To My Youth

To My Youth
BAB 89



Keesokan harinya, di taman kota.


Belum cukup meredakan stresnya dengan jogging tadi malam, Andheera pun masih melanjutkan jogging nya pagi ini dengan beberapa putaran mengitari taman kota.


Meski keringatnya sudah membasahi seluruh tubuhnya, namun ia masih tak ingin berhenti dan tetap terus berlari.


Sampai..


“apa kau akan terus seperti ini Andheera..?” tiba-tiba saja seseorang bergabung dan berlari disamping Andheera.


“kenapa paman belum pulang juga..?” sahut Andheera tanpa menoleh ia sudah tahu siapa yang kini ada disampingnya.


“tanganmu baik-baik saja..?” Tanya Oliver seraya melirik ke arah kepalan tangan Andheera yang terbalut kain kassa.


“ya..” responnya, yang kemudian menghentikan aktivitas larinya dan beralih berjalan seraya mengatur pernafasannya.


Tak percaya dengan perkataan keponakannya tersebut Oliver lebih memilih untuk memeriksa sendiri keadaan tangan Andheera, tak puas hanya melihat bagian luarnya saja Oliver pun membuka lilitan kain kassa di telapak tangan Andheera.


Layaknya seorang putri yang dimarahi oleh ayahnya, Andheera hanya terdiam melihat pamannya membuka lilitan kain kassa yang dibalut oleh ia sendiri.


“YAK..!!


Kau belum menjahitnya..?!” bentak Oliver seraya menajamkan kedua matanya pada Andheera.


“kenapa semua orang berteriak agar aku menjahit lukaku, tidak usah berlebihan aku baik-baik saja.” ketusnya seraya menarik kembali tangannya.


“tidak bisa..


Ikut paman sekarang.” Paksa pamannya seraya menarik tangan Andheera yang satunya lagi.


“huuhh..” keluhnya namun tetap mengikuti kemauan pamannya, sebab akan sia-sia jika menolak, pamannya itu pasti akan langsung menggendongnya, hal itu malah akan membuatnya sangat malu.


***


Di BangQit agensi.


Terlihat Eunjiso baru saja memasuki lobi dengan 1 koper besar yang ia seret sendiri dari area basemant.


“padahal aku baru saja mau mencari gadis yang bernama Andheera itu, tapi tiba-tiba aja manager menyuruhku untuk melakukan syuting MV di bali. Huhh..” keluhnya seraya terus menyeret koper berwarna pink favoritenya.


“Eunjiso..” sapa seorang staf yang melintas hingga menghentikan sejenak perjalanannya.


“Iya..” respon Jiso seraya membalikan tubuhnya untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.


“dimana asistenmu, kenapa kau sendirian..?” tanyanya seraya membawa beberapa berkas file di dekapannya.


“terkena diare, jadi dia tidak bisa ikut menemaniku.” Sahutnya yang kemudian merogoh ponsel dari dalam tas kecil yang ia selempangkan, mencoba mengecek pesan yang masuk sebab beberapa detik yang lalu ia merasakan ponselnya bergetar.


“begitu ya, baiklah, aku akan meminta staf lain untuk menggantikannya sementara. Kurasa managermu juga masih diruangan pak hitman, kau bisa menunggu diruang latihanmu saja, mau ku bantu bawakan koper besarmu..?” tawarnya seraya melirik ke arah koper besar yang berada disamping Eunjiso.


“ahh tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri kok..” pungkasnya kemudian berniat untuk kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang latihan, namun.. “ohh iya kak Indri..” imbuhnya seolah ia telah melupakan sesuatu.


“Iya..?” sahut Indri seraya membenarkan letak kacamatanya.


“amm, kak Indri kenal dengan trainne yang bernama Andheera..?” Tanya Jiso ragu-ragu.


“Andheera..?


ahh.. adiknya manager Andromeda ya. Memangnya kenapa..?” Indri malah balik bertanya.


“manager Andromeda..? manager nya Namjoon CS..?” Jiso mencoba memastikan.


“Iyaa, kau tidak tahu ya, sini ku bisikan.. (ucapnya seraya mendekatkan wajahnya ke telinga Jiso)


Andheera itu trainne kesayangan bos Hitman.” Bisiknya.


“benarkah..?!” Jiso kembali meyakinkan.


“iya, berita itu bahkan sudah menyebar ke semua trainne lainnya, kau saja yang baru tahu sepertinya.” Ungkapnya.


“apa dia sangat cantik..?”


“tentu..!! bukan hanya cantik, dia itu seperti paket lengkap, suaranya benar-benar luar biasa, dia tak pernah gagal membawakan sebuah lagu, ditambah paras dan tingginya yang akan membuat banyak orang tergila-gila padanya.


