To My Youth

To My Youth
BAB 38



Rumah sakit Haneul Jakarta.


Tepatnya diruangan kerja Sanha rekan sesama dokter Hyunjie, tanpa mengetuk pintu Hyunjie langsung masuk ke dalam ruangan sanha lengkap dengan wajah suram dan kedua matanya yang mulai bengkak, akibat terlalu banyak menangis.


Langkah Hyunjie langsung tertuju pada sofa yang berada di depan meja kerja Sanha, wanita manis yang sudah berumur 40 an itu tampak sangat butuh perhatian dari teman baiknya yang masih belum perduli akan kehadiran dirinya diruangannya.


                “aku dicampakan lagi.” Lirinya.


                “lagi?” respon Sanha.


                “hmm, sepertinya kita memang tidak di takdirkan bersama.” Gumamnya seraya memejamkan kedua matanya sejenak untuk menemukan ketenangan.


                “kau yakin? terakhir kali kalian putus juga bilang nya begtu, tapi baru beberapa minggu kalian kembali bersama lagi sudah seperti anak ABG saja.” Celetuk Sanha.


                “dia yang selalu bermain tarik ulur bahkan sampai sekarang aku masih belum tahu dia benar-benar mencintaiku apa tidak.” Balas Hyunjie yang masih memejamkan kedua matanya.


                “kalau begitu lupakan saja.” Timpal Sanha.


                “jika aku bisa melupakannya daridulu sudah kulakukan.” Katanya setengah terisak karena lagi-lagi Hyunjie terbawa emosi.


                “tentang wanita gila itu apa dia sudah tak mengejarmu lagi?” Sanha mengalihkan pembicaraan.


                “iya kurasa dia mengira aku sudah mati saat kecelakaan itu terjadi, karena mobilku hancur, aku tak akan mungkin bisa selamat.” Jawabnya.


                “seharusnya kau tetap di Yogyakarta, bagaimana jika dia menemukanmu disini, kau ini berani sekali hanya karena ingin lebih dekat dengan Reza kau sampai membahayakan nyawamu dan anakmu.”


                “Keenan tidak terdaftar sebagai anakku, dia masih menjadi anak kedua orang tua angkatnya, makanya aku berani membawanya bersamaku.” Ungkapnya kemudian mulai membuka matanya untuk menatap Sanha yang masih duduk di kursinya.


                “astaga cinta memang buta, cih..! jika kau cinta mati padanya kenapa malah punya anak dari lelaki lain.” celetuknya.


                “haruskah ku ceritakan lagi semuanya dari awal!! Kenapa setiap aku curhat padamu bukannya nenangin hati malah selalu menyudutkanku, kau ini temanku bukan sih!” seru Hyunjie yang meninggikan nada suaranya.


Seakan timingnya sangat tepat, Sanha tiba-tiba menerima telfon dari putrinya yang mengabarkan jika dia sudah selesai dengan lesnya.


“hallo, yoora Les mu baru selesai? Oke mami jemput sekarang.” Sanha pun berhasil keluar dari percakapan yang membosankan itu dengan alasan menjemput putri bungsunya.


“kak Sanha!” rengek Hyunjie seperti bocah, yang melihat Sanha bangkit dari tempat duduknya lalu berniat meninggalkannya.


                “aku harus menjemput putriku, sudahlah berhenti bermain-main, fikirkan masa depan Keenan! kau tak menyesal sama sekali sudah meninggalkannya dulu? kau malah sibuk dengan dirimu sendiri.” Respon Sanha sebelum dia keluar dari ruangannya.


***


Kompleks XXX Yogyakarta.


Tempat Keenan tinggal, Keenan berjalan keluar rumah seraya sesekali mendribel bola basket miliknya, setelah ia kembali dari rumah Joe beberapa jam yang lalu, Keenan memilih untuk bermain basket sendiri untuk kegiatan selanjutnya.


Tak butuh waktu lama ia sudah sampai di lapang basket kompleks, seperti biasa sebelum bermain ia melakukan pemanasan sejenak sebelum akhirnya ia bermain basket sendrian.


