To My Youth

To My Youth
BAB 86



Rumah sakit Haneul Jakarta.


Di ruangan Yerim, terilhat gadis mungil tersebut tengah berbaring seraya memiringkan kepalanya ke arah luar jendela, tanpa disadari perlahan air matanya mengalir begitu saja membasahi bantalnya. Di dukung oleh suasana pada saat itu tidak ada keluarganya satu pun yang menemaninya, sebab baik ayah dan ibunya tengah ijin pamit pulang sebentar.


Sementara kedua adik kembarnya masih berada di sekolah, jadi mau tak mau ia ditinggal sendiri dirumah sakit. Sebenernya ngga sendiri banget sih karena 2 ranjang di sebelahnya sudah terisi oleh pasien lainnya sejak kemarin, namun tetap saja terasa sendiri sebab semua tirai di ruangan tersebut ditutup hingga tak dapat melihat satu sama lain.


Hanya terdengar suara percakapan samar-samar dari balik tirai beberapa pasien disebelahnya, mungkin percapakan antara sang pasien juga anggota keluarga yang tengah menemaninya. Berbeda dengan Yerim yang sedari pagi sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya.


Tidak seperti biasanya, sang ibu juga ikut pergi meninggalkannya, mungkin karena ada urusan penting yang tak bisa dilakukan oleh ayahnya sendirian, begitu fikirnya.


“nenek.. aku sudah berusaha menjadi anak baik, aku tidak nakal seperti dulu lagi, tapi kenapa.. Tuhan selalu menempatkan keluargaku dalam kesusahan. Apa benar aku ini anak pembawa sial.. jika seperti itu, bukankah sebaiknya aku tidak pernah dilahirkan.” Gumamnya bersamaan dengan air mata yang semakin deras hingga tak mampu menahan isakannya.


***


Di depan toko Roti keluarga Yerim.


“dengan pak Vincent..?” sapa seseorang dari belakang, kala ayah Yerim tengah membuka kunci pintu tokonya.


Pak Vincent pun berbalik dan mengalihkan perhatiannya sejenak dari aktivitasnya. Ia sedikit terkejut dengan seseorang yang baru menyapa nya tersebut, lelaki yang sedikit lebih muda darinya berpenampilan sangat rapih memakai jas lengkap dan berkacamata.


Tak lupa tas kerja berwarna hitam yang tengah di jinjingnya, untuk sejenak pak Vincent masih tak bergeming dan hanya memandangi lelaki yang tengah berdiri dihadapannya itu, namun saat lelaki tersebut menyunggingkan senyumnya barulah pak Vincent tersadar dari lamunannya sesaat.


“iya betul, saya Vincent..” pak Vincent akhirnya memberi respon.


“saya Billy, pengacara yang akan menangani kasus putri bapak yang bernama Son Yerim.” Lanjutnya diakhiri dengan senyuman merekah yang menghiasi wajah tampannya, selain memperkenalkan dirinya, lelaki tersebut pun mengatakan tujuannya datang ke toko roti tersebut.


Lagi-lagi pak Vincent dibuat terkejut, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, pak Vincent tampak sangat kebingungan, sebab ia tak merasa menghubungi pengacara siapapun bahkan ia sendiri baru bertemu lelaki yang dihadapannya saat ini, sebenarnya ada apa ini ‘fikirnya.


“tapi saya tidak..”


“ada apa, yah..?” Tanya sang istri yang baru saja hadir menyusul suaminya ke toko roti.


“ahh ini..” baru saja sang suami ingin menjelaskan namun sang penagcara tersebut menyelanya dengan memperkenalkan dirinya secara langsung.


“saya Billy, pengacara yang ditugaskan untuk menangani kasus pembulyan siswi yang bernama Son Yerim,” sang pengacara tersebut mengulangi apa yang sudah di katakannya pada pak Vincent.


“pengacara..?


Tapi kita tidak merasa menghubungi pengacara mana pun.” Sama seperti sang suami, ibu dari Yerim pun mengelak jik ia telah menghungi seorang pengacara.


“ibu benar, karena saya ditugaskan oleh orang lain.” Sahutnya dengan nada seramah mungkin.


“apa..? siapa..?” Tanya sang istri penasaran.


“tuan Darren Erlingga.” Jawab sang pengacara tersebut.


“Darren..? namanya seperti familiar.” Gumam pasutri tersebut.


“tuan Darren, pemilik dari Gangnam Mall Jakarta, dan juga mantan Jaksa yang telah pensiun.” Jelasnya.


Keduanya pun saling bertatapan lengkap dengan raut wajah yang masih tampak kebingungan, jika benar begitu adanya, lalu apa hubungannya tuan Darren itu dengan Yerim putrinya..? begitulah kira-kira yang mereka fikirkan.


