To My Youth

To My Youth
BAB 84



Rumah sakit Haneul Jakarta.


Lebih tepatnya diruangan Anha, meski sudah beberapa hari berlalu namun tampaknya sang ibu masih belum bisa menerima kebohongan dari sang kakak, terbukti dari sikap ibunya yang selalu memalingkan wajahnya dari Luna.


Tak ada yang bisa Anha lakukan, sebab ia sendiri bingung menyikapi konflik antara ibu dan sang kakak, jadi gadis malang itu hanya bisa terdiam, disaat Luna masih terus mencoba meminta maaf dari sang ibu dengan tak hentinya menguraikan air mata juga memegang erat lengan sang ibu.


Ia sendiri tahu betul tujuan Luna menyembunyikan pekerjaan yang sebenarnya adalah tak ingin membuat kekhawatiran bagi ibunya, juga ia berperan penting selain memenuhi kebutuhan sehari-hari ia pun yang bertanggung jawab atas pendidikan adiknya.


Namun bagaimana pun juga, kebohongan adalah sesuatu yang salah dan tidak bisa dibenarkan, meski untuk tujuan baik, karena pada akhirnya pasti akan ada banyak hati yang terluka.


Masih di rumah sakit yang sama, namun ruangan yang berbeda.


Ceklekk.. suara pintu ruangan terbuka.


“Hanyoora..” betapa terkejutnya saat Shana sang ibu mendapati putrinya keluar dari ruangan spesialis jiwa dengan menggenggam beberapa berkas berupa resep yang diberikan oleh dokter specialist nya, Shana yang memang pada saat itu sedang berjalan-jalan di koridor setelah beberapa menit lalu keluar dari ruang operasi.


“mama..” gumam Hanyoora pelan seraya membulatkan kedua matanya.


“apa yang kau lakukan disini..?” Tanya ibunya dengan perasaan yang semakin tak karuan, takut jika ada rekan sesama dokternya yang melihat putrinya berdiri di depan ruangan specialist jiwa, Shana pun menarik lengan Hanyoora dan pergi menjauh dari ruang tersebut.


Tak dapat mengelak Hanyoora pasrah ditarik paksa oleh sang ibu menuju baseman, area parkir para dokter rumah sakit.


Dari kejauhan ternyata sudah ada Yerim yang melihat kejadian tersebut, merasa sumpek berada terus diruangan ia pun mencoba untuk berjalan-jalan dan mampir sebentar ke kantin rumah sakit untuk membeli jajanan yang murah meriah.


“Hanyoora..” ucap Yerim yang tengah memegangi minuman kaleng ditangan kanan dan roti isi ditangan kirinya.


“apa dia sakit juga..” gumamnya seraya masih terus memandangi kepergian Hanyoora dan ibunya beberapa saat sebelum kembali ke ruangannya.


***


Dorm Yeji CS, lebih tepatnya di kamar Andheera dan Yuna.


Saat itu masih belum ada yang pulang dari kegiatannya masing-masing, ada yang masih di tempat kuliah, ada yang tengah bermain-main di agensi meski bukan pada jadwal latihan, ada juga yang sedang bermain diluaran bersama teman kuliahnya.


Hanya ada Andheera sendiri di Dorm, juga tengah membaringkan tubuhnya dikamar dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya bahkan sampai ke bagian wajahnya.


Samar-samar terdengar suara tangisan yang begitu menyedihkan dari balik selimut yang menutupi wajah gadis malang tersebut. Iya.. setelah pertemuan singkatnya dengan sang nenek, ia tak bisa lagi menahan rasa sakit yang selama ini ia simpan sendirian.


Flash back.


Keduanya duduk di bangku yang berada di area sekitar rumah abu, baik Diana maupun Andheera terdiam sejenak dengan posisi duduk yang sama-sama menempati posisi paling ujung. Seraya menatap lurus ke depan sebelum akhirnya Diana bersuara..


“pasti sangat sulit kan..?” tanya sang nenek tanpa menoleh ke arah cucu perempuannya.


Andheera tak langsung menjawab, gadis itu malah menoleh ke arah neneknya dengan tatapan penuh tanda tanya, berharap jika neneknya bisa menjelaskan lebih lanjut apa maksud dari pertanyaan tersebut.


