
Malam harinya.
Masih di rumah sakit Haneul Jakarta, suasana kala itu tak terlalu ramai seperti tadi siang, mungkin karena sudah malam membuat para pengunjung rumah sakit, baik yang berniat untuk berobat atau hanya sekedar menjenguk sanak saudara yang tengah dirawat sudah mulai berkurang.
Namun tak berlaku untuk kedua gadis yang tengah bersantai di kafetaria/kantin rumah sakit, dengan di temani teh hangat juga Ice Americano mereka melanjutkan obrolan ringan di kantin setelah menyantap makan malam sekitar 20 menit yang lalu.
Baik Anha mau pun Andheera masih mengenakan seragam sekolahnya, selagi menunggu ibu Anha terbangun juga Yerim karibnya, mereka berdua memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
“kau tak ada jadwal latihan hari ini..?
Kenapa kau masih disini..?” tanya Anha yang kembali melanjutkan obrolan ringannya.
“kurasa tidak..” sahutnya seraya menyedot Ice Americanonya sesekali.
“kurasa tidak..?
memangnya tidak ada yang menghubungimu..?! manager atau member yang lain.” Ujarnya seraya menaikan 1 alisnya dengan tatapan focus memandangi wajah karibnya tersebut.
“ahh entahlah, ponselku juga mati.” Jelasnya, seraya memalingkan wajahnya dan menaruh minuman kembali ke meja.
“yak..! kau..”
“bukankah kau harus pulang untuk mengganti pakaianmu dan membawa salin untuk kakak mu.” Andheera menyela sebab tak ingin mendengar kembali omelan Anha yang sudah ingin mengeluarkan semua unek-uneknya.
“i..iya sih..” gumamnya seraya mencoba berfikir sejenak.
“yaudah sana pulang, kau tak kasihan pada kakakmu yang masih pakai baju badut, baju itu sangat panas loh..” Andheera mencoba mengingatkan kembali.
“kalau begitu, aku titip ibuku dan Yerim ya, jika mereka sadar cepat beritahu aku.” Pintanya sembari bangkit dari bangkunya.
“gak mau tuh..” celetuk Andheera yang kemudian ikut bangkit dari tempat duduknya dan membawa minumannya yang masih tersisa lalu pergi mendahului Anha.
Geplak..!!
Setelah memberikan 1 pukulan dibagian kepala belakang Andheera, Anha langsung melesat pergi meninggalkan dirinya yang masih mencoba mencerna rasa sakit yang baru saja ia rasakan sembari mengusap-usap bagian kepala belakangnya.
“Sialan..!” umpat Andheera pasrah kemudian kembali berjalan keluar dari kafetaria seraya menghabiskan minuman favoritenya Ice Americano.
-----
Loby rumah sakit.
“noona..” panggil seseorang dari belakang, membuat langkah Andheera terhenti kemudian berbalik untuk melihat seseorang yang memanggilnya.
“Ben..
Kenapa kau ada disini..? bukannya kau ada jadwal latihan sore tadi.”
“ahh, aku..” jawabnya seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sebenarnya.
“maaf kak dheera, tadi aku yang memaksa Ben untuk mengantarku ke rumah sakit hehe..” timpal Jesy yang berada disamping Ben mencoba bicara mewakili temannya yang tak dapat berkata-kata.
Andheera hanya bisa menghela nafas panjang, sebelum kembali bersuara.
“kalian sudah makan..?” tanya Andheera.
Dan keduanya pun spontan menggeleng kepala dengan diakhiri senyuman kecil, tanda jika meraka berdua belum makan.
“dimana kembaranmu..?” tanya nya lagi.
“diruangan kak, mungkin dia sedang tertidur bersama uju..” sahutnya.
“ayo kita ke kafetaria aja..” ajaknya kemudian berjalan lebih dulu agar Ben juga Jesy mengikutinya dibelakang.
Kafetaria.
Malam itu menunjukan pukul 20:00 tepat, beruntung kafetaria tersebut buka selama 24 jam, jadi keduanya masih bisa menyantap makan malam walau sedikit terlambat. Suasananya masih sama seperti beberapa menit yang lalu, hanya tampak staf medis juga non medis yang berlalu Lalang di kafetaria tersebut.
Begitu selesai memesan mereka bertiga pun berjalan ke arah meja yang sebelumnya sudah di tempati oleh Andheera juga Anha. Bedanya kini yang berada di tempat tersebut adalah Ben dan Jesy bukan lagi Anha.
“sebaiknya setelah makan kau pulang, Ben..” perintah Andheera lengkap dengan tatapan tajamnya.
