
Kediaman Hyunjie (Yogyakarta).
Karena beberapa alasan Hyunjie cuti kerja lalu pulang ke rumahnya di Yogya, tanpa memeberitahu dulu putranya akan kepulangannya yang tiba-tiba.
Berniat memberikan kejutan untuk Keenan, Hyunjie mencoba memasak makan siang selagi Keenan masih berada disekolah untuk kegiatan tambahannya.
Namun hasil akhir pasti selalu sama, wanita berkepala empat itu memang tidak memiliki bakat untuk memasak sejak dahulu.
Sebarapa kali pun ia terus mencoba, makanan nya tak pernah layak untuk dimakan manusia, bahkan untuk memasak hal sederhana pun seperti ceplok telor malah seperti memasak minyak dicampur telor.
Kali ini pun sup ayam yang ia masak ke asinan, gorengan cumi kegosongan dan terakhir tumis kangkung kebanyakan air, hingga ia tak menemukan rasa kangkung dalam tumisnya.
Merasa frustasi ia pun menyerah setelah beberapa jam bergulat dengan berbagai macam bahan makanan.
Saat ia terduduk di kursi untuk menghela nafasnya ia terkejut melihat keadaan dapurnya yang kacau balau, bau gosong begitu lekat, bekas cipratan minyak dan air sayur di dinding, juga piring kotor dan sampah yang berserakan dimana-mana.
Membuat Hyunjie semakin sakit kepala, “ohh astaga, bagaimana jika Keenan melihat ini.” Gumamnya seraya meratapi nasib dapurnya yang menyedihkan.
“maa.. (tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya dari belakang)
mama ingin membakar rumahmu sendiri?” tambah Keenan yang shock melihat keadaan dapurnya hingga menjatuhkan bola basket yang tengah dipeluknya.
“mama hanya ingin belajar memasak untuk mu hehe.” Responnya seraya mengukir senyum tipis dibibirnya.
“mama yakin ingin memasak bukan ingin berperang?” ujar Keenan sembari berjalan mendekat ke arah ibunya.
“maaf Keenan mama sudah berlatih berkali-kali tapi tidak semudah mama lulus fakultas kedokteran.” Celotehnya.
Mendengar hal itu hati Keenan merasa tersentuh, setelah mendekati ibunya yang masih terduduk dikursi, ia pun melangkah lebih lanjut ke area dapur untuk melihat-lihat kalau saja ada salah satu masakan yang setidaknya layak untuk dimakan.
“biar mama yang bereskan Keenan, kau pasti lelah mama akan memesan makanan saja.” Ujar Hyunjie saat putranya hanya berdiri meratapi kondisi dapurnya yang sudah tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
Namun Keenan tak mendengarkan ia malah hendak mencoba sup ayam buatan ibunya yang masih berada didalam panci, meski sedikit asin setidaknya sup ayam layak untuk dimakan ‘fikirnya.
Lengan panjangnya kemudian meraih mangkuk yang diletakan di lemari kecil tepat diatas kepalanya lalu menuangkannya.
“kau ingin memakannya?” Hyunjie terlihat kebingungan.
“aku sudah sangat lapar, tak bisa menunggu lagi.” Sahut Keenan setelah meletakan sup ayam di atas meja makan, ia beralih untuk mengambil nasi yang sudah ia masak sebelum berangkat ke sekolah.
Melihat putranya yang sibuk sendiri, Hyunjie berinisiatif untuk mengambil piring serta alat makan seperti sendok dan garpu.
“kau yakin akan memakannya itu benar-benar asin, jangan terlalu memaksakan dirimu Keenan.” Ujar Hyunjie yang masih tak yakin jika masakannya itu benar-benar layak untuk dimakan.
“tak perlu memakai kuahnya, dan asin ayamnya juga berkurang jika dimakan dengan nasi.” Sahut Keenan santai seraya mulai menyantap makan siangnya.
“mama kira kau tak akan pernah mau menerima mama sebagai ibumu.” Lirih Hyunjie sembari memandangi putranya penuh haru.
“jika mama menyesal atas perbuatan mama yang tidak bertanggung jawab dulu, masih belum terlambat, mama bisa menebusnya sekarang.” Gumam Keenan selagi mengunyah makanannya.