“kau menanggung semuanya sendirian..” akhirnya Diana pun menengok ke arah cucunya tersebut yang tampak sedikit terkejut dengan lanjutan kalimatnya.


“omaa.. maafkan omma, Andheera, maafkan omma..” tangis nya pun pecah kala ia melihat wajah cucu nya yang selama ini sudah banyak menderita, membuat hati nya semakin hancur karena rasa bersalah yang tiada akhir telah membiarkan cucu perempuannya menanggung semua rasa sakit itu sendirian.


“omma, aku ga mengerti..” respon Andheera dengan kedua matanya yang mulai berair, meski belum tahu pasti apa yang terjadi, namun berada di situasi seperti ini membuat hati kecilnya pun ikut tersentuh.


Alih-alih langsung menjawab rasa penasaran Andheera, sang nenek malah memeluk Andheera erat seraya isak tangis yang sudah tak bisa ia tahan lagi.


“seharusnya omma percaya padamu saat itu, tidak.. harusnya omma mendengar penjelasanmu sampai akhir bukannya mengabaikanmu lalu menghindarimu, Andheera, maafkan omma.. maafkan omma..”


Saking terkejutnya mendengar pengakuan sang nenek, Andheera pun tak dapat berkata-kata, ia hanya terdiam dalam dekapan sang nenek dengan pandangan kosong, seolah ia masih terasa bingung dengan ekspresi apa yang mesti ia tunjukan.


Akhirnya kini sang nenek mengetahui kebenaran dibalik kisah yang selalu di ceritakan oleh Andromeda, tak ada 1 pun ingatan Andromeda yang benar, karena semuanya telah bercampur aduk dengan ingatan pahit saat ia kecil.


Membuat alam bawah sadarnya menekan dirinya untuk mempercayai hal yang ia inginkan, semua itu ia lakukan sebagai bentuk perlindungan diri, meski ia terlahir sebagai seorang kakak namun pada akhirnya adiknyalah yang selama ini selalu melindunginya.


Ia hanya berpura-pura berperan sebagai seorang kakak layaknya super hero di televisi, dan ingin melindungi adiknya dari sang ibu yang selalu memarahi dan menghindarinya, hingga timbul sebuah fikiran jahat disaat sang ibu mulai terbangun dari koma.


Andromeda takut jika adiknya akan menjadi sasaran ibunya kembali, ia pun memutuskan untuk mencabut alat yang membantu nafas sang ibu sampai sang ibu pun meregang nyawa tepat dihadapannya.


Setelah melakukan hal keji tersebut Andromeda pun tiba-tiba panik, seolah ia pun tak percaya dengan apa yang dilakukannya hingga ia tak sadarkan diri seketika, sedangkan Andheera yang berdiri disampingnya hanya melihat dengan tatapan kosong.


Sampai para medis pun berdatangan, karena suara berisik yang ditimbulkan oleh alat medis yang berbunyi.


Karena hanya ada Andheera yang berdiri disana semua orang langsung menatap nya curiga, sebab tak mungkin jik itu perbuatan kakak nya, karena jelas-jelas Andromeda terbaring dilantai tak sadarkan diri.


Tak ada yang mengetahui kebenaran ceritanya selain Andheera juga Andromeda sang pelaku, namun karena cintanya begitu dalam pada sang kakak, Andheera terus mengubur dalam-dalam kisah yang sebenarnya dan membiarkan kakaknya bercerita menurut versi ingatan yang dibuatnya sendiri.


Meski ingatan itu salah , dan tentunya berdampak besar bagi Andheera, namun ia hanya terdiam tidak mencoba untuk menghentikan kakaknya atau menceritakan yang sebenarnya pada neneknya.


Karena terbukti ia pernah sekali mencoba bercerita pada ayahnya, namun sayang ia mengabaikannya seolah ayahnya lebih percaya cerita kakak nya dari pada dirinya. Hingga ia hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ada.


“aku harus bagaimana..” ucapnya dengan diiringi rintihan tangis yang begitu menyakitkan.


***


Di kediaman keluarga Hanyoora, lebih tepatnya di kamar putri bungsu Shana.


