To My Youth

To My Youth
BAB 44



Kelas X-2.


                “Andheera, kurasa  Vivian masih di perpus tolong bawakan ranselnya ya.” Pinta Anha seraya menaruh ransel Vivian di atas meja Andheera.


Tanpa merespon, Andheera pergi begitu saja dengan membawa ransel milik Vivian, merasa sudah biasa menghadapi kepribadian Andheera yang kasar, Anha hanya menggelengkan kepala seraya memutar kedua bola matanya.


                “kau sudah memberikan tasnya pada Andheera?” tanya Hanyoora yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.


                “iya, kau juga bukannya membangunkan Vivian, dia jadi melewatkan pelajaran kan gara-gara tertidur di Perpus.” Kata Anha sedikit menceramahi temannya itu.


                “aku ingin membangunkannya tapi..”


                “tapi apa?” seru Anha tak sabar menantikan kelanjutan kalimat Hanyoora.


                “kau tahu senior kita yang tampan itu yang memiliki banyak penggemar.” Sambungnya lagi.


                “Kak Brian maksudmu?” timpal Anha mencoba menebak sebuah nama yang dimaksud Hanyoora.


                “iya, dia melarangku untuk membangunkan Vivian.” katanya seraya menunjukan raut wajah yang sedikit bingung.


                “kenapa?” tanya Anha yang tak kalah bingungnya dari Hanyoora.


                “mana ku tahu, kau tanyakan saja padanya.” Jawab Hanyoora ketus.


                “astaga.”


                “aku duluan, ada banyak les yang harus ku lalui hari ini byee.” Pamitnya lalu pergi meninggalkan Anha yang masih berdiri disamping meja Andheera.


                “oke, aku juga harus cepat ke tempat part timeku.” Gumamnya pelan seraya melirik jam yang melingkar ditangannya, kemudian kembali ke mejanya untuk mengambil ranselnya.


Namun ia sedikit terusik dengan ekspresi Yerim yang tampak murung seolah tengah memikirkan sesuatu.


                “Yerim kau baik-baik saja? kulihat dari tadi kau diam saja tak seperti biasanya.” tanya Anha yang mengkhawatirkan salah satu teman baiknya itu, seraya menepuk bahu Yerim pelan.


                “hanya karena mereka memiliki segalanya apa mereka harus berbuat seperti itu.” Gumam Yerim dalam lamunannya.


                “hah..?” Anha tidak mengerti maksud dari perkataan Yerim barusan.


                “tidak, kau akan pulang sekarang?” kata Yerim mengalihkan pembicaraannya.


                “iya mau bareng?” ajak Anha seraya menyunggingkan senyum termanis yang ia miliki.


                “okee.” Sahutnya kemudian bersiap untuk memakai ranselnya.


Mereka berdua pun pulang bersamaan karena tujuan mereka searah, iya tempat tinggal Yerim dan tempat part time Anha kali ini tidak terlalu jauh.


-Perpustakaan Kirin school Jakarta.


Setelah beberapa jam Vivian tertidur akibat terlalu banyak membaca, ia jadi mengantuk hingga melewatkan kelas terakhirnya.


Bahkan saat Andheera muncul pun Vivian masih terlelap dalam mimpi indahnya, Andheera berjalan perlahan seraya menyunggingkan senyum manis melihat Vivian tertidur menganga.


Namun ketika langkahnya semakin dekat, ia mendapati Brian juga tengah tertidur di depannya, untuk beberapa saat perasaan yang berkecamuk dalam hatinya tak dapat ia pahami, senang, sedih, cemburu atau terkhianati.


Ekspresi apa yang harus ia tampakan untuk situasi macam ini, tanpa ia sadari lengannya mulai mengepal seolah ia marah dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


Gadis cantik itu melangkahkan kakinya kembali saat ia kembali tersadar, lalu meletakan perlahan ransel Vivian di bangku sebelah Vivian.


Kemudian ia pergi tanpa membangunkan Vivian ataupun Brian lengkap dengan raut wajah yang tak dapat digambarkan oleh kata-kata, sebab ia sendiri pun tak mengerti perasaan apa yang sebenarnya ada dalam hatinya.


Taman sekolah, setelah Andheera menyelesaikan permintaan Anha mengantarkan ransel Vivian, ia terlihat tengah menelfon seseorang di taman sekolah.


                “oke aku akan kesana.” Percakapan pun selesai dengan beberapa kalimat singkat yang ia lontarkan.


