak, aku tahu kok makanan dirumah sakit itu tidak enak hehehe.” Anha mengalah untuk saat ini, namun pada akhirnya ia tetap tak bisa meninggalkan Lyra sendirian dimalam hari.
“Anha..” belum sempat Lyra menuntaskan kalimatnya namun Andheera sudah lebih dulu menyambar dengan perkataan kasarnya.
“bisakah kau pergi sekarang, kau tak lihat kak Lyra tak nyaman ada dirimu disini.” Andheera menyambar karena ingin meghentikan perdebatan antara Lyra dan Anha.
“bu.. bukan begitu maksudku.” Lyra kehabisan kata-kata karena Andheera malah berbicara sarkastik seperti itu.
“iya baiklah aku pergi sekarang.” pamit Anha kemudian bangkit lalu berjalan keluar.
“bisakah kau sedikit menjaga ucapanmu Andheera, kau ini benar-benar..” ujar Lyra saat Anha telah pergi.
“aku hanya benci mendengar perdebatan yang tak berguna, (kata Andheera yang kemudian duduk di tempat Anha sebelumnya) kak Lyra butuh sesuatu?”
“bukankah aku menyuruhmu untuk pulang juga.” ujar Lyra sedikit menaikan nada suaranya karena masih kesal dengan sikap Andheera barusan.
“oke.” respon Andheera seraya bangkit dari tempat duduknya.
“tunggu, (Lyra menghentikan, padahal ia hanya berbasa-basi namun Andheera menanggapinya dengan serius) kau ini tidak peka sama sekali.” Ketus Lyra merasa kesal karena sikap dingin Andheera.
“apa sih ribet banget, katakan iya jika iya dan begitupun sebaliknya, gak usah berbelit-belit.” keluh Andheera seraya melipat kedua tangan diatas dada kemudian duduk kembali.
“iya iya baiklah kau memang tak memiliki hati.” Lyra bergumam pelan.
“aku mati jika tak memiliki hati.” Balas Andheera lagi masih dengan nada dinginnya.
“astaga!!” umpat Lyra.
“jangan beri tahu siapapun aku bisa berkelahi.” kata Andheera seraya memandangi wajah Lyra.
“kenapa?” tanya Lyra tak mengerti, kenapa dia harus merahasiakan hal itu.
“hanya..”
“hmm baiklah, kau habis berjogging?” tanya Lyra lagi seraya memperhatikan setelan Andheera dari atas hingga bawah.
“iya, apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?” Andheera tiba-tiba membahas hal yang lain.
“mereka adalah musuhku sewaktu aku kuliah diluar negeri, aku tak menyangka mereka semua mengikutiku sampai kesini hahahaa. oiia, makasih ya sudah datang.” Kata Lyra dengan nada tulusnya.
“jika kak Lyra memiliki kesempatan untuk menelfon, seharusnya kak Lyra menelfon polisi bukan aku, bagaimana jika aku mengabaikan mu.” jelasnya seraya menatap Lyra lekat.
“karena aku percaya padamu, Andheera.” balas Lyra lalu tersenyum manis membuat gadis angkuh itu terdiam untuk beberapa saat.
“sama sepertimu yang percaya pada Anha, makanya orang pertama yang kau hubungi adalah Anha.” Tambahnya.
Andheera masih terdiam sembari menatap tajam kedua mata Lyra yang juga tengah menatapnya dengan senyum manis, seolah ada hal yang ingin Andheera katakan namun dirinya yang lain berusaha untuk menahannya.
Mengetahui hal itu membuat Lyra melebarkan senyumannya.
“berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu, apa kau menyukaiku Andheera?” kalimat Lyra membuat Andheera kembali tersadar.
“cih..!! berapa lama kak Lyra akan dirawat?” pertanyaan yang mengganti topik.
“sekitar 3 atau 4 hari kau akan menjemputku kan?” Lyra memastikan.
“iya anggap saja sebagai balasan karena kak Lyra sudah menjahit lukaku 2 kali, jadi aku akan menolongmu 2 kali juga, setelah itu impas.” Sahutnya.
“hmm, apa kau akan terus seperti ini Andheera?”
“apa?”
“aku memang tak tahu seberapa dalam lukamu dimasa lalu, hingga bisa membentuk pribadi dirimu yang seperti ini, tapi tak bisakah kau perlahan keluar dan menerima uluran tangan dari teman-temanmu, kau tak bisa terus mengurung dirimu sendirian Andheera.” Lyra mencoba menyadarkan Andheera akan sikap kasarnya selama ini sudah cukup membuat dirinya terkurung.