“sakit maah..” rengek Hanyoora begitu sampai di kamarnya namun ibunya masih menggenggam erat lengannya.


“sakit..?!


Lalu bagaimana dengan mama, Hanyoora..!! kau diam-diam datang ke rumah sakit dan berobat ke dokter jiwa..? bagaimana jika ada rekan mama yang melihatmu.


apa kau sedang tertekan, Hanyoora, cerita pada mama apa yang membuatmu bisa memutuskan untuk mendatangi dokter jiwa..?!


apa karena pacarmu memutuskanmu lagi,hah..?


sudah mama bilang hanya focus pada pendidikanmu, bukannya malah sibuk berpacaran dengan lelaki yang tidak jelas..! kenapa kau selalu membuat mama mengkhawatirkanmu..”


“CUKUP..!!! hentikan maa..” teriak Hanyoora seraya melempar ponselnya ke arah cermin yang ada di belakang ibunya, hingga pecahan cermin tersebut pun berserakan dimana-mana.


Saking terkejutnya Shana saat itu, ia sampai tak bisa berkata-kata.


Aku mengerti mama ingin aku memiliki masa depan yang bagus seperti kak Yesa dan kak Joan,


tapi…


tapi ini sangat sulit bagiku maa, aku.. aku ga bisa beradaptasi dengan lingkungan kelas ku yang sekarang, banyak yang lebih pintar dariku, meski aku sudah mencoba terus belajar dan berlatih bahkan aku sampai tak memiliki waktu tidur yang cukup, aku tetap tidak bisa melampaui semua orang seperti yang diinginkan mama..!!


aku sudah berusaha mah, sampai kepalaku hampir pecah rasanya, aku terpaksa konsultasi dengan dokter jiwa karena kalian semua terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian, jika aku tidak mengeluarkan semua beban fikiranku, rasanya aku bisa GILA mah..!!” teriak Hanyoora disela isak tangisnya yang semakin menjadi, sedangkan ibunya hanya berdiri mematung seolah tak percaya jika yang dihadapannya kini adalah benar putri bungsunya.


“bahkan aku pernah berfikir untuk mati saja dari pada aku menjadi gila, dan menyusahkan mama, karena sudah gagal menjadi putri yang diimpikan mama, maafkan aku.” Pungkasnya kemudian pergi meninggalkan ibunya yang hanya berdiam diri sembari menangis tanpa suara.


***


Di depan ruang rawat inap Yerim, langkah nya terhenti sejenak lengannya pun tak jadi untuk menarik handle pintu ruangannya. Iya setelah berjalan-jalan sebentar ia pun kembali ke ruangannya, namun saat mendengar suara tangisan ibunya, gadis itu mengurungkan niatnya sejenak dan mendengar percakapan ibu dan ayahnya dari balik pintu.


“bagaimana ini yah, kakak sudah mulai pulih, apa putri kita akan di penjara..? putri kita tidak bersalah ayah, apa yang harus kita lakukan.”


“ayah akan menjual toko roti bu, untuk menyewa pengacara, agar kakak terbebas dan hanya akan di rehab.”


“ayah yakin..?


Bukankah itu bisnis turun temurun dari orang tua ayah..?”


“iya, ayah sangat yakin, kita yang sudah membuat kaka terlahir ke dunia ini, tak mungkin kita membuatnya menderita bukan, ayah akan mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kecil kita.”


Mendengar percakapan tersebut membuat Yerim merasa sangat bersalah, sebab karena dirinyalah kedua orang tua nya menjadi susah, bahkan sampai mau menjual toko roti peninggalan dari kakek neneknya dahulu.


Air mata kepedihan pun tak terelakan lagi, karena tak ingin orang tuanya mendengar suara tangisnya ia pun menutup mulutnya lalu pergi lagi, untuk sejenak menenangkan hatinya ke sembarang arah.


***


Di sekitaran taman kota.


Waktu menunjukan pukul 20:00 tepat, setelah turun dari busway, Hanyoora berniat untuk berjalan-jalan disekitaran taman kota hanya dengan berbekal sebuah dompet di saku celananya, sebab ponselnya sudah hancur dilempar olehnya.


