
1 pekan kemudian ..
Cuaca pagi kali ini tidak begitu cerah seperti hari-hari sebelumnya, seolah langit akan menurunkan rintik hujan yang sudah lama ditahannya selama hampir 2 pekan ini.
Namun hal itu tidak menyurutkan semangat juang seorang Bennedict, yang akan melangsungkan audisinya pagi hari ini di sebuah agensi besar yang ada di kota Jakarta.
BangQit agensi.
Di temani oleh Andheera, Bennedict dengan berani melangkahkan kakinya memasuki sebuah agensi, mereka berdua langsung menuju area administrasi untuk mendapatkan nomor urutan.
Setelah berhasil mendaftar lewat online Bennedict hanya perlu mengambil nomer urut kemudian menunggu gilirannya.
“kau sudah mendapatkan nomer urut Ben..?” tanya Andromeda yang baru saja bergabung di tengah adik dan keponakannya.
“sudah.. apa aku akan lolos..?” tanya Ben sedikit gugup sebab ia melihat banyak sekali peserta yang lebih tampan juga kemampuan vokalnya benar-benar luar biasa.
“kau harus percaya pada dirimu sendiri Ben, kau pasti bisa melewatinya oke..!” kata Andheera seraya menggenggam erat lengan Bennedict yang tampak berkeringat dingin.
“kau hanya perlu menampilkan semaksimal mungkin kemampuanmu, sisanya biar kakak yang urus, mengerti.” Andromeda menambahkan sembari mengusap kepala Ben lembut juga memberikan senyum hangatnya.
“baiklah meda..” sahut Ben yang akhirnya bisa tersenyum lebar.
“kau ini..!” balas Andromeda seraya menjitak pelan kepala Ben, sebab bocah lelaki itu tak pernah mau memanggilanya kakak.
“oh iya kurasa tadi aku melihat temanmu, Andheera, sedang mengantri mengambil nomer urut.” Sambung Andromeda yang mengalihkan pandangannya pada adik perempuannya.
“siapa..?” tanya Andheera seraya mengerutkan dahinya.
“itu dia..” seru Andromeda saat orang yang tengah dibicarakannya sedang berjalan ke arahnya, refleks baik Andheera maupun Ben mengarahkan pandangnnya pada hal yang Andromeda lihat.
“kak Brian..? kakak disini..?” tanya Andheera yang kebingungan.
“kakak yang waktu itu..” gumam Ben yang ikut memandangi Brian yang baru saja bergabung diantara mereka.
“iyaa, aku menuruti saranmu untuk pindah agensi, dan mencoba peruntunganku di agensi ini.. ohh hay bocah kecil..” sahut Brian yang diakhiri dengan sapaannya untuk Bennedict.
“ahh begitu, baiklah semoga kalian berdua beruntung dan bisa debut bersama.” Kata Andheera seraya menyunggingkan senyum lebarnya untuk Ben juga Brian.
“cihh.. “ Ben berdecak kesal seraya memalingkan wajahnya dari Brian, seolah ia merasa tidak nyaman berada bersama Brian, sebab terakhir kali mereka bertemu, Brian sudah membuat teman wanita Ben mengabaikan dirinya.
“waahh itu pasti akan menyenangkan..” seru Brian sembari merangkul tubuh Ben yang masih sedikit merajuk.
“dimana Vivian, dia ngga ikut..? biasanya dia selalu menempel padamu.” Celetuk Andromeda.
“aahh dia sedang mengunjungi kedua orang tuanya di kolumbarium.” Sahut Andheera yang dibalas anggukan dari kakak lelakinya.
Note : Kolumbarium atau Rumah abu, adalah tempat penghormatan bagi orang meninggal yang telah dikremasi, dan biasanya abu jenazahnya disimpan disebuah pasu, yakni sebuah guci yang menyimpan sisa kremasi almarhum.
“amm.. noona ke toilet dulu ya.” Kata Andheera seraya tersenyum lembut ke arah Ben sebelum pergi meninggalkannya bersama Brian dan Andromeda.
“iyaa, jangan lama-lama noona.” Sahut Ben.
Dalam perjalan Andheera mencari toilet, ia malah mendapati sosok yang tak asing tengah melambaikan tangannya serta berjalan hendak menghampirinya.
“Hey.. Andheera, kau disini untuk audisi..?” tanya Anha lengkap dengan senyuman cerahnya.
“tidak, aku hanya menemani keponakanku..” jawabnya.
“ahh begitu, kau tidak berniat untuk ikut audisi gitu..?”
