To My Youth

To My Youth
BAB 42



Kilas balik, 4 tahun yang lalu.


                “ayo dong Andheera pertandingannya cuma sebentar kok, kalau kamu ga datang, nanti gak akan ada yang menyoraki ku.” Rengek seorang bocah lelaki sembari menghentakan kakinya ke tanah beberapa kali, layaknya seorang bocah yang tengah meminta sesuatu.


                “apa gunanya aku datang, toh kau kan cuma jadi pemain cadangan, tak ada yang menjamin kau akan bermain kali ini. Seperti sebelum-sebelumnya kau hanya duduk dipinggir lapang seperti orang bodoh!” serunya lengkap dengan tatapan sinisnya, membuat bocah lelaki tadi terlihat semakin menyedihkan.


                “aku akan bermain Andheera, aku yakin kali ini aku akan ikut bermain.” Ujarnya penuh percaya diri sembari menarik-narik lengan gadis tersebut.


                “kau selalu bilang begitu agar aku datang Ray, tapi nyatanya kau hanya membual.” Responnya ketus.


                “aku akan mentraktirmu daging sapi premium yang kau suka itu.” Bujuknya, sebagai usaha terakhir agar gadis itu mau ikut bersamanya.


                “hahahaha uang darimana? Jangan bilang kau akan memecahkan celengan BABIMU!! Hey itu kan untuk membeli sepatu.”


                “aku hanya ingin di temani olehmu, karena hanya kau teman yang ku punya.” Lirihnya seraya menundukan kepalanya mencoba menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah, jika Andheera masih bersikeras tak ingin ikut bersamanya.


                “oke oke baiklah, aku akan mengambil sepedaku dulu.” Katanya pasrah dan lagi-lagi mengalah untuk menuruti apa yang teman lelakinya itu inginkan.


Meski sudah beberapa kali belajar mengendarai sepeda, namun tetap saja Ray masih belum bisa juga, entah benar-benar belum bisa atau Ray hanya takut terjatuh.


Alhasil Andheeralah yang selalu memboncengnya kemana pun mereka bermain.


                “apa kau tak malu di bonceng oleh perempuan, seharusnya lelaki yang memboncengkan.” Ujar Andheera dalam perjalanannya menuju tempat pertandingan basket temannya.


                “tidak, aku kan memang tidak bisa mengendarai sepeda.” Sahutnya polos sembari memeluk erat teman perempuannya itu agar tidak jatuh.


                “kalau begitu kenapa kita tidak tukeran jiwa saja.” Celetuk Andheera membuat bocah lelaki yang diboncegnya tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Andheera.


                “aahhahahaha..” tawa nyaring Ray membuat gendang telinga Andheera hampir pecah.


***


Kembali ke Kirin School Jakarta.


                “apa ini semacam kutukan? kenapa wajah hitam gemuknya selalu tiba-tiba muncul sih!” gerutu Andheera dalam perjalanannya kembali ke kelas.


***


Parkiran SMA Shinwa Yogyakarta, Keenan sudah siap untuk pergi, namun dari kejauhan tampak Jiso berlarian membuat Keenan kebingungan karena pandangan Jiso mengarah padanya.


                “Keenan..!! (teriak Jiso berlari secepat yang ia bisa)


Huhhh.. haaahh (begitu sampai Jiso mencoba mengatur pernafasannya) kau.. langsung.. pulang?” tanya Jiso masih terengah-engah.


                “iya.” Respon Keenan.


                “ada film baru yang ingin ku tonton temani aku.” Katanya lagi tanpa menunggu persetujuan dari Keenan Jiso langsung menaiki motor Keenan.


                “turun.” Ucap Keenan namun terdengar seperti perintah.


                “gak mau, ayolah Keenan tak ada lagi yang bisa ku ajak selain dirimu.” Rengeknya.


                “apa perduliku.” Jawabnya ketus, namun Jiso tidak ingin mengalah begitu saja ia malah memeluk Keenan, membuat Keenan tak nyaman karena banyak teman-temannya melihat.


Akhirnya kali ini pun Keenan tak bisa menolak permintaan Jiso, dengan helaan nafas panjang kemudian ia menyalakan mesin motor lalu pergi dari parkiran.


Merasa berhasil dengan cara kotornya, Jiso tersenyum lebar seraya mengeratkan pelukan serta menenggelamkan wajahnya di balik bahu lebar Keenan.


Sesampainya di Mall Matalari Yogyakarta, Jiso terlihat sangat bersemangat, ia menarik paksa tangan Keenan sembari berlarian kecil menuju Bioskop di lantai 3, Keenan hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan Jiso tanpa mengeluh sedikitpun.


Mulai dari menonton Film yang berlanjut makan dan shopping, seperti pada umumnya wanita yang sudah masuk ke Mall akan sulit untuk di ajak pulang hingga ia benar-benar lelah.