“kalau tak ada yang kak Lyra butuhkan aku akan pergi.” Andheera megacuhkan perkataan Lyra dengan menghindarinya.
“kau sangat keras kepala Andheera.” gumam Lyra seraya menajamkan sorot matanya kearah Andheera.
“aku sudah disalah pahami dari lahir, mereka yang memiliki cara pandang negative terhadapku, haruskah aku mempercayai orang-orang disekitarku sekarang?” Andheera beralasan agar ia tak disalahkan.
“hanya karena mereka yang pernah memandangmu negative bukan berarti semua akan berfikir sama.” sanggah Lyra dengan nada suara yang meninggi.
Lagi-lagi Andheera bukanlah orang yang akan mendengarkan perkataan orang lain dengan baik, jangankan Lyra, Vivian saja yang sudah berteman lama dengannya tak pernah bisa mengubah pola fikirnya.
Andheera bangkit dari tempat duduk berniat meninggalkan Lyra yang masih ingin berbicara dengan Andheera, Lyra hanya terdiam sesaat sembari memperhatikan langkah Andheera yang berjalan menuju pintu.
“hubungi aku jika pulang nanti, akan ku antar kak Lyra pulang.” Tanpa menoleh Andheera mengatakan kalimat terakhirnya sebelum membuka pintu lalu pergi.
Diluar, tatapan gadis cantik nan ramping itu tampak kosong langkah kecilnya yang menyusuri lorong rumah sakit terlihat sedikit tertatih, perlahan Andheera mengangkat tangan kecilnya kemudian meletakannya didinding, ia menjadikan dinding sebagai pegangan agar ia bisa terus berjalan sampai ke tujuannya.
Semua ini juga berat baginya, bukan kemauan Andheera untuk tetap menutup diri dari semua orang yang ingin dekat dengannya, hanya saja stigma itu sudah melekat padanya.
Bukan hal mudah untuk melangkah ke dunia luar dan kembali percaya pada orang-orang disampingnya.
Terlebih lagi pada orang dewasa yang menyudutkan dirinya, hingga membuat Andheera kecil benar-benar berfikir jika ia berbeda, ia menakutkan tak pantas memiliki seorang teman.
Tapi..
Setelah bertemu dengan Vivian, Lyra, Anha dinding pertahanannya mulai terkikis, seolah hati yang sudah lama membeku kini perlahan mencair, semua hal yang coba Andheera sembunyikan dalam pribadi kuatnya tampak jelas mereka melihatnya.
Mungkinkah sudah saatnya ia keluar dari ruang gelap ini yang mengunci jiwanya sendirian dan memulai kehidupan yang baru.
***
Di kediaman Reza.
Meski Reza sudah menawarkan diri untuk mengantarkan mertuanya pulang namun Diana tetap kekeh ingin pergi sendiri karena ia harus mampir ke suatu tempat dahulu.
Setelah beberapa jam Reza pergi bekerja, Diana pun memutuskan untuk pergi karena sudah selesai mengemas pakaiannya.
Ia berjalan menuruni tangga dengan membawa koper berisi pakaian dalam genggamannya, melihat hal itu Andromeda yang tengah bersantai dibawah langsung bergegas menghampiri Diana untuk membawakan kopernya yang lumayan besar.
“biar aku yang bawakan omma, (ujar Andromeda lalu mengambil alih membawakan koper neneknya menuruni tangga) omma yakin akan pergi sendiri, biar ku temani yaa aku akan mengambil cuti beberapa hari.” Mereka berjalan berdampingan menuruni tangga.
“tak perlu, omma gak sendirian kok, ada Mina yang menemani omma, lagipula omma ingin pergi ke suatu tempat dulu sebelum pulang ke bandung.” Diana terkekeh.
“begitu, Mina akan kembali bersama omma syukurlah, omma akan pergi kemana dulu?” tanya Andromeda dalam perjalanannya keluar menuju mobil yang sudah disiapkan untuk mengantar Diana.
“Yogyakarta, ini hari ulang tahun kakekmu, omma akan mengunjunginya sebentar.” Paparnya.
Note : Yogyakarta adalah tempat lahir kakek Andheera dan Andromeda. Bandung adalah kota yang mempertemukan kakek dan nenek Andheera, mereka berdua memutuskan untuk tinggal dibandung, namun setelah meninggal kakek Andheera di kremasi di kota kelahirannya.
Langkah Andromeda terhenti setelah mendengar tujuan Diana, ia baru menyadari jika hari ini adalah hari ulang tahun kakeknya dan tak ada siapapun yang mengingat kecuali Diana sendiri.
