
Sementara itu masih di taman kota namun disisi yang berbeda, Keenan seorang diri tengah berjalan-jalan santai sembari menghirup udara segar.
Langit semakin gelap tanda hadirnya malam akan segera tiba dalam hitungan menit, namun Keenan tak perduli, ia masih ingin menenangkan fikirannya setelah beberapa jam mencoba mencari seorang gadis kecilnya dimasa lalu.
Namun pencariannya berakhir dengan tragis, gadis kecil itu benar-benar telah menghilang entah kemana dan hanya menyisakan luka yang sangat mendalam bagi Keenan yang ditinggalkan.
“seharusnya kau tak perlu mengulurkan tanganmu saat itu, hanya membiarkan aku menghadapi kesulitan ku sendiri.. de..ngan begitu aku tak perlu bergantung padamu, bahkan setelah 4 tahun kau meninggalkanku, rasa sakit itu masih membekas begitu dalam.” Gumamnya seraya menahan air mata kerinduan pada teman kecilnya itu kemudian terduduk dibangku taman.
Keenan mengarahkan pandangannya pada langit yang telah berganti warna seraya membayangkan wajah gadis kecil di masa lalunya, tak perduli seberapa rasa sakit yang ia dapatkan lelaki yang sudah beranjak dewasa itu masih tetap tersenyum lebar untuk Andheera.
Sampai..
“kak Keenan..!” panggil seorang lelaki yang berdiri tak jauh darinya, ketika Keenan menoleh untuk merespon panggilan itu, Brian pun langsung berlari kecil menghampiri Keenan dan duduk disampingnya.
“kakak lagi apa..? ngelamun sendirian, lagi galau..?” celetuk Brian yang kemudian mematahkan es bon bon yang tengah digenggamnya untuk dibagikan pada Keenan.
Dengan senang hati lengan Keenan langsung menerima potongan es bon bon yang diberikan untuknya, lalu memakannya berbarengan dengan Brian yang juga mulai menikmati es bon bon miliknya.
“kau habis darimana..?” tanya Keenan.
“aku habis Latihan, aku kan sudah pernah cerita padamu kalau aku sudah diterima di bangQit agensi..” paparnya.
“ahh.. iya aku kira kau sedang membual..” respon Keenan yang membuat Brian langsung menoleh dan menatapnya sinis.
“ciih..! kakak ga lihat wajahku ini sangat tampan, sayang rasanya kalau hanya menjadi warga negara biasa, aku harus menjadi idol sukses yang mendominasi dunia hahaha..!” seru nya dengan penuh percaya diri.
“iya.. iya bermimpilah sesukamu, bagaimana dengan kuliahmu..?” tanya Keenan lagi.
“ahh itu.. aku harus menundanya paling tidak setahun, karena aku harus membiayai kuliahku sendiri.” Ujarnya yang masih sama-sama menikmati es bon bonnya masing-masing.
“kenapa..?” respon Keenan dengan raut wajah yang tampak khawatir.
“karena ayahku tak mengijinkanku menjadi idol, aku terpaksa meninggalkan rumah dan hidup mandiri.” Jelasnya dengan nada lirih.
“APA..! lalu sekarang kau tinggal dimana..?” seru Keenan yang semakin khawatir pada bocah malang tersebut.
“sebelumnya aku tinggal di panti asuhan, tempat temanku tinggal dulu, untung saja ibu pantinya masih mengenaliku, jadi memperbolehkanku tinggal untuk sementara. Dan sekarang aku tinggal di dorm.” Jelasnya lagi.
“lalu bagaimana kau bisa hidup tanpa sepeserpun uang..?” kata Keenan.
“aku bekerja paruh waktu di resto untuk mengantar makan dan menjaga toko komik.” Jawabnya.
“jika aku tinggal sendiri mungkin aku akan membawamu tinggal bersamaku.” Gumamnya masih terdengar jelas di telinga Brian.
“kalau begitu boleh dong kapan-kapan aku main ke rumahmu..?” Pintany dengan nada yang sedikit manja.
“hmm.. apartemen bougenville unit 129.” Ucapnya.
“apartemen bougenville..?” Brian mengulang kalimat Keenan barusan seolah tengah mengingat sesuatu dalam benaknya.
