
Sesampainya di panti asuhan Cameron Jakarta.
Vivian menghentikan langkahnya sejenak, untuk memandangi keseluruhan suasana panti Cameron yang pernah menjadi tempat tinggalnya, sebelum kakeknya menjemput dirinya.
Hampir 4 tahun berlalu, segalanya masih terlihat sama disini tak ada yang berubah sedikitpun, baik halaman maupun Panti Cameron itu sendiri.
Sementara itu Brian yang berjalan lebih dulu, menyadari jika Vivian tak lagi ada dibelakangnya ia pun menoleh ke belakang, benar saja gadis itu masih berdiri seraya menatap panti Cameron dengan tatapan yang penuh dengan kenangan dimasa lalu.
Dalam bayangan Vivian, sebuah cuplikan ditayangkan dalam benaknya kenangan masa kecilnya bersama teman-teman panti Cameron, juga Brian dan Tsuyu yang tengah berlarian kesana kemari mengelilingi panti Cameron, dipenuhi teriakan bahagia serta tawa lepas yang begitu nyaring.
Mereka semua bersenang-senang dalam permainan yang mereka buat, bahkan dulu hal sederhana pun bisa membuatnya tersenyum bahagia, mungkin hanyalah PR matematika yang menjadi hal terberat dirinya kala itu.
Tapi kini semuanya tak lagi sama, sejak kepergiannya meninggalkan Brian demi kehidupan mewah yang ia rasakan sekarang, secara materi semua terpenuhi namun tidak dengan hatinya yang penuh dengan kepalsuan.
Seolah ia sudah merelakan suatu yang berharga, demi memiliki sesuatu yang belum pasti membuatnya bahagia seperti dahulu.
“kau tak akan masuk?” Brian akhirnya menghampiri Vivian, setelah menunggu beberapa menit Vivian masih juga tak bergeming dari tempatnya.
“teman-teman bukankah itu kak Vivi!!” seru salah seorang bocah lelaki yang muncul dari belakang panti Cameron.
Mendengar nama yang familiar disebut, semua bocah yang berada di belakang panti Cameron berhamburan menghampiri bocah lelaki tadi.
“mana mana?” saut bocah yang lain begitu antusias.
“itu kak Vivi.” seraya menunjuk ke arah Vivian.
“Kak VIVIIII!!!” seru semua bocah panti kompak lalu menghambur ke pelukan Vivian, membuat Brian terpaksa harus mundur memberikan ruang yang cukup untuk mereka semua berpelukan.
Vivian merendahkan tubuhnya untuk menyambut pelukan hangat dari adik-adiknya dengan penuh haru, hingga tanpa sadar pipinya sudah basah oleh derai air mata yang tak bisa lagi ia tahan.
Tak hanya Vivian, Brian pun yang melihat adegan penuh haru itu ikut merasakan emosi dalam hatinya, perasaan haru bahagia setelah sekian lama kini akhirnya bisa berkumpul kembali bersama.
Selang beberapa menit mereka melepas kerinduan, Vivian melihat seseorang yang tak asing baginya, seorang gadis yang duduk dikursi roda dan satunya lagi yang tengah mendorongnya, mereka berdua mencoba mendekat untuk bergabung dalam pertemuan hangat di halaman panti Cameron.
Vivian pun bangkit seiring dengan para bocah yang melepas peluk harunya, seolah mengerti mereka semua memberikan ruang untuk Vivian berjalan mendekati teman sebayanya yang duduk dikursi roda.
Meski sekuat tenaga Vivian menahannya, namun tangis itu pecah saat Nayung merebahkan kedua lengannya, tanda ia ingin Vivian lebih mendekat agar ia bisa memeluknya.
“karena datang sangat terlambat, maaf.. maafkan aku hikss..hikss.. maaf Nay.” Vivian terus terisak dalam dekapan teman kecilnya itu.
“tak apa Vivi selama kau bahagia disana.” Suara lembutnya mampu menenangkan Vivian dari isak tangisnya, ia menjadi lebih baik setelah Nayung membelai rambut Vivian dengan penuh kasih sayang.
Karena tak bisa berbicara, satu teman Vivian yang tadi mendorong kursi roda, yang bernama Elis hanya ikut tersenyum bahagia merasakan kehangatan yang terjalin di antara kedua temannya, seraya menyeka air mata bahagianya sesekali.
***
Sebelumnya,
Begitu latihan selesai dan Jaehyun pun sudah pulang.
Di kamar Lyra, “aku harus pulang, jika tidak Oppaku akan mengomel, Kak Lyra gak apa-apa kan sendirian?” tanya Andheera yang masih khawatir dengan kondisi Lyra.