“baiklah..” sahutnya dengan nada pasrah lalu sedikit menundukan kepalanya.
Mendengar Ben di omeli seperti itu membuat Jesy merasa sangat bersalah karena membiarkan Ben ikut dengannya, padahal dirinya tahu jika Ben bukan lagi bocah lelaki seperti dahulu yang bisa diajaknya pergi kemana pun ia mau.
Iya, sejak Ben memutuskan untuk masuk ke dunia entertaint dan menjadi peserta didik di sebuah agensi besar di kota Jakarta. Temannya itu sudah tak bisa sebebas dahulu, bahkan untuk bertemu dengan Ben kini terasa sulit, sebab Ben tak bisa selalu masuk rutin sekolah karena jadwal latihannya yang padat.
Apalagi diluar sekolah, kini mereka sudah tak pernah bermain bersama kembali, sehingga ada kalanya Jesy merasa kesepian juga kehilangan sosok yang selalu menemaninya kemana pun ia pergi. Sepertinya dulu tak ada 1 hari pun untuk mereka tidak bertemu.
Bahkan di akhir pekan pun mereka selalu menghabiskan waktu bersama dari pagi buta hingga menjelang sore, meski berdalih ingin membantu ibunya menghasilkan uang dengan ikut mengantar roti bersama si kembar, namun tak dapat dipungkiri Ben memang menikmatinya sebab bisa bersama dengan Jesy.
Iyaa benar.. ternyata diam-diam Bennedict menaruh hati pada gadis manis tersebut, hanya saja Jesy mencoba untuk berpura-pura tidak tahu tentang perasaan karibnya tersbut, sebab ia ingin Bennedict benar-benar mengatakannya langsung padanya, bukan hanya memberikan kode-kodea saja.
10 menit berlalu dan akhirnya pesanan keduanya pun datang, bersamaan dengan rasa mules yang tiba-tiba saja menyerang perut Andheera. Hingga saat sang waitress menyajikan pesanan Ben juga Jesy di atas mejanya, tubuh Andheera sudah tak bisa lagi menahannya gadis itu pun bangkit dari tempat duduknya kemudian menoleh ke arah keponakannya tersebut.
“noona mau ke toilet dulu, jangan dulu pulang, tunggu noona kembali, noona akan mengantarmu.” Ucapnya kemudian pergi setelah mendapat respon anggukan lengkap dengan senyuman tipis dari Bennedict.
“makasih kak..” ucap Jesy pada sang waitress tersebut saat telah selesai meletakan pesanannya, lalu dibalas dengan anggukan pelan juga senyuman seramah mungkin dan pergi dengan nampan yang diletakan di atas dadanya.
“apa kak dheera selalu seperti itu, Ben..?” tanya Jesy seraya sedikit mengaduk nasi goreng udang miliknya.
“maksudmu..?” tanya Ben yang tak mengerti seraya meraih gelas yang berisi lemon tea kemudian meminumnya seteguk sebelum memulai menyantap makan malamnya bersama Jesy.
“dia begitu menyayangi dan mengkhawatirkanmu..” jelasnya, membuat Ben menggangguk karena akhirnya mengerti apa yang Jesy maksud.
“iya tentu dia seperti itu, kan sudah seharusnya, aku ini adiknya.” Sahutnya mantap seraya menyantap suapan pertamanya, begitu pun dengan Jesy yang juga mulai menikmati makan malamnya.
“hehe iya sih, aku salah ya nanya nya..” Jesy hanya bisa nyengir mendengar jawaban dari karibnya tersebut, seolah ia sendiri merasa konyol kenapa kalimat yang sudah jelas jawabannya ada dalam fikirannya.
“aah iya, aku hampir lupa, memangnya ada apa dengan hari ini..?” tanya Ben masih dengan mulut yang di penuhi makanan.
“hari ini..?” ulang Jesy lengkap dengan raut wajah yang sedikit kebingungan.
“iya kau mengatakannya di depan kelasku siang tadi, tentang hari ini..” lanjutnya lagi.
“Ahh itu..
Itu bukan hal yang penting kok..” sahutnya setelah mengingat kembali apa yang sudah dikatakannya tadi siang.
“yang benar..?” pandangan Ben menyelidik, kalau-kalau Jesy menyembunyikan sesuatu darinya.
“iyaa..” respon Jesy meyakinkan diakhiri dengan senyum merekah yang menghiasi wajah manisnya, semakin membuat jantung Ben berdetak tak karuan dan kini pipinya pun tampak merona, karena salah tingkah.