“iya.. kau pernah kesana..?”
“itu artinya kak Keenan 1 apartemen dengan Andheera..” batin Brian “waaahhh..” celetuk Brian.
“apanya yang wah..?” tanya Keenan yang kebingungan.
“tidak.. maksudku apartemen bougenville kan terkenal dengan Kawasan elitenya, itu artinya kak Keenan orang kaya hahaha, sama sepertiku.” Celotehnya ngasal.
“sepertimu..? bukannya kau sedang jatuh miskin..!” respon Keenan lalu beranjak dari bangku taman untuk kembali berjalan-jalan bersamaan dengan es bon bon yang telah habis kemudian ia membuangnya ke tempat sampah yang tak jauh darinya.
“sial..! lihat saja nanti begitu aku sukses aku pasti akan membelikan apapun yang kakak inginkan..!” seru Brian yang mengikuti langkah Keenan dibelakang setelah membuang sampah es bon bon nya ke tempat sampah.
“benarkah..? kalau begitu belikan aku Lamborghini saja.” Goda Keenan.
“Hey.. ku bilangkan nanti kalau aku sudah sukses..!” serunya.
“hahahhaha..!! ngomong-ngomong usia kita hanya terpaut beberapa bulan, kenapa masih terus memanggilku kakak.” keluh Keenan.
“karena aku ingin memiliki kakak sepertimu.” Ujarnya dengan kedua matanya yang berbinar, Keenan tak mampu menahan rasa gemas dirinya pada lelaki disampingnya itu hingga membuat dirinya mengacak-acak rambut Brian lengkap dengan tawa lebarnya.
Tak keberatan dengan yang Keenan lakukan terhadapanya, Brian malah merespon Keenan dengan senyum merekahnya seolah ia juga bahagia mendapatkan kasih sayang dari sosok kakak lelaki yang belum pernah ada dalam hidupnya.
***
Selagi ayahnya dan Vivian membeli makanan ringan di toserba terdekat, Andheera dan Tsuyu tengah terduduk di atas rerumputan diarea taman kota seraya menikmati angin sejuk malam yang berhembus kala itu.
“sebenarnya.. aku masih ga percaya dengan kondisi mental kak Andromeda, karena dari yang kulihat selama ini dia terlihat ceria, humoris juga penuh tawa, bahkan untuk staf magang dan orang yang baru dikenalnya pun dia selalu jadi orang pertama yang mengatakan.. Hay..!” ujar Tsuyu yang mengawali pembicaraannya dengan Andheera.
“jangan hanya melihat dari sisi luarnya aja, karena terkadang orang yang tertawa paling keras dialah yang banyak menyimpan luka.” Sahutnya seraya memandangi langit dengan kedua tangannya yang menopang tubuhnya.
“kakakku belum pernah sekalipun berkencan, dia selalu mengutamakan pendidikan, makanya dia bisa lulus dengan usia yang cukup muda,
tapi dibalik prestasi dan medali yang dia raih dari perlombaan maupun olimpiade sekolahnya dulu…” Andheera menghentikan kalimatnya sejenak untuk sekedar memandangi wajah Tsuyu yang tampak menyedihkan.
“Tak hanya 1 kali, tapi berkali-kali ia mencoba bunuh diri dengan hampir menjatuhkan dirinya sendiri di jembatan layang, emosinya masih belum stabil saat itu sampai dia depresi dan melakukan hal mengerikan seperti itu.” Imbuhnya.
“beruntung, aku sudah memasang alat pelacak di ponselnya, begitu aku tahu dia menuju tempat yang berbahaya, aku akan langsung berlari atau mengayuh sepedaku seperti orang gila untuk bisa cepat sampai dan menyelamatkan kakakku.”
“dan kau.. tak akan bisa mengatasinya Tsuyu, kakakku bahkan lebih menyeramkan dibanding ibumu..! Aku hanya.. ingin kalian baik-baik saja dengan menjalani hidup kalian masing-masing, kurasa ini jalan yang terbaik untuk kau dan kakakku.” Pungkasnya,
Andheera mengakhiri ceritanya ketika ia melihat ayahnya dan Vivian telah Kembali setelah membawa 2 keresek penuh cemilan untuk dimakan bersama.
