
Sementara itu di kamar Keenan.
Setelah selesai makan dan mandi, ia langsung tertidur lelap karena saking kelelahan sudah berlatih basket setengah hari tadi bersama dengan teman-teman club basketnya.
-Dalam mimpi Keenan.
Saat itu tengah musim hujan, dan gadis remaja cantik terlihat mengenakan jaket parka tebal tengah berlari menghampiri Keenan yang terbaring di lapang olahraga sembari memegangi payung merah di tangannya.
“apa yang terjadi?” tanya Andheera khawatir seraya mengatur pernafasannya akibat terlalu banyak berlari.
“aku membuat tim ku kalah lagi.” Sahutnya seraya memandangi langit sore yang mulai terlihat kelam.
“sudah ku bilang untuk keluar dari klub basket, kenapa masih saja memaksakan diri.” Ujarnya lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Keenan bangun.
“karena kau menyukainya (jawab Keenan yang masih ingin duduk sebentar untuk mengumpulkan kekuatannya agar bisa berdiri)
kau selalu menyukai lelaki yang berkeringat saat olahraga, kau bilang itu seksi.” Sambungnya lagi.
“tapi tak ada bakat basket dalam dirimu.” Balas Andheera sembari melepas jaket parka tebalnya untuk dipakaikan pada teman laki-lakinya yang masih terduduk dilapang basket.
“gak usah nanti kau kedinginan.” Kata Keenan saat gadis yang berdiri disampingnya mencoba memakaikan jaket padanya.
“aku masih memakai sweter, ayo cepat nanti keburu hujan cuaca sudah mendung.” Seru Andheera seraya memakaikan paksa jaket miliknya kemudian menarik lengan Keenan agar ia berhenti merenungi apa yang sudah terjadi hari ini.
Benar saja saat Keenan bangun tiba-tiba hujan turun, refleks Andheera langsung membuka payung merahnya kemudian memayungi dirinya dan Keenan yang sudah berdiri disampingnya.
“huhh untung aja aku sudah membawa payung.” Gumamnya kemudian mulai melangkah bersama Keenan untuk pergi dari sekolah.
“bukannya payung ini yang aku belikan waktu di pasar malem itu ya, untuk kado ulang tahunmu hehehe masih kau pakai.” Ujar Keenan dalam perjalanan pulang.
“kan belum rusak jadi ya masih ku pakai, ngomong-ngomong kapan kau akan mulai belajar sepeda lagi?” tanya Andheera seraya menyipitkan kedua matanya ke arah Keenan.
“kapan-kapan hahaha.” Dan bocah lelaki itu hanya menanggapinya dengan cengengesan.
“bilang aja kalau kau emang gak berniat untuk belajar huuuh.” Seru Andheera seraya mendorong pelan tubuh Keenan hingga bahunya basah karena rintikan air hujan.
“hehehe kan ada kau yang akan memboncengku tak perlu susah-susah belajar.” Sahutnya sembari mendekat kembali.
“kalau aku tiba-tiba pergi bagaimana?”
“aku akan mengejarmu.”
“pakai apa?”
“larilah hahahaha!!”
Begitulah cuplikan mimpi Keenan hingga ia pun akhirnya terbangun dari tidur singkatnya. Keenan masih mencoba mengumpulkan nyawanya sebelum bangkit meraih ponsel yang berada di balik bed covernya.
“kenapa masih juga belum ada kabar dari bibi, apa Andheera tak pernah kembali, hufftt.” Keenan menghela nafas panjang seraya meregangkan otot-ototnya.
***
Toserba kompleks rumah Andheera.
“kau mau beli apa? Katanya harus cepat-cepat pulang.” Ujar Vivian saat Andheera memintanya untuk berhenti sejenak di toserba dekat kompleks rumahnya.
“cemilanku habis, cemilan juga penting.” Sahutnya seraya melangkah masuk ke dalam toserba, sementara Vivian masih mencoba memarkirkan sepedanya di depan toserba.
“kalau begitu belikan aku juga.” Seru Vivian yang kemudian berjalan menyusul temannya yang sudah lebih dulu masuk.
“Hey Anha.” Sapa Vivian lengkap dengan senyum cerahnya.
“ooh hey Vivian, habis darimana?” tanya Anha yang tengah menghitung stock rokok di etalase.
“toko komik, kau sudah makan?” ujar Vivian yang masih ingin melakukan percakapan sederhana dengan Anha.
“belum..” jawab Anha yang menghentikan aktifitas menghitungnya sejenak, agar bisa mengobrol dengan santai.
“kalau begitu ambilah beberapa cemilan, aku yang akan bayar.” kata Vivian sembari melirik ke arah rak cemilan.
“benarkah?” respon Anha lengkap dengan raut wajah yang sangat antusias.
“iya, ayo cepat ambil.” Ujar Vivian sembari melangkah masuk ke dalam untuk mencari cemilan yang ia inginkan.
“okaayy.” Seru Anha, ia meletakan buku stock rokoknya di meja kasir, kemudian berlari kecil keluar dari area kasir untuk mengambil beberapa cemilan.
