To My Youth

To My Youth
BAB 58



Beberapa hari berlalu begitu cepat, seiring dengan ujian sekolah yang telah selesai.


Seperti biasanya SMA Kirin school selalu mengadakan berbagai macam perlombaan antar kelas, sebagai ajang semua murid bisa saling berinteraksi selain dengan teman sekelasnya, juga untuk merayakan kenaikan kelas mereka dengan bersenang-senang melakukan berbagai macam perlombaan yang mereka inginkan.


Sebagian murid sudah berkumpul didalam stadiun, (lapang basket yang berada didalam ruangan) sesuai dengan kelas mereka, dan yang lainnya tersebar di seluruh ruangan sekolah, karena banyak nya perlombaan yang diselenggarakan hari itu, membuat beberapa perlombaan di lakukan secara bersaman ditempat yang berbeda.


Tak ingin kalah dengan kelas lain yang tengah menyemangati teman seperjuangannya di area lapang, beberapa ciwi-ciwi di kelas Andheera pun ikut menyoraki teman-temannya yang ikut tergabung dalam pertandingan basket yang akan dimulai sesaat lagi.


                “YEEEEE..!! YEEEEEE..!! LALALALA..!! IPA-2 FIGHTING..!! HUUUUUU..!!” teriak mereka serempak lengkap dengan spanduk yang bertuliskan seorang nama pemain juga pom-pom yang ikut memeriahkan suasana saat itu.


Meski awalnya Andheera bersikeras untuk mangkir dari perlombaan yang didaftarkan secara illegal oleh ketua kelasnya, namun ia sudah tak bisa mengelak lagi ketika semua teman dekatnya serperti Vivian, Anha, Yerim juga Hanyoora yang menjemputnya secara paksa di kediamannya.


Mau tak mau akhirnya ia kini ikut berada di tengah-tengah kekisruhan yang ada di dalam stadiun, membuat raut wajahnya tampak kesal seolah gadis itu benar-benar tidak nyaman dengan keramaian seperti ini.


                “perlombaanmu 30 menit lagi, kau tidak akan melakukan gladi resik dengan Jaehyun..?” bisik Anha pada Andheera yang duduk disampingnya.


                “gak mau tuh..” sahutnya dengan nada menyebalkan seperti biasanya.


                “HEY..!! dimana Yerim?” sapa Vivian yang baru saja bergabung diantara mereka dengan membawa berbagai cemilan di dalam pelukannya.


                “dia sudah pergi barusan, lombanya sudah akan dimulai.” Jawab Anha seraya bergeser untuk memberikan Vivian ruang agar ia bisa duduk diantara mereka, kemudian dibalas anggukan serta senyum ramah dari Vivian.


                “kau darimana saja, aku bosan disini sendiri.” Celotehnya lengkap dengan raut wajah masamnya dan kedua tangan yang ia letakan diatas dadanya.


                “lalu kau anggap aku ini apa.. hantu?!” protes Anha yang tak terima dengan keluhan Andheera barusan.


                “kau mau..?” untuk menengahi kedua temannya Vivian menawari Anha cemilan miliknya.


                “kapan perlombaanmu dimulai..?” tanya Anha seraya membuka cemilan milik Vivian lalu mulai menikmatinya.


                “setelah pertandingan basket..” sahutnya sembari merogoh sesuatu didalam saku celana olahraganya.


                “apa itu..?” tanya Anha lagi setelah Vivian berhasil mengeluarkan sesuatu didalam saku celananya.


                “hehehe.. lipstik aku mau merias bibirku sedikit biar ga terlalu pucat.” Responnya seraya membuka tutup lipstik merah yang ia pegang.


                “tunggu.. lebih baik pakai liptint aja biar kelihatan natural.” Sarannya sembari mengeluarkan liptint dari tas kecilnya dan memberikannya pada Vivian.


                “cair begini bagaimana pakenya..?” Vivian kebingungan saat ia melihat bentuk dari liptint yang diberikan oleh temannya.


                “kau jilat.” Celetuk Andheera yang langsung dibalas geplakan dibagian belakang kepalanya oleh Anha, sontak hal itu membuat Vivian sedikit terhibur seolah Anha tengah membela dirinya.


                “YAAAAA..!!” bentak Andheera seraya bangkit dari tempat duduknya lengkap dengan raut wajah penuh amarah.


                “duduklah, jika kau tak ingin menjadi pusat perhatian.” Ujar Anha santuy tanpa menengok sedikit pun sebab pandangannya hanya terfokus pada area lapang serta cemilannya.


Andheera pun mengalah untuk membiarkannya sebab ia memiliki cara lain untuk membalas perbuatan Anha barusan padanya.


Begitu Andheera duduk kembali Vivian langsung memberikan cemilannya yang lain untuk sedikit meredakan kekesalan Andheera, sama seperti yang dilakukan sebelumnya pada Anha.