Untuk sesaat ia teringat akan kenangannya bermain basket dengan lelaki asing yang baru menjadi temannya, sewaktu ia berlibur ke Jakarta, tampak senyun nya merekah seiring dengan gerakannya yang lincah memasukan bola ke ring tanpa ada yang meleset.


Sama hal nya Joe, ia juga terlihat ceria hingga mampu membuat Keenan senyum-senyum sendiri, Seolah ia tengah bermain dengan adik lelakinya, baik Joe maupun Brian mereka berdua tampak sama menyenangkan di mata Keenan.


20 menit kemudian.


Jiso tiba-tiba hadir tanpa pemberitahuan, gadis cantik itu langsung berjalan menuju tempat duduk dipinggir lapang, layaknya seorang pelatih ia begitu serius mengamati permainan basket Keenan dengan tatapan tajamnya.


Ia juga bisa merasakan semangat yang bergejolak dalam diri Keenan meski ia bermain sendirian, ia tetap mengerahkan seluruh tenaganya seolah tengah bermain di sebuah pertandingan yang sebenarnya.


‘apa kau memiliki cinta pertama?’ 


‘iyaa dia teman masa kecilku dulu dan aku sangat merindukannya’


Beberapa kalimat muncul dalam benak Jiso, kalimat yang pernah Keenan lontarkan, entah itu benar adanya atau Keenan hanya mengada-ngada, yang pasti kalimat itu sedikit mengusik hatinya.


                “jika gadis yang kau bilang itu benar ada, lalu kenapa kau malah berkencan dengan Jennie.” Gumam Jiso seraya memandangi Keenan lekat dengan tatapan kosong, karena masih dalam lamunannya.


BRUUKK..!! suara hantaman bola basket tepat ke arah kepala Jiso membuat Jiso sedikit oleng.


                “shitt!!” ringis Jiso pelan seraya memegangi kepalanya yang terhantam bola tadi.


                “SORY!! ku kira ga ada makhluk hidup disitu hahaha.” goda Keenan tanpa merasa bersalah sama sekali, ia malah mengambil bola basketnya kemudian bermain kembali dengan santuy nya.


                “kau sengaja kan! Kemari kau aku sudah tak tahan lagi!” seru Jiso dengan tatapan tajam, dan bersiap untuk langkah seribu mengejar Keenan yang sudah lebih dulu menyadari amarah Jiso tak lagi bisa terkendali.


Alhasil mereka berdua bermain kejar-kejaran mengelilingi lapang seperti sedang berolahraga di malam hari.


Tak bisa menangkap Keenan dengan mudah membuat Jiso memikirkan beberapa cara untuk membalasnya, ia berhenti sejenak melepas kedua sepatu kets yang ia pakai dengan mengerahkan semua tenaga yang tersisa, ia melempar sepatunya secara bergantian kearah kepala belakang Keenan.


Hingga akhirnya usaha Jiso membuahkan hasil, lemparan keduanya tepat mengenai sasaran, membuat Keenan terhenti kemudian berbalik menatap tajam wajah Jiso seolah ingin menerkamnya hidup-hidup.


Melihat Jiso tertawa lebar karena puas telah membalaskan dendamnya, Keenan tak mau mengalah ia malah kembali mengejar Jiso, pada akhirnya mereka berdua hanya saling mengejar satu sama lain sembari bersenang-senang menikmati waktu malam yang cukup panjang.


                “awas kau jangan sampai tertangkap!!” seru Keenan.


                “memangnya kalau tertangkap kenapa?” balas Jiso yang seolah tengah mengejek teman lelakinya itu.


BRUUKK!!..  ketika Jiso berbalik ternyata Keenan sudah berada dibelakangnya, tak sempat menghentikan laju kakinya Keenan menubruk Jiso, kemudian mereka terjatuh bersama bak adegan di drama Romance.


Jiso berbaring di atas dada bidang Keenan masih belum berani menatap wajah Keenan, Jiso hanya membiarkan wajahnya tenggelam dalam dekapan Keenan yang sigap menangkap Jiso menggantikannya berbaring di lapang basket.


Terasa detakan jantung Jiso yang mulai berdegup tak karuan, ia tak bisa lagi menahan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.


