
Dalam mobil Jaehyun.
Andheera sudah kembali bersama seseorang yang kini duduk dikursi belakang, pandangan Andheera langsung tertuju pada GPS mobil Jaehyun, kemudian lengan panjangnya mencoba memasukan alamat Apartemennya ke dalam GPS.
“aku sudah memasukan alamat Apartemenku di GPSmu, kau hanya perlu mengikutinya, aku lelah ingin tidur sebentar.” Gumamnya kemudian langsung memejamkan kedua matanya tanpa menunggu respon dari Jaehyun.
“huhh kau bicara seolah kita berteman dekat.” Jaehyun mendumel sembari menancapkan gas mobilnya.
Lyra yang berada dikursi belakang tersenyum melihat interaksi antara Andheera dan Jaehyun.
“aku tak ingat kau dekat dengan Andheera, Jae?” timbrung Lyra di belakang.
Jaehyun kebingungan mendengar seseorang dibelakang yang tampak seperti mengenal dirinya, lelaki tampan yang mirip sekali dengan Jaehyun NCT itu melirik ke arah cermin mobil yang tergantung untuk memastikan siapa yang ada di kursi belakang.
Mendapati seseorang yang tak asing tengah duduk dikursi belakang seraya menyunggingkan senyum termanisnya, ia pun menoleh kebelakang sejenak karena terkejut masih tak percaya jika orang yang dijemputnya adalah petugas/dokter UKS di sekolahnya.
“ibu Lyra? Kok bisa.” Kata Jaehyun seraya melirik ke arah Andheera juga Lyra secara bergantian.
Sementara Andheera tidak menanggapi pertanyaannya, di sisi lain Lyra sendiri juga tak tahu harus menjawab apa, Lyra hanya nyengir menunjukan deretan giginya yang rapih juga putih membuat Jaehyun semakin kebingungan, sebenarnya ada hubungan apa dokter sekolah dengan Andheera, karena Andheera bukanlah orang yang bisa akrab dengan siapa pun.
“sudahlah jangan terlalu difikirkan fokus saja pada jalanan, kurasa tidak jauh lagi sampai.” Ujar Lyra mencoba untuk mengakhiri pembahasan yang tak bisa ia jawab.
“aah baiklah..” respon Jaehyun yang menyerah kemudian fokus kembali mengemudi.
Setelah keheningan beberapa saat, “apa kalian berdua berkencan.” Celetuk Lyra mencoba menebak situasi yang terjadi saat ini.
“apa dia terlihat seperti pantas ku kencani.” Andheera bergumam dalam mata terpejamnya mendahului Jaehyun yang hendak merespon tebakan konyol Lyra.
“HEY!! Apa aku terlihat jelek bagimu?” seru Jaehyun yang tak terima dengan ungkapan gadis yang berada disampingnya.
“bukan itu, (merasa terusik akhirnya Andheera membuka kedua matanya)
apa ini, kurasa ini bukan jalan menuju Apartemenku.” Seru Andheera dengan raut wajah syok kala ia melihat lokasi Apartemen nya sudah jauh terlewat oleh Jaehyun.
“iya tadi aku melewatkan belokannya, tenang saja GPS bisa mencari jalan lain.” Sahutnya santai.
“apa kau bodoh? Kita bisa sampai dalam 15 menit dan sekarang kau malah jalan memutar yang akan memakan waktu 30 menit!” Andheera masih dalam amarahnya.
“kau tidur saja lagi (balas Jaehyun seraya menutup setengah wajah Andheera dengan telapak tangannya yang besar) kalau sudah sampai akan ku bangunkan.” Ujar Jaehyun yang masih mencoba mengalah dan menahan emosinya.
“ciih..!” Andheera berdecak kesal karena kecerobohan Jaehyun membuatnya harus menunggu 30 menit lagi untuk sampai ke Apartemennya.
***
Di kediaman Jiso, lebih tepatnya di kamar Jiso.
Gadis cantik itu tampak tidak begitu sehat sejak kepulangannya dari sekolah beberapa jam yang lalu, ia masih tertidur lelap dengan bedcover yang menenggelamkan tubuh mungilnya.