“iya pulanglah, lagipula kakak juga sudah benar-benar sehat kok, seharusnya tadi kau mengantarkan kakak pulang saja daripada membawaku ke Apartementmu.” Ujarnya.
“tunggu sampai orang-orang yang menusuk Kak Lyra tertangkap.” Ucapnya seraya melirik jam yang berada di meja disamping ranjang Lyra.
“kau melaporkannya ke polisi?” tanya Lyra seraya mengerutkan dahinya.
“tidak, ada yang lebih bisa ku andalkan daripada polisi hehe.” Pungkasnya kemudian pergi meninggalkan Lyra sendiri di apartemennya.
***
Malam harinya, di ruang tamu kediaman Reza Alvharez.
Kedua kakak beradik itu tengah anteng bermain PS selagi menunggu sang ayah pulang, Andheera kali ini bersedia untuk menemani kakak nya bermain.
Tapi seperti yang sudah-sudah permainan antara kakak beradik itu tak pernah berjalan dengan damai, sebab keduanya selalu bermain curang dengan mengganggu ataupun menyenggol siku, hingga selalu terjadi perdebatan sengit diantara mereka.
“HEY!! Apa kau akan terus curang seperti ini.” Geram Andromeda mulai kewalahan jika Andheera sudah memakai kekuatan fisiknya.
“aku mengganggu oppa, karena oppa tak pernah membiarkanku menang sekalipun!!” Andheera tak kalah menyalak masih fokus pada permainannya.
“oppa tak membiarkanmu karena kau selalu bermain curang.” Balasnya lagi seraya mengumpulkan seluruh kemampuannya untuk mengakhiri permainan dengan kemenangannya.
Lagi-lagi untuk yang ketiga kalinya Andromeda mengalahkan adik perempuannya, amarah adiknya pun memuncak seiring dengan tawa Andromeda yang membahana merayakan kemenangannya berturut-turut.
“OOH SHITT YAAA!!” Andheera membantingkan stick ps yang digenggamnya, hingga membuat Andromeda berhenti tertawa karena terkejut melihat stick ps nya dibanting oleh adiknya yang bringas itu, kemudian melirik ke arah Andheera yang juga tengah memandanginya dengan tatapan tajamnya.
“oppa bosan hidup?” ucap Andheera sebelum menerkam Andromeda, lalu mengacak-ngacak rambutnya tanpa ampun.
Meski kakaknya itu berkali-kali meringis kesakitan, namun Andheera seolah tak perduli, ia malah menambah kebringasannya dengan memukul-mukul Andromeda memakai bantal kursi.
“tidak.. tidak oppa ingin hidup sampai 100 tahun lagi.” Serunya seraya menahan pukulan bantal kursi dengan kedua telapak tangannya agar tidak mengenai tubuhnya.
“oppa seharusnya mengalah selagi aku masih manis PADAMU!!” ujar Andheera yang terus meninggikan nada suaranya.
“oppa akan mengalah jika kau tak bermain curang!!” bantah Andromeda yang tak ingin mengalah pada adik satu-satunya.
“kalian sedang apa?” timbrung ayahnya yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“oppa, ayah..” rengek Andheera lengkap dengan nada seorang bocah yang tengah mengadu pada ayahnya.
“oppa selalu memaksaku untuk bermain PS dengannya, tapi oppa tak pernah mau mengalah padaku huuu huuu huuu!!!” serunya sembari menambah suara tangis palsu diakhir kalimatnya.
“bu..bukan begitu ayah, itu karena Andheera selalu curang.” Sanggah Andromeda yang masih tak mau mengalah.
“sudah sudah, kau ingin es krim strawberry Andheera?” ujar ayahnya menyudahi pertikaian antara kakak beradik itu seraya menyodorkan satu kresek penuh pada Andheera.
Seolah telah melupakan apa yang terjadi sebelumnya, gadis manis itu langsung menyambar kresek yang diberikan ayahnya, kemudian mengeluarkan 1 cup besar es krim varian strawberry dan menyantapnya dengan ganas.
Sama hal nya dengan Andheera, kakaknya juga ikut mencari es krim favoritenya varian choco mint, kemudian menyantapnya bersama adik perempuannya yang sudah berhenti merajuk, sebab kini ia terlalu asik menikmati es krim strawberry nya.
Begitulah akhir dari perdebatan yang terjadi antara Andheera dan Andromeda bisa teralihkan hanya dengan cemilan yang mereka sukai.
Sementara itu Reza berniat untuk duduk-duduk sebentar menemani kedua anaknya yang tengah menikmati es krim, sebelum pergi ke kamar untuk membersihkan tubuhnya.
“oppa..” gumam Andheera masih sembari menikmati es krimnya.
“hmm..” saut Andromeda.
“bagaimana rasanya memakan pasta gigi?” goda Andheera membuat Andromeda kembali kesal.
