
Setibanya di depan ruangan Yerim, untuk beberapa saat Andheera hanya menatap lurus ke dalam ruangan dari balik jendela kecil di pintu ruangan Yerim, sama seperti tadi yang ia lakukan saat memandangi Keenan.
Dilihatnya Yerim masih terbaring lemah tak berdaya di atas ranjangnya, dengan kedua orang tua dan adik bungsunya yang tengah terduduk di sofa sembari saling menguatkan satu sama lain.
Begitu Andheera mendorong handle pintu lalu masuk ke dalam ruangan, semua mata pun tertuju padanya, bersamaan dengan kemunculan Keenan yang datang dari arah belokan pintu utama menuju ruangan Dandellion.
“mama yakin Andheera berjalan ke arah sini..?” Keenan ingin memastikan sekali lagi.
“i.. iya Keenan, kau tak percaya pada mama, dan lagi kau tak mau jelaskan pada mama siapa gadis itu..?”
Keenan tak menggubris rasa penasaran sang mama, ia malah terus berjalan seraya mengedarkan pandangannya berharap jika gadis kasar itu masih berada disini.
***
Diruangan yang berbeda, namun masih di rumah sakit Haneul Jakarta.
Tak jauh berbeda, diruangan ini pun memperlihatkan seseorang yang masih terbaring diranjangnya lengkap dengan selang infus yang menempel di punggung lengan wanita paruh baya tersebut.
Iyaa, setelah keadaan ibu Luna dan Anha sudah lebih baik, para medis pun memindahkan ibu kedua gadis tersebut ke ruang rawat inap yang berada di lantai 2.
Terlihat Anha masih mencengkram erat lengan sang ibu seraya masih memandangi wajah seorang ibu yang telah membesarkannya sampai saat ini.
Sedangkan kakaknya tengah berdiri bersandar ke dinding seraya memeluk topeng kepala boneka, sebab ia belum sempat pulang ke rumah jadi ia hanya memakai baju badut yang tengah dipakainya.
“aku mau menjenguk temanku dulu,
dan kakak disini aja, biar aku yang akan bawakan salin untuk kakak nanti.” Ujarnya seraya bangkit dari tempat duduknya kemudian pergi meninggalkan kakak nya tanpa menoleh.
Melihat sikap adiknya yang seperti itu, Luna hanya bisa terdiam pasrah dan terus meneteskan air mata kepedihannya, mengingat kebohongan yang telah ia lakukan pada ibu dan adiknya.
Begitu menutup pintu ruangan ibu sambungnya, untuk beberapa saat Anha hanya bisa terdiam dan bersandar di balik pintu ruangan, seraya berusaha mungkin menahan air mata yang seakan berlomba-lomba untuk keluar dari kedua bola matanya yang mulai kemerahan.
Sebelum akhirnya Anha memutuskan untuk mulai berjalan dan mencari ruangan karibnya, meski dengan sedikit tertatih namun Anha tetap memaksakan untuk terus melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai 7.
Namun saat pintu lift akan menutup kembali, satu tangan tiba-tiba muncul dan menahan pintu lift hingga pintu lift kembali terbuka, kemudian ia pun masuk dan berdiri disamping Anha yang tengah terdiam di sudut lift seraya menundukan kepalanya.
“kau sudah meninggalkanku, lalu kenapa kau masih belum bahagia..?” ucap seseorang yang baru saja bergabung dengan Anha di dalam lift yang hanya ada mereka berdua.
Anha pun menoleh perlahan untuk memastikan siapa lelaki yang kini berada disampingnya, dan hal yang sama pun dilakukan oleh lelaki tersebut, membuat kedua pasang mata itu bertemu.
“Jimin..” satu nama terlontar dari bibir Anha bersamaan dengan kedua matanya yang membulat juga kakinya yang tiba-tiba melemah mengakibatkan dirinya hampir terjatuh.
Dengan sigap lelaki yang bernama Jimin tersebut merangkul pinggang ramping Anha hingga wajah mereka hampir saja bertabrakan.
“lama ga bertemu kau semakin cantik Anha..” goda Jimin lengkap dengan senyum smirk nya di akhir.
Anha pun mencoba melepaskan rangkulan Jimin dari tubuhnya, kemudian melangkah ke depan untuk menjauhi Jimin yang masih memperhatikannya dari belakang.