                “KAK BRIANNNN..!!” seru Vivian yang langsung bangkit dari tempat duduknya untuk menyambut kehadiran Brian yang baru saja bergabung di tengah lapang, membuat Anha juga Andheera terkejut bukan main, hingga tersedak cemilannya sendiri.


                “uhuukk..uhukkk..” 


                “astaga kau benar-benar sudah gila..!” gerutu Andheera kemudian memilih pergi daripada harus terus berada didalam kekisruhan yang dibuat oleh temannya sendiri.


 


Begitu keluar dari stadiun, awalnya Andheera ingin langsung menuju ke tempat perlombaannya, namun tiba-tiba saja sebuah ide kotor melintas dalam fikirannya, membuat tubuhnya refleks berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan, seraya menunjukan senyum menyeringai di sepanjang perjalanannya menuju tempat parkir.


Merasa sangat kesal karena Anha selalu saja mengusik ketenangannya ia pun tak ingin tinggal diam, seperti yang sudah sering ia lakukan ia pasti akan selalu membalas dengan cara nya sendiri.


Sampai di tempat parkir khusus sepeda.


Tak butuh waktu lama untuk menemukan sepeda milik teman sekelasnya itu, karena sepeda tuanya terlihat paling menonjol dari sepeda bermerk lainnya.


Langkahnya pun langsung tergerak menuju sepeda malang tersebut setelah beberapa detik ia memandanginya dengan tatapan penuh arti.


Gadis licik itu langsung berjongkok dan melancarkan aksi jahilnya pada sepeda yang tidak memiliki salah apapun, namun saat jemari rampingnya hendak menyentuh ****** ban sepedanya…


***


Mari kita sejenak pindah fokus ke SMA Shinwa Yogyakarta.


Sama hal nya dengan SMA Kirin school Jakarta, ternyata SMA Shinwa juga memiliki kegiatan yang sama setelah sepekan dipusingkan dengan Ujian sekolah, SMA Shinwa pun merayakan kebebasannya dengan mengadakan perlombaan antar kelas.


Hanya bedanya SMA Shinwa hanya berfokus pada lomba dalam bidang olahraga saja, seperti basket, volley, lari estafet dan masih banyak lagi.


Juga perlombaan basket yang diadakan di outdoor berbeda dengan SMA Kirin school yang diadakan dalam indoor.


Meskipun cuaca hari ini tengah terik namun tidak menyurutkan semangat juang beberapa pemain basket yang kala itu tengah melakukan pemanasan dipinggir lapangan.


Termasuk pada team basket yang berkaptenkan Keenandhra yang mendapatkan giliran pertama untuk bertanding.


                “kau akan bermain di quarter pertama kan..?” tanya Keenan yang tengah melakukan sedikit pemanasan dihadapan Joe yang masih asyik menikmati yogurt rasa pisangnya.


                “tidak, aku tidak berniat untuk bermain, hanya ingin menonton saja.” Sahutnya.


                “lalu untuk apa kau memakai seragam itu dan duduk disini..? seharusnya kau duduk saja sana dibangku penonton..!” tukasnya tajam lengkap dengan sorot matanya yang berapi-api.


                “jika ibuku datang, baru aku ikut bermain.” Sahutnya lagi santuy tanpa terpengaruh dengan emosi temannya.


                “kau ini benar-benar..! orang lain selalu ingin menjadi pemain utama di tim, tapi kau malah mengincar posisi peran pendukung huhh..!” Keenan mulai kehabisan kata-kata untuk menghadapi teman satunya ini.


                “kalau bukan karena ibuku yang menyuruhku untuk masuk tim basket, aku juga gak mau tuh..! harus cape lari kesana kemari rebutin 1 bola doang, padahal kan aku bisa membelinya sendiri.” Celotehnya yang membuat Keenan mengernyitkan dahinya seakan tak percaya perkataan random dari Joenathan.


                “Hey.. bukannya bagus kau dimasukan ke dalam tim basket, daripada kau disuruh masuk eskul keputrian..?” ejek Keenan yang akhirnya mampu merubah raut wajah datar  yang Joe pertahankan sedari tadi.


                “HAHAHAHAA..!!” gelak tawa Keenan pun pecah saat Joe beralih menatapnya tajam, seolah ia tak terima dengan ejekan dari temannya tersebut.


                “YAA..! kau masih bisa tertawa, sesudah menyakiti Jiso..?” kalimat yang tak terduga terlontar dari mulut Joe yang polos sontak membuat Keenan terdiam seketika, kemudian duduk disamping Joe yang telah berhenti menyedot yogurtnya.


                “dia cerita apa saja?” tanya Keenan lengkap dengan raut wajah khawatirnya.


