
Apartemen Hyunjie.
“siapa Keenan?” tanya ibunya yang tengah membantu menyiapkan makan siang bersama putra tunggalnya.
“Jiso.” jawabnya kemudian mematikan kompor gas dan menaruh tumis yang ia masak ke dalam mangkuk.
“kenapa kau tak menjemputnya dan pergi bersama ke bandara.” ibunya mendahului Keenan untuk duduk di kursi dengan membawa 2 piring yang berisikan nasi.
“hanya butuh 30 menit ke bandara dari sini, masa aku harus berbalik arah untuk menjemputnya.” keluhnya sedikit kesal seraya berjalan dan membawa mangkuk yang berisi tumis, menghampiri ibunya yang sudah nangkring di meja makan, kemudian ia meletakan mangkuknya di atas meja.
“iya iya, bagaimana hubunganmu dengan Jennie?” tanya Hyunjie mengubah topik pembicaraannya seraya mengambil lauk pauk yang dimasak oleh putra tunggalnya.
“kita sudah putus.” respon Keenan seadanya.
Uhuukk.. uuhukk Hyunjie tersedak batuk mendengar kabar putusnya Keenan dengan Jennie, mengingat hubungannya cukup lama dengan Jennie, Hyunjie sedikit terkejut akhirnya mereka berdua berpisah.
“apa kau akhirnya menyukai Jiso?” tebak Hyunjie sembari mengunyah makan siangnya.
“tidak, aku hanya sedang menunggu seseorang.” Respon putranya yang juga tengah menikmati makan siangnya.
“siapa?” Hyunjie semakin penasaran.
“mama tak perlu tahu.” Sahut Keenan.
“kau ini pelit sekali, kenalkan mama dengannya dong.” Seru Hyunjie tampak antusias, tapi Keenan enggan menjawabnya ia memilih diam menikmati makan siangnya dan mengacuhkan ibunya.
Meski pada awalnya mereka terlihat canggung, namun berkat sikap Hyunjie yang ceria dan terus mendekati Keenan dengan berbagai cara, mengajaknya ngobrol disetiap kesempatan, membuat Keenan merasa nyaman kemudian perlahan ia bisa membuka hati dan menerima kehadiran ibunya.
***
Taman bermain.
Andheera terlihat tak bersemangat, ia duduk di ayunan seraya mengayunkan pelan ayunannya, ia terus menatap ke depan seolah banyak hal yang melintas difikirannya.
Tiba-tiba ponsel dalam saku celana trainningnya bergetar dengan malas ia merogoh saku celananya, kemudian mengangkat telfon tanpa melihat layar ponsel.
“hallo.” ucap Andheera.
“kau pulangkan hari ini, nanti sore oppa jemput ya kau mau oppa masakan apa untuk makan malam?” tanya Andromeda dengan nada lembut seorang kakak yang sangat mengasihi adik perempuannya.
“amm, bagaimana kalau daging panggang.” kata Andheera yang langsung terfikirkan daging saat kakaknya menanyakan menu makan malam nanti.
“oh yang kayak ala-ala korea begitu kan hihihi.” Andromeda langsung paham apa yang diinginkan adiknya tanpa harus menjelaskan secara rinci.
“heemm, oiia oppa tak perlu menjemputku, aku akan mengajak Vivian juga nanti, mari kita makan bersama.” Tambah Andheera lagi sebelum mengakhiri percakapan singkat dengan kakaknya di telfon.
“iya baiklah, oppa akan ke kantor dulu sebentar lalu membelikan daging untukmu.” pungkasnya.
“heemm.” Andheera mengiyakan kemudian memutuskan telfonnya, gadis cantik itu kembali memasukan ponsel ke dalam saku celana training.
“kau disini Andheera?” sapa Brian yang muncul dari belakang, ia langsung mengenali perawakan Andheera, meskipun Brian hanya melihat penampakan punggung dan kunciran rambut Andheera yang seperti ekor kuda.
“hay kak Brian.” Andheera merespon sapaan Brian sembari sedikit menoleh ke belakang, Brian berjalan mendekati Andheera kemudian duduk di ayunan sebelah Andheera.
“dimana Vivian, kok sendirian?” tanya Brian.
“dia benci olahraga jadi aku jogging sendirian.” responnya masih sembari mengayunkan ayunannya.
“iya sih, keliatan dari tubuhnya yang semakin membengkak dari hari ke hari hehehe, dulu dia gak sebesar itu. Oiia ku dengar kau dipukuli oleh fans fanatikku, kau sudah baik-baik saja.” Brian tampak khawatir terlihat jelas dalam raut wajahnya.
“iya aku baik-baik aja.” respon Andheera datar.
“syukurlah ku kira mereka melukai wajah cantikmu, karena aku melihat beberapa luka lebam di wajah Vivian, ku fikir kau lebih parah darinya.” Mendengar hal itu membuat senyum tipis Andheera menghiasi wajah cantiknya, karena yang membuat luka lebam di wajah Vivian bukanlah Nuran melainkan dirinya.