“Andheera!!” serunya dengan nada merajuk.
“hihihi..” Andheera hanya membalasnya dengan cengengesan.
“besok ayah libur kan, bagaimana kalau kita piknik ke taman?” kata Andheera sembari menunjukan wajah imutnya agar keinginannya itu terkabul.
“setuju!!” tanpa berfiklir dahulu Reza langsung mengiyakan ajakan putri kecilnya itu.
Kemudian disambut dengan teriakan gembira dari kedua anakanya, mengingat sudah lama mereka tidak memiliki waktu untuk bermain bersama-sama.
Sejak Andromeda mulai bekerja dan ayahnya yang kini jarang berada dirumah, sebab lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor.
***
Kamar Vivian.
Bertemu dengan teman-teman lama membuat hatinya kini merasa lebih nyaman, meski sempat ragu pada awalnya, ia sangat takut jika teman-temannya menolak kehadiran dirinya.
Namun itu semua hanyalah kekhawatiran yang tidak perlu, karena pada nyatanya semua teman-temannya menyambut dirinya dengan penuh senyum dan rasa syukur.
Vivian memandangi dirinya sendiri di depan cermin yang seukuran dengan tinggi tubuhnya, kemudian pipi gadis gembil itu terangkat, tampak pancaran kebahagian dalam senyum lebarnya.
Mengingat kembali hal yang dilakukannya hari ini bersama dengan teman-teman panti Cameron membuat beban dalam hatinya sedikit terangkat.
***
Keesokan harinya.
Masih di kediaman Reza, ayah tunggal itu mencoba untuk membantu sang asisten rumah tangga yang tengah menyiapkan berbagai macam makanan, selagi menunggu kedua anaknya terbangun dari tidurnya.
Namun tampaknya hal tak terduga telah terjadi, sekretaris Reza berjalan cepat menghampiri Reza di dapur kemudian membisikan sesuatu ke telinga Reza yang membuatnya kehilangan control dirinya.
Sampai ia menjatuhkan beberapa makanan yang tengah dipegangnya untuk dimasukan ke kotak makan, dengan celemek yang masih menempel ditubuhnya Reza berlari keluar diikuti oleh sekretarisnya dibelakang menuju mobil yang terparkir di depan rumah.
Saat ini fikiran dan jiwanya hanya tertuju pada satu nama yang tak lain adalah mantan kekasihnya, sampai ia lupa untuk mengabari kedua anaknya yang masih tertidur lelap di kamarnya.
Layaknya seorang pembalap, Reza terus memacu kendaraannya agar bisa cepat sampai di rumah sakit, sementara itu sang sekretaris yang duduk di sampingnya terlihat begitu pucat pasi seraya memegang kuat-kuat pegangan mobil.
Selang 1 jam setelah kepergian Reza.
Andheera turun dari kamarnya masih menggunakan piama tidurnya yang bergambarkan kartun Tata, gadis cantik itu perlahan menuruni tangga dengan sesekali masih menguap karena setengah jiwanya masih di alam mimpi.
Mencium aroma wangi makanan ia pun langsung mengarahkan kakinya menuju dapur.
“uhhh.. wanginya enak sekali.” Ujarnya saat sampai di dapur.
“iya ini tadi tuan Reza yang buat lho non, cuma tadi sepertinya tuan ada masalah dikantor jadi buru-buru pergi dengan sekretarisnya.” Kata bi Dharma yang langsung menyimpulkan menurut pendapatnya.
“begitu? Hmm sudah kuduga akan seperti ini.” Sahutnya seraya mencicipi beberapa makanan yang ada dihadapannya.
“nona.. nona gawat nona.” Seru pak Dadan sang tukang kebun yang berlarian untuk menghampiri Andheera di dapur.
“ada apa?” tanya Andheera santai, tak terpengaruh dengan kepanikan pak Dadan.
“den meda..” sambungnya.
“kenapa dengan kakak ku?” kedua mata Andheera sontak membulat kala ia mendengar nama kakaknya disebut dalam kepanikan tukang kebunnya.
“den meda digudang.” Lanjutnya lagi.
“apa?!! bagaimana kakak ku bisa sampai gudang bukankah gudang itu selalu terkunci!” seru Andheera yang benar-benar terkejut mendengar informasi yang pak Dadan berikan padanya.
“AUGH Sial!! awasi saja dulu kakakku, jangan melakukan tindakan apapun sebelum aku datang.” Imbuhnya seraya berjalan cepat menuju kamarnya.
“ba.. baik nona.” Ucap pak Dadan.
Tukang kebun yang bernama pak Dadan itu pun bergegas untuk kembali ke gudang diikuti dengan bi Dharma yang juga mengkhawatirkan putra dari majikannya tersebut.