Meski dalam hati kecilnya Jesy sedikit kecewa dengan karibnya tersebut, namun ia kembali berfikir positif, ia tak ingin hanya karena hal kecil dapat merusak kebersamaan mereka saat ini. Baginya dengan Ben yang kini ada disampingnya itu sudah lebih dari cukup.
***
Selang 20 menit..
Begitu Andheera menyelesaikan urusannya di toilet ia pun langsung buru-buru berjalan menyusuri koridor untuk kembali menuju kafetaria. Namun langkahnya terhenti saat sepasang suami istri yang tengah terduduk didepan sebuah ruangan dan di yakini jika ruangan tersebut adalah ruangan sang dokter.
Sang istri tampak menangis sesenggukan dalam pelukan suaminya yang juga tengah terlihat menahan kesedihan yang begitu dalam, namun karena merasa dirinya adalah kepala keluarga ia harus lebih kuat dan menenangkan istrinya dengan menepuk-nepuk pelan bahu sang istri.
Dan meskipun dirinya memberanikan diri untuk bertanya apa yang terjadi pada kedua orang tua karibnya tersebut, mereka pasti hanya akan menjawabnya dengan kalimat tidak ada apa-apa, semua akan baik-baik saja. Seperti yang mereka katakan ketika Andheera muncul pertama kali di ruangan putrinya.
Namun dirinya tak bisa tinggal diam, ia merasa pasti sesuatu yang buruk telah terjadi, bukan hanya luka yang tampak diluar mungkin saja ada hal lain yang kedua orang tuanya sembunyikan, bahkan dengan adik-adiknya sekalipun.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kembali, alih-alih menyusul Ben yang masih di kafetaria langkahnya malah membawanya berjalan keluar rumah sakit.
Lengan gadis itu tampak mengeluarkan sebuah ponsel yang berukuran cukup besar dari telapak tangannya dalam saku blezernya, disusul dengan jemarinya yang ramping langsung menekan tombol power yang berada dipinggir ponselnya untuk menyalakan kembali ponselnya tersebut.
Setelah proses loading system ponselnya berakhir, tanpa menunggu lama lagi ia pun langsung memencet tombol 5 untuk melakukan panggilan dan kemudian menempelkan ponsel tersebut ke telinga sebelah kirinya.
“halo..
Iya ada apa Andheera..?” sapa seseorang di dalam telfon yang langsung menanyakan tujuan gadis tersebut menelfonnya.
Oliver seolah sudah tau, pasti ada hal yang keponakannya itu butuhkan darinya, karena tak mungkin sekali jika Andheera menelfon dirinya hanya untuk sekedar menyapa.
“apa paman mengenal seseorang yang bekerja di rumah sakit Haneul..?” tanyanya langsung menuju topik pembahasan tanpa perlu berbasa-basi.
“amm..” gumamnya seraya mengingat-ingat adakah kenalan dirinya yang bekerja dirumah sakit tersebut.
“ehh tunggu, Haneul Jakarta..?
Iya paman mengenal putri pemilik rumah sakit tersebut, memangnya ada apa..? apa kau dirawat disana..?!” seru Oliver dengan nada khawatirnya.
“tidak..” jawab Andheera datar.
“lalu ada apa..?” tanya Oliver lagi.
“bantu aku untuk melihat riwayat medis seseorang..”
“hey.. kau tak bisa melakukannya, apa kau benar-benar bodoh, riwayat medis seseorang hanya bisa dilihat oleh dirinya atau keluarganya.” Pekiknya yang tak menduga jika keponakannya itu akan meminta sesuatu yang bersifat rahasia.
“tentu aku tau, jika bisa ku lihat sendiri aku takan meminta bantuan paman bukan..?!” ketus Andheera tak ingin kalah meninggikan suaranya.
“yak..!
Kau ini benar-benar ya, sampai kapan kau akan memanfaatkan pamanmu sendiri Andheera..!” tukasnya tajam.
“dia temanku..” kata Andheera yang membuat Oliver terdiam sesaat mendengar pengakuan tersebut.
“aku mohon..” imbuhnya kembali dengan nada yang dibuat selembut mungkin agar Oliver bisa luluh dan membantu dirinya.
“o.. oke baiklah..
Siapa nama temanmu, dan dirawat diruangan berapa, paman akan meminta bantuan pada teman paman besok.”
“sekarang juga..” tegasnya membuat Oliver menelan ludahnya karena tak percaya dirinya yang sudah tua bisa di suruh-suruh oleh keponakannya sendiri.
“Kau..!”
“aku tunggu..”