Uuh.. tak bisa dibayangkan berapa banyak fanboy yang akan mengidolakannya, jika aku adalah lelaki mungkin aku juga akan terus menempelinya hahaha..!!” serunya seraya membayangkannya.


“sepertinya kak Indri terlalu berlebihan deh..” respon Jiso yang tak begitu suka, karena ia merasa tersaingi.


“yasudah kau lihat saja sendiri gih nanti..” katanya.


“dia ada sekarang..?” Tanya Jiso lagi yang semakin penasaran akan gadis tersebut.


“tidak, jadwal latihannya nanti malam.” Paparnya.


“begitu yaa, huftt..


Mudah-mudahan syutingku di bali akan cepat selesai, aku benar-benar ingin bertemu dengannya.” Ungkapnya seraya menunjukan wajah yang begitu frustasi.


“oke, semoga berhasil ya.” Doanya, seraya menepuk-nepuk bahu Jiso pelan.


“terimakasih kak Indri.” Pungkasnya yang kemudian mengakhiri percakapan yang cukup panjang diantara mereka saat itu.


***


Di rumah sakit Haneul Jakarta.


“paman sendiri yang akan menjahit lukaku..?” Tanya Andheera seraya berjalan beriringan dengan pamannya menuju ruangan IGD.


“apa kau pernah melihat dokter jiwa sedang menjahit.” Jawabnya.


“lalu siapa..? teman paman yang bernama Sanha itu..?” tanyanya lagi.


“kau tunggu disini..” perintahnya setalah sampai di ranjang yang kosong.


Andheera menurut, gadis itu pun langsung duduk di atas ranjang tersebut seraya menunggu pamannya kembali.


15 menit kemudian, karena merasa cukup lelah Andheera pun mengantuk lalu tertidur diranjang.


“Andheera..” ucap sang dokter tersebut saat melihat pasien yang tengah tertidur diranjang adalah seseorang yang ia kenal.


“dia tertidur.. (ucap pamannya seraya memastikan keponakannya itu benar-benar sudah terlelap)


Dokter mengenal Andheera..?” Tanya Oliver yang beralih memandangi dokter yanga akan menjahit luka keponakannya tersebut.


“ahh iya, gadis ini tinggal di aparteman yang sama denganku, aku sering melihatnya.” Katanya.


“ohh begitu, baiklah, dokter bisa mulai, aku harus ke toilet sebentar.” Pamitnya kemudian pergi.


“iya..” responnya.


Tak lama setelah Oliver pergi, salah satu suster menghampiri ranjang Andheera dengan membawa peralatan yang dibutuhkan untuk operasi kecilnya.


Perlahan Hyunjie memegang tangan kecil Andheera dan meletakannya didekatnya, sekilas ia merasa melihat seseorang dalam wajah gadis yang tengah tertidur itu, seseorang yang sudah lama meninggalkannya.


“dia begitu mirip Hyemi..” batin Hyunjie sebelum memulai proses operasi kecilnya ia memandangi wajah mungil Andheera yang masih terlelap dalam tidurnya.


Disaat operasinya berlangsung, ia pun tiba-tiba teringat perkataan Andheera jika dirinya tak memiliki seorang ibu. Ditambah kenyataan bahwa Andheera sudah mengenal Keenan dari dulu itu artinya Andheera tinggal di kampung yang sama.


Dan bukankah kampung itu juga adalah kampung halaman Hyemi, setelah menikah Hyemi memutuskan untuk tinggal bersama kedua orang tuanya dikampung dan membiarkan Reza bekerja di Jakarta sendirian.


“mungkinkah..?” fikirnya.


“kenapa dok..?” Tanya sang suster yang melihat Hyunjie melamun sejenak.


“ahh.. tidak..” ucapnya kemudian kembali tersadar dan melanjutkan jahitannya.


Beberapa menit kemudian, setelah proses menjahit luka Andheera selesai, sang suster pun kembali ke tempatnya dengan membawa semua peralatannya. Sedangkan Hyunjie masih menemani Andheera dengan duduk dibangku disebelah ranjang Andheera seraya memandanginya tanpa henti.


Sebelumnya diruangan Hyunjie,


“apa..?! kau menyuruhku untuk manjahit luka gadis angkuh itu..!


Tidak, aku tidak mau..!! lagipula kan pamannya memintamu bukan aku.” Kekehnya pada seseorang di telfon.


“aku ada operasi besar hari ini Hyunjie, ayolah..! itu akan memakan waktu yang cukup lama sampai aku selesai. Hey, kau ini seorang dokter kan, kau lupa akan sumpah mu dahulu..?!


“aku minta tolong padamu yaa..


Ternyata gadis itu tidak seburuk yang kita bayangkan Hyunjie.”


“apa maksudmu..? kau mulai berpihak padanya.”