Namun sepertinya Keenan tak ingin Jiso terlalu lama berada di atas dadanya, kedua lengan kekar Keenan mencoba memindahkan tubuh Jiso dari atas dadanya.


Jiso menurut ia pun bangun lalu duduk di sebelah Keenan, yang masih terbaring memandangi langit malam yang indah dengan beralaskan lengannya untuk bantal sementara.


                “kukira aku akan baik-baik saja, tapi aku terus merindukannya sampai aku tak bisa berfikir hal lain dan masih terus memikirkannya.” Gumam Keenan lirih seraya menutup setengah wajahnya dengan siku lengannya, seperti anak kecil yang tengah merengek meminta permen.


                “tak bisakah kau hanya melihatku yang selalu disampingmu.” Batin Jiso.


***


4 tahun yang lalu, di halaman rumah Nenek Andheera lebih tepatnya kampung halaman Andheera di Bandung sebelum ia pindah ke Jakarta bersama Ayah dan Oppa nya.


Tampak kakak beradik dan satu tetangganya tengah memanggang daging sapi di halaman rumah, seolah tengah berpiknik di taman mereka bertiga menggelar tikar di halaman depan rumah Diana.


Andromeda yang kala itu bertugas memanggangkan daging untuk 2 anak yang lebih muda darinya merasa seperti memiliki 2 adik yang harus ia beri makan.


                “oppa bisakah kau memanggang dagingnya lebih lama aku tak suka yang setengah matang.” Keluh Andheera.


                “ini untuk Ray daritadi dheera terus yang makan beri Ray daging juga, masa Ray daritadi Cuma makan sayur memangnya dia kambing.” kata Andromeda lembut.


                “ciih.. dia sudah gemuk kalau diberi daging nanti malah makin gemuk seperti babii.” Celetuk Andheera.


                “dheera gak boleh begitu, Ray kan teman dheera.” Ujar Andromeda lembut.


                “huh dia bukan temenku, dia pesuruhku.” Sahut Andheera dengan tatapan songongnya.


                “Andheera.” kata Andromeda lagi seraya memandangi wajah adik kecilnya itu.


                “cih..! iya iya baiklah kau boleh memakan sebagian daging milikku ini, sudah jangan cemberut kau makin jelek.” Seru Andheera pada Keenan yang hendak menangis.


                “oke terimakasih Andheera.” namun bocah lelaki itu kembali ceria kala Andheera membujuk dirinya dengan daging miliknya.


                “heemm ini makan yang banyak biar kau tumbuh ke atas bukan ke samping.” Ujar Andheera seraya menaruh beberapa daging miliknya ke atas piring Keenan.


                “apa hubungannya makan banyak dengan tumbuh tinggi?” celoteh Keenan yang polos.


Andheera mengabaikan perkataan Keenan, gadis mungil itu lebih memilih fokus pada daging sapi yang ada dihadapannya.


                “sepertinya malam ini terlihat berbeda, sudah lama oppa gak lihat bintang bertebaran dilangit, indah yaa.” Gumam Andromeda disela aktifitas memanggangnya ia mencoba untuk menikmati keindahan di malam itu.


Refleks baik Andheera maupun Keenan mendongakan kepalanya ke atas, sama hal nya dengan yang Andromeda lakukan, Keenan pun kagum melihat keindahan langit yang bertaburkan berjuta bintang di langit, hingga tanpa disadari ia membuka mulutnya saking kagumnya.


Sedangkan gadis kasar yang disampingnya, hanya menunjukan ekspresi yang datar lalu kembali menyantap makanannya.


                “tutup mulutmu atau lalat akan masuk.” Ujar Andheera yang melirik sinis ke arah Keenan.


                “aku sudah banyak mendapat perlakuan kasar dari teman-temanku, apa kau tak ingin berbaik hati padaku?” ucap Keenan lirih sembari mengunyah makanan yang belum sempat ia telan.


                “maka dari itu jadilah sedikit kuat dan juga berani, kau lemah dan penakut itulah sebabnya mereka terus mengincarmu, Aughhhh berhenti merengek seperti bocah kau bahkan lebih tua dariku tahu!!” geram Andheera, melihat Keenan yang lemah tak berdaya membuat dirinya semakin gemas.


