To My Youth

To My Youth
BAB 85



Keesokan harinya.


Kirin school Jakarta, lebih tepatnya di pinggir lapang basket, sebelum masuk ke dalam kelas Andheera selalu menyempatkan waktunya untuk melihat permainan basket dari teman juga juniornya di lapangan.


Dengan ransel yang masih menempel dipunggungnya, ia terduduk dipinggir lapangan seolah ia benar-benar memperhatikan permainan basket yang tengah berlangsung, padahal pada nyatanya fikiran dan jiwanya tak berada disana.


“kau sudah datang..” sapa Jaehyun setelah beberapa menit bermain dengan juniornya, ia langsung berjalan menghampiri Andheera yang masih terdiam seolah tak mendengar sapaan Jaehyun.


“Andheeraa..!” panggil Jaehyun yang menaikan nada suaranya seraya mengibaskan tangannya di hadapan teman wanitanya itu, hingga akhirnya Andheera terhentak dari lamunannya.


“ahh.. iya..” kagetnya.


“kau melamun lagi..?


Kali ini apa yang kau fikirkan..?” Tanya Jaehyun seraya ikut duduk di samping Andheera.


“tidak ada, kau sudah selesai bermainnya..? sebentar sekali.” Ucap nya seraya memberikan botol air mineral yang berada di sampingnya untuk Jaehyun.


“aku bermain selama 20 menit dan itu sudah lebih dari cukup bagiku, ada apa..? kau bisa cerita padaku.” Katanya setelah meminum seteguk air mineral yang diberikan oleh Andheera.


“bukan urusanmu.” Ketus Andheera masih dengan pandangan lurus ke depan.


“ciihh..! kau ini masih saja ketus, kita ini kan sudah berteman, tak bisakah kau bersikap selayaknya teman pada umumnya.” Papar Jaehyun yang kembali meneguk air mineralnya.


“siapa bilang..”


“sial..! suka-suka kau sajalah.


Oh iya, apa kau bisa menghubungi Hanyoora..? sudah lama aku tak mendengar kabar nya.”


“kau kan bisa menelfonnya.” Sahut Andheera datar.


“beberapa hari ini dia tak mengangkat atau pun merespon telfonku, dan dia sudah tak masuk les beberapa kali, kurasa ada sesuatu yang terjadi padanya.” Keluhnya.


“temuilah jika kau mengkhawatirkannya.” saran Andheera.


“hey, setidaknya aku memiliki harga diri, tak mungkin aku menunjukan kekhawatiranku padanya, sedangkan dirinya sendiri begitu menutup diri dariku.”


“mungkin saja dia sudah punya yang lain.” Celetuk Andheera ngasal.


Jaehyun pun terdiam seketika, selama ini ia tak pernah berfikir seperti itu, mungkinkah yang dikatakan Andheera itu kebenarannya.


“itu.. tidak mungkin.”sangkal Jaehyun percaya diri.


“hahaha..! hey kau ini percaya diri sekali, kau fikir yoora masih menyimpan dirimu dalam hatinya.” Goda Andheera diiringi tawa mengejek.


“aku serius Andheera, jika dia memang sedang menjalin hubungan dengan yang lain, seharusnya dia bahagia bukan.. tapi.. dia tampak aneh.” Paparnya.


“ya coba jelaskan maksud dari kata aneh mu itu seperti apa..?” seru Andheera seraya menajamkan pandangannya pada Jaehyun.


“dia..”


“terkadang dia tertawa begitu keras, lalu berubah menangis begitu..? kau fikir dia gila.” Sela Andheera dengan menaikan nada suaranya, seolah ia masih belum percaya dengan cerita yang Jaehyun utarakan beberapa hari yang lalu terkait kondisi karibnya tersebut.


“aku tidak bercanda, Andheera.” Tegas Jaehyun yang masih mencoba meyakinkan Andheera.


Raut wajah Andheera langsung berubah seketika, kini ia tak menganggap nya lagi sebuah candaan atau cerita yang dibuat-buat, mengingat ia sendiri pernah bertemu dengan ibu dari Hanyoora di rumah sakit, juga kepindahan jurusannya secara tiba-tiba yang mengakibatkan beberapa nilainya menurun.


Mungkinkah ia telah melewatkan sesuatu, sesuatu yang begitu penting..


Tanpa berpamitan dengan Jaehyun, gadis itu pun langsung pergi menuju kelas, namun bukan kelasnya melainkan kelas yang ditempati Hanyoora.


Melihat Andheera yang bergegas pergi dengan raut wajah khawatir, Jaehyun pun bangkit dan mengikuti kemana Andheera pergi.