“bukan begitu, jika bukan karena Andheera mungkin Hanyoora sekarang bukan berada diruang rawat inap.”


“apa..?”


“iya, Andheera terluka karena menahan sayatan pisau Hanyoora saat itu. Jadi ku mohon oke, tolong gantikan aku, aku benar-benar meminta bantuanmu teman..”


***


“maaf lama, apa Andheera masih tertidur..?” Tanya oliver yang baru saja datang dan membuyarkan lamunan Hyunjie seketika.


“ahh iya.. dia masih tertidur.” Sahutnya seraya melirik ke arah Andheera yang masih terlelap dalam tidurnya.


“kurasa dia benar-benar kelelahan, kalau begitu aku akan menggendongnya saja. Terimakasih sudah menjaganya.” Ucapnya kemudian mencoba mengangkat Andheera seakan ia tengah membawa putri kecil ke dalam dekapannya.


“ahh.. i.. iya..”


***


Di dalam mobil.


Setelah mobil yang dikendarai Oliver keluar dari area parkir dan mulai melaju ke jalan raya, kedua mata Andheera pun terbuka, Oliver yang menyadari hal itu langsung menoleh ke arah keponakannya tersebut seraya masih mencoba focus menyetir.


“kau sudah bangun..?” ucap sang paman.


“hmm..” respon Andheera yang lebih memilih mengarahkan pandangannya ke balik jendela mobil.


“apa terjadi sesuatu..?” Tanya Oliver seolah ia merasakan ada sesuatu yang terjadi pada keponakannya tersebut.


“tidak juga, aku hanya..” responnya datar.


“hanya apa..?” Oliver semakin penasaran.


“bocah hitam gendut yang cengeng itu ternyata ada di dekatku..” gumamnya seraya meletakan siku di pinggiran kaca jendela lalu menopang dagunya dengan tangannya.


“apa..?


Bocah ingusan yang selalu mengikuti kemana pun kau pergi itu..? bagaimana bisa, bukankah dia tinggal dikampung halamanmu.” Komennya.


“entah apa yang terjadi, yang ku tahu ternyata kedua orang tuanya yang di kampung dahulu bukanlah kedua orang tua kandungnya, melainkan kedua orang tua angkatnya, dan dokter yang menjahitku barusan adalah ibu kandungnya.” Paparnya.


“apa..! jadi tadi kau pura-pura tidur..?” pekiknya.


“tidak juga, aku terbangun saat kau mengangkatku dan sekilas aku melihat name tag yang tertera di jas putihnya.” Jelasnya.


“lalu apa yang membuat kau terbebani..?


Bukankah bagus jika bocah itu ternyata berada didekatmu, kau merindukannya kan.”


Andheera pun terdiam sesaat setelah Oliver mengatakan jika keponakannya selama ini selalu merindukan teman kecilnya tersebut, hanya saja dia masih belum berani untuk menemuinya di kampung, sebab ia telah meninggalkannya dahulu.


“temui saja dulu, jika dia memarahimu kau katakan saja yang sebenarnya, kenapa kau harus pindah ke Jakarta.” Ucapnya seraya sesekali melihat ke arah Andheera yang sedari tadi membuang wajahnya ke balik jendala mobil.


“itu hanya terdengar seperti sebuah alasan..” lirihnya kemudian memejamkan kedua matanya kembali, seakan ia ingin menenangkan hatinya yang tiba-tiba saja merasa tidak nyaman.


-----


“aku benar-benar tidak mengerti dengan gadis ini, jika yang dikatakan Shana benar, Andheera yang menyelamatkan Hanyoora dari insiden tragis itu, tapi kenapa, dari awal dia selalu berusaha memberikan image negative dengan sikap kasarnya.


Apa semua itu hanya bentuk pertahanan dirinya, mungkinkah dia memiliki trauma hingga membuatnya menjadi seperti ini. Jika itu benar, trauma seperti apa yang dia alami saat itu..?” gumam Hyunjie, seolah bagian dalam dirinya merasa ikut terluka saat memandangi wajah mungil Andheera yang masih terlelap.


Suara gumaman Hyunjie ketika ia pura-pura tidur masih terngiang jelas di telinganya, seakan sebuah lagu yang terus berputar berulang-ulang, mungkinkah yang dikatakan ibu dari Keenan itu ada benarnya, jika dirinya yang selama ini ditunjukan itu hanyalah sebuah tameng untuk melindungi dirinya sendiri.


Hingga tanpa terasa bulir air mata kepedihan pun mengalir membasahi kedua pipinya, “paman..” panggil Andheera lirih seraya kembali memandangi pemandangan dari balik jendela mobil.


“hmm..” respon Oliver seraya menoleh sesaat ke arah keponakannya tersebut.