Keenan tetap sabar menemani Jiso seperti seorang kekasih yang tengah menemani ciwinya berbelanja.


Bahkan saat di tanya apa baju ini cocok untuk ku? apa lipt tint ini membuatku lebih cantik? Keenan menjawabnya dengan penuh kesabaran, tak jarang juga Keenan yang memilihkan sesuatu untuk gadis tersebut.


Tanpa Keenan sadari dia sudah terlalu jauh melangkah, membuat Jiso berfikir setidaknya ia ada dalam hati Keenan meski ruang itu sangat kecil untuknya, ditambah setelah perpisahan Keenan dengan Jennie, Jiso malah semakin yakin jika suatu saat nanti dirinya bisa merubah ruangnya menjadi lebih besar didalam hati Keenan.


Itulah yang difikirkannya saat ini, seraya menatap lekat wajah Keenan yang tengah menatap layar ponsel miliknya.


Hari semakin gelap, matahari pun mulai enggan menunjukan dirinya beriringan dengan langit yang sudah berganti warna.


***


Sementara itu di tempat lain.


Vivian tertidur dibangku taman sekolah dengan kepala yang beralaskan paha Andheera yang empuk.


Selagi menunggu Vivian terbangun ia tampak santai menyantap es krim strawberry yang dibelikan Vivian, sebab ia sudah mau menunggu Vivian sampai rapat Osis selesai.


                “kau sudah bangun?” Andheera merasakan kepala Vivian bergerak.


                “kenapa gelap kau mematikan lampu?” tanya Vivian setengah sadar kemudian bangkit dari tidurnya seraya mengucek-ucekan matanya.


                “sejak kapan langit memiliki lampu?” sahut Andheera sembari menjilati es krimnya.


                “aahh aku lupa, aku masih di sekolah kenapa kau tak membangunkan ku?” tanya Vivian yang masih mencoba mengumpulkan seluruh nyawanya.


                “kau mendengkur.”  Respon Andheera.


                “benarkah, apa aku selelah itu.” Ujar Vivian seraya meregangkan otot-otot lehernya.


                “heemm, kau haus?” tanya Andheera lalu meraih botol minuman yang ada dikantong plastik dibawah bangkunya.


Dengan senang hati Vivian menerima botol mineral yang diberikan Andheera, kemudian meneguknya beberapa kali.     


“kau mau es krim lagi?” setelah ia memuaskan dahaganya, ia kembali terfokus pada temannya yang masih menjilati es krimnya.


                “heemm..” gumam Andheera.


                “ayo ku belikan lagi, di toserba kompleks rumahmu.” Katanya lalu bangkit dari tempat duduknya serta menarik lengan Andheera.


                “okay, tapi.. Vian aku merasa aneh.” Ujar Andheera dalam perjalanannya bersama Vivian menuju halte busway.


                “kenapa?” sahut Vivian dengan nada lembutnya.


                “seharusnya ini manis dan bisa membuatku bahagia tapi kenapa aku malah merasa sedih.” Paparnya.


                “itu hanya perasaanmu saja, karena rasa manis nya sudah kau habiskan di wajah cantikmu itu, apalagi sekarang kau menggerai setengah rambutmu.” Ujarnya seraya menyibakan beberapa helai rambut Andheera.


                “hahahaa kau sedang menggodaku.” Seru Andheera diiringin dengan tawa bahagianya.


                “tidak, kau kan memang cantik sangat cantik.” tambahnya lagi kali ini dengan mencubit pipi Andheera pelan, seolah ingin mengekspresikan rasa sayangnya


                “Vian saranghae.” Respon Andheera dengan 2 jemarinya yang ditautkan membentuk isyarat Love.


                “na doo.” Balas Vivian yang artinya. ‘aku juga’ dalam bahasa korea.


***


Toserba di daerah komples Andheera.


                “Anha? Bukannya kau di toserba taman kota ya, kok bisa ada disini?” ujar Vivian yang sedikit terkejut mendapati sang ketua kelas tengah bekerja part time di toserba dekat kompleks Andheera.


                “aah itu, ada perollingan karyawan, jadi kadang aku di taman kota kadang disini, tergantung jadwal yang diberikan atasanku, kau tinggal di kompleks ini?” tanya Anha.


                "tidak, baguslah jadi dekat dengan tempat tinggal Andheera, aku juga sering kesini.” Sahutnya lagi, sedangkan Andheera lebih memilih menunggu di depan sembari memandangi lekat ponsel yang tengah digenggamnya.


                “boleh dong kapan-kapan main ke rumah Andheera hehehe.” Celoteh Anha.


“oiia, kau suka es krim rasa apa Anha?” tanya Vivian dengan pandangan yang masih terfokus pada semua es krim yang ada di chiller.