“tidak..” responnya malas seraya mencoba berjalan kembali, tak ingin menyerah sampai dsitu Anha tetap mengikuti langkah Andheera.
“hey apa kau tak takut keponakan mu itu dibully, kau harus menjaganya bukan..” bisik Anha seraya menyamakan langkahnya disamping temannya.
“memangnya masih jaman, adanya pembullyan di sebuah agensi, apalagi ini agensi besar.” Respon Andheera mencoba untuk mengabaikan bualan sang ketua kelas.
“kau ini..! kau tak percaya padaku, aku sudah bekerja disini selama kurang lebih 1 bulan dan aku sudah sering sekali memergoki adanya tindak kekerasan di agensi ini, Hey..! kehidupan para trainee itu sangat keras juga menyeramkan, bisa-bisa keponakanmu nanti adalah korban selanjutnya.”
Tutur Anha lengkap dengan raut wajah yang sangat mendukung membuat keyakinan Andheera sedikit goyah.
Untuk sesaat Andheera menghentikan langkahnya dan mengarahkan kedua mata tajamnya pada Anha, ia mencoba mengamati pergerakan kedua bola mata Anha.
“kenapa..?! kau masih tak percaya padaku..! baiklah ikut aku.” Seru Anha seraya menarik paksa lengan Andheera menuju sebuah lift yang akan membawanya ke lantai paling atas, tempat yang sering digunakan para senior untuk membully beberapa juniornya.
Seolah tersihir oleh perkataan Anha, ia hanya terdiam kala temannya itu menyeretnya menuju lantai atas tanpa perlawanan.
Sesampainya di lantai yang ia tuju, Anha sedikit berlari kecil dari lift dan masih menarik paksa lengan Andheera.
“memangnya gak bisa kalau berjalan saja gak per..”
“ssttt..” Anha menutup mulut Andheera begitu sampai di balik sebuah pintu.
BRUKKKKK..!! tak disangka suara hantaman keras dari balik pintu tersebut membuat Andheera tercengang seketika.
“KAU BERCANDA..!! KAU FIKIR KAU LEBIH BAIK DARIKU.. HAH..!! BAGIKU KAU ITU TAK LEBIH DARI SEKEDAR B**I GEMUK YANG MENYAKITKAN MATAKU..!!”
Suara nyaring yang disertai umpatan-umpatan kasar pun semakin menambah suasana menegangkan kala itu, membuat Andheera membelalakan kedua mata sipitnya seolah masih tak percaya dengan hal yang baru saja ia dengar dari balik pintu.
“kau percaya sekarang..?” bisik Anha.
Alih-alih menanggapi perkataan Anha, gadis itu malah langsung ngacir meninggalkannya.
“Hey..! kau mau kemana, tunggu Andheera..!” seru Anha yang berlari mencoba menyusul temannya.
***
Sementara itu di lain tempat.
-Kirin school Jakarta.
Seorang lelaki yang tak lain adalah Ray Keenan, tampak tengah berdiri seraya memandangi sekolahan elit itu dengan sorot mata tajamnya, seolah ia tengah memikirkan banyak hal dalam benaknya.
“akhirnya aku bisa menemukanmu, Andheera.” gumam Keenan yang masih memandangi bangunan yang ada dihadapannya dan diyakini adalah sekolah Andheera.
***
Dalam perjalanan Tsuyu menuju kediamannya, gadis mungil itu tak hentinya tersenyum seraya memandangi pemandangan dibalik jendela mobil.
“kau terlihat sangat bahagia sekali..” ujar Bima sang sekretaris ayahnya yang bertugas menjemput putri atasannya.
“tentu, karena aku akan bertemu dengan kakak, juga ..” Tsuyu menghentikan kalimatnya lalu tersenyum malu-malu.
“juga siapa..? pacarmu..?” goda Bima seraya melirik ke arah kaca yang menampilkan wajah memerah Tsuyu yang duduk di kursi belakang.
“hehehe..”
“kakak dengar Brian sedang audisi di sebuah agensi pagi ini, sepertinya kakakmu bersungguh-sungguh ingin menjadi seorang idol.” Tuturnya.
“padahal tuan Daniel ingin sekali menjemputmu, Tsuyu.”
“hahaha.. gak usah membual kak Bima, sejak kapan ayah memiliki waktu untuk anak-anaknya, ayah selalu sibuk dengan dunianya sendiri.” sahutnya.
“kau tak boleh begitu Tsuyu, tuan Daniel bekerja keras seperti itu..”