“terima kasih Keenan, terima kasih.” Seru Hyunjie yang kemudian memeluk putranya secara tiba-tiba, membuat Keenan sedikit terkejut dengan aksi ibunya yang tak terduga.
“uhuukk.. uhuukk aah lepaskan.” Keluh Keenan seraya mencoba berontak dari pelukan erat ibunya.
“hehe maaf mama hanya terlalu bahagia.” Kata Hyunjie masih dengan ekspresi bahagia yang tampak jelas diwajahnya.
***
Kamar Andromeda.
Baik Oliver maupun Andheera, masih menunggu di kamar Andromeda sembari melakukan percakapan sederhana mereka saling bergantian mengawasi Andromeda yang masih belum sadarkan diri.
“apa kau masih tak mau percaya pada kakak mu.” Ucap Oliver dengan tatapan yang mengarah pada lelaki yang tengah tertidur pulas diranjangnya.
“aku hanya.. tak ingin mengambil resiko terburuknya.” Sahutnya kemudian menaikan kedua kakinya ke atas sofa agar bisa memeluknya serta meletakan dagunya diantara kedua lututnya.
“bagaimana denganmu?”
“aku baik-baik saja.” Jawabnya yang ikut mengarahkan pandangannya pada Andromeda.
“kalau kau sudah kelelahan, lebih baik membaginya Andheera, jangan terus menyimpannya sendirian.” Tambah Oliver.
“aku sudah membaginya dengan ayah.” Katanya dengan nada datar.
“benarkah lalu bagaimana responnya?” respon Oliver tampak bahagia akhirnya keponakannya itu mau terbuka pada orang lain selain dirinya.
“hanya diam, seperti tidak ingin percaya hahaha.” Sahutnya diiringi dengan tawa menyedihkan diakhir kalimatnya.
“kau masih bisa tertawa?” ujar Oliver yang tak mengerti dengan jalan fikiran keponakannya.
“lalu?! paman ingin aku menangis di pojokan.. ciiih..?” seru Andheera seraya memutar kedua bola matanya untuk menanggapi perkataan pamannya.
Dreed.. dreedd..
Ponsel Andheera bergetar dalam saku celana jinsnya, membuat percakapan diantara mereka terpotong sebab Andheera harus mengangkat telfon saat itu juga.
Ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya yang tak lain adalah teman baiknya Vivian.
#apa?# tak ingin berbasa-basi, gadis kasar itu langsung menanyakan tujuan temannya menelfon dirinya.
#temani aku membeli komik.#
#bukannya kau sedang bersama kak Brian?# tanya Andheera yang kemudian menurunkan kedua kakinya serta mencoba duduk dengan benar.
#aku sudah berpisah dengannya dari beberapa jam yang lalu, karena aku harus menghadiri rapat osis.# katanya lagi
#dengan temanmu yang lain saja, aku sibuk.# sahut Andheera yang hendak mematikan telfonnya seperti yang ia lakukan di pagi hari.
Namun…
#oke ku tunggu kau di depan sekolah 30 menit lagi bye.# beep telfon ditutup begitu saja.
“sial, dia membalasku!!” umpatnya seraya memandangi tajam layar ponselnya.
“ada apa?” tanya Oliver yang kembali mengajak ngobrol Andheera.
“tidak, aku akan pergi sebentar, sebaiknya paman juga pulang sebelum ayahku pulang, bi Dharma yang akan menjaga Andromeda nanti.” Ujarnya kemudian pergi.
“hmm, aku akan pulang sebentar lagi.” Sahut Oliver.
“oke aku pergi.” Pamit Andheera seraya menutup pintu kamar.
“iya hati-hati Andheera.” sahut Oliver lagi meski Andheera sudah keburu menghilang dari pandangannya.
***
“Vivian..” gumam Andheera saat ia menyadari ternyata seseorang yang tengah berlari ke arahnya adalah karibnya yang akan ditemuinya.
“putar balik putar balik!!” seru Vivian dari kejauhan masih berusaha berlari secepat yang ia bisa.
“ayo putar balik Andheera!!” geram Vivian yang hampir sampai padanya.