                “waaah, kau mau mentraktirku?” sahut Anha tampak antusias sekali meski hanya ditraktir satu es krim oleh Vivian, hingga ia keluar dari tempat kasir untuk mengahampiri Vivian, ia ingin memilih es krimnya sendiri.


                “apa ada lagi sesuatu yang kau inginkan?” tanya Vivian saat Anha tengah memilih es krim yang diinginkannya.


                “tidak perlu, ini aja cukup kok untuk cemilan malamku hehe makasih yaa.” Katanya seraya menunjukan es krim yang telah dipilihnya tepat di depan wajah Vivian, kemudian pergi membawanya menuju kasir. 


                “okey baiklah, tapi jika kau butuh sesuatu bilang saja padaku, kita kan teman.” Respon Vivian setelah mengambil beberapa cup es krim rasa strawberry kesukaan Andheera, ia pun berjalan menuju kasir untuk membayarnya.


                “uuhh senangnya punya teman orang kaya hahaha.” Seru Anha diiringi tawa renyahnya.


                “aku serius tahu,” ucap Vivian seraya menyipitkan matanya serta menaruh semua es krim yang hendak dibelinya.


“iya iya baiklah.” Pungkas Anha kemudian mulai men scan semua es krim yang Vivian taruh di meja kasir.


“hanya es krim? Kau tak membeli cemilan lainnya.” Tambah Anha seraya melirik ke arah temannya sesekali.


“Andheera hanya ingin es krim rasa strawberry.” Ujarnya sembari menoleh ke arah luar.


“waaah Andheera beruntung banget punya teman sebaik dirimu hihi, semuanya 75.000.” katanya seraya menunggu Vivian mengeluarkan uang dari dalam saku blezernya.


“kau juga kan temanku, ini makasih ya, aku pergi.” Setelah menaruh 1 lembar uang diatas meja kasir, tangannya langsung menyambar kantong kresek yang berisikan es krim lalu berjalan keluar.


“hey kembaliannya.” Seru Anha saat Vivian hendak pergi begitu saja tanpa menunggu sisa uang kembaliannya.


“pakai saja untukmu.” Ujarnya yang tengah mencoba mendorng pintu toserba lalu pergi.


“uuhh kenapa dia baik banget, aku jadi ingin memanfaatkannya hahaha.” Gumamnya setelah Vivian jauh dari pandangannya.


***


Sesampainya di kediamannya.


Saat Andheera hendak membuka gerbang rumahnya, ia melihat ke arah Gazebo sembari menyipitkan matanya mencoba menyelidik siapa yang tengah duduk sendirian disana.


                “aku lapar bisa kau masak untuk ku?” kata Andheera yang masih tak bisa melepaskan pandangannya dari lelaki tua yang tengah menikmati waktu malamnya di gazebo.


                “oke baiklah, kau ingin menemui ayahmu dulu?” ujarnya seolah mengerti,dengan situasi yang terjadi.


                “heem..” sahut Andheera kemudian berjalan lebih dulu untuk menghampiri ayahnya.


                “jangan terlalu lama, diluar sangat dingin.” Seru Vivian khawatir.


                “heemm aku akan menyusul dengan ayah.” Respon Andheera sembari terus berjalan meninggalkan Vivian.


Mereka pun berpisah karena mengambil jalan yang berbeda, Vivian lebih dulu masuk, sedangkan Andheera berniat untuk menghampiri ayahnya yang masih belum menyadari jika putri kecilnya itu sudah pulang.


                “ayah.” sapa Andheera membuyarkan lamunan Reza seketika.


                “kau sudah pulang? Kenapa sangat terlambat.” Ujar ayahnya sembari memandangi putrinya dengan tatapan hangat seorang ayah pada umumnya.


                “aku menunggu Vivian rapat osis dulu ayah.” Jawabnya kemudian duduk disebelah ayahnya seraya mengaitkan lengannya pada lengan ayahnya, mencoba mencari kehangatan pada tubuh ayahnya.


                “begitu, kau tak membawa sepedamu?” tanya Reza.     


                “tidak, tadi pagi aku terlambat bangun jadi diantar oppa.” Sahutnya lagi.


                “kau ini jangan bergadang terus gak baik buat kesehatanmu Andheera.”


                “iya iya, kenapa ayah diluar, apa ayah sedang memikirkan sesuatu?” Andheera mencoba mengalihkan topik pembicaraannya.


                “tidak ayah hanya..”


                “apa perusahaan ayah baik-baik saja?” tanya Andheera lagi, yang tiba-tiba teringat akan perusahaan ayahnya.


                “tentu, kenapa tiba-tiba kau menyinggung soal perusahaan?”