“hahaha kalimat klasik, sudahlah aku lelah mendengarnya, bangunkan aku setelah sampai.” Potong Tsuyu lalu berpura-pura tidur.
***
Kembali ke BangQit agensi.
Karena sudah terlambat untuk menghentikan Ben ikut audisi, pada akhirnya Andheera ikut mendaftar audisi hari itu.
Dan untungnya ada jalur khusus yang memperbolehkan pesertanya ikut audisi tanpa harus mendaftar online terlebih dahulu.
Asalkan visual memenuhi syarat bisa masuk lewat jalur khusus, namun tak hanya bermodalkan visual, peserta jalur khusus juga harus mempunyai kemampuan yang lebih dari jalur biasa, sebab biasanya hanya akan terpilih sekitar 2 atau 3 orang saja yang bisa lolos jalur khusus.
“noona.. kenapa tiba-tiba ikut audisi..?” tanya Ben, saat Andheera baru saja keluar dari ruang audisi.
“iya padahal sebelumnya kau bersikeras sekali tidak tertarik hal seperti ini..?” tambah Brian yang juga menunggu Andheera bersama Ben.
“hanya ingin saja.. kemana meda oppa..?”
“dipanggil sama rekan kerjanya barusan.” Jawab Ben. “ahh iya aku harus cepat-cepat pergi noona, aku harus membantu ibuku menyiapkan makanan, jangan lupa sore nanti kerumah yaa byeee..!” pamit Ben kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu respon dari Andheera.
“kau benar-benar luar biasa Andheera, kau bisa lulus lewat jalur khusus yang terbilang cukup sulit.” Celoteh Brian seraya menggelengkan kepala juga menatap wajah Andheera yang lebih pendek 5 cm darinya.
“apa kau bisa berjanji untukku..?” tanya Andheera seraya mulai berjalan meninggalkan area audusi bersama Brian yang juga berjalan disampingnya.
“apa..?” sahut Brian.
“tolong jaga Bennedict, saat dia sedang tak bersamaku.” Ucapnya.
“hahaha kukira apaan, tentu saja aku akan menjaganya, kau tak perlu khawatir, kau bisa mengandalkanku Andheera.” katanya lengakap dengan box smile andalannya.
Begitu sampai di depan agensi, ponsel milik Brian bergetar dalam saku celana jinsnya, tak menunggu lama ia pun langsung merogoh dan mengangkat telfonnya.
“hallo, kau sudah sampai dirumah..?” tanya Brian pada sang penelfon.
Selagi menunggu Brian menerima telfon, Andheera mencoba mengedarkan pandangannya untuk mencari sebuah café yang bisa dijadikan tempat bersantainya.
“ada apa denganmu, kenapa kau menangis..?” mendengar kepanikan Brian membuat gadis yang disampingnya berhenti dengan pencariannya dan beralih menatap Brian dengan ekspresi yang dipenuhi banyak pertanyaan.
“tidak.. tidak, jangan kembali, tunggu kakak okee..! kakak akan segera pulang.” sambung Brian lagi yang kemudian menutup telfonnya.
“kak Bri...” belum sempat Andheera mengutarakan kalimatnya, tangannya keburu ditarik oleh Brian menuju taxi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Lagi-lagi Andheera tetap diam dan mengikuti kemana orang yang menarik lengannya pergi, seolah memang ia tidak dibiarkan untuk bersuara, Andheera hanya pasrah dan terdiam.
***
Sesampainya di kediaman Kimbrian, setelah membayar ongkos taxi, lelaki yang akan menginjak usia 19 tahun itu langsung berlari masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Andheera dibiarkan sendiri dibelakangnya.
“apa ini rumahnya..?” gumam Andheera seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh area halaman luas kediaman Kimbrian.
Sampai ia menemukan sosok yang tak asing yang pernah ditemuinya, iya gadis itu muncul dari area belakang kediaman Kimbrian, dan ia terus mengamati eskpresi gadis yang tengah menyeret sebuah koper besar dengan tangannya yang tampak terluka.
“kenapa gadis SMP itu ada disini..?” Andheera bergumam lagi seraya mencoba berjalan perlahan mendekati sosok gadis tersebut.
Gadis itu adalah Tsuyu adik dari Kimbrian yang juga adalah kekasih dari kakak Andheera, gadis mungil itu terlihat tengah menyeret koper besarnya menuju sebuah taxi yang sudah ia pesan sebelumnya, dengan langkah yang sedikit tertatih ia pun memasukan koper besarnya ke dalam bagasi mobil yang dibantu oleh supir taxi tersebut.