Beep..
telefon pun dimatikan bersamaan dengan tubuhnya yang berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah sakit.
Selagi menunggu perkembangan dari pamannya, Andheera memutuskan untuk kembali ke tujuan awalnya yaitu menemui Bennedict di kafetaria yang mungkin sudah terlalu lama menanti kedatangan dirinya.
Namun begitu ia mendorong pintu kafetaria dan masuk ke dalam 1 langkah, pandangannya langsung tertuju pada meja Bennedict, ternyata disana sudah ada Min yonggi salah satu member tertua dari grup Namjoon CS, ia pun terus melangkahkan kakinya menghampiri meja Ben.
“kak Yonggi kenapa ada disini..?” tanya Andheera yang masih berdiri disamping meja.
“ahh, aku niatnya ingin menjemput Bennedict tadi sore karena aku lihat Ben kabur saat kita menjemputnya di sekolah, tapi kulihat Ben datang ke rumah sakit ku kira mungkin keluarganya yang terluka jadi aku menelfon manager untuk membantu Ben ijin dari latihan.
Dan sekarang sepertinya sudah waktunya Ben kembali, karena dia sudah terlalu lama berada diluar, jadi aku menjemputnya lagi.” Begitulah cerita singkat yang membuat Bennedict akhirnya bisa lolos dan tidak jadi dibawa paksa kembali ke agensi.
Andheera hanya meresponnya dengan anggukan dan masih berdiri disamping meja tak berniat untuk duduk bergabung dengan mereka berdua.
“kau juga harus pulang Andheera ini sudah malam, gak baik untuk seorang gadis masih berkeliaran di luar rumah.” Tambahnya lagi seraya memandangi Andheera lekat.
“amm.. kak Yonggi duluan saja dengan Ben, sebentar lagi juga aku pulang..” sahutnya.
“ahh iya, apa Jesy sudah kembali ke ruangan kakak nya..?” tanya Andheera yang beralih memandangi keponakannya tersebut.
“iyaa..” ucapnya seraya mengangguk.
“ya sudah ayo kita pulang Ben..” ajak Min yonggi seraya bangkit dari tempat duduknya.
“tapi ransel ku masih di ruangan kakaknya Jesy..” ucap Ben yang kemudian ikut bangkit mengikuti Yonggi.
“kau pulang saja, biar noona yang akan membawakan ranselmu.” Timpal Andheera.
Benedict pun menurut lalu mengikuti langkah Yonggi keluar dari kafetaria dan meninggalkan Andheera beberapa langkah di belakangnya.
Saat berada di depan kafetaria, Ben kembali menoleh untuk melihat sosok Andheera yang berdiri dibelakangnya untuk sekedar melihat kepergian dirinya.
“noona hati-hati ya, aku pulang..” pamit Ben kemudian kembali berjalan beriringan dengan Yonggi.
Setelah meresponnya dengan 1 kali anggukan juga senyuman terhangatnya, ia pun kembali berjalan menuju loby dan berniat untuk menunggu disana.
Sesampainya di loby ia mencari tempat duduk ternyamannya, dimana lagi kalau bukan disudut ruangan.
Dreedd.. dreeed..
Ponsel miliknya bergetar dalam saku blazernya, buru-buru ia pun mengangkat ponsel dan menempelkannya di telinga, berharap jika penelfon tersebut adalah seseorang yang tengah dinantikan oleh Andheera.
Namun..
“HEY..! kau bilang ponsel mu mati, kok ini bisa hidup..!!” teriak seseorang dalam ponselnya begitu mengetahui jika dirinya telah dibodohi oleh temannya sendiri.
“ya tadi mati karena ku matikan, ini kan sudah ku nyalakan kembali.” Jawabnya santai tanpa merasa berdosa sama sekali.
“kamvret..!” umpatnya karena saking kesalnya menghadapi teman seperti Andheera.
“ada apa sih..!” seru Andheera yang sudah ingin mengakhiri percakapan tersebut.
“gimana keadaan ibuku dan Yerim..?!” tanyanya yang mengalah untuk berhenti berdebat dengan karibnya tersebut.
“kau lihat saja sendiri, aku sibuk..!” pungkasnya.
Beep..
Telfon dimatikan secara sepihak oleh Andheera membuat Anha disana semakin dongkol akibat perbuatan temannya itu.
Tepat setelah telfon itu dimatikan, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyapanya dari belakang.
"Andheera..?
benarkan kau keponakan Oliver..?” tanya nya ingin memastikan jika ia bertemu dengan orang yang tepat lengkap dengan senyum ramahnya di akhir.
Sanha Patricia.