Ditempat lain, “kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak ya.” Gumam Andheera yang tengah memilih-milih cemilan yang akan ia beli.
Beberapa menit kemudian setelah mereka bertiga selesai memilih makanan yang diinginkan, mereka pun berkumpul di meja kasir dan menaruh semua cemilannya di meja.
“kau ingin aku yang membayar semua ini?” ujar Andheera yang sedikit shock dengan situasi yang terjadi saat ini.
“tentu, kau bilang akan menjajani ku cemilan.” Sahut Vivian bersamaan dengan senyum penuh artinya.
“gak sekalian 1 toserba aja kau borong Vivian!” seru Andheera sedikit kesal dengan kelakuan karibnya itu.
“kantong kreseknya gak akan muat.” sahut Anha yang menanggapi perkataan Andheera seraya men scan cemian-cemilannya dengan penuh kehati-hatian.
“Aughh shit!” umpatnya.
“semuanya 225.000 ribu ada potongan diskon 10.000, jadi totalnya 215.000 ribu aja.” Ujar Anha seraya menyunggingkan senyum ramahnya menunggu Andheera mengeluarkan uangnya dari saku celananya.
“gak usah senyum seperti itu, kau menakutkan.” Ketus Andheera sedikit kesal karena merasa di jambret oleh kedua teman sekolahnya itu, ia pun mengeluarkan beberapa lembar kertas 100.000 ribuan lalu diberikan pada Anha.
“oke terimakasih yaa Andheera aku tak menyangka kau sangat baik hati.” Ucap Anha seraya memberikan kembalian nya pada Andheera.
“heemm.” Respon Andheera.
“pokoknya terimakasih Andheera aku akan mengunggahnya di IG kalau kau banyak membelikanku cemilan, apa nama IG mu nanti aku tag.” Kata Anha sembari mengeluarkan ponsel dari saku jinsnya.
“aku tak punya sosial media.” Jawabnya kemudian pergi sembari membawa jinjingan cemilan miliknya dan Vivian.
“tag aku saja oke, bye Anha.” pamit Vivian ia pergi sembari melambaikan tangannya lengkap dengan senyum cerahnya.
“okeee hati-hati kawan!!” Anha pun meresponnya dengan tawa lebar seraya melambaikan tangannya pada Vivian dari dalam.
***
Andheera menggantung belanjaannya di sepeda lalu pergi berjalan meninggalkan sepedanya untuk dibawa oleh Vivian.
“hey tunggu Andheera kau takan naik sepeda?” seru Vivian dari belakang seraya menuntun sepedanya menyusul Andheera.
“tidak, aku ingin berjalan bersamamu, aahhhh suasananya sangat mendukung sekali aku jadi ingin nyanyi.” Celotehnya seraya memandangi langit malam yang begitu indah.
“kau tahu, sebenarnya suara jangkrik lebih merdu daripada suaramu.” Goda Andheera.
“hufftt.. Andheera.”
“apa lagi?” sahut Andheera dengan menaikan nada suaranya.
“apa kau bisa hidup tanpaku?” pertanyaan random yang Vivian ajukan membuat Andheera mengernyitkan keningnya.
“tentu, aku hanya perlu bernafas untuk hidup kan.” Ke swag an Andheera tak pernah ada akhirnya, hingga membuat Vivian geram kemudian menggeplak bagian belakang kepala Andheera.
Andheera hanya memandang Vivian dengan sinis selama beberapa saat seraya mengusap kepalanya yang tampak kesakitan.
“Apa!! Apa!! HAH?! kau ingin memukul ku juga.” Seru Vivian seraya membesar-besarkan kedua bola matanya.
Tak tahan melihat ekspresi Vivian yang sok-sok an berani menantang Andheera dengan tatapannya, alih-alih merasa takut Andheera malah tertawa mengejek, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti sejenak akibat pertanyaan konyol Vivian yang tak terduga.
***
Sementara itu di tempat lain (RS. Haneul Jakarta).
Karena kesalahan sang sekretaris Reza yang sempat membuat dirinya panik, sampai ia harus mengebut dijalanan serta berlarian di RS Haneul hingga menimbulkan keributan sesaat.
Sebab banyak orang tertubruk bahkan terjatuh, dan yang lebih parahnya lagi lelaki yang berumur 40an itu menyenggol seorang staff yang bertugas membagikan makanan untuk pasien, membuat lorong Rumah sakit itu menjadi kotor seketika akibat banyak nya makanan yang berceceran dilantai.
Namun sialnya ketika ia sampai diruangan yang disebutkan oleh sekretarisnya, ia malah mendapati seseorang yang asing tengah berbaring di ranjang Rumah sakit.
Untuk beberapa saat ia terdiam agar bisa memahami situasi yang terjadi saat ini, sampai ada beberapa petugas keamanan yang membawanya pergi.
Karena sikap sembrononya itu Reza dibawa ke pos Keamanan untuk mempertanggung jawabkan kekacauan yang telah ia buat di Rs selama berjam-jam, untunglah akhirnya ia pun dilepaskan berkat bantuan teman baiknya, jadi kasusnya tidak diperkarakan lebih lanjut oleh pihak Rs. Haneul Jakarta.