“kau mau kemana..?”


“kelas Hanyoora.” Sahutnya dengan pandangan lurus ke dapan dan langkah yang semakin di percepat.


“setidaknya kau harus menaruh ransel mu dulu Andheera, kita bisa menemuinya nanti sewaktu istirahat kan, lagipula sebentar lagi bel masuk.” Ujar Jaehyun yang masih mengikuti Andheera yang berada 1 langkah di belakangnya.


Namun Andheera tak mendengarkannya, ia terus berjalan hingga sampai pada tujuannya.


Kelas Hanyoora (IPA 1)


Sesampainya di ambang pintu kelas Hanyoora, Andheera langsung mengedarkan kedua matanya ke seluruh ruangan kelas IPA 1, namun seseorang yang dicarinya tak ada dikelas tersebut. Begitu pun Jaehyun yang ikut mencari Hanyoora dari beberapa kerumanan yang berada dikelas Hanyoora.


“apa kau melihat Hanyoora..?” Tanya Jaehyun pada seorang siswi yang hendak masuk ke kelasnya yang tak lain adalah teman sekelas Hanyoora.


“kurasa dia tak masuk lagi..” responnya seraya membenarkan frame kacamatanya yang sedikit melorot.


“lagi..? memang sebelumnya dia pernah membolos..?” Tanya Jaehyun lagi seolah tak percaya pada apa yang dikatakan siswi tersebut.


“iya, kadang ia bolos pada jam tertentu, lalu kembali lagi.” Paparnya kemudian masuk ke kelasnya meninggalkan Andheera dan Jaehyun yang masih tampak kebingungan.


“itu tak mungkin..” gumam Jaehyun.


Lagi-lagi tanpa berkata-kata Andheera memutar tubuhnya dengan tatapan kosong ia terus berjalan menuju arah kelasnya.


“hey.. tunggu Andheera..!” seru Jaehyun yang lagi-lagi ditinggalkan begitu saja oleh temannya.


“apa Hanyoora baik-baik saja..” gumamnya seraya terus berjalan disamping Andheera.


Jaehyun pun mengeluarkan ponsel dalam saku celananya, lalu berniat untuk menelfon Hanyoora. Namun telfon itu tidak tersambung kemungkinan ponselnya memang dimatikan.


“tidak biasanya dia mematikan ponselnya,” Jaehyun kembali bergumam.


“kau yakin dia mematikan ponselnya, bisa saja dia memblokirmu.” Sahut Andheera.


“haha, hey, dia bukan gadis yang seperti itu.” Respon Jaehyun seraya mencoba memaksakan tertawa, sebab ia juga tak yakin Hanyoora telah mematikan ponselnya atau telah memblokirnya.


“apa kau membawa mobilmu..?” Tanya Andheera tiba-tiba menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam kelasnya.


“tentu..”


“kupinjam..” ucap Andheera seraya mengulurkan tangannya agar Jaehyun memberikan kunci mobilnya padanya.


“me..mangnya, kau punya sim..?” Tanya Jaehyun seraya merogoh saku celananya dan hendak memberikan kuncinya pada Andheera.


“tidak..” jawab Andheera seraya mengambil paksa kunci mobil Jaehyun sebelum Jaehyun menarik kembali kuncinya, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas.


“kalau begitu kau tak boleh mengendarainya Andheera.” seru Jaehyun seraya berjalan lebih cepat mengekori Andheera masuk ke dalam kelas.


Dingggg.. Dongggg!! Suara bel masuk pun berbunyi.


“SELAMAT PAGI SEMUANYA..!” sapa seorang guru yang baru saja masuk ke dalam kelas Andheera.


“padahal belum semenit bel berbunyi, udah nongol aja, rajin banget sih.” Gerutu seorang siswi dibangku belakang.


“Oke sampai mana kita kemarin..?” Tanya sang guru sembari mencoba membuka halaman demi halaman sebuah buku besar yang berada di atas mejanya.


“sebenarnya apa sih yang kau ributkan dengan Jaehyun..?” bisik Anha seraya memiringkan tubuhnya sedikit pada Andheera yang duduk di bangku tepat dibelakangnya.


“bukan apa-apa, bagaimana keadaan ibu dan kakak mu..?” Tanya Andheera yang beralih pada keadaan keluarga karibnya yang juga tengah dirundung sebuah masalah yang rumit.


“ya seperti itulah, masih diam-diaman, entah sampai kapan. Karena ibuku bukan type orang yang bisa langsung mengeluarkan unek-uneknya sepertimu, jadi ibuku hanya bisa terdiam.”


“kau menyindirku..!” pekik Andheera.