Layaknya orang yang sangat ketakutan, gadis itu buru-buru pergi tanpa menoleh lagi kebelakang, membuat Andheera berfikir apa orang yang ditelfon Brian sebelumnya adalah gadis tersebut.
Setelah gadis itu menghilang dari pandangannya, Andheera buru-buru menyusul Brian ke dalam rumahnya.
Andheera melihat Brian yang tengah kebingungan seolah tengah mencari seseorang di lantai 2, tak sampai disitu pencariannya pun berlanjut ke bawah sembari sesekali meneriakan sebuah nama yang tengah dicarinya, tanpa memperdulikan Andheera yang sudah berada didalam.
“KIMTSUYUUUU..!!” panggil Brian yang terus mencari ke setiap ruangan.
Saat Andheera hendak menghampiri Brian, langkahnya terhenti sesaat karena ada asisten rumah tangga yang lebih dulu melewatinya dengan membawa sebuah baki yang berisikan pecahan gelas dan juga mangkuk, lengkap dengan raut wajah ketakutan yang sama percis seperti yang Tsuyu tampakan sebelumnya.
Seketika fikiran liarnya memenuhi otaknya saat itu, kedua mata tajamnya pun mencoba mencari sebuah ruangan yang diyakini tempat asisten tersebut keluar, pandangannya terhenti saat mendapati sebuah ruangan yang tak jauh darinya dengan pintu yang setangah terbuka.
Meski tubuhnya merasakan aura yang sangat menyeramkan namun ia tetap mencoba berjalan perlahan mendekati sebuah ruangan tersebut.
Dirinya benar-benar terkejut kala ia tersadar, ternyata di dalam pantulan cermin yang berada diruangan itu, ada seorang wanita dengan gaun tidur berwarna putih tengah berdiri memandangi dirinya lewat pantulan cermin tersebut, lengkap dengan senyum menyeringainya.
Saking terkejutnya Andheera hanya bisa terdiam, hanya detak jantungnya yang kini berdatak tak karuan mewakili perasaan terdalamnya yang ingin berteriak, namun ia sama sekali tak bisa mengeluarkan suaranya.
Sampai akhirnya panggilan Brian membuyarkan pandangannya.
“Andheera..”
Suara Brian seakan menarik Andheera keluar dari situasi menegangkan itu, ia pun menoleh kebelakang dengan sedikit rasa takut yang masih menyelimuti tubuhnya.
“sedang apa kau disini..?” tanya Brian.
“amm..”
“ayo kita pergi, adikku sudah kembali ke Inggris.” Ajak Brian seraya menarik kembali lengan Andheera untuk menjauh dari area tersebut.
Penasaran dengan sosok wanita yang dilihatnya tadi, Andheera pun kembali menoleh ke belakang sesaat, namun sosok itu telah menghilang bersamaan dengan pintu kamarnya yang telah tertutup rapat.
“apa aku sedang bermimpi, wanita tadi begitu mengerikan.” Batin Andheera.
***
Rumah sakit Haneul Jakarta, setelah Tsuyu mengobati luka dan membalut lengannya, ia berjalan menuju bangku taman tak jauh disekitar rumah sakit sembari masih menyeret koper besarnya.
“pada akhirnya aku melarikan diri lagi..” keluh Tsuyu seraya menghela nafas panjangnya lalu duduk dibangku untuk beristirahat sejenak.
“garis takdirmu begitu menyedihkan..” celoteh seorang wanita paruh baya yang tiba-tba saja duduk disamping Tsuyu.
Membuat Tsuyu menatap wanita tua itu dengan raut wajah kebingungan.
“garis takdirmu terhubung dengan wanita itu, jadi kau tak akan pernah bisa lepas atau menyingkirkannya, kecuali kau ikut bersamanya.” Sambung wanita tua tadi.
Tidak mengerti dengan ocehan wanita tua itu, Tsuyu memutuskan untuk pergi tanpa menanggapi perkataannya.
Ia hanya mengira jika wanita tua itu sakit jiwa hingga berbicara omong kosong.
“aku sudah terlanjur bilang akan liburan di Jakarta, aneh rasanya jika langsung kembali ke Inggris, tapi aku juga gak bisa menginap di hotel karena aku tak memiliki KTP, menemui kak Meda juga tak mungkin dengan kondisi seperti ini.. huhhh..” Tsuyu terus mengoceh sepenjang perjalanannya, mencoba memikirkan nasib dirinya yang tragis.
***