                “semuanya..” jawab Joe yang tengah memperhatikan pemain yang berada di seberang tampak melakukan latihan sebelum memulai pertandingan beberapa menit lagi.


                “apa dia banyak menangis..?” tanyanya lagi.


                “tentu, tisu yang baru saja ku beli langsung habis dipakai untuk lap ingusnya.” Joe bercerita dengan polosnya tanpa mengalihkan pandangannya dari fokusnya saat ini.


                “menurutmu aku harus bagaimana..?”


                “biarkan saja dulu dia hanya perlu waktu untuk sendiri.” Jawab Joe.


                “kau yakin dia takan melakukan sesuatu yang buruk, seperti menyakiti dirinya sendiri gitu..?”


                “apa kau fikir kita sedang berada didalam drama..?!”


                “yaa beberapa hari terakhir saat ibuku pulang, dia selalu memaksaku untuk menonton drama bersamanya, dan didrama ada adegan…”


                “apa kau mulai gila..?!” seru Joenathan seraya mengernyikan dahinya serta hendak menyedot yogurtnya kembali.


Namun Keenan keburu merebut paksa yogurt milik Joe karena kesal dengan perkataan Joe barusan, kemudian bangkit meninggalkannya begitu saja seolah tak perduli dengan pertandingan basket yang akan dimulai sebentar lagi.


                “HEYYY..! MAU KEMANA KAU, PERTANDINGAN AKAN DIMULAI..!!” teriak Joe sembari bangkit dari kursinya.


                “kau saja yang gantikan aku oke..! karena aku sudah mulai gila.” Sahut Keenan sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Joe bersama dengan anak buahnya yang lain.


                “Sial..!!” umpat Joe ketika Keenan sudah mulai menghilang dari pandangannya.


***


Parkiran khusus sepeda di SMA Kirin school Jakarta.       


“tak sekalian kau gantung saja sepedaku diatas pohon, daripada hanya mengempeskan ban nya.” ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakang Andheera, hingga membuat dirinya terkejut dan terduduk lemas disamping sepeda milik Anha.


Dengan santai Anha berjalan melewati Andheera untuk membawa sepeda malangnya, sedangkan gadis yang masih terduduk di aspal hanya bisa nyengir kala Anha tengah memergokinya melakukan tindakan criminal.


                “bukankah ini belum waktunya pulang..?” tanya Andheera seraya bangkit dari duduknya.


                “tugasku sudah selesai menempatkan kalian semua untuk berpartisipasi dalam lomba tahunan.” Paparnya seraya masih memegangi sepedanya.


                “kau..?”


                “aku sibuk, lagipula aku sudah ijin sebelumnya.” Sahutnya lagi.


                “apa yang kau sibukkan..? ujian baru saja berakhir tuh.” Protesnya merasa ini tidak adil baginya.


                “kau lupa, aku memiliki banyak pekerjaan paruh waktu Andheera, untuk memenuhi semua kebutuhanku, tidak seperti kau yang hanya tinggal minta pada ayah dan ibumu.” Jelasnya.


                “kali ini kau akan bekerja dimana..?” tanya Andheera yang mulai menurunkan nada bicaranya.


                “amm.. aku baru saja diterima di sebuah Agensi BangQit sebagai pekerja lepas hanya untuk membantu di bagian make up artis, okee sudah ya aku sudah telat byee..” pungkasnya seraya menaiki sepedanya, kemudian mulai mengayuh sepedanya tanpa menunggu respon dari temannya yang masih terdiam menunduk seolah tengah memikirkan sesuatu dalam benaknya.


                “buk..” baru saja beberapa detik Andheera mengalihkan pandangannya namun temannya itu sudah menghilang bagai manusia yang bisa berteleportasi hahaha.


                “apa dia benar-benar hantu..?” gumam Andheera seraya masih memandangi jalananan didepannya.


***


Kembali ke SMA Shinwa Yogyakarta.


Karena Keenan tengah merajuk, ia pun lebih memilih pergi dan berjalan-jalan untuk melihat perlombaan yang lain yang tengah berlangsung diwaktu yang bersamaan.


Lelaki idola para ciwi-ciwi itu duduk dipinggir lapang Volly untuk menonton sejenak pertandingan Volly yang tengah berlangsung saat ini.


                “aku tak melihat Eunjiso, apa dia tak ikut lomba..” gumamnya pelan seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi lapangan.


                “kenapa kau ada disini? Bukankah tim mu sedang bertanding sekarang..?” ujar Jennie yang tiba-tiba saja muncul dari belakang dan duduk disamping Keenan seraya membuka botol air mineral kemudian meneguknya beberapa kali.


                “akhirnya cincin itu kau pakai juga..” ucap Keenan seraya memperhatikan jari manis Jennie yang kini sudah terisi oleh sebuah cincin.