Gadis itu terus berjalan menyusuri jalanan di taman kota seraya memeluk dirinya sendiri karena mulai terasa dinginnya angina malam, meski tampak ramai oleh beberapa orang yang berseliweran melewatinya, namun berbeda dengan hatinya, ia benar-benar merasa kesepian, taka da siapa pun yang berada disisinya.


Keluarga.. tak ada satupun yang bisa diandalkan mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-masing,


Kekasih.. kini ia sudah tak lagi memilikinya, karena keegoisannya sendiri ia kehilangan Jaehyun.


Sahabat.. mereka pun sudah lelah dengan beban yang kini mereka tanggung, tak mungkin Hanyoora menambahkannya lagi dengan beban dirinya.


Sampai beberapa menit kemudian saat kedua kaki Hanyoora mulai melemah dan hampir terjatuh, seseorang dari belakang dengan sigap memegangi bahu Hanyoora dari samping seraya memakaikan jaket miliknya pada Hanyoora.


Hingga kedua mata itu pun bertemu, alangkah terkejutnya Hanyoora melihat seseorang yang berada disamping nya tersebut.


“kak Yonggi..” gumamnya seraya mencoba mengedip-ngedipkan kedua matanya, kalau saja otaknya memberi sinyal yang salah pada matanya.


“bagaimana kabarmu, Yooyoo..” sapa Min Yonggi yang membuat Hanyoora merasa senang bukan main, hingga tanpa sadar melebarkan senyumannya.


“tak biasanya kau berjalan-jalan ke tempat seperti ini, sendirian juga..” imbuhnya seraya mencoba mengajak Hanyoora untuk kembali berjalan.


Hanyoora pun menurut dan akhirnya mereka berdua pun melanjutkan jalan-jalannya kembali.


“aku.. aku hanya..”


“maafkan aku, karena pernah meninggalkanmu begitu saja, aku terbawa emosi sampai aku tak sadar telah menjadi pecundang, karena bukannya menghadapi masalah malah lari begitu saja.” Ungkapnya yang beralih dengan merangkul bahu Hanyoora.


“apa kakak baik-baik saja..?” Tanya Hanyoora yang merubah topic pembahasannya.


“hmm..” angguknya pelan.


“sejak kapan kakak, memutuskan ingin menjadi seorang idol..?”


“sebenernya yang kakak inginkan adalah memproduksi lagu, semacam yang bekerja di belakang layar begitu, namun bos kakak menyayangkannya, katanya kau harus memanfaatkan wajah tampanmu dengan benar, jadi ya taka da salahnya juga kakak mencoba.” Paparnya penuh percaya diri.


“iya sih kakak memang sangat tampan.. hihi.” Celetuk Hanyoora seraya tertawa kecil.


“hahaha..!!


Aku sangat sangat bersalah padamu, maafkan perkataan kasarku padamu dulu ya.” Ucapnya seraya mengusap bagian belakang kepala Hanyoora.


“aku sudah memaafkan mu dari dulu kok,” respon Hanyoora seraya menoleh ke arah Yonggi yang tingginya tak terpaut jauh darinya.


“lalu kenapa saat kau berada di depan agensi, kau malah memolototiku seperti itu, seolah kau ingin menusukku dengan kedua mata sipitmu itu.” Keluhnya seraya melepas rangkulannya dan beralih dengan memandangi Hanyoora yang mulai membulatkan mata sipitnya.


“jadi kakak melihatnya..?


Dan kakak hanya melewatiku saja, ngga turun gitu..” gerutu Hanyoora setelah ia tahu jika Yonggi juga ternyata mengetahui keberadaanya saat itu.


“hehehehehe.. maaf ..maaf..” ucapnya seraya berlari kecil menjauhi Hanyoora yang tampak mulai meledakan emosinya.


Benar saja akhirnya mereka berdua pun malah lari-larian mengelilingi taman kota dengan diiringi tawa bahagia yang terpancar dari wajah keduanya. Untuk sejenak Hanyoora bisa merasa lebih baik, berkat kehadiran Yonggi yang secara tiba-tiba.


Membuat gadis itu lupa akan rasa sakit yang baru saja ia rasakan.



Hanyoora



Min Yonggi


---bersambung---


nantikan kisah selanjutnya yaa ^_^