***


Kembali ke Kirin school Jakarta, di kafetaria.


Seperti biasa Andheera selalu memilih makan di bangku paling belakang bersama dengan Anha.


“kita cuma berdua lagi, kapan ya bisa kumpul berlima.” Gumamnya seraya memasukan suapan pertamanya.


“gausah banyak ngeluh, makan aja.” Ketus Andheera seraya mengunyah makanannya.


“Ciihh..!” Anha mendengus kesal.


“eh, tau ga..! tadi aku ngeliat Hanyoora di kamar mandi, kukira dia bolos lagi gataunya dia ada dikamar mandi.”


“waaah masa sih..!!


Berarti dari pas jam pertama dong dia disana, hahaha.”


“dan kau tau apa lagi yang membuatku terkejut..?!”


“apa..apa..?!”


“dia menyender didinding sembari memandangi dirinya sendiri di cermin dan mengetuk ngetukan sesuatu ke wastafel, dia benar-benar tampak seperti tak waras hahahaha..!!”


Brruuukkkk..!!  suara hantaman punggung Andheera dengan gadis yang tengah tertawa tersebut, Andheera sengaja memundurkan kursinya sampai mengenai punggung gadis yang berada di belakangnya, karena hantamannya begitu keras membuat tubuhnya terdorong dan reflex wajahnya memantul ke wadah makanannya.


Hingga wajah gadis itu pun di penuhi dengan sayur dan beberapa butir nasi yang menempel di wajahanya. “YAAAK..!!” teriak gadis tersebut tanpa mengelap wajahnya terlebih dahulu ia langsung menengok ke belakang untuk melihat siapa yang melakukan hal tersebut padanya.


Sedangkan temannya yang berada di hadapannya, perutnya terhantam meja yang terdorong oleh temannya sendiri membuatnya merasakan mual yang cukup tak tertahankan.


Namun kelihatannya orang yang melakukan hal keji itu pada mereka telah pergi, dengan membawa baki berjalan tergesa-gesa keluar dari kafetaria.


“SIAL..!!” umpatnya sebab ia sendiri bingung harus mengejar orang yang menubruknya atau membersihkan kekacauan yang ada di mejanya terlebih dahulu.


-----


Dalam perjalanan menuju kamar mandi tempat Hanyoora berada.


“apa kau memikirkan apa yang kufikirkan..?” Tanya Anha seraya mempercepat laju langkahnya.


“sudah tak ada waktu lagi..” seru Andheera lalu berlari sekuat tenaga, diikuti dengan Anha yang juga mengikutinya berlari.


“kumohon jangan lakukan itu, Hanyoora..” batin Andheera yang tak bisa berhenti mencemaskan karibnya tersebut.


“Hey, Andheera kau kenapa..?” sapa Jaehyun yang tengah berjalan dari arah berlawanan.


Merasa seperti ada sesuatu yang terjadi, Jaehyun pun ikut berlari mengikuti Andheera dan Anha pergi meski dirinya sendiri tak tahu tujuan dari kedua gadis itu berlarian di koridor sekolah.


Sesampainya di kamar mandi sekolah, Andheera langsung masuk dan membanting pintu kamar mandi. Dan benar saja kekhawatirannya terjadi, Hanyoora sudah menyayat pergelangan tangannya, hingga beberapa kali.


Sayatan itu tidak terlalu dalam, hingga Hanyoora masih sanggup berdiri meski harus menahan perih di pergelangan tangannya.


“APA YANG KAU LAKUKAN HANYOORA..!” bentak Jaehyun yang langsung mencoba berjalan mendekati Hanyoora.


“BERHENTI..!!” teriak Hanyoora seraya meletakan pisau kecilnya diatas pergelangan tangannya kembali.


“jika kau mendekat aku akan, menyayatnya lebih dalam lagi..!” ancam Hanyoora seraya melangkah mundur.


Wajahnya tampak mulai memucat, sepertinya Hanyoora mulai kehilangan tenaganya sebab darah nya mulai mengalir dan membasahi seragam putihnya.


“tidak, Hanyoora sadarlah, apa yang kau lakukan, ini tidak seperti dirimu Yoora.” Timbrung Anha yang mencoba untuk menenangkan Hanyoora.


“memangnya aku seperti apa..?!”


“jangan mendekat Jaehyun..” bisik Andheera saat ia menyadari gerakan kaki Jaehyun yang mencoba untuk mendekati Hanyoora kembali.


Dengan sigap Andheera menaruh telapak tangannya di atas pergelangan tangan Hanyoora, hingga pisau tersebut hanya mengenai sedikit bagian sisi pergelangan Hanyoora. Semburan darah segar pun tak terhindarkan, baik darah Andheera maupun Hanyoora menyatu hingga membuat kamar mandi seketika dipenuhi tumpahan darah dari keduanya.