“kenapa kau ada disini..?” tanya Anha tanpa menoleh, ia hanya melihat wajah Jimin dari pantulan pintu lift.
“bukan urusanmu.” Ketus Jimin kemudian memutar bola matanya ke arah sampingnya dan menyandarkan dirinya pada sisi lift yang lain.
“kau masih marah padaku..?” Anha kembali bersuara meskipun Jimin sudah berlaku kasar padanya.
“kalau kau memiliki otak seharusnya kau bisa berfikir sendiri, dan tak perlu bertanya..!” serunya seraya meninggikan suaranya.
Sampai di lantai 4, tak di duga ada banyak pengunjung rumah sakit yang mayoritasnya bapak-bapak yang tengah menunggu lift terbuka di luar, tak ingin Anha terhimpit oleh kerumunan bapak-bapak tersebut, dengan sigap Jimin menarik lengan Anha dan membawanya ke balik tubuhnya.
Anha hanya bisa terdiam seraya memandangi kepala bagian belakang Jimin yang tampak menjulang tinggi menutupi tubuh pendek nya. Sedangkan Jimin berusaha mungkin memblokir ruangan kecil tempat Anha berdiri dari bapak-bapak yang tampak saling mendorong 1 sama lain agar bisa muat ke dalam lift.
***
Seolah ingin memberikan ruang untuk temannya tersebut, kedua orang tua Yerim pamit sementara untuk pulang dahulu dan membawa salin, sebab berita yang mengejutkan itu membuat mereka tergesa-gesa menutup toko roti dan belum sempat bersiap untuk membawa salin menginap di rumah sakit.
Sedangkan Uju adik bungsu Yerim tengah terbaring tidur di sofa dengan boneka beruang besar kesayangannya, bocah lelaki itu baru saja terlelap tidur jadi kedua orang tuanya tidak tega untuk membangunkannya.
Andheera duduk di kursi tepat disamping ranjang Yerim, tanpa bersuara ia hanya memandangi karibnya itu selama 15 menit.
Ia merasa seperti ada sesuatu yang menusuk hati nya, melihat wajah mungil Yerim yang dipenuhi luka lebam juga lengan dan kakinya yang dipenuhi goresan. Membuat Andheera tak dapat berkata-kata dan hanya memandanginya dengan tatapan pilunya.
“bagaimana mungkin dia hanya diam saja ketika ada orang-orang yang mengganggunya..” gumam Anha yang tiba-tiba saja hadir diantara Andheera juga Yerim yang masih tertidur.
“padahal dia bisa melawan dengan kekuatan yang dia miliki.” Tambahnya lagi lengkap dengan air mata yang mulai membahsahi kedua pipinya.
Anha pun berjalan kembali mendekat ke arah sisi yang lain, untuk bisa melihat lebih jelas bagaimana rupa wajah karibnya itu yang kini di penuhi lebam dan luka goresan di sekujur tubuhnya.
“kau baik-baik saja Anha..?” tanya Andheera saat matanya beralih memandangi Anha, ia melihat seperti kedua mata Anha sudah menangis sebelumnya.
“tidak.. aku tidak baik-baik saja.” Gumamnya pelan seraya masih memandangi wajah karibnya yang terbaring tak berdaya.
“apa yang terjadi..?” tanya Andheera kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan perlahan menghampiri Anha.
Alih-alih menjawab pertanyaan Andheera, gadis malang tersebut tiba-tiba berbalik lalu memeluk Andheera yang sudah berada di belakangnya bersamaan dengan tangisan yang memecah keheningan kala itu membuat Andheera semakin bertanya-tanya.
‘apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku bisa ada di situasi seperti ini..? batinnya seraya memandangi wajah Yerim.
10 menit kemudian..
Setelah Anha berhasil menenangkan dirinya, mereka berdua pun memutuskan untuk mengobrol di depan ruangan Yerim, sembari duduk di bangku panjang yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
“seharusnya aku menolak ketika kakak ku bersikeras untuk mendaftarkanku ke SMA Kirin, harusnya aku bisa melihat kesulitan kakakku, padahal aku tak memiliki hubungan darah dengan ibu dan kakak ku, tapi mereka berdua begitu banyak berkorban untukku.
sekarang apa yang harus aku lakukan..?” cerita nya seraya memandang lurus ke dinding yang berada dihadapannya.
