To My Youth

To My Youth
BAB 64



“Nonna Andheera.. tunggu..!” panggil sang ketua pengawal yang bernama Yudha.


Namun Andheera tetap tak ingin menghentikan langkahnya, gadis itu terus berjalan meski sesekali langkah kakinya terasa sangat berat, juga tubuhnya yang mulai melemah akibat beban fikiran yang harus ditanggungnya sendiri.


                “Nonnaa..!” panggil Yudha seraya membalikan tubuh gadis malang itu. “saya mendengar semua yang dibicarakan nonna dan tuan Darren.” Lanjutnya lagi.


Andheera tetap terdiam dengan sorot mata tajamnya.


                “jika saya mau, saya sudah membuka pintu ruangan tuan Darren saat nonna menodongkan pistol pada tuan Darren, tapi saya memilih diam dan menunggu diluar, karena saya percaya pada nonna.” Tuturnya.


                “apa yang ingin paman katakan?!” tanya Andheera karena merasa lelaki dewasa yang tengah berdiri dihadapannya itu terlalu berbelit-belit.


                “saya memang tidak tahu seberapa dalam luka yang nonna miliki saat ini, dan juga rasa benci nonna terhadap tuan Darren. Tapi nonna.. kehidupan tuan Darren juga tak semudah seperti kelihatannya, berawal dibenci oleh putrinya sendiri dan kini oleh cucu perempuannya, membuat ia tak pernah sekalipun merasakan kehangatan keluarga, ia harus menghabiskan masa tuanya sendirian..”


                “kenapa aku harus mengasihinya..?! bukankah kakek tua itu yang memilih segalanya menjadi sulit untuknya..!!” tukas Andheera seraya menaikan nada suaranya.


                “tidak.. ada 1 rahasia yang tak dapat diungkapkan oleh tuan Darren, sehingga tuan Darren memilih untuk berperan menjadi orang jahat daripada nonna Vivian terluka.” Bantahnya, masih mencoba membuat Andheera memahami situasi yang terjadi sebenarnya.


Andheera terdiam, seolah tengah menunggu penjelasan lebih lanjut dari ketua pengawal tersebut.


***


Sementara itu didepan tempat Les yang tidak jauh dari rumah sakit Haneul Jakarta.


Karena ibu dari Hanyoora tiba-tiba tidak bisa menjemput, dikarenakan ada operasi darurat di rumah sakit, terpaksa ia harus menunggu lebih lama supirnya yang lain untuk menjemputnya.


Masih dengan ransel yang melekat dipunggungnya juga beberapa buku yang didekapnya, sesekali ia mencoba melirik arloji yang melingkar ditangannya, sebab khawatir jika sudah terlalu malam akan ada gerombolan anak-anak jalanan yang suka berkeliaran di sekitar area tempat les nya.


Tak sampai 10 detik berlalu, ia sedikit dikejutkan oleh sebuah mobil yang berhenti tepat dihadapannya, saat ia hendak menyiapkan langkah seribu untuk berlari, kaca mobil tersebut diturunkan hingga ia bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di dalam mobil tersebut.


                “JAEE..!! ASTAGA kukira akan ada orang yang berniat jahat..! huhh.” Gerutunya masih mencoba mengatur degup jantungnya.


                “ini sudah hampir larut, kemana ibumu..?” tanya Jaehyun.


                “ibuku tidak bisa menjemput, aku masih menunggu supirku yang lain.” Jawabnya.


                “ayo naik..! ku antarkan kau pulang.” Tambah Jaehyun yang membuat Hanyoora mengerutkan dahinya karena tak biasanya Jaehyun bersikap baik padanya.


                “kenapa..?! gak mau..! ya sudah, kalau kau ingin di culik beneran sih terserah..!” goda Jaehyun seraya memberikan senyuman nakalnya untuk menakut-nakuti gadis tersebut lalu menaikan kembali kaca mobilnya.


                “iya.. iyaa, kau ini gak sabaran banget sih..!” ujar Hanyoora yang kemudian berlari kecil menuju pintu mobil yang satunya.


Dari dalam tampak jelas sekali raut wajah berseri Jaehyun begitu Hanyoora memutuskan untuk ikut bersamanya, namun raut wajah itu kembali dingin seiring dengan Hanyoora yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


                “Hanyoora..” panggil Jaehyun pelan, ia mencoba mencairkan suasana dalam perjalanannya mengantar Hanyoora.


                “hmm..” sahut gadis yang duduk disampingnya.


                “kau yakin akan pindah ke IPA..?” tanya Jaehyun yang sesekali melirik kearah Hanyoora.


                “iyaa, aku tak bisa menentang keinginan ibuku.” Jawabnya pasrah seraya mengarahkan pandangannya ke luar jendela.