Karena sudah banyak kehilangan tenaganya, akhirnya Hanyoora pun pingsan seketika dan terjatuh di pelukan Jaehyun yang dengan sigap menangkapnya. Begitu ia menyadari jika Hanyoora telah kehilangan keseimbangannya.


Untuk menghentikan darahnya yang mengalir di pergelangan tangan Hanyoora, Andheera buru-buru melepaskan dasinya lalu melilitkannya di pergelangan tangan Hanyoora guna untuk menghentikan pendaran sementara.


“sembunyikan tangannya ke balik blazernya, jangan sampai yang lain tahu apa yang dilakukannya.” Ujar Andheera saat melilitkan dasi miliknya ke pergelangan tangan karibnya tersebut.


“Hey, kau juga berdarah Andheera..!” kata Anha lengkap dengan raut wajah cemasnya, lalu mencoba meraih tangan Andheera yang terluka dengan tangannya sendiri yang masih gemetaran..


“aku bisa mengurus luka ku sendiri..!” tukasnya seraya menarik paksa kembali lengannya yang juga berlumuran darah sebab Andheeralah yang lebih banyak terluka disbanding Hanyoora.


“bawa Hanyoora ke ruang perawatan, dan ingat jangan sampai ada yang tau keadaan tangan Hanyoora selain dokter Lyra. Kau ikut dengan Jaehyun Anha.” Perintah Andheera.


“lalu kau disini mau apa..?” Tanya Anha dengan pandangannya yang tak bisa lepas dari telapak tangan Andheera yang masih meneteskan darah.


“aku akan membersihkan darah yang berceceran di dilantai. Saat kau keluar, pasang penanda toilet ini rusak.” Tambahnya seraya mengeluarkan sapu tangannya dari blazer kemudian melilitkannya di telapak tangannya untuk menghentikan darah yang terus menetes ke lantai.


“aku akan membantumu,” kekeh Anha.


“tidak, kau ikut bersama Jaehyun, Anha..! Jaehyun tidak bisa menanganinya sendirian.” Tegasnya.


“tapi tanganmu juga terluka Andheera..!!”  rengek Anha yang sudah tak tahan lagi hingga hampir menumpahkan semua air matanya kala itu.


“aku baik-baik saja..!


Cepat pergi, istirahat sudah berakhir, semua murid pasti sudah kembali ke kelasnya masing-masing.” Perintahnya pada Jaehyun yang mencoba mengangkat tubuh Hanyoora sendirian.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan Andheera di kamar mandi sendirian seperti keinginannya.


Begitu hampir sampai diruangan UKS..


Tiba-tiba Vivian datang dari arah samping dengan beberapa berkas atau file yang dipeluknya, ia pun langsung menghentikan langkah Anha, sedangkan Jaehyun tetap berjalan menuju ruang UKS tak menyadari jika Anha sudah tak ada di samping nya lagi.


“apa yang terjadi..? siapa yang dibawa Jaehyun..?” Tanya Vivian seraya menggenggam lengan Anha yang masih gemetar dan kedua matanya yang memerah akibat menahan air matanya.


“kau kemana aja Vivian..?! apa karena kesibukanmu di osis hingga kau melupakan semua temanmu..!”


“yaa..! apa maksudmu, kau..”


Setelah Anha menceritakan apa yang telah terjadi pada kedua temannya itu, Vivian langsung memberikan semua berkas yang dibawanya pada Anha kemudian ia berlari sekuat tenaga menuju kamar mandi, tempat dimana Andheera berada.


BRuuukkk..!!


Vivian membanting keras pintu kamar mandi, dilihatnya Andheera tengah berdiri di depan cermin seraya membuka lilitan sapu tangannya.


“YAAK..!! APA KAU SUDAH GILA..!! huhhh..haah (bentak Vivian seraya mencoba mengatur pernafasannya)


Kau melukai tanganmu lagi..?!” seru Vivian yang kemudin berjalan cepat menghampiri Andheera lalu menarik tangan Andheera untuk memastikan seberapa dalam luka yang dimiliki karibnya itu


 “sudahlah, kau tak perlu berlebihan.” Sahut Andheera seraya menarik tangannya dari genggaman Vivian kemudian membasuh nya dengan air yang keran.


“berlibahan katamu..!!


Tanganmu terluka hingga sobek seperti itu kau bilang padaku untuk tidak berlebihan..?! jika luka yang seperti ini menurutmu biasa aja, lalu luka seperti apa..”


“apa kau sudah mengunjungi Yerim..?” potong Andheera seraya mencoba melilitkan kembali sapu tangan nya setelah membersihkan darah yang masih menempel di telapak tangannya.


Melihat itu Vivian dengan sigap menarik lengan Andheera kembali untuk membantunya melilitkan sapu tangan di telapak tangan karibnya tersebut.