Tok.. tok keheningan itu terpecahkan oleh suara ketukan pintu yang membuat Jiso terpaksa terbangun dari tidur lelapnya, tubuhnya menggeliat mencoba mengeluarkan kedua lengan rampingnya keluar dari bedcover.
“masuk..” ujar Jiso dengan tenaga yang tersisa ia mencoba meninggikan suaranya agar terdengar sampai ke luar pintu kamarnya.
“bibi bawakan makan malam dan obat demam non.” kata bi Lina seraya membuaka pintu kamar Jiso kemudian masuk ke dalam meletakan baki berisi mangkuk bubur, segelas air mineral dan juga obat di atas meja disamping ranjang Jiso.
“iya terimakasih bi.” Respon Jiso tak begitu perduli seraya membalikan tubuhnya ke sisi yang lain mencoba untuk tidur kembali.
“nona..”
“hmm..”
“tuan berpesan," mendengar kata tuan yang terlontar dari mulut sang asisten rumah tangganya membuat Jiso refleks membuka kedua matanya, namun masih tetap dalam posisinya.
"untuk semua keperluan nona dan juga biaya kuliah Nona di Jakarta, sudah Tuan transfer ke rekening Nona tadi malam, jika masih kurang Nona bisa bilang pada bibi akan bibi sampaikan pada Tuan.” Bi lina melanjutkan kalimatnya.
Namun Jiso tidak merespon lagi kali ini, mungkinkah Jiso sudah kembali tidur. Tak ingin mengganggu gadis tersebut, bi Lina pun berniat untuk pergi meninggalkan putri dari majikannya itu.
Namun saat bi Lina hendak membuka pintu kamar, ia mendengar suara cekikikan dari arah belakang sontak bi Lina langsung menoleh ke belakang.
Benar saja ia melihat tubuh Jiso bergetar seolah ia tengah tertawa, “nona baik-baik saja?” tanya bi Lina khawatir sembari perlahan mendekati putri majikannya.
“aahh tidak hehehe.. aku hanya merasa apa aku ini benar-benar putri ayahku.” Ujar Jiso lalu bangun dari tidurnya seraya merapihkan rambut panjangnya yang tampak kacau.
“tentu, nona putri Tuan Andra, kenapa nona bisa berfikir seperti itu.” Ujarnya lembut lengkap dengan pandangan hangat layaknya seorang ibu yang tengah menghibur putrinya.
“ayah bisa bicara langsung denganku, kenapa harus selalu melalui bibi? Apa bibi itu semacam kotak surat?” kata Jiso seraya tersenyum menyeringai, membuat bi Lina kembali gugup.
“bu.. bukan begitu nona..” ucapnya terbata-bata, sebab kedua sorot mata Jiso mulai berubah menakutkan.
“oke aku mengerti, bibi boleh keluar.” Ujarnya masih berusaha mengendalikan dirinya, seraya hendak kembali melanjutkan tidurnya.
“setidaknya nona tidak kekurangan apapun dibandingkan dengan anak lainnya diluar sana bukan.” mendengar perkataan bi Lina yang lancang, membuat emosinya memuncak, sontak Jiso langsung mendekati pinggiran ranjang seolah ia akan melakukan sesuatu yang tak terduga.
“KELUAR !!” teriak Jiso seraya mendorong baki yang berisikan makanan dan minuman yang dibawa bi Lina barusan, dengan tatapan penuh amarah Jiso terduduk dipinggiran ranjang mengepalkan kedua tangannya.
Sedangkan bi Lina terkejut sampai membuat kedua kakinya jatuh lemas mendapati sosok Jiso yang mengerikan yang baru ia ketahui.
Tak dapat berkata-kata lagi, bi Lina berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan pergi meninggalkan Jiso yang masih terduduk sembari memandangi pecahan mangkuk dan gelas di lantai.
***
Tampak Jaehyun dan Andheera sudah memulai latihannya, dengan Jaehyun yang memainkan Instrumen piano sedangkan Andheera fokus bernyanyi di samping Jaehyun.