“kak Brian,” panggil Andheera pelan seraya melirik sesaat wajah Brian yang tampan disampingnya.
“iya.” jawab Brian yang juga melirik ke arah Andheera.
“kau mau bergabung makan malam bersama nanti dirumahku.” ajak Andheera.
“tentu, kenapa tidak?” Brian langsung setuju dengan ajakan Andheera tanpa berfikir panjang.
“apa terjadi sesuatu?” gumam Andheera melihat raut wajah Brian membuatnya berfikir jika ada sesuatu yang terjadi pada mantan kekasihnya itu.
“hah?”
“wajahmu tak terlihat baik dan juga banyak luka goresan ditanganmu, apa kau terlalu berlebihan bermain basket hingga melukai tubuhmu sendiri.” Tambah Andheera.
“hahaha kau memang yang terbaik Andheera, padahal berusaha mungkin aku menyembunyikannya darimu.” Brian memaksakan untuk tertawa padahal dalam hatinya ia sungguh tidak baik-baik saja.
“ada apa?” tanya Andheera lalu menoleh untuk melihat lebih jelas wajah Brian.
“aku tak yakin apa aku bisa menceritakannya padamu, karena ini tentang kedua orang tuaku.” Ujar brian menundukan kepalanya sembari menendang-nendang pelan batu kerikil yang berada tepat dibawah kakinya, layaknya seorang anak kecil yang tengah merajuk karena tidak di beri permen.
“baiklah jika kau ingin menyimpannya sendiri.” Kata Andheera kemudian mengalihkan pandangannya dari Brian.
“bisakah kau menggenggam tanganku selagi kau berayun.” Pinta Brian terdengar seperti nada seorang bocah lelaki yang meminta dipeluk.
Tanpa keberatan Andheera meraih tangan Brian sembari mengayun ayunannya pelan, mereka berdua menikmati waktu bersama di bawah terik sinar matahari walau terasa sedikit panas namun angin sepoi-sepoi bisa sedikit menyejukan tubuh mereka.
“semua orang pernah melewati ini..
namun sepertinya hanya aku yang menderita seperti ini..
aku bisa mengatakan bahwa aku baik-baik saja dan menghibur diriku sendiri..
namun aku terlalu keras pada diriku sendiri..
aku yakin itu sulit sampai aku menangis..
namun aku mengabaikan diriku lagi...” Suara merdu Andheera mampu membuat Brian terhanyut dan masuk ke dalam alunan melodi yang memilukan.
Tanpa Brian sadari air matanya sudah tak bisa ia tahan, akhirnya ia lagi-lagi membiarkan dirinya terlihat lemah dihadapan Andheera.
Mendengar suara isakan pelan Brian dan juga mendapati Brian menutup wajah dengan tangan yang satunya, membuat Andheera semakin erat menggenggam tangan Brian sembari terus melanjutkan nyanyiannya hingga bait terakhir.
Bahkan lelaki dewasa yang selalu tampak ceria pun bisa menangis seperti anak kecil.
Ingin rasanya Andheera menangis bersama Brian melampiaskan semua rasa sakit yang terus menggerogoti hatinya.
Namun jika saat ini ia menunjukan sisi lemahnya lalu siapa yang akan menguatkan? Akhirnya Andheera hanya bisa meninggikan suaranya, itulah cara yang ada difikiran Andheera agar ia juga bisa melepaskan beban berat yang ia tanggung.
***
Kembali ke Apartement Hyunjie.
Setelah mereka berdua selesai makan, Hyunjie langsung bergegas untuk kembali ke rumah sakit karena ada panggilan mendadak yang mengharuskan ia kembali ke rumah sakit lebih cepat.
Dan tinggalah Keenan sendiri di apartemen.
Merasa bosan karena tak ada hal yang ia lakukan dirumah, kemudian ia berencana untuk pergi keluar sebentar karena jadwal kepulangannya ke Yogyakarta masih ada beberapa jam lagi.
Keenan tengah bersiap-siap, ia mengganti kaos oblongnya dengan kaos yang berlengan, sedangkan celananya ia tetap memakai celana pendek yang ia gunakan saat ini, kemudian lengan panjangnya meraih hodie berwarna hijau yang sebelumnya ia letakan di atas sofa.
***
Karena sudah menghibur Brian, Brian pun bersikeras untuk mengantarkan Andheera pulang, hingga akhirnya Andheera mengalah kemudian membiarkan Brian menemaninya berjalan pulang ke Apartemen.
“Andheera..” panggil Brian pelan sembari berjalan berdampingan dengan Andheera.
“hmm..” respon Andheera seraya memandangi jalanan yang dilaluinya.
“apa kau tau perbedaan menyukai sebagai teman atau memang benar menyukainya?” mereka berdua kembali melakukan percakapan ringan selama perjalanan pulang.
“entahlah,” jawab Andheera tampak tak terlalu tertarik dengan pembahasan Brian.
“aku sedikit bingung dengan apa yang kurasakan sekarang, dulu aku sangat dekat dengan seseorang kukira aku menyukainya tapi setelah aku dewasa perasaan itu menghilang, dan yang tak ku mengerti perasaan itu berubah karena aku sudah memiliki yang lain, atau memang itu hanya sekedar cinta monyet.” Ceritanya.