“bisakah kau membawa ku pergi dari sini..?” ucap Andheera yang kemudian menatap sang paman dengan kedua matanya yang mulai memerah juga air mata yang tak hentinya mengalir.


***


Kembali ke rumah sakit Haneul Jakarta.


Lebih tepatnya diruangan Hanyoora, terlihat seorang lelaki tengah menuangkan air dari termos ke gelas yang biasa dipakai Hanyoora untuk minum.


“kapan kak Yesa sampai..?” Tanya Hanyoora lemah seraya mencoba bangun dari tidurnya.


“tadi malam, kau sudah lebih baik..?” tanyanya seraya mencoba membantu Hanyoora duduk lalu memberikan air minum hangat untuk adik bungsunya itu.


“hmm, hanya masih terasa perih saja..” responnya sebelum meneguk air hangat yang diberikan kakak keduanya.


Yessa pun terduduk dipinggiran ranjang rumah sakit sembari menunggu adiknya meneguk habis air minumnya, kemudian menaruh kembali gelasnya di atas meja kecil disamping ranjang. Dan beralih memandangi adik perempuannya itu penuh dengan kasih sayang layaknya seorang kakak pada umumnya.


Sampai akhirnya tangis Hanyoora pun pecah lalu menghambur ke pelukan kakak nya, layaknya seorang kakak yang tengah menenangkan adiknya, Yessa pun mengusap-usap bagian kepala belakang Yoora dengan penuh kasih sayang.


“yooraa, gak baik-baik aja kak, yoo.. yoora gak baik-baik a.. jaa..” ucapnya terbata-bata seraya menumpahkan semua air matanya dalam dekapan Yessa, Hanyoora terus saja mengucapkan 1 kalimat tersebut.


Kedua mata Yessa pun berkaca-kaca karena tak kuasa menahan rasa pilunya, menyaksikan kondisi adiknya yang begitu memprihatinkan.


Diluar ruangan, bukannya Jenny tak mau masuk membesuk calon adik iparnya, namun ia ingin memberikan sedikit ruang untuk kedua kakak beradik itu sejenak.


“Jenny..” sapa seeorang yang baru saja datang membuat gadis yang tengah terduduk pun tiba-tiba bangkit dan membulatkan kedua matanya karena terkejut dengan kehadiran seseorang yang tanpa diundang.


“kenapa kau ada disini..?” Tanya Jenny setengah berbisik seraya memperhatikan sekitar.


“ayo bicara diluar, aku tak ingin Yessa melihatmu.” Ujarnya yang kemudian berjalan seraya menarik paksa tangan Keenan.


“kau mematikan telfon begitu saja saat kau bilang ada dirumah sakit, ku telfon kembali, tapi tak kau angkat, aku khawatir, kukira kau..”


“aku baik-baik saja, ponsel ku mati, dan sekarang masih dititip di receptionist sedang di charger.” Selanya seraya melepaskan tangan Keenan.


“jika bukan kau..?”


“adik tunanganku, dia mencoba bunuh diri dengan menyayat lengannya.” Ceritanya sembari berjalan beriringan menuju loby rumah sakit.


“apa..?!


Lalu sekarang bagaimana keadaannya..?” tanyanya.


“sudah lebih baik, untung saja ada temannya yang menahan pisau tersebut hingga tidak mengenai bagian vital Hanyoora.” Paparnya.


“waah, maksudmu seperti yang di drama gitu, lelakinya yang menyelamatkan..?” seru Keenan seraya membayangkan adegan yang sering terjadi di drama, dimana sang tokoh wanita selalu diselamatkan oleh prianya.


“berhenti menonton drama, kau ini ketularan ibumu ya..! bilangnya hanya iseng nonton tapi malah keterusan.” Ujar Jenny seraya menggeleng kepalanya.


“hahaa ya seru sih.” Sahutnya lengkap dengan tawa renyahnya diakhir.


“yang menyelamatkan Hanyoora adalah teman perempuannya.” Paparnya, membuat imajinasi Keenan hancur seketika karena tidak sesuai dengan adegan drama yang sering dilihatnya.


“benarkah..?!” pekiknya tak percaya.


“ya, memang begitulah kenyataannya, ku dengar gadis itu mengorbankan tangannya untuk menahan pisau yang akan menyayat pergelangan tangan Hanyoora. Huftt.. aku tak menyangka disekolah elite seperti Kirin School Jakarta akan ada kisah tragis seperti itu.” Keluhnya.


“apa katamu..?!


Kirin school Jakarta..?” ulang Keenan memastikan apa yang didengarnya barusan.


“hmm, ada apa..?” responnya.


“siapa nama gadis yang menyelamatkan calon adik iparmu itu..?” Tanya Keenan lagi.


“amm.. And..” ucapnya seraya masih mengingat-ngingat nama yang didengarnya kemarin.


“Andheera..?!” tebak Keenan.


***