“oke, aku akan benar-benar pergi dan tak kembali, setelah aku melihat ibuku berada dirumah sakit jiwa.” Respon Tsuyu setengah berbisik agar tidak terdengar oleh Reza maupun Vivian yang semakin mendekat kearahnya.
“apa yang kalian bicarakan..?” tanya Vivian seraya duduk dan menaruh satu kantung kresek di tengah mereka.
“ciih..” respon Andheera lengkap dengan kedua mata sinisnya.
Meski dari jauh tampak begitu hangat dan penuh bahagia, mereka berempat saling melempar tawa lebar juga candaan ringan selayaknya keluarga kecil yang tengah membicarakan ini itu, bahkan hal yang tak begitu penting pun tak luput dari bahasan mereka berempat.
Hingga membuat orang-orang disekitar merasa iri dengan suasana bahagia yang meraka pancarkan, tak hanya sekali atau 2 kali para pengunjung taman kota mencoba melirik kearah mereka hanya untuk sekedar menyaksikan tawa yang begitu nyaring yang terdengar bergantian dari mereka berempat.
Namun dibalik tawa juga raut wajah bahagia yang mereka tunjukan, siapa sangka mereka semua tengah menyimpan luka yang begitu dalam dan tak dapat untuk diungkapkan pada siapapun.
Rahasia besar yang tak pernah bisa Reza ungkapkan pada siapapun, bahkan pada kedua anaknya sekalipun, rasa sakit kehilangan yang dialami oleh Tsuyu juga Vivian karena cinta pertamanya, begitupun Andheera yang selalu berpura-pura lebih kuat dan menanggung beban kebenaran itu sendirian.
Kebenaran dimasa lalu ataupun tentang kematian kedua orang tua teman baiknya, gadis itu selalu berusaha menempatkan dirinya untuk menjadi tangkai yang akan menopang semua helai bunga diatasnya.
Tanpa memperdulikan dirinya sendiri, ia harus selalu kuat dan melindungi orang-orang yang dikasihinya dengan caranya sendiri, dari dulu hingga sampai saat ini.
***
Keesokan harinya.
Tiba saat nya Andheera latihan sebagai salah satu trainee di sebuah agensi besar di Jakarta, sedangkan Brian dan Ben sudah lebih dulu masuk latihan sebelum dirinya.
Dengan membawa sebuah koper besar berisikan pakaian juga alat make up nya, Andheera memutuskan untuk tinggal di dorm bersama trainee lainnya agar bisa focus latihan juga menjaga keponakannya yang sama-sama ikut tinggal di dorm bersama trainee lelaki lainnya.
Layaknya seorang model yang tengah melakukan catwalk, banyak sekali yang memandangi Andheera dari kejauhan, seolah tersihir oleh kecantikannya dan outfitnya yang tampak elegan.
Kaos putih milik brand ternama yaitu Candel juga dipadupadankan dengan rok jins pendek, tak lupa sebuah topi yang hampir menutupi setengah wajah imutnya.
Ia terus berjalan menuju lift, setelah mendapat telfon dari seorang staf agensi lokasi lantai dorm nya.
Gadis itu pun langsung melangkahkan kakinya tanpa ragu menuju tempat tujuan, untuk mengemas barang-barangnya lalu mulai Latihan bersama trainee wanita lainnya.
Di dalam lift..
Meski beberapa orang diantaranya mencoba saling berbisik dibelakang Andheera, namun kedua mata elang Andheera bisa mengetahui dengan jelas jika mereka yang dibelakangnya tengah membicarakannya dari belakang lewat pantulan pintu lift dihadapannya.
Andheera hanya menanggapinya dengan tawa kecil yang penuh arti, seolah sudah biasa menghadapi situasi yang menyebalkan seperti saat ini.
Sesampainya di depan dorm miliknya.
Sejenak ia berhenti untuk berfikir ‘haruskah aku masuk saja dengan say helo..?! atau aku harus mengetuk pintu dulu..?!’ batinnya yang berkecamuk masih sembari memegangi pegangan koper besarnya ia hanya memandangi pintu dorm yang ada di hadapannya.