                “kau dibully di sekolah Ray kenapa tidak laporkan saja pada guru atau bilang pada kedua orang tuamu.” Timbrung Andromeda.


                “tidak bisa, orang tua mereka sangat berpengaruh disekolah, bisa-bisa nanti malah aku yang menyusahkan kedua orang tuaku.” Lirihnya.


                “kalau kau masih cengeng dan merengek seperti itu aku tak mau lagi berteman denganmu.” Ancam Andheera.


                “emm ya udah kita berkencan aja hehehe.” Respon bocah lelaki itu yang tak terduga.


                “oke.” Tanpa ragu Andheera langsung mengiyakan ajakan Keenan.


                “HEYY!!..” teriak Andromeda seraya memuncratkan kembali makanan yang tengah dikunyahnya kemudian membantingkan penjepit daging ke atas meja.


***


Diperjalan pulang Brian dan Vivian, mereka harus berjalan sedikit keluar Kompleks rumah Andheera agar bisa menemukan halte busway.


                “tumben kak Brian gak bawa mobil?” ujar Vivian yang keheranan.


                “aku udah gak tinggal dengan orang tuaku.” Jawabnya.


                “sudah ku duga, saat kak Brian bilang sedang trainee di sebuah agensi mana mungkin Om Daniel dengan mudahnya mengiyakan yang kak Brian inginkan.” Sahut Vivian.


                “ada yang bilang padaku, pilihlah jalanmu sendiri, meski tak semudah dengan jalan yang dipilihkan oleh ayahmu. Tapi itu adalah impianmu, hal yang benar-benar ingin kau lakukan, ketika kau terjatuh itu tak akan terasa sakit karena kau menyukainya, kau yang memilih mimpimu sendiri.” Tuturnya seraya memandang lurus kedepan.


“Hahaha sebuah kalimat yang membuat aku berani untuk keluar dari zona nyaman, juga pertama kalinya aku menentang kehendak ayahku. Sedikit menegangkan pada awalnya tapi saat aku mulai menjalaninya tidak buruk juga hehehe.” Sambung Brian dengan box smilenya di akhir.


                “terus sekarang kak Brian tinggal dimana?” tanya Vivian khawatir.


                “ditempat tinggalmu dulu.” Jawab Brian.


                “panti asuhan?” Vivian sedikit terkejut mendengar kenyataan jika Brian kini tinggil di panti asuhan.


                “iyaa kalau kau ada waktu kunjungi mereka, mereka sangat merindukanmu terutama bunda Marisa, setiap malam saat aku pulang dari Part time atau dari latihan bunda selalu ingin mendengar cerita tentangmu.” Katanya seraya melirik sejenak ke arah Vivian yang berada disamipingnya.


                “part time? Kak Brian sampai kerja paruh waktu juga?” lagi-lagi Vivian menunjukan ekspresi terkejut yang sama, seolah tak percaya dengan situasi yang terjadi saat ini.


                “iyalah darimana aku dapat uang jika tidak berkerja, Ayahku sudah tak ingin membiayai hidupku lagi sekarang.” Lirihnya seraya menundukan kepalanya.


                “kau ini benar-benar membuat repot diri sendiri, orang lain di luar sana ingin hidup berkecukupan kak Brian malah menyiakannya. Kak Brian yakin bisa mengatasinya?” Vivian tampak sangat khawatir.


                “setidaknya aku harus mencoba kan agar tahu bagaimana akhirnya, mau baik atau buruk aku sudah memilih jalan yang ku inginkan.” Tegasnya.


                “baiklah, semoga kak Brian berhasil. Oiia.. Kak brian tak perlu mencoba menjatuhkan perusahaan kakek ku, saat pertemuan keluarga kita nanti, ku pastikan akan membatalkan pertunagan kita."


"Setidaknya hanya itu yang bisa ku lakukan untuk mempermudah jalanmu, maaf dan juga terimakasih setelah apa yang kulakukan padamu, kak Brian masih mau berbicara denganku.” Katanya dengan nada yang penuh ketulusan.


Vivian lebih dulu naik busway meninggalkan Brian yang masih duduk di halte sembari memandangi Vivian sampai busway yang dinaikinya pergi.


***