“hihihi.. ya memang kau seperti itu kan.” Goda Anha.


“apa ibumu sudah pulang dari rumah sakit..?” Tanya Andheera lagi.


“iya, kemarin malam..” responnya.


“ANHA, ANDHEERA..!” panggil sang guru sebab ia menyadari jika kedua muridnya tersebut tengah asyik mengobrol di belakang.


Sontak Anha pun langsung bangkit dari bangkunya, dengan rasa terkejut bukan main sebab ia ketahuan tak mendengarkan sang guru tengah mengajar di depan. Lain hal nya dengan Andheera yang masih tampak duduk santai.


“kalian berdua kerjakan soal di depan sekarang..!” perintah sang guru Matematika tersebut lengkap dengan nada suara yang sama sekali tidak bersahabat.


“habislah aku..” gumam Anha yang mulai berkeringat dingin sebab soal yang ditulis di white board sangatlah sulit juga bukan hanya 1 atau 2 soal, melainkan 10 soal.


Mengingat jika ia tidak bisa mengandalkan Andheera dalam pelajaran, ia beberapa kali menelan ludah sebab saking gugupnya, ia pun mulai berjalan ke depan, diikuti Andheera yang berjalan santai di belakangnya.


“hey, kau tampak santai sekali Andheera.” Bisik Anha, ketika melihat Andheera tengah focus memandangi white board, seolah ia tengah berfikir keras menemukan jawabannya.


“uhh.. seharusnya Hanyoora yang berada disampingku sekarang..” gumam Anha seraya membuka tutup spidol berniat untuk memulai peperangannya dengan angka-angka yang disuguhkan untuknya.


“kalian berdua bisa menyerah pada semua soal ini jika memang tidak bisa menyelesaikannya..” ucap sang guru ketika melihat kedua muridnya tampak kesulitan.


Karena yang satu hanya memandangi soal-soal tersebut dan 1 lagi tengah mengotret kemudian menghapusnya sebab ia tak yakin jika rumus yang dipakainya itu benar, hal itu terus terjadi hingga berulang kali.


“benarkah..?” seru Anha seraya menampakan senyuman merekahnya.


“sebagai gantinya, hormat pada tiang bendera selama pelajaran saya.” Tambah sang guru, membuat gelak tawa seisi kelas tak dapat terhindarkan.


“DIAM..!!” bentak sang guru pada semua siswi yang menertawakan Anha dan Andheera di depan, diiringi dengan suara hantaman penggaris diatas mejanya, membuat semua murid pun terdiam seketika.


Anha pun kembali terfokus pada soal Matematika yang ada di hadapannya, belum sempat Anha kembali mengotret di white board, lengan Andheera keburu mengambil spidol yang tengah di pegang Anha. Gadis itu pun kemudian menuliskan jawaban dengan dilengkapi proses untuk bisa mendapatkan hasil tersebut.


Tak hanya karibanya yang melongo akan aksi Andheera tersebut, namun sang guru juga semua murid lainnya yang menyaksikan Andheera terus menuliskan semua jawaban dari soal yang tertera di white board, seolah tak percaya akan yang dilihatnya.


Mengingat Andheera adalah siswi yang tak begitu pintar juga sangat malas mengerjakan PR, namun bisa dengan mudahnya memecahkan soal-soal rumit di depan hanya dengan sekali melihat kemudian langsung berhasil menjawab semua soal tersebut.


Seakan tak percaya sang guru pun bangkit dari tempat duduknya untuk memastikan kebenaran dari jawaban yang ditulis Andheera. Betapa terkejutnya sang guru mendapati jawaban yang dituliskan Andheera ternyata benar semuanya, hingga membuatnya menganga juga mengerutkan keningnya.


“bagaimana mungkin..” gumam Anha yang membungkam mulutnya dengan telapak tangannya seraya terus memandangi white board yang sudah di penuhi oleh coretan-coretan Andheera.


***


Di lain tempat, aparteman Bougenville.


Lebih tepatnya di dapur aparteman Hyunjie, ia masih mencoba untuk terus belajar memasak, meski sejauh ini tak tampak adanya perkembangan dalam setiap masakannya, namun ia tetap bersikeras untuk tetap mencoba dan mencoba di sela sibuknya jadwal dinasnya.


Sampai beberapa saat kemudian  terdengar suara pintu apartemannya yang terbuka, tanda jika putra tunggalnya tersebut sudah pulang.


“kau sudah pulang, Keenan, ayo makan siang, sebentar lagi mama selesai.” Ajaknya seraya menghampiri Keenan dengan spatula yang masih digenggamnya.


“aku sudah makan.” Jawabnya dingin.