                “bagaimana dengan teman-temanmu, apa mereka sudah tahu..?”


                “tidak, kurasa itu tidak terlalu berpengaruh, karena aku hanya pindah kelas gak seperti aku akan pindah sekolah.”


                “hmm baiklah.”


Suasana kembali hening sesaat.


Sampai..


                “Jae..” Hanyoora kembali bersuara seraya menoleh kearah Jaehyun.


                “iya.” Sahut Jaehyun yang fokus dengan jalanan yang dilaluinya


                “apa kau menyukai Andheera..?” pertanyaan random Hanyoora membuat Jaehyun sangat terkejut.


                “HEY..!! kau ini benar-benar..!!” seru Jaehyun yang kehabisan kata-kata untuk menghadapi gadis polos yang berada disampingnya itu.


                “tidak.. maksudku, bukannya aku ingin ikut campur ke dalam masalah pribadimu, aku hanya ingin memberitahumu, menjadi bad boy tidak selalu dipandang keren oleh semua ciwi-ciwi, menurutku itu benar-benar cara klise yang sudah gak jaman.” Katanya mencoba menjelaskan dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian.


                “YAAAA..!!” sentak Jaehyun yang membuat Hanyoora membulatkan kedua matanya juga sedikit menggeser posisi duduknya mendekat ke pintu mobil karena saking terkejutnya mendapati reaksi Jaehyun yang kasar.


***


Sesampainya dihalaman rumahnya.


Andheera melihat mobil milik ayahnya masih terparkir didepan rumahnya, tidak seperti biasanya yang selalu langsung dimasukan ke dalam garasi.


Gadis itu pun melangkah perlahan mendekati mobil tersebut, semakin dekat ia berjalan, ia mendapati sosok yang tengah duduk dibelakang kemudi seraya menaruh kepalanya diatas kemudi.


                “oppa.. (gumamnya saat berhasil mengindentifikasi seseorang yang berada didalam mobil ayahnya) apa yang sedang oppa lakukan disana, apa oppa sedang belajar mengendarai mobil..” gumamnya seraya berjalan mendekati mobil tersebut.


Tokk.. tokk..!! Andheera mengetuk pelan kaca jendela mobil tersebut, mencoba untuk membangunkan Andromeda yang sepertinya tengah tertidur diatas kemudi.           


“oppa..” panggil Andheera dari luar, membuat tubuh Andromeda akhirnya bergerak.


“ARGGGHHH..!! AN*** B***I AS@#FGLK***!!” umpatan demi umpatan Andromeda keluarkan hingga membuat Andheera terkejut setengah mati.


“APAA..!! OOH SHITT..!!” bentak Andheera lagi yang kemudian menendang pintu mobil ayahnya lalu berlalu pergi mengabaikan kakaknya yang masih memandanginya dari belakang.


Di dalam rumah, mendengar teriakan yang cukup nyaring membuat Reza keluar dari kamarnya.


                “Andheera kau baru pulang..? apa kau mendengar suara teriakan dari luar..?” tanya ayahnya yang melihat putrinya berjalan masuk hendak menaiki tangga.


                “oppa sudah tidak waras ayah..!” celetuknya sembari terus berjalan menaiki tangga.


Tak lama, Andromeda pun muncul lengkap dengan raut wajah yang sangat mengkhawatirkan.


                “kau baik-baik saja Andromeda..?” giliran putranya yang kini ditanyai.


                “tidak ayah..” sahutnya dengan suara yang semenyedihkan mungkin.


                “hah apa..? apa kau terluka, dimana..?” ayahnya khawatir seraya memandangi tubuh putranya dari atas sampai bawah.


                “disini..” lirih Andromeda seraya meletakan tangan diatas dadanya untuk menunjukan jika yang terluka adalah hatinya.


                “begitu yaa.. kau ingin minum..?” ajak ayahnya lengkap dengan tawa nakal juga isyarat jari untuk mengajak minum yang biasa orang-orang korea tunjukan.


Note : jika kalian penggemar drama korea pasti tahu isyarat jari untuk mengajak minum (alcohol).


                “tentu..!” respon Andromeda.


                “baiklah ayoo..! ayah akan menemanimu minum sampai kau merasa lebih baik.” Ujar ayahnya sembari merangkul Andromeda dan berjalan menuju dapur.


                “duduklah, ayah yang akan ambilkan minumannya.” tambah Reza begitu sampai di dapur ia langsung mendudukan putranya, lalu bergegas membawa minuman serta gelasnya.


                “karena ayah tak bisa minum banyak, jadi ayah hanya akan menuangkanmu okee, dan kau ceritakan apa yang membuat hatimu itu terluka.” Kata Reza seraya menuangkan minuman ke dalam gelas putranya juga gelas miliknya.