Song-The truth untold BTS
“oeroumi gadeukhi, pieoissneun I garden, gasituseongi hmm.. I moraeseonge nan nal maeeosseo.” Andheera mengisi di bait lagu pertama kemudian dilanjutkan oleh Jaehyun, sembari memainkan piano Jaehyun begitu menghayati isi lagunya seolah ia mengerti makna dari lagu tersebut.
“neoi ireumeun mwonji, gal gosi issgin hanji, oh could you tell me hmm.. I jeongwone sumeodeun neol bwasseo.” Jaehyun mengisi part lagu yang dinyanyikan oleh Jungkook BTS, karena suaranya yang soft ia memilih bagian jungkook dan jimin sedangkan part jin dan V akan di nyanyikan oleh Andheera.
Meski mereka berdua tidak terlalu akur, sebelumnya juga mereka sering melontarkan kata-kata kasar seperti Tom and Jerry, namun saat ini mereka berdua sama-sama saling melengkapi dan juga menghayati.
Seakan lupa dengan situasi yang terjadi sebelumnya, baik Andheera maupun Jeahyun kini terlihat seperti sudah masuk ke dalam sebuah lagu, dan benar-benar mengalami hal yang ada di dalam lagu tersebut.
Sementara itu dilantai atas, Lyra lebih ingin mendengar Andheera dan Jaehyun bernyanyi daripada harus beristirahat di kamar yang biasa dipakai oleh Vivian.
Lyra duduk di anak tangga yang paling atas agar tidak ketahuan oleh Andheera sembari menikmati perpaduan suara Andheera dan Jaehyun.
Ia memejamkan kedua mata dan bersandar di dinding, tampaknya ia benar-benar terhanyut dengan suara merdu yang berasal dari lantai bawah.
Andheera dan Jaehyun mencoba terus mengulang agar benar-benar terlihat sempurna hingga beberapa kali, dengan sesekali di bumbui keisengan Jaehyun lalu kembali di geplak oleh Andheera, akhirnya mereka saling melempar tawa karena menikmati situasi yang ada.
“hey bukankah kau masih berhutang maaf padaku.” ujar Jaehyun seraya menghentikan kegiatan jemarinya yang menekan tuts piano, lalu memandang ke arah Andheera yang tengah berdiri disamping piano sembari membaca kertas yang berisikan lirik lagu dan juga pembagian part.
“maaf untuk?” tanya Andheera santai seraya menyingkirkan kertas yang menghalangi pandangannya untuk melihat wajah Jaehyun yang lebih rendah darinya.
“ciihh (Jaehyun berdecak kesal seraya melipat kedua tangan di atas dadanya)
kau menendangku sampai aku tersungkur!” Jaehyun mencoba mengingatkan Andheera kejadian yang membuatnya malu setengah mati.
Iya dia langsung tersungkur setelah mendapat tendangan maut dihadapan semua teman sekelasnya.
“aahh itu, harusnya kau yang berterimakasih padaku.” Jawabnya dengan raut wajah yang sama sekali tak merasa bersalah.
“apa?!” Jaehyun tak mengerti dengan maksud dari perkataan Andheera.
“jika bukan aku, Yerim yang akan melakukannya.” Tambah Andheera melihat Jaehyun yang masih kebingungan karena pengakuannya barusan.
“Yerim? Hey aku lebih baik ditendang oleh nya daripada kau.” katanya dengan penuh percaya diri membuat Andheera yang melihatnya tak dapat menahan tawa.
“hahahaha!!.. jangan tertipu oleh tubuh mungilnya, kau fikir dia akan menendang lebih lembut dariku? Tentu tidak, setidaknya beberapa tulang rusukmu patah dan kalau beruntung tulang ekormu baik-baik saja.” Papar Andheera.
“kau bercanda? Yerim bisa melakukan itu?” Jaehyun benar-benar terkejut dengan hal yang baru saja ia dengar.