Mendengar keseluruhan cerita Brian sontak membuat fikiran Andheera melayang jauh seolah ia tengah teringat seseorang, lalu menghetikan langkahnya sejenak.
Menyadari Andheera tak lagi berjalan disampingnya, Brian berbalik untuk memastikan jika Andheera baik-baik saja.
“kau kenapa?” tanya Brian membuyarkan lamunan Andheera.
“aah tidak..” respon Andheera masih terdiam di tempat begitupun Brian, mereka malah saling berhadapan dengan jarak 5 langkah.
“kau mendengarkanku kan Andheera.” Brian memastikan Andheera mendengar apa yang ia katakan tadi.
“iya, orang yang kak Brian maksud adalah Vivian?” tebak Andheera sembari menatap kedua mata bulat Brian.
Brian meresponnya dengan senyuman yang menandakan tebakan Andheera benar adanya.
“kalau begitu cobalah, kalau kak Brian ingin jawaban, kak Brian harus memulainya.” Ujar Andheera memberikan sebuah ide untuk kisah cinta Brian diakhiri dengan senyum manis Andheera yang langka.
“bagaimana jika aku salah, dan ternyata aku masih berharap padamu.” Kata Brian seraya menatap wajah Andheera lekat.
“kau tahu, aku bukan gadis yang baik kak Brian, jika tidak dengan Vivian carilah gadis lain.” sahut Andheera sembari berjalan melewati Brian kemudian disusul oleh Brian yang berbalik dan melanjutkan perjalanannya untuk mengantar Andheera pulang.
“tidak mau, aku hanya ingin dirimu.” seru Brian dengan nada yang sedikit manja kemudian meraih tangan Andheera agar bisa menggenggamnya.
“kau tahu, setelah mengenalmu lebih dekat kau jadi tidak tampan lagi kak Brian, aku sudah tak tertarik padamu tuh.” Ketus Andheera sembari mencoba melepas tangannya dari genggaman Brian, namun usahanya sia-sia karena Brian malah semakin erat menggenggam tangan Andheera ditambah dengan senyum penuh arti yang ia tunjukan pada dirinya.
“oke oke aku takan melepaskannya, renggangkan, sakit kak Brian.” pinta Andheera yang akhirnya mengalah, mereka berdua berjalan beriringan sembari berpegangan tangan sampai di depan Apartemen Andheera.
“itu bukannya Keenan.“ gumam Brian saat mereka akan berbelok memasuki area apartemen Andheera, mendengar nama yang tak asing Andheera pun ikut menoleh.
“siapa katamu?” tanya Andheera sembari ikut mengedarkan pandangannya mencoba menemukan apa yang Brian lihat.
“aah kukira dia orang yang ku kenal, tapi sepertinya bukan.” Brian menghalangi orang yang dilihatnya dengan bahunya yang lebar seolah ia ingin menyembunyikannya dari Andheera.
“sudah sampai sini saja, kak Brian pulanglah nanti ku kirimkan alamat kita berkumpul.” Pamit Andheera kemudian berjalan pergi meninggalkan Brian di dekat gerbang masuk apartemen.
“oke baiklah bye..” setelah berpamitan dengan Andheera dan melihatnya berjalan masuk, pandangannya langsung kembali pada sosok yang dilihatnya barusan, kemudian berjalan cepat menyusul sosok tadi.
“akan gawat jika Andheera bertemu dengan Keenan, bisa-bisa dia langsung jatuh cinta padanya, gadis itu benar-benar terobsesi dengan lelaki tampan huhh.” Gerutu Brian dalam perjalanannya menyusul Keenan yang hendak menyebrangi jalan raya.
“KEENAN HYUNG!!” teriak Brian dari seberang membuat Keenan refleks menoleh mendengar panggilan nyaring dibelakangnya, Keenan tersenyum mendapati kemunculan Brian yang tak terduga lalu menunggu Brian untuk menyebrang menghampirinya.
Note : Hyung panggilan adik laki-laki ke kakak laki-laki dalam bahasa korea.
“kau mau kemana hyung?” tanya Brian.
“hanya berjalan-jalan, masih ada beberapa jam sebelum keberangkatanku.” Jawab Keenan seraya melirik jam tangannya.
“bagaimana kalau bermain Game.” seru brian penuh antusias.
“game online maksudmu?” tanya Keenan memastikan.
“bukan, Time jun, gimana?” kata brian lagi.
“oke” tanpa berfikir panjang Keenan mengiyakan ajakan brian,
Kemudian mereka berdua pergi menuju tempat Time Jun terdekat menggunakan Busway.
Padahal baru kemarin mereka bertemu dan berkenalan tapi kedekatan mereka saat ini seperti sudah berteman selama beberapa tahun.
Di tambah Brian yang tampak seperti seorang adik yang ingin bermanja dengan kakak laki-lakinya sebelum ia pulang ke Yogyakarta.
***