                “aku.. aku hanya..”


Cringg..!! suara gelas Reza yang diadukan dengan gelas Andromeda, layaknya orang-orang pada umumnya yang selalu mengawali minum dengan bersulang.


                “tak mengerti bagaimana harus memahami perasaan wanita, pada awalnya dia selalu mengejarku bahkan sampai menerorku dengan chat-chat yang tidak penting..! tapi sekarang dia malah berlaku seenaknya padaku, apa dia sedang mempermainkanku..?!” ceritanya ditunjang dengan ekspresi wajahnya yang sangat meyakinkan.


                “aah jadi kau dicampakan oleh kekasihmu.” sahut ayahnya yang mencoba menarik kesimpulan dari cerita putranya.


                “menurut ayah apa yang harus aku lakukan..?” Andromeda meminta saran ayahnya seraya menuangkan kembali minuman ke dalam gelas miliknya juga ayahnya.


                “mudah saja, kau cari saja yang baru, kau tunjukan kalau kau bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik darinya.” Ujar ayahnya yang mulai oleng.


                “ayah sangat tidak membantu..!” gerutu Andromeda yang kesal mendengar jawaban dari ayahnya.


                “lalu kau ingin mengemis cinta padanya..?! Andromeda kau ini tampan seperti ayah, jangan membuat dirimu terlihat lemah dihadapan wanita, kau yang harus mengendalikannya bukan dia..!” seru ayahnya seraya menuangkan minumanya sekali lagi.


                “tapi ayah.. dia itu cinta pertamaku..!”


                “HAHAHAA..!! hanya didrama saja cinta pertama akan selalu berakhir bahagia, karena pada nyatanya cinta pertama hanyalah sebuah rasa sa.. kit..”


Brukkkkkk..!! suara hantaman wajah Reza yang mendarat di atas meja membuat sesi curhat putranya pun berakhir begitu saja.


                “ciihh..!” Andromeda berdecak kesal sebab ayahnya mengingkari janjinya yang akan menemaninya sampai akhir, nyatanya malah ia sudah tumbang lebih dulu.


                “oppa menyebutnya wanita..? haha dia itu masih piyik kau tahu..!” timbrung Andheera yang tiba-tiba muncul lalu duduk di samping ayahnya.


                “kau menguping..?” ujar Andromeda seraya mengernyitkan dahinya.


                “tidak, aku hanya mendengar tuh..” sahutnya seraya mencoba menuangkan minuman ke dalam gelas ayahnya.


                “sama aja tahu..!” seru kakaknya. “apa yang kau lakukan..?” sambung Andromeda yang melihat Andheera hendak meminum minuman yang dituangkannya barusan.


                “kau fikir..?” respon Andheera lalu meminumnya dengan sekali teguk sebelum Andromeda sempat menahannya. “ughh.. rasanya..”


                “hentikan, kalau ayah tahu, bukan hanya kau yang dimarahi tapi juga oppa..!” ujar Andromeda seraya mencoba mengambil gelas yang tengah digenggam adiknya.


Namun sayangnya lengan Andheera terlalu gesit, hingga beberapa kali bisa menghindari lengan Andromeda.


                “katanya oppa ingin ditemani minum..? tenang saja ayah gak akan tahu selama oppa tidak bicara.” Ujarnya seraya menyodorkan gelasnya untuk mengajak kakaknya bersulang.


Andromeda pun menyerah dan membiarkan adik perempuannya menikmati minuman bersamanya, dengan dilanjutkan curhatan tentang kisah cintanya yang masih belum memiliki solusi apapun dari ayahnya sebelumnya.


Meski adiknya itu hanya membalasnya dengan anggukan, sebab sepertinya ia lebih fokus pada minumannya daripada cerita dirinya.


Andromeda bisa sedikit lega, bisa mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam fikirannya, tidak seperti saat dengan ayahnya yang malah meninggalkannya begitu saja.


"sepertinya oppa menurunkan bakat minum oppa padamu, Andheera hehe.. kau benar-benar kuat." gumamnya.


Sebelum akhirnya ikut tertidur juga diatas meja karena kelelahan, bagaimana tidak.. lelaki yang akan memasuki usia 21 tahun itu hampir 1 jam terus mengoceh tentang kisah cintanya yang tragis, bak cerita melow dalam drama korea.


"gadis kecilmu itu sepertinya sedang dalam situasi yang rumit oppa." ucap Andheera setelah meneguk habis minuman di gelas terakhirnya.


Ia pun pergi meninggalkan ayah dan kakaknya yang sama-sama sudah tertidur pulas diatas meja.


***