“kau ingin mencobanya?" tanya Andheera lalu memutar kedua bola matanya sebelum melanjutkan kalimatnya, seraya melipat kedua tangan di atas dadanya.
"Aahh kalau begini seharusnya ku biarkan saja dia yang menendangmu.” Lanjut Andheera lalu menaruh kertas lirik di atas piano, kemudian pergi untuk mengambil beberapa botol minuman didapur, sebab berdebat dengan Jaehyun membuat tenggorokannya menjadi kering.
“kau masih tak percaya? Apa kau tak tahu dia berpartisipasi dalam lomba apa.” sambung Andheera yang kembali dari dapur dengan membawa 2 botol minuman untuk diberikan pada Jaehyun, serta kembali ke posisinya yang berdiri di samping piano.
“apa?” respon Jaehyun seraya menerima botol minuman yang diberikan oleh Andheera.
“tolak peluru.” kata Andheera lagi seraya membuka botol minum dan meneguknya beberapa kali.
“apa.” Saut Jaehyun tanpa ekspresi, Seperti orang bodoh Jaehyun masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.
“kau tuli? Perlu memakai bahasa isyarat atau kau tak paham bahasaku?” Andheera mulai kesal dengan Jaehyun, hingga ingin sekali menyemburkan minuman yang belum ia telan.
Namun ia mengurungkan niat jahatnya karena wajah polos Jaehyun yang tampak kebingungan membuat Andheera gemas.
“oke oke biarkan aku mencerna semua ini untuk beberapa saat.” Katanya kemudian meneguk berulang kali minuman yang diberikan Andheera seolah ingin menyadarkan dirinya dengan 1 botol minuman penuh.
“huhh, memangnya jika perempuan memiliki tenaga cukup besar dari lelaki itu aneh ya?” ucap Andheera lalu pergi menuju sofa di depan TV.
“bukan begitu hanya itu tidak sesuai dengan tubuh dan wajahnya.” Protes Jaehyun seraya mengubah posisi duduknya ke arah Andheera yang tengah duduk santai di sofa seraya memainkan ponselnya.
“lalu bagaimana denganku?” tiba-tiba saja andheera mengajukan pertanyaan yang random sembari memutar tubuhnya untuk bisa melihat Jaehyun dan mengabaikan ponsel yang dipegangnya.
“kau sangat cantik, setiap kali aku bertanya pada teman-temanku juga type ideal mereka adalah kau.” Dan Jaehyun menjawabnya sesuai fakta yang ada.
“oohh.” Respon Andheera santai kemudian kembali memutar tubuhnya serta melanjutkan kegiatan semula.
“hanya oh?" Jaehyun tak percaya dengan respon Andheera seolah itu adalah hal yang biasa saja.
"aammm waktu dimobil tadi kenapa aku bukan typemu? Apa aku jelek.” Percakapan mereka berdua pun terus berkembang.
“tidak, kau tampan.” Saut Andheera masih menatap layar ponselnya, sementara itu Jaehyun yang berada tak jauh dibelakangnya tampak senyum-senyum sendiri mendengar pengakuan Andheera jika ia tampan.
“lalu?” tak sampai disitu Jaehyun masih ingin mengetahui alasan dirinya bukan type Andheera.
“hanya saja kau pendek.” Jawab Andheera polos tak perduli dengan ekspresi Jaehyun saat ini Andheera hanya asik memainkan ponselnya.
“sial!!” umpat Jaehyun.
“kalau tinggi ku 180 cm saja pendek bagimu, terus harus setinggi apa lagi.” Jaehyun bergumam pelan agar tak terdengar oleh Andheera, sembari ingin melemparkan kertas lirik yang sudah ia remas-remas membentuk sebuah bola, dengan kedua mata yang menyalak seolah sudah siap menerkam hidup-hidup mangsa yang ada dihadapannya.
Namun nyatanya ia tak melakukannya, melihat senyum manis Andheera yang memainkan ponsel, entah kenapa hatinya mulai berdebar tak karuan, alhasil ia mengurungkan niat jahatnya untuk melempari Andheera dengan bola terbuat dari kertas itu.
***