Meski masih merasa kebingungan namun Andheera menuruti keinginan temannya itu untuk memutar balik arah sepedanya secepat kilat, namun pandangannya masih tertuju kebelakang.
Saat Vivian duduk dikursi belakang sekilas ia melihat seseorang dibelakang yang berlumuran cairan got, mencoba berjalan cepat seraya mengucek-ucek kedua matanya yang belum bisa terbuka sepenuhnya.
“apaan tuh.” Tanya Andheera polos seraya mengernyitkan dahinya.
“HEEYYY!!! JANGAN LARI AKAN KU ADUKAN KAU PADA KEPALA SEKOLAH!!” teriak orang yang berlumuran cairan got itu.
“tanganmu kenapa? Aah tidak bisa, awas biar aku yang memboncengmu!!” seru Vivian seraya mendorong paksa tubuh Andheera agar turun dari kursinya, kemudian mengambil alih posisi Andheera sebelumnya.
“ayo cepat naik.” kata Vivian lagi seraya menarik tangan Andheera untuk duduk dibangku belakang.
Namun na'asnya karena situasi yang membuatnya tak bisa berfikir jernih, Andheera malah duduk dengan posisi membelakangi Vivian.
Tanpa berlama-lama lagi Vivian langsung mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh seolah ia tengah berada di sirkuit balapan.
“apa yang kau lakukan padanya?” tanya Andheera masih dengan wajah yang sangat kebingungan, seraya memandangi seseorang yang berusaha mengejarnya dengan sedikit tertatih.
“hey, kenapa kau duduk membelakangiku?!.” Seru Vivian saat ia menyadari punggungnya beberapa kali bertabrakan dengan punggung Andheera.
"kau yang menyuruhku cepat duduk!" balas Andheera tak kalah ngegas.
***
Sesampainya di toko komik, mereka berdua kompak mengernyitkan dahi begitu memasuki toko komik, sebab mereka melihat seseorang yang tidak asing tengah berdiri di belakang meja kasir, seraya menyunggingkan senyum cerahnya kala mereka bertiga saling bertatapan.
“kak Brian? ku kira kakak latihan.” Ujar Vivian.
“jadwal latihan ku saat malam.” Paparnya masih dengan senyum kotaknya yang menambah ketampanan seorang Kimbrian.
“kak Brian bekerja paruh waktu? Sejak kapan.” timbrung Andheera.
“iya, emm mungkin sudah mau 2 minggu, kau mau beli komik Andheera?” adanya Andheera di antara Brian dan Vivian, membuat Vivian terabaikan.
“tidak, aku hanya menemani Vivian dia yang akan beli.” Katanya seraya melirik ke arah Vivian yang berada di sampingnya.
“begitu, tanganmu kenapa?” tanya Brian khawatir.
“aku terjatuh dari sepeda.” dustanya.
“kenapa gak lebih hati-hati sih coba aku lihat.” Katanya lagi sembari mengulurkan tangannya untuk meminta lengan gadis tersebut diletakan diatas telapak tangannya.
“aku akan mulai mencari komik dulu, kau tunggu disini saja aku tak akan lama, oiya komik genre roman masih di tempat yang sama kan?” timbrung Vivian yang tampak diacuhkan oleh kedua temannya itu.
“hmm baiklah, (respon Andheera)
seleranya mirip Keenan dulu.” Gumamnya pelan saat Vivian sudah pergi.
“iya tentu di sudut sana,” respon Brian menanggapi pertanyaan Vivian.
“hah.. siapa katamu?” tanya Brian yang tidak terlalu jelas mendengar nama yang Andheera sebutkan.
“aah tidak, oiia apa semuanya lancar?” tanya Andheera yang mengawali percakapan ringan dengan mantan kekasihnya.
“entahlah aku merasa ini benar-benar sulit, memutuskan untuk hidup mandiri tanpa dukungan orang tua, juga harus mengumpulkan uang untuk debut nanti, karena agensiku agensi kecil jadi banyak biaya yang harus ku tanggung sendiri.” Lirihnya seraya menundukan kepala dan menarik nafas panjang.