“waaahh daebak..!! kau yang tadi itukan..!!” seru seseorang dari belakang bersama satu temannya.
Sontak Andheera pun memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang ada dibelakangnya.
“ini drom mu..?” tanya 1 temannya yang lebih kalem dan Andheera pun hanya mengangguk untuk menanggapinya.
“ayo masuk..” ajaknya seraya membukakan pintu dorm nya lebar-lebar agar koper besar milik Andheera bisa melewatinya.
“kukira kau itu seorang idol tadi, soalnya ga ada satu pun mata yang melewatkanmu, seeemuanyaa memandangimu sampai kau masuk ke lift..!! itu luar biasa sekali.” Seru gadis itu kembali menyuarakan kekagumannya.
“ada apa..?” tanya gadis lainnya yang berjalan dari dapur seraya meneguk botol air mineralnya.
“kita kedatangan teman baru, siapa namamu..?” tanyanya mencoba untuk mulai berkenalan.
Meski tampak canggung namun Andheera tetap mencoba untuk membuat dirinya nyaman bersama orang yang baru dikenalnya, karena mau tidak mau ia harus terbiasa jika ingin tinggal lebih lama untuk menjaga keponakannya Ben.
“aku Yeji..” sambil mengulurkan tangannya tepat ke arah Andheera bersamaan dengan senyum ramahnya.
Tak menunggu lama Andheera pun menyambut uluran tangannya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
“Andheera..” ucapnya.
Kemudian dilanjutkan dengan kedua temannya yang lain.
“panggil aku Ryujin..” katanya seraya menyambar lengan Andheera setelah bersalaman dengan Yeji, kemudian diakhiri dengan perkenalan singkat antara dirinya dengan Lia.
“Lia..”
“Andheera..” balas Andheera masih dengan senyum tipisnya.
Perkenalan pun berakhir, tanpa berbasa-basi lagi Andheera berniat menuju kamarnya untuk mengemas barang-barangnya.
Namun ia kembali menghentikan langkahnya Ketika mendapati ada 3 kamar yang berada dihadapannya.
“kau tak keberatankan jika satu kamar dengan Yuna, (kata Yeji mencoba menjelaskan keadaannya) sebenarnya kita disini berlima dan yang mendapat 1 kamar itu Ryujin, karena Ryujin kelas 3 SMP sekarang dan harus banyak belajar juga untuk sekolahnya jadi Ryujin yang mendapatkan 1 kamar sendiri.”
Andheera malah terdiam tak menanggapi perkataan Yeji, seolah ia keberatan dengan keputusan Yeji. Sedangkan Lia yang tak ingin ikut campur dalam pembagian kamar, ia meneruskan langkahnya menuju ruang tengah untuk menonton siaran televisi.
“amm kak Yeji, sebaiknya kita undi aja biar adil, jangan mengambil..” timbrung Ryujin karena merasa tidak enak sudah diistimewakan oleh Yeji.
“tidak.. aku baik-baik aja kok, dimana kamarku..?” potong Andheera yang kemudian mengakhiri suasana tegang yang sempat terjadi dan mengalah untuk mengikuti keputusan salah seorang temannya.
“oke makasih Andheera, (balas Yeji dengan senyum ramahnya) kamarmu yang diujung sana, oia Yuna akan bergabung dengan kita akhir pekan.” Jelasnya lagi.
Andheera hanya menggangguk dan tersenyum tipis untuk menanggapi perkataan temannya, kemudian berjalan pergi menuju kamarnya.
Dan begitulah akhir dari perkenalan singkat mereka pagi ini, sebelum akhirnya disiang hari mereka harus berlatih dengan trainee lainnya hingga larut.
Aktifitas seperti itu terus berlanjut dari hari ke hari, seolah mereka memang benar-benar harus dituntut menjadi sempurna dan tak boleh ada celah sedikitpun, hingga saat nya nanti mereka bisa lulus dan debut bersama grup mereka masing-masing.
Entah kapan, tak ada yang tahu, yang pasti mereka akan selalu berusaha dan bekerja keras agar mereka bisa debut dengan teman terdekat mereka dan akhirnya jika beruntung mereka akan sukses bersama.
***