Iya, meski sudah beberapa hari berlalu, sejak pertengkarannya dirumah sakit membuat Keenan tidak se welcome dahulu, ia lebih sering menghabiskan waktunya diluaran, dan mengurung dirinya dikamar. Seolah kekesalannya pada sang ibu belum mereda, ia tampak begitu berbeda dari sebelumnya.


“apa kau akan terus seperti ini, Keenan..?” ucap sang ibu yang menghentikan langkah Keenan sejenak.


“bukankah mama sudah meminta maaf, mama tidak bermaksud..” belum sempat ibunya menyelesaikan kalimatnya Keenan kembali melangkahkan kakinya dan mengabaikan ibunya.


“MAMA..!!” bentak Hyunjie saat Keenan memegang handle pintu kamarnya, kemudian menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.


“mama hanya tidak mengerti, bagaimana kau bisa berteman dengan gadis urakan seperti itu, dan mengatakan gadis itu lebih berharga dari mama, Keenan..” Lanjutnya lengkap dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.


“aku sudah mencoba untuk menerimamu sebagai ibuku, dan memberimu kesempatan untuk menjadi seorang ibu, meski sedikit terlambat. Tapi kurasa, aku sudah tak bisa lagi hidup bersamamu.” Ungkapnya seraya mendorong handle pintu dan masuk ke dalam kamarnya.


“apa maksudmu Keenan..?” seru ibunya yang kemudian berjalan mengikuti Keenan masuk ke dalam kamarnya.


Dilihatnya Keenan sudah menaruh sebuah koper besar diatas ranjangnya, kemudian berniat memasukan semua baju dan keperluan lainnya ke dalam koper besarnya. Membuat ibunya kalang kabut karena takut jika putranya tersebut benar-benar akan meninggalkannya.


“apa yang kau lakukan Keenan..?


kau akan pergi..? tidak.. mama tidak akan membiarkan mu pergi.” Hyunjie memblokir koper Keenan dengan tubuhnya agar Keenan tidak bisa memasukan pakaiannya ke dalam koper.


“seharusnya kau sadar, kau tak berada dalam situasi yang bisa mengatur kehidupanku, kau tak ingat apa yang sudah kau lakukan padaku dahulu..?


Kemudian kau tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ibu kandungku, seberat apapun masalahmu dahulu, bukan berarti aku bisa membenarkan yang telah kau lakukan..!!


Mungkin jika kedua orang tua angkat ku masih ada, aku tak akan mungkin mau pergi bersamamu saat itu.”


Ujarnya lalu pergi meninggalkan Hyunjie  yang masih memblokir koper milik putranya tersebut.


Saat keluar dari kamarnya, Keenan membantingkan pintu kamarnya tanda ia benar-benar di puncak amarah nya saat ini, tak berhasil mengemasi barang-barangnya kali ini, namun Keenan tetap pergi meninggalkan ibunya yang masih terdiam di kamarnya.


Entah hanya untuk hari ini atau kah dirinya tak akan kembali, ia hanya ingin cepat pergi dari kediamannya untuk menenangkan fikirannya.


Sedangkan Hyunjie, setelah putranya membanting pintu kamarnya. Ia pun perlahan terduduk disamping ranjang putranya, seraya menatap cermin besar yang berada dihadapannya, dirinya masih tak percaya jika putranya bisa seemosional itu jika menyangkut gadis yang bernama Andheera.


Selama ini putranya tampak baik-baik saja, bahkan saat awal pertemuan mereka, meski Keenan tak begitu menyukai dirinya sebab dirinya pernah meninggalkan Keenan di panti asuhan, namun Keenan masih tetap bisa menghormatinya sebagai orang yang telah melahirkannya.


Namun kali ini ia benar-benar melihat sisi baru yang ada dalam diri putranya tersebut, amarah yang begitu mengerikan kala ia menjelekan dan bahkan melarang putranya bergaul dengan gadis yang bernama Andheera.


Sebenarnya ada hubungan apa antara putranya dengan gadis itu, hingga Keenan bisa begitu sangat membelanya. Dan apa yang membuatnya berharga untuk Keenan sampai-sampai bisa mengenyampingkan ibu kandungnya sendiri.


Fikiran itu terus saja bergumul dalam benaknya, hingga ia merasakan sakit yang begitu dalam menusuk di bagian dadanya, tangisan pun pecah kala dirinya tak mampu lagi menahan air mata yang sedari tadi ia tahan, perasaan menyakitkan yang umumnya seorang ibu rasakan ketika putranya lebih memilih orang lain dibanding dirinya yang telah berjuang untuk melahirkan putranya ke dunia.


***



bersambung...^__^