Ruangan dr. Shana teman baik Reza dan dr. Hyunjie, setelah berjam-jam Reza diintrogasi oleh pihak keamanan, kini giliran temannya yang meminta dirinya untuk datang ke ruangannya.
“kau sehatkan?” celetuk Shana yang setengah bersandar dimeja kerjanya, sedangkan Reza duduk di sofa.
“maaf aku tak bermaksud mengacaukan Rumah sakitmu.” Sahut Reza yang masih terdiam merenungi perbuatannya.
“bukankah seharusnya kau pastikan dulu, tidak.. maksudku haruskah kau berlebihan seperti itu Reza?! Bagaimana jika kau menabrak seorang pasien?” seru Shana yang masih tak percaya dengan tindakan kekanak-kanakan teman lelakinya itu.
“iya aku kan sudah minta maaf sudahlah, aku lelah seharian ini di tahan di pos keamanan kau ingin menambahnya lagi.” Keluh Reza.
“YAAA!!” bentak Shana membuat Reza sangat terkejut.
“astaga, jangan ngagetin gitu dong gimana kalau jantungku berpindah tempat.”
“kau tak menyesal sama sekali dengan perbuatan bodohmu ini?!” geram Shana.
“aku sudah meminta maaf bukan, lalu kau ingin aku bagaimana lagi.” Balas Reza yang tak kalah ngegas dari Shana.
“jika kau begitu mencintainya kenapa kau memutuskan Hyunjie, kau fikir kau berada dalam usia yang masih bisa bermain tarik ulur!!” Seru Shana yang mulai tak bisa mengendalikan dirinya.
“dia yang memilih untuk itu.” Gumam Reza.
“itu karena kau yang memaksanya untuk berhenti menjadi dokter, apa kau berusaha menempatkannya dalam peran antagonis agar kau terlihat lebih baik, Reza?”
“hidupku tak akan lama lagi Shana, impianku sejak dulu adalah tinggal di sebuah perkampungan yang dikelilingi tanaman, dan juga pepohonan yang ku tanami sendiri, menghabiskan sisa umurku bersama orang yang kucintai di tempat yang damai jauh dari pekerjaan yang melelahkan dan membosankan seperti ini."
"Aku sudah terlalu lama hidup mengikuti kemauan orang lain dan sekarang aku hanya ingin hidup untuk diriku sendiri, melakukan semua hal yang aku inginkan.” Paparnya seraya menunjukan raut wajah yang begitu memilukan.
“apa maksudmu?” respon Shana yang kebingungan dengan perkataan panjang teman lelakinya.
“aku mengidap kanker otak stadium akhir.” Ujarnya lagi.
“benarkah?” sahut Shana seraya berjalan mendekati Reza.
“Tapi bohong!! AHAHAHAHAHA!!” seru Reza, kemudian pergi secepat kilat dari ruangan Shana.
“SIAL BR**#JHF**@@JG@**!! HEY !! APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP!!” teriak Shana yang sudah mencapai puncak emosinya, berkat tingkah laku Reza yang diluar nalar.
***
Di depan kamar Andromeda.
Saat tangan Vivian hendak membuka pintu kamar, Andheera lebih dulu menghentikan Vivian dengan memegang bahu temannya itu.
“jangan sampai tertidur di samping oppa.” Andheera mengingatkan Vivian sebelum ia masuk ke kamar Andromeda.
“iya iya aku mengerti, aku hanya ingin melihatnya sebentar.” Sahut gadis manis itu lalu masuk ke dalam kamar Andromeda, sedangkan Andheera memutar balik langkahnya untuk menaiki tangga menuju kamarnya.
Ia berniat untuk membersihkan tubuhnya dahulu sembari membawa jinjingan kresek cemilan miliknya dan Vivian dengan 1 tangannya.
***
Kamar Andheera.
Tak butuh waktu lama, sesaat ponselnya yang ia taruh di atas meja rias tiba-tiba bergetar, menandakan ada telfon masuk.
Andheera pun langsung mengangkatnya begitu ia membaca nama yang tertera di layar ponselnya, seolah ia memang sedang menunggu telfon dari penelfon tersebut.
“bagaimana?”
“begitu, baiklah terimakasih.”
Hanya beberapa kalimat yang terlontar dari mulut gadis ramping itu kemudian ia mematikan telfonnya, masih dengan raut wajah serius ia menatap pantulan wajahnya dari cermin, seolah ia tengah memikirkan sesuatu.
***
Kamar Andromeda.
Meski pada awalnya Vivian hanya ingin melihat Andromeda sebentar, melihat keadaan Andromeda yang sangat mengkhawatirkan wajahnya yang pucat, juga ia mulai berkeringat dingin.
Vivian tidak tega untuk meninggalkannya, hingga akhirnya Vivian duduk disamping Andromeda seraya memegangi tangannya berharap Andromeda akan segera membaik.
“apa dia sedang bermimpi buruk, kenapa wajahnya tampak ketakutan.” Gumam Vivian masih tak bisa memalingkan pandangannya dari wajah Andromeda, tampak jelas kekhawatiran Vivian terhadap kakak angkatnya itu.
***