“apa maksudmu..?” tanya Andheera yang belum mengerti apa yang dikatakan temannya tersebut.
“kakak ku..
ternyata selama ini dia berbohong tentang pekerjaannya, dia gak bekerja sebagai staf admin di sebuah perusahaan,
dia hanya.. hanya menjadi badut di jalanan, dan ibuku memergoki kakaku hari ini hingga ibuku terkena serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit ini.” Jelasnya .
“aku sangat merasa bersalah, Andheera, sampai aku tak mampu menatap kedua mata kakakku dan pergi begitu saja..” tambahnya seraya menyeka air matanya yang masih menetes mengalir membasahi kedua pipinya yang gembil.
Kau akan pindah sekolah..?” respon Andheera seraya melirik ke arah Anha yang menundukan kepalanya karena tak kuasa menahan tangis pilunya.
“aku..” sahutnya dengan nada lirihnya.
“sudah terlambat untuk kembali, yang bisa kau lakukan saat ini hanya terus melangkah hingga kau bisa mencapai tujuanmu, kemudian balaslah semua kebaikan yang sudah ibu dan kakakmu berikan selama ini.
Karena jika kau berfikir untuk berhenti sekarang, kau hanya akan membuat pengorbanan kakakmu selama ini sia-sia.” Ucap Andheera, membuat Anha ikut menoleh hingga mereka pun saling memandang satu sama lain.
“makasih Andheera..” gumam Anha seraya menyunggingkan senyum tipisnya untuk karibnya itu, sedangkan Andheera malah tampak malu-malu kemudian memalingkan wajahnya ke sisi yang lain, Anha hanya bisa tertawa kecil melihat sikap karibnya tersebut.
***
Di tempat yang berbeda.
Begitu kelas terakhir selesai, Jesy dan Joan langsung berlarian menuju parkiran khusus sepeda dengan ransel yang cukup besar di punggungnya.
Namun ketika Jesy melewati kelas Ben, ia sempat menabrak salah seorang siswi dari kelas Ben hingga dirinya harus meluangkan waktunya sebentar untuk meminta maaf, sebelum ia berlari kembali menyusul Joan yang sudah mendahuluinya.
Ben pun tak sengaja melihat Jesy yang berlarian di lorong sekolah, membuatnya khawatir karena takut terjadi sesuatu pada gadis tersebut, tanpa berfikir panjang lagi kedua kaki Ben refleks langsung mengikuti arah kemana Jesy berlari.
“eh.. Ben.. KAU MAU KEMANA..?!” panggil Ryujin yang terkejut kala Ben yang berlari melewati dirinya.
Namun sepertinya Ben tak menghiraukannya, lelaki itu terus berlarian mengikuti gadis yang tak berada jauh di depannya.
“Ben kenapa sih..?
Bukannya hari ini di ada jadwal latihan.” Gumamnya seraya mengerutkan keningnya.
Sesampainya di parkiran sepeda.
“Jesy.. Joan.. huuhh.. hahhhh.. (panggil Ben seraya maasih mengatur pernafasannya)
kalian mau kemana sampai berlarian begini..?” tanya Ben yang tampak sedikit kelelahan.
“kenapa kau mengikutiku..?” Jesy malah tanya balik seraya menaruh tas di keranjang sepeda kemudian menaiki sepedanya.
“kau di bonceng Ben aja biar cepet sampe, kita ketemu dirumah sakit ya.. bye.” Pamit Joan kemudian langsung mangayuh sepedanya dengan kekuatan penuh meninggalkan kembaran juga temannya yang masih saling bertatapan.
“rumah sakit..?
Siapa yang sakit, Jesy..?” tanya Ben lagi penasaran.
“kak Yerim, sudah ya aku harus pergi sekarang.” Pungkas Jesy yang tak berniat untuk mengajak Ben.
“aku akan mengantarmu kesana..” seru Ben seraya menahan sepeda Jesy dengan genggaman tangannya.
“tidak, kau harus kembali ke agensi, aku tak mau kau dimarahi managermu Ben..” tolak Jesy, sebab kini temannya tersebut bukan lagi teman yang bisa bebas di ajak kemana pun pergi seperti sebelumnya.