“aku memang tak tahu sesulit apa yang kak Brian alami saat ini tapi.. bertahanlah. Jika kau belum merasa bahagia itu artinya kau belum sampai ke akhir.” Andheera tersenyum lebar seraya menatap wajah Brian lekat.
“terimakasih Andheera.” kata Brian lengkap dengan ukiran box smile yang menghiasi wajah tampannya.
“hmm..” respon Andheera seraya menunjukan senyum tipisnya.
“hey apa yang kalian bicarakan?” timbrung Vivian membuyarkan suasana penuh romance antara Andheera dan Brian.
“tidak ada, kau sudah selesai?” jawab Andheera.
“iya hanya beberapa komik, gak lama kan?” Vivian memastikan jika kepergiannya tadi tidak membuat Andheera lama menunggu, seraya menaruh semua buku yang ia peluk ke atas meja kasir.
“engga, aku tunggu diluar.” Kata Andheera kemudian pergi.
“oke, berapa kak?” Vivian kembali mengalihkan fokusnya pada Brian yang tengah menghitung buku komik yang akan ia beli.
“semuanya 125.000 ribu.” Jawab Brian seraya melempar senyum ramah pada pelanggannya.
“amm.. kak Brian masih menyukai Andheera, itukah alasan kakak tak bisa menyukaiku.” Gumam Vivian sembari mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
“iya.” Jawabnya singkat lalu memberikan uang kembalian dari pembelian komik Vivian.
“baiklah aku mengerti, terimakasih.” Pungkas Vivian mengakhiri percakapan singkatnya kemudian pergi menyusul Andheera yang sudah berada diluar.
“sudah selesaikan, mau ku antar sampai rumah juga?” tanya Andheera begitu melihat Vivian keluar dari toko ia masih berdiri disamping sepedanya.
“kau takan bisa memboncengku dengan tanganmu yang terluka.” Sahut Vivian seraya menatap lirih ke arah lengan Andheera yang terbalut kain kassa.
“kalau begitu aku antarkan kau sampai halte.” Ucapnya lagi sembari menaiki sepedanya.
“tumben kau ingin cepat-cepat pulang, biasanya di akhir pekan kau selalu tinggal di Apartementmu.”
“kakak ku sakit.” ujarnya membuat Vivian terkejut hingga membulatkan kedua matanya.
“benarkah? kalau begitu aku yang akan mengantarkanmu pulang, minggir kau duduk dibelakang!!” seru Vivian sedikit mendorong tubuh Andheera agar ia pindah ke tempat duduk belakang, hingga dirinya bisa mengambil alih kemudi sepeda, lalu mulai mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh seperti sebelumnya yang ia lakukan.
“YAAAA!! tak perlu seperti ini juga Vivian!! JIKA INGIN KE ALAM BAKA SENDIRIAN SAJA KAGAK PERLU AJAK-AJAK!!!” teriak Andheera seraya mengeratkan pelukannya sebab Vivian sudah diluar kendali sekarang ini.
Setelah para gadis itu pergi, seorang gadis lain yang tampak lebih muda mendekati meja kasir Brian dengan raut wajah nya yang cerah.
“hey.. (sapa gadis yang masih mengenakan seragam sekolahnya seraya tersenyum lebar menunjukan deretan giginya yang putih juga rapih) kudengar kakak seorang trainee?”
“ammm.. hehe.” Brian malah nyengir merespon pertanyaan gadis manis itu.
“waahhhh kalau begitu ijinkan aku menjadi penggemar pertama kakak, aku akan menunggu kakak debut dan menjadi fans setia kakak.” Katanya dengan penuh antusias dan tak hentinya menebar senyum manis untuk Brian membuatnya tersipu malu.
“eeyyyy itu masih sangat jauh karena aku baru saja memulainya.” Ujar Brian dengan kedua pipinya yang mulai memerah.
“jangan khawatir berapa lamapun itu aku akan tetap menunggu, jadi berjuanglah okeey.” Tambahnya seraya mengangkat satu tangannya mengajak Brian untuk high five, tak menunggu lama Brian langsung merespon high fivenya lengkap dengan tawa bahagia berkat penggemar pertamanya yang tak terduga.
***