Sementara itu di gudang, terlihat Andromeda tengah berdiri sembari memegangi pecahan kaca.
“bukan.. bukan itu semua bukan salahku!! aku tak membunuh siapapun.” Ujar Andromeda seraya mengacungkan pecahan kaca yang ada digenggamannya lengkap dengan raut wajah yang terlihat sangat ketakutan.
“iya den meda saya percaya kok jadi tolong turunkan pecahan kacanya ya.” Seorang asisten rumah tangga baru mencoba mendekati Andromeda agar bisa mengambil kaca dari genggamannya.
Namun tindakan seorang ART baru itu malah memicu emosi dari dalam diri Andromeda, hingga Andromeda berniat untuk menyakiti dirinya sendiri dengan menggoreskan serpihan kaca itu ke bagian lehernya.
Beruntung sebelum serpihan kaca itu mendekati lehernya, tangan sigap adiknya menahan tangan Andromeda yang tengah menggenggam serpihan kaca tersebut, membuat kedua para ART dan 1 tukang kebun itu terkejut akan tindakan berbahaya yang Andheera lakukan.
Tak sampai hitungan menit, darah segar mengalir membasahi lengan piyama Andheera, menambah ketegangan situasi saat itu.
Sampai tak ada yang bergeming di tempatnya mereka semua hanya bisa menonton pemandangan mengejutkan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Saat Andromeda juga ikut terkejut dengan kemunculan adiknya yang tiba-tiba, gadis itu mengambil kesempatan untuk menusukan suntikan tepat ke leher kakaknya yang masih terdiam memandaginya.
Tak perlu waktu lama, lelaki yang terpaut 5 cm darinya pun terjatuh pingsan ke dalam pelukan Andheera yang berdiri di hadapannya.
Di depan kamar Andromeda.
Setelah Andheera memastikan kondisi kakaknya di dalam kamar baik-baik saja, ia pun keluar dengan raut wajah menakutkan seolah ia ingin menelan manusia hidup-hidup.
Sedangkan para Art yang sedari tadi sudah lama menunggu di depan pintu kamar Andromeda terlihat sedikit gugup dan takut.
Melihat hal yang tak biasa yang Andheera lakukan, ditambah dengan ekspresi Andheera yang tak tampak merasa sakit sama sekali setelah serpihan kaca itu lagi-lagi menyobek bagian telapak tangannya.
Gadis itu tetap mempertahankan wajah datarnya, membuat mereka semua berfikir jika Andheera tidak sama dengan gadis remaja pada umumnya.
“bagaimana kakak ku bisa masuk ke gudang?” pertanyaan pertama yang Andheera ajukan begitu ia keluar dari kamar kakanya, tapi tak ada 1 pun dari Art nya yang membuka mulutnya, sebab situasinya terlalu gugup bagi mereka semua.
“haruskah ku bertanya 2 kali?” lanjut Andheera masih mencoba mengontrol emosinya dengan mengepalkan salah satu tangannya.
“bibi yang membiarkan gudangnya terbuka non, bibi lupa menguncinya kemarin saat membersihkan gudang.” Sahut bi Dharma sedikit gugup.
“aku yakin itu bukan bibi, bicaralah selagi aku masih bisa mengendalikan emosiku.” Tatapan tajam Andheera mengarah pada seorang ART baru yang bernama Mira, membuat dirinya tak bisa menghindar dan akhirnya buka suara.
“ma.. maaf nona (saking ketakutan Mira pun berlutut sembari terisak menahan air matanya) aku yang memberikan kunci gudang pada den Andromeda karena den Andromeda ingin mengambil sesuatu digudang jadi aku..”
“berdiri!” perintah Andheera, Mira pun menurut kemudian berdiri dengan menundukan kepalanya, karena tak sanggup menatap langsung kedua mata Andheera yang tampak berapi-api.
“maaf nona ini salah bibi juga yang tidak memberi tahu Mira tentang gudang itu, mohon maafkan Mira untuk kali ini nona.” Timpal bi Dharma yang tak bisa membiarkan situasi semakin menegangkan untuk Mira, keponakan dari bi Rani.
“iya nona, Mira masih baru disini mohon berikan kesempatan untuk Mira saya akan mengajarinya lebih baik lagi.” Tukang kebun itu menambahkan, membantu gadis malang tersebut agar bisa dimaafkan oleh putri majikannya.
“dia sudah membahayakan kakak ku dan kalian ingin aku melepaskannya?!” Ujar Andheera seraya menatap tajam ke arah Mira yang masih menunduk ketekutan, kemudian pergi begitu saja.
Setelah memberikan sedikit penekanan pada sang ART baru, ia pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas, masih dengan kekhawatiran terhadap kakaknya, ia mencoba sekuat tenaga untuk mengontrol kendali atas dirinya.
***