“minggir, kau duduk dibelakang..!” perintah Ben seraya mendorong pelan Jesy untuk mundur dan duduk di kursi penumpang hingga dia bisa mengambil alih posisi duduk Jesy diawal.
Jesy tak dapat berkata-kata lagi, ia pun akhirnya menurut dan mengikuti perintah Ben.
“pegangan yang kuat, aku akan membawamu secepat mungkin..!” tambah Ben yang kemudian langsung mengayuh sepedanya untuk menyusul Joan yang telah lebih dulu pergi.
“rumah sakit Haneul..” ucap Jesy seraya memeluk erat Bennedict yang kini tengah duduk di depannya.
Begitu sepedanya keluar dari parkiran, samar-samar ia melihat satu mobil yang terparkir tak jauh dari halaman sekolah, juga beberapa lelaki dewasa tampaknya tengah menunggu di depan mobil seraya melipat kedua tangannya.
Iyaa kedua lelaki tersebut adalah Min yonggi juga sang manager yang tengah menunggu kehadiran Ben, seperti biasanya Min yonggi memang yang paling rajin mengantar jemput Ben ke sekolah.
Meski dirinya tau akan dimarahi jika ia nekad pergi dengan Jesy, namun ia tak perduli, baginya saat ini Jesy adalah yang terpenting untuknya.
“Hey.. itu bukannya Ben..” ucap Min yonggi yang melihat kemunculan Ben dengan sepeda dan tengah melaju cepat ke arahnya.
“dimana..” tanya sang manager yang kemudian ikut melihat ke arah yonggi lihat.
“eehh.. HEY BENNEDICT..!!” teriak Yonggi ketika Ben melewatinya dengan kekuatan penuh dan mengabaikan dirinya.
“BENNEDICT..!!” teriak sang manager.
“dia melihat kita kan barusan..?” gerutu sang manager seraya menoleh ke arah Yonggi.
“kurasa begitu..” sahutnya yang masih terus memandangi jalanan yang telah di lewati Bennedict.
“lalu siapa tadi gadis yang di boncengnya, waah.. ini tak bisa dibiarkan..!” ocehnya kemudian berbalik untuk masuk ke dalam mobil dan hendak menyusul Ben.
“tunggu, om Lucky sebaiknya kembali ke agensi aja, aku yang akan membawa Ben kembali nanti.” Ujar Yonggi.
“tapi..”
“percaya padaku, aku akan membawanya sebelum sesi latihan kita berakhir.” Tambah Yonggi yang mencoba meyakinkan sang manager untuk menyerahkan tugas ini padanya.
“o..oke baiklah.” Lukcy sang manager pun akhirnya mengalah dan membiarkan Yonggi yang akan membawa adik bungsunya untuk kembali ke agensi.
Sementara itu di tengah perjalanan Bennedict juga Jesy menuju rumah sakit Haneul.
“HEY..!! jangan tarik bajuku seperti itu Jesy..!” teriak Ben, sebab lengan Jesy mencengkram erat baju seragam Ben hingga bajunya pun perlahan naik ke atas sampai terlihat perutnya yang sudah mulai membentuk roti sobek.
“aku gak bisa, gimana nanti kalau aku terjatuh..!” sahut Jesy yang masih mencoba bertahan dengan mencengkram kuat baju seragam Bennedict.
Meski usianya yang baru menginjak 16 tahun namun berkat olahraga juga nge-Gym yang rutin setelah ia memulai trainnenya di agesni BangQit, membuat tubuhnya kini di penuhi otot-otot yang banyak disukai oleh gadis-gadis masa kini.
Ben ingin berhenti sejenak dan membenarkan baju seragamnya yang sudah terangkat cukup tinggi, namun ia teringat kembali jika ia harus cepat sampai di rumah sakit seperti yang sudah Joan katakan, karena Joan pun kini sudah jauh dari pandangannya bahkan sudah hampir tak terlihat.
Alhasil Ben pun mengurungkan niatnya untuk berhenti dan membiarkan perut nya yang sixpack tersebut menjadi konsumsi publik kala itu, sebab Jesy masih tak mau melonggarkan cengkramannya, mungkin karena laju sepedanya begitu cepat hingga ia refleks menarik baju seragam Ben.
***
Bennedict