“tak apa, kau bisa megunjunginya lain kali Andromeda, karena kali ini omma ingin pergi sendiri.” Ujar Diana lembut seraya menyentuh wajah Andromeda tampak jelas sekali ia merasa bersalah karena telah melupakannya.
“baiklah omma, sampaikan pada kakek jika aku sangat merindukannya dan aku akan berkunjung lain waktu dengan Andheera.” Andromeda kembali melangkahkan kaki nya, kemudian ia memasukan koper Diana ke dalam bagasi mobil.
Tak lama, Mina pun keluar dari pintu belakang sembari membawa koper cukup besar setelah berpamitan dengan para ART lainnya yang sudah lama bekerja dengannya, ia akhirnya bisa kembali pulang tanda misinya telah selesai untuk menjaga Andheera.
Ia berjalan seraya menyunggingkan senyum manisnya untuk Diana yang sudah menunggunya disamping mobil yang akan ditumpanginya.
Dengan senang hati Andromeda membantu Mina memasukan koper besarnya ke dalam bagasi mobil dilanjutkan dengan berpamitan dan juga mengucapkan rasa terimakasihnya, karena sudah menganggapnya sebagai keluarga selama ia tinggal disini.
Jika bukan karena sikap kasar Andheera mungkin Mina tak keberatan jika harus bekerja selamanya dengan keluarga Reza.
“jika bekerja dengan omma membosankan, kak Mina boleh kembali kesini aku pasti akan sangat merindukan kak Mina dan juga terimakasih untuk semuanya.” Ucap Andromeda setelah memasukan koper Mina ke dalam bagasi.
Ia memandangi wajah Mina seolah ia merasa berat melepas kepergian Mina yang sudah banyak membantunya selama 7 tahun terakhir.
“bolehkah aku memelukmu.” pinta Mina sembari tersenyum ke arah Andromeda.
“tentu, kau sudah seperti kakak perempuan bagiku, kak Mina banyak membantuku dalam belajar seharusnya kak Mina menjadi seorang guru bukan ART.” Gumam Andromeda yang memeluk Mina, Mina hanya tersenyum seraya mengusap lembut punggung lebar Andromeda.
“ayo Mina.” Diana menyudahi kegiatan berpelukan Andromeda dengan Mina.
Diana merasa sudah cukup berpamitannya karena ia harus segera pergi menuju bandara, Diana pun masuk ke dalam mobil lalu diikuti dengan Mina.
Sedangakan Andromeda masih berdiri hingga mobil yang ditumpangi ommanya telah pergi dari pandangannya.
“adikku sedang apa ya.” Andromeda bergumam pelan sebelum berbalik kembali masuk ke dalam rumah.
***
Apartemen Jiso.
Setelah selesai mandi dan memakai bajunya ia berniat untuk mengeringkan rambutnya yang panjang menggunakan hair dryer, kedua mata belonya melirik ponsel disampingnya.
Untuk sesaat ia tampak ragu namun ia tak bisa mengontrol lengannya untuk mengambil ponsel dan meletakan hair dryer sejenak.
Jemari ramping Jiso langsung menekan angka 1 diponselnya untuk memanggil seseorang. Selagi menunggu telfonnya diangkat ia memandangi dirinya ke dalam cermin yang berada dihadapannya.
“kau sudah berubah sejauh ini tapi kenapa dia masih tak bisa melihatku sebagai wanita.” Gumam Jiso sembari terus memandangi dirinya sendiri dalam cermin.
Tak lama menunggu akhirnya telfon Jiso tersambung. “iya ada apa?” tanya Keenan langsung menanyakan tujuan Jiso menelfon.
“kau akan mampir ke apartementku dulu kan?” tanya Jiso.
“tidak, kita bertemu dibandara saja nanti sore.” tolak Keenan dengan nada dinginnya.
“kenapa?” tanya Jiso lagi sedikit kecewa.
“tentu karena Apartemenku lebih dekat dengan bandara.” jawab Keenan.
“kalau begitu aku yang akan men..”
Tut..tut..tut panggilan diakhiri sepihak oleh Keenan sebelum Jiso menyelesaikan kalimatnya.
Jiso menghela nafas panjang sebelum meletakan kembali ponselnya dimeja, lalu beralih ke hair dryer nya kembali, ia hendak melanjutkan aktifitas awalnya yang akan mengeringkan rambut panjangnya.
“sepertinya tak cukup hanya dengan perawatan kecantikan dan diet ekstrim, seharusnya aku mengoperasi wajahku saja dari awal.” Jiso bicara sendiri masih sembari memandangi wajahnya di cermin.
***