To My Youth

To My Youth
BAB 91



1 jam berlalu setelah insiden pemukulan Keenan pada Oliver yang ternyata adalah paman dari Andheera, dan juga ayah dari Bennedict kecil yang pernah bermain-main dengannya sewaktu dikampung.


Mereka semua berkumpul diruang tengah seraya menunggu Andheera mengobati luka goresan di sudut bibir Oliver yang disebabkan oleh tonjokan maut Keenan. Yesa dan Jennie duduk berdampingan disebuah sofa yang hanya menampung 2 orang.


Dan diseberang juga ada 3 serangkai yang mencoba membagi tempat duduk meski salah satu diantara mereka harus dipangku, sebab sofa tersebut hanya muat untuk 2 orang, yang dipangku tidak lain adalah Hanyoora, iya gadis yang paling kurus diantara kedua temannya tersebut, ia duduk diantara paha kedua temannya agar tidak menghalangi wajah salah satu temannya, ia memutuskan untuk duduk ditengah-tengah.


Sementara itu di sofa yang lebih lebar ditempati oleh Keenan, Oliver juga Andheera yang berada ditengah keduanya.


“aaww..” ringis Oliver yang sedikit merasakan perih pada luka dibibirnya.


“tahan paman jangan bergerak terus.”


“iya nih, padahal cuma luka kecil kaya gitu aja.” Celetuk Vivian yang langsung di respon lirikan sinis Oliver.


“apa..?” ketus Vivian yang tak suka dengan tatapan Oliver.


“lagian juga sebenarnya paman yang salah kan, siapa yang ga berfikiran negative melihat sikap paman seperti di video call tadi.” Timpal Hanyoora yang ikut membela Vivian.


“udah..udah sebenarnya kita juga salah, karena langsung menyimpulkan segala sesuatu tanpa bertanya lebih dahulu.” Ucap Anha yang mencoba menengahi.


Sedangkan baik Yesa maupun Jennie hanya terdiam mendengarkan percakapan yang terjadi didepan mereka tanpa ada hasrat ingin mencampuri, karena memang mereka cukup tahu diri untuk tidak melibatkan diri pada apa yang bukan masalah mereka berdua.


“kau ini memihak pada siapa sih..!” ketus Vivian seraya menyenggol bahu Anha.


“ciihh..!!” Oliver hanya mendengus kesal sebab tak tahu harus berkata apa untuk melawan kedua gadis bar-bar yang berada dihadapannya.


“tunggu..


Tadi kau panggil dia siapa..? Keenan..? bagaimana mungkin.” Ucap Oliver yang langsung mengalihkan perhatiannya pada lelaki yang berada disamping Andheera.


“apanya yang bagaimana mungkin..? memangnya paman pernah bertemu dengan Keenan sebelumnya..?” celoteh Hanyoora yang mewakili Keenan untuk merespon perkataan Oliver.


“tentu..


Dulu kau gendut, hitam dan bahkan lebih pendek dari Andheera.” Paparnya.


“AHAHAHAHAA..!!!”sebuah tawa membahana terdengar begitu nyaring dari kubu sebelah yang sedari tadi hanya terdiam menyimak, Jennie tak tahan menahan tawanya sebab yang dikatakan Oliver memang benar adanya, sebab ia juga pernah melihat rupa Keenan dahulu sebelum pindah ke Yogyakarta.


“astaga..” kaget Yesa.


Mendengar tawa ejekan itu Keenan pun langsung menatap sinis Jennie seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.


“apa..?


Memang benarkan dulu kau seperti itu, kau pernah menunjukan foto masa kecilmu padaku.” Ungkapnya seraya masih diselingi tawa gelinya mengingat kembali foto yang pernah Keenan tunjukan padanya.


“JENNIE..!!” panggil Keenan seraya meninggikan suaranya mencoba untuk menghentikan ocehan karibnya tersebut.