Namun Jennie lebih memilih untuk memuaskan dahaganya dahulu, sebelum merespon perkataan lelaki yang masih memandanginya lekat seolah ia tengah menunggu penjelasan darinya.


                “iyaa sejauh apapun aku mencoba berlari, Endingnya akan tetap sama bukan..” Jennie mencoba terlihat baik-baik saja dengan senyum lebar yang terukir diwajah manisnya.


                “ku dengar kau mencampakan Eunjiso setelah putus denganku, sampai teman-teman sekelasku mengira kau masih belum bisa move on dariku.. hihihi.” Celotehnya, gadis itu mencoba mengubah topik pembicaraannya seraya mengarahkan pandangannya pada pertandingan Volly  yang tengah berlangsung dihadapannya.


                “aku tak bermaksud menyakitinya, aku hanya tak tahu ternyata dia benar-benar menyukaiku, ku kira dia hanya sedang mengisengiku..”


Membicarakan hal itu membuat kerongkongannya tiba-tiba kering, ia pun langsung mengambil paksa botol air mineral yang dipegang Jennie lalu meminumnya secara brutal, seolah ia ingin melampiaskan segalanya.


                “ku kira kita bisa berteman dengan tak melibatkan perasaan..” lanjutnya lagi setelah menghabiskan botol air mineral milik Jennie.


                “cihh..! kau ini sangat naïf.” Jennie tertawa kecil mendengar perkataan Keenan barusan.


                “sejak kapan laki-laki dan wanita bisa hanya berteman saja, bukankah kau juga menyukai teman kecilmu itu.”


Seolah tersadarkan oleh perkataan Jennie, ia pun membalas tawa Jennie barusan seraya meremas botol air mineral yang masih digenggamnya.


                “iyaa kau benar, lalu.. bagaimana denganmu..?” tanya Keenan, sontak membuat Jennie sedikit terkejut.


                “amm.. sama halnya dengan Eunjiso,” ucapnya seraya memandangi wajah Keenan lekat lengkap dengan senyum tipisnya.


                “aku juga tak bisa untuk tidak tertarik padamu Keenan.. kau tahu, aku bahkan hampir membatalkan pertunanganku, tapi saat aku bertemu untuk pertama kalinya dengan Hanyessa, aku merasa dia laki-laki yang sangat baik, polos dan tulus.” Tuturnya, sebelum pandangannya beralih kembali pada pertandingan Volly.


                “sudah cukup aku bermain-main denganmu, sekarang saatnya aku kembali, karena dia sudah cukup lama menungguku.” Tambahnya lagi sebagai penutup dalam cerita singkatnya.


                “baiklah, pokoknya terimakasih atas bantuanmu, berkat koneksimu aku  akhirnya bisa masuk Sevit University seperti yang sudah aku impi-impikan selama ini.”


                “hey ayolah..! aku juga tidak membantukmu secara gratiskan, kita ini saling memanfaatkan.” ujarnya seraya menyunggingkan senyum lebarnya sekali lagi sebagai hadiah untuk perpisahan mereka.


Jennie pun bangkit dari tempat duduknya, bersamaan dengan berakhirnya pertandingan Volly yang membuat kehadiran mereka tersamarkan oleh banyak nya penonton yang bersorak untuk kemenangan kelasnya.


                “senang bisa bersamamu selama 3 tahun terakhir ini, kuharap kau bisa menemukan gadis kecilmu Keenan..” ujarnya seraya mengulurkan tangannya ke arah Keenan yang masih terduduk ditempatnya, ia pun menyambut hangat senyum dan uluran tangan mantan kekasihnya itu.


                “aku tulus mendoakanmu..” imbuhnya kemudian pergi meninggalkan Keenan yang masih tetap memandanginya sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.


 


                “HEY KEENAN..!!” panggil Joe yang tengah berjalan melewati para penonton menuju kursi temannya.


                “apa yang kau lakukan disini..! aku sudah lelah giliran kau yang bermain sekarang..!” keluh Joe seraya menarik paksa lengan Keenan untuk turun dari tempat duduk penonton, dan kembali ke lapang basket.


                “aku kan gila mana bisa bermain basket..” Keenan masih merajuk dalam perjalanannya menuju lapang basket.


                “begitu saja marah, kau ini kekanak-kanakan sekali..!!” Joe masih berbicara dengan nada ngegasnya.


                “cihhh..!!” Keenan mendengus kesal seraya menendang bokong Joe dengan lututnya.


Tak ingin kalah begitu saja, Joe melepas genggaman tangannya untuk mulai mengadu tendangan dengan teman baiknya itu, seraya masih melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat yang semestinya.


Layaknya seorang bocah yang tengah berkelahi, mereka berdua tetap tak ada yang mau mengalah dan berhenti saling mendorong juga menendang.


***  


Joenathan.