“iya, sepertinya dia mulai membaik, hingga bisa mengumpat padaku.” Responnya diiringi senyum tipisnya di akhir.


“kasus Yerim juga sedang di proses, ku pastikan dia tak akan di penjara, mungkin dia hanya akan menjalani rehab aja selama 3 bulan.” Paparnya.


“bagaimana dengan pihak sekolah, apa mereka juga mengetahui hal itu..?” Tanya Andheera seraya memandang Vivia lekat.


“hanya kepala sekolah dan guru walimu yang tahu, jika ada yang menyebarkan rumor ataupun semacamnya tentang Yerim, aku akan meminta kakek ku untuk berhenti menyumbang ke sekolah ini. Jadi kau tak perlu khawatirkan siapapun lagi.” Ucapnya seraya mengakhiri ikatan sapu tangannya.


“kau mengancamnya..? waaah kau berani sekali, itu tidak seperti dirimu.” Sahut Andheera seraya melirik telapak tangannya yang sudah rapi terbalut sapu tangan miliknya.


“karena jika bukan aku yang melakukannya, kau yang akan melakukannya sendirian.”


“aku akan menyusul Hanyoora ke rumah sakit.” Pungkasnya lalu berjalan keluar kamar mandi.


“aku ikut.” Serunya seraya mengikuti langkah karibnya tersebut.


***


Rumah sakit Haneul Jakarta.


Andheera berjalan beriringan dengan Vivian menuju ruangan yang Hanyoora, sebab sebelumnya Anha sudah memberitahukan melalui SMS perihal ruangan yang di tempati Hanyoora.


"ammm.. kau duluan saja, aku ingin mengunjungi Yerim lebih dulu." ucap Vivian yang kemudian mengubah haluannya.


Andheera hanya meresponnya dengan anggukan saja, kemudian berpisah dengan Vivian sebab kini tujuan nya berbeda.


Sesampainya di depan ruangan VVIP tempat dimana Hanyoora di rawat, sudah ada Anha dan Jaehyun yang tengah duduk di kursi panjang yang disediakan oleh pihak rumah sakit untuk beberapa pengunjung yang membesuk pasien.


“kenapa kalian ada diluar..?” Tanya Andheera.


“ibu Hanyoora tak membiarkan kita masuk.” Jawab Anha dengan raut wajah lesu nya, membuat Andheera juga Vivian reflex mengerutkan keningnya.


Ceklek.. pintu ruangan Hanyoora pun terbuka, muncul seorang wanita paruh baya yang mengenakan jas putih yang bername tag kan Sanha. Wanita itu langsung memfokuskan pandangannya pada satu gadis yang baru saja bergabung dengan Anha dan Jaehyun.


“kenapa kau ada disini..?!


Apa kau yang mempengaruhi Hanyoora hingga Hanyoora menjadi seperti itu.” Pekiknya seraya menajamkan matanya ke arah Andheera.


“tidak tante, ini salah paham, bukan seperti itu.” Timpal Jaehyun mencoba untuk menenangkan ibu dari Hanyoora.


“kau juga, bagaimana kau bisa bergaul dengan gadis berandalan seperti dia, Jaehyun. Kedua orang tuamu pasti akan mengkhawatirkanmu.” Ucapnya seraya memandang wajah Jaehyun.


“tante, Anha bisa jelaskan yang terjadi.” Timbrung Anha yang ikut bersuara agar ibu Hanyoora tidak terus menyalahkan Andheera.


“tidak, saya tidak mau dengar apapun darimu, Anha. Sudah cukup, saya juga tak ingin kau terus berada di sekitar Hanyoora.” tukasnya tajam seolah ia benar-benar membenci kehadiran Anha.


Ingin rasanya Andheera meledakan amarahnya kala itu pada seorang wanita yang berada dihadapannya saat ini, sebab wanita itu masih saja tidak sadar akan kesalahannya yang telah membuat Hanyoora menjadi seperti ini.


Namun kedua matanya tak sengaja menangkap sesosok wajah yang tak asing, membuat dirinya tak bisa hanya berdiam diri saja, kedua kakinya pun reflex melangkah menuju sosok tersebut dan meninggalkan teman-teman juga ibu Hanyoora yang tengah berbicara dengannya.


“lihat..! gadis itu benar-benar tidak memiliki attitude, Jaehyun. Saat orang dewasa sedang bicara padanya, dia pergi begitu saja. Bagaimana cara orang tuanya mendidiknya, gadis itu benar-benar membawa pengaruh buruk pada Hanyoora..!”


“cukup tante..!” pekik Jaehyun yang sudah tak tahan lagi dengan prasangka-prasangka buruk Sanha pada karibnya tersebut, sembari mengepalkan kedua tangannya ia mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.


***