“apa..?!” bela Yesa yang langsung memelototi Keenan karena tak suka jika kekasihnya disentak seperti itu.


“sudahlah, kalian seperti anak kecil aja.” Andheera menengahi seraya membereskan alat P3K yang telah selesai dipakai dan berniat untuk mengembalikannya ke tempat semula.


“kak Keenan, untuk merayakan kakak kembali bertemu dengan Andheera bagaimana kalau malam ini kita liburan ke villa ku yang ada dikota XXX, ada pantainya juga loh disana kak.” Ajak Hanyoora seraya berlari kecil menghampiri Keenan lalu duduk disebelahnya.


“yoora, sejak kapan kau dekat dengan Keenan..?!” protes Yesa yang tak suka sebab adiknya itu malah terlihat akrab dengan Keenan yang ia fikir adalah rivalnya dalam meraih cinta Jennie.


“iya boleh juga tuh, besok kan sudah akhir pekan ayo kita bersenang-senang.” Seru Vivian yang juga ikut berlari mendekati Keenan ke sisi sebelahnya dan menggeser sedikit tubuh Oliver secara kasar.


“ayoo, kakak yang akan mentraktir semua makanannya nanti..” respon Keenan diiringi dengan senyuman merekah yang menambah ketampanannya kala itu.


“waaahh bener niiih, kak Jennie ikut dong boleh ga..?” timbrung Jennie yang tak mau ketinggalan.


“kenapa ngga, ayoo..!!” seru Hanyoora yang kemudian bangkit dari sofa disusul dengan Vivian yang juga ikut bangkit dari tempat duduknya seraya memandangi Hanyoora penuh arti dan langsung dibalas hal serupa oleh Hanyoora, seolah mereka berdua tengah merencanakan sesuatu dalam hatinya, mereka berdua tampak mencurigakan.


“kenapa kalian berdiri..?” tanya Andheera yang berjalan menuju ruang tengah hendak bergabung kembali dengan teman-temannya.


“AYOO SEMUANYA..!!” seru Hanyoora yang memimpin kemudian menarik Andheera keluar dari aparteman.


“ada apa sih..?” tanya Andheera kebingungan.


“hanya jalan-jalan, ayoo..” respon Vivian yang kemudian ikut menarik lengan Andheera yang 1 nya.


“tunggu, ponselku, dompetku didalam..” Andheera mencoba mengelak namun baik Vivian maupun Hanyoora tak melonggarkan genggaman lengannya.


“jadi beneran sekarang nih..? tapi aku kan belum persiapan apa-apa.” Gumam Jennie yang juga bangkit dari sofanya disusul dengan Yesa, Keenan juga Oliver yang merasa masih kebingungan.


“sudahlah, kita bisa membelinya nanti, tidak ada waktu untuk pulang dulu kerumah masing-masing.” Balas Keenan yang kemudian berjalan keluar hendak menyusul ketiga gadis SMA yang sudah lebih dahulu pergi.


Sementara yang lain sudah mulai menyusul teman-temannya, lain hal nya dengan Anha ia berjalan menuju kamar Andheera untuk menemukan ponsel juga dompet milik Andheera untuk memenuhi permintaan dari Hanyoora barusan.


Saat ia kembali melewati ruang tamu, ia melihat Oliver masih terduduk diatas sofa seraya menonton siaran televisi.


“paman ngga ikut..?” tanya Anha.


“tidak, paman tidak mau mengganggu kalian semua.” Lirihnya seraya tetap terfokus pada siaran televisi didepannya.


“kenapa bilang begitu, jangan dimasukan ke hati perkataan teman-temanku tadi, sebenarnya mereka baik kok, ayolah ikut saja.” Ajak Anha lembut yang tetap berdiri disamping sofa Oliver untuk menunggu respon Oliver.


“Benarkah..?” ucap Oliver seraya menatap ke arah Anha.


“iya, ayo paman.” Ajaknya lagi seraya menarik lengan paman Oliver untuk bangkit dari sofanya.