                “ayah sangat mudah ditebak jika ada yang mengganggu fikiran ayah, ayah pasti selalu diam dan menyendiri seperti ini atau berpura-pura tertawa pada lelucon oppa yang bahkan tidak sampai membuatku tersenyum.”


                “hehe benarkah.”


                “atau ayah putus dengan pacar ayah hehe.” Tebak Andheera.


                “iya.” Jawab ayahnya penuh dengan kepasrahan.


                “waaaah daebak heol jjinja?! Ayah sudah tidak muda lagi kenapa masih bermain-main, kukira ayah akan serius.” Seru Andheera yang tidak menyangka jika tebakannya itu tepat sasaran.


                “dia junior ayah sewaktu di kampus dulu, ayah sudah menyukainya sebelum mengenal ibumu, tapi sayangnya dulu dia lebih memilih teman ayah yang memiliki segalanya dibanding ayah yang tidak memiliki apa-apa ini.” Lirihnya seraya memandangi langit malam yang indah.


                “bagaimana ayah bisa bertemu dengan nya lagi?” tanya Andheera yang mulai penasaran dengan kisah cinta ayahnya, kemudian melepas kaitan tangannya sembari mengganti posisi duduknya, ia mencoba duduk menyamping dengan mengangkat kedua kakinya agar bisa melihat wajah ayahnya lebih jelas dari samping.


                “1 tahun ibumu meninggal, ayah kembali bertemu dengannya di rumah sakit, kala itu dia tengah melakukan pemulihan pasca operasi, dia mengalami kecelakaan yang sama dengan ibumu, jika bukan karena teman ayah yang dirawat akibat diare, ayah takan mungkin bertemu dengannya lagi.” Paparnya.


                “kalau ayah memang menyukainya kenapa putus? Apa ayah dibohongi ternyata wanita itu masih memiliki suami dan ayah orang ketiganya hahaha.” Celetuk Andheera ngasal.


                “dia belum menikah Andheera.” sahut ayahnya dengan penuh kesabaran menghadapi sikap putrinya yang sedikit menyebalkan.


                “hahh? Itu lebih tidak masuk akal, setidaknya meskipun wanita itu lebih muda dari ayah paling hanya beberapa tahun bukan, usia 40 tahun belum menikah dan belum memiliki anak?” respon Andheera.


                “dia hanya belum menikah tapi dia sudah memiliki putra, mungkin 2 tahun lebih tua dari mu.” Katanya menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi.


                “maksud ayah wanita itu…?”


                “iya lelaki yang dipilihnya ternyata meninggalkannya untuk alasan yang sama seperti dia meninggalkan ayah, jadi dia menjadi ibu tunggal sekarang.” Tambahnya.


                “semacam karma, setelah apa yang sudah wanita itu lakukan pada ayah, ayah masih tetap ingin bersamanya?”


                “karena dia cinta pertama ayah, kau tahu cinta pertama memang sulit untuk dilupakan, bahkan jika kau bersikeras menghapusnya tapi pada akhirnya kalian selalu dipertemukan kembali dengan cara yang tak terduga.” Pungkasnya sembari mengelus kepala putri kecilnya yang masih terus memandanginya dari samping.


                “ngomong-ngomong apa wanita itu tak memiliki nama ayah, daritadi ayah hanya bilang dia dia dan dia.” Protes Andheera.


                “sebut saja dia mawar.” Ujarnya tanpa ekspresi.


                “ayah.. kau sedang melawak?” Andheera malah mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan lawakan garing ayahnya.


                “tidak lucu ya?” kata Reza polos.


                “gak lucu tuh.” Ketusnya.


                “hehehe maaf, Andheera kau yakin akan melanjutkan studymu di korea?” tanya Reza, setelah selesai dengan kisah cintanya, ia tiba-tiba teringat akan keinginan putrinya.


                “iya ayah, setidaknya kalau disana aku bisa lebih dekat dengan Idolaku dan juga berbagi udara yang sama dengan Idolaku uuhhh aku sudah tidak sabar ayah hihihihi!!” seru Andheera penuh antusias yang membara dalam hatinya.


                “oke baiklah ayah akan mendukung apapun yang kau inginkan.” Sahut Reza seraya menyunggingkan senyum hangatnya ke arah putri kecilnya.


                “makasih ayah, aku sangat menyayangimu,” ucap Andheera lalu mengecup pipi ayahnya, kemudian bangkit dari tempat duduknya seraya menarik lengan ayahnya.


“ayo kita masuk Vivian mungkin sudah selesai masak aku lapar.” Sambungnya lagi masih dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya.


                “ada Vivian?” tanya Reza dalam perjalanannya menuju kediamannya bersama putrinya.


                “iya tadi aku pulang bersamanya, ayah melamun sih makanya tidak melihatku dan Vivian pulang.” Jawab Andheera yang berjalan selangkah lebih dulu dari ayahnya.


***