“oke sebentar, kau duluan saja nanti paman menyusul secepatnya, ada yang perlu paman ambil dikamar.”


“oke, cepat ya.” Kata Anha yang kemudian berjalan pergi lebih dulu, sedangkan Oliver bergegas pergi ke kamarnya setelah mematikan siaran televisi yang tengah berlangsung.


***


Didalam mobil Vivian yang dikemudikan oleh Keenan, beranggotakan Andheera yang duduk disamping supir, Vivian, Hanyoora dan Anha yang berada dikursi tengah, dan terakhir ada Oliver yang mendapat tempat duduk dikursi belakang sendirian.


Sedangkan 1 mobil lainnya hanya berisikan 2 orang, Jennie dan Yesa.


“sebenarnya mau kemana sih, tiba-tiba sekali.” Ujar Andheera yang masih kebingungan dengan situasi yang terjadi saat ini.


“kita mau berlibur ke pantai!!..  yuhuuu!!” seru Hanyoora seraya mengangkat 1 lengannya yang masih terbalut kain kassa.


“apa?!” kaget Andheera.


“ohh iya, kurasa masih ada yang harus diajak deh, siapa ya?” gumam Hanyoora seraya melirik ke kedua teman yang berada disisi kanan dan kirinya.


“ohh iya, boleh ku ajak kak Brian?” sahut Vivian yang tak kalah antusias.


“Vian..!” panggil Andheera seraya melirik penuh arti pada Vivian, seolah ia tengah memberikan sebuah kode.


“Brian?” ulang Keenan sebab tak asing dengan nama tersebut, mungkinkah Brian yang dimaksud adalah Brian yang ia kenal.


“tidak, bukan siapa-siapa, ajak kak Yonggi aja atau Jaehyun.” saran Andheera yang mengubah topik pembicaraannya.


“kau bercanda..?! kau ingin membuat huru-hara disana.” Celetuk Hanyoora.


“kalau begitu boleh aku mengundang seseorang juga?” tanya Anha yang mulai ikut nimbrung dengan nada suara yang tampak ragu-ragu.


“ya tentu dong, kenapa tidak.” Respon Vivian. “memangnya siapa..?” tanyanya lagi penasaran.


“Jaehyun atau kak Yonggi ya.” Gumam Hanyoora bingung.


“sudah, keduanya ajalah, hitung-hitung kau jadi bisa melihat siapa yang lebih tulus menyukaimu.” Sahut Andheera seraya menoleh ke bangku belakang diiringi dengan senyum jahilnya.


“kak Yonggi siapa..?” tanya Vivian yang memang belum pernah bertemu dengan Yonggi.


“dia mantan Hanyoora.” Celetuk Anha yang mewakili Hanyoora menjawab.


“jadi kau ingin mengundang kedua mantan pacarmu?! waaahh..” seru Vivian lengkap dengan ekspresi berlebihannya. “sepertinya hanya aku yang tidak memiliki pasangan saat ini, menyedihkan.” lanjutnya dengan diselipkan sebuah isakan palsu untuk menambah bumbu dramatis.


“jangan sedih, aku akan mengajak kak meda untuk bergabung.” Ucap Andheera seraya mengetikan sesuatu di ponselnya.


“tambah menyedihkan dong, sesama jomblo bergabung ditengah pasangan yang bermesraan, hufft.” Keluhnya yang kemudian disambut dengan gelak tawa dari semua teman perempuannya.


“HHAHAHAHAAA..!!!”


Sementara itu dikursi belakang, Oliver hanya tersenyum tipis, mendengar suara tawa bahagia dari keponakan juga teman-temannya.


“mungkinkah setelah kejadian ini, Andheera masih tetap kekeh ingin pergi, mudah-mudahan saja kenyamanan juga keperdulian yang teman-temannya berikan bisa merubah rencana kepergian Andheera.” Batin Oliver.


***