Tak jauh dari belakang, Jaehyun sedikit berlari kecil untuk menghampiri Andheera yang tengah membelakanginya.


                “Hey dari mana kau tahu aku menyukai Hanyoora?” seru Jaehyun lengkap dengan tatapan sinisnya.


                “Anha menceritakan semuanya padaku.” Jawab Andheera santai seraya memasukan ponsel ke dalam saku blazernya.


                “shitt!! wanita benar-benar tak bisa dipercaya, yaudah kita latihan sekarang, sekali saja cukupkan.” Ujarnya masih dengan nada seseorang yang tengah ngajak ribut.


                “sory aku sibuk sekarang, malam nanti aku kabari.” Ucap Andheera tak kalah songongnya dari Jaehyun.


                “sibuk? Haha memangnya apa yang akan kau lakukan?” celoteh Jaehyun dengan tawa renyah diakhir kalimatnya.


                “bukan urusanmu, kenapa pak Toni lama sekali apa terjadi sesuatu.” Gumam Andheera seraya mengeluarkan kembali ponselnya hendak menghubungi kembali seseorang.


                “kau menunggu siapa? bukannya kau selalu mengendarai sepeda?” sahut Jaehyun masih ingin mengajak ngobrol gadis yang berada dihadapannya tersebut.


“Hey kau mengabaikanku?!” seru Jaehyun lagi, karena merasa diacuhkan.


                “apa sih! Baru kali ini aku mendengarmu banyak bicara, dikelas kau seperti tembok yang hanya fokus ke papan tulis, so pintar tapi nilaimu saja masih kalah dengan Hanyoora.” Celetuk Andheera yang kesal, sebab Jaehyun masih saja merecokinya.


                “baru kali ini? Aku bahkan sering mengajakmu bicara tapi kau selalu mengabaikanku.” Sahutnya lagi.


                “kapan?”


                “ciiih.. sudahlah, aku duluan bye.” Pungkas Jaehyun kemudian pergi menuju mobil nya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada saat ini.


                “tunggu.. tunggu!!” seru Andheera, membuat Jaehyun menghentikan langkahnya sejenak untuk kembali berbalik pada gadis kasar dibelakangnya.


                “apalagi?” kata Jaehyun.


                “kau membawa mobil ke sekolah? Kalau begitu antarkan aku.” Ujar Andheera kemudian berjalan mendahuluinya.


                “tidak mau.” Tegas Jaehyun seraya melanjutkan perjalanannya untuk masuk ke dalam mobilnya.


                “kau ingin aku mengempeskan ban mobilmu sekarang?” seru Andheera seraya menendang ban mobil Jaehyun yang tidak memiliki salah apapun.


                “sial! ayo naik tunggu apa lagi?”


                “aku tak mungkin meninggalkan sepedaku disana sendirian.” Ujar Andheera sembari menunjuk ke arah sepeda miliknya yang terparkir di parkiran khusus sepeda.


                “kau ingin aku memasukannya ke mobilku?” seru Jaehyun  yang tak percaya pada situasi yang terjadi saat ini.


                “lalu kau ingin aku yang memasukannya? Jadilah pria sejati oke!” sahut Andheera yang kemudian naik ke mobil duluan, sedangkan Jaehyun mau tak mau ia harus menuruti perintah teman perempuannya itu karena tak ingin disebut bukan lelaki sejati hahaha.


                “Shitt!!” umpatnya dalam perjalanan kembali membawa sepeda Andheera, untuk memasukannya ke dalam bagasi mobilnya.


Setelah selesai dengan tugasnya, akhirnya Jaehyun masuk ke dalam mobil untuk memulai perjalanannya mengantarkan Andheera ke tempat tujuannya.


                “kau fikir jalanan milik orang tuamu, belum punya Sim sudah berani mengendarai mobil.” Gerutu Andheera yang mendapati Jaehyun ternyata belum memiliki SIM (surat ijin mengemudi).


                “kau ingin aku turunkan di gerbang sekolah?” sahut Jaehyun seraya melirik tajam ke arah Andheera yang seakan meremehkannya dalam hal mengemudi.


Tak ingin berdebat lagi Andheera lebih memilih diam seraya memandangi hal sekitar dari jendela mobil milik teman sekelasnya itu.


                “rumah sakit haneul.” Gumam Andheera tanpa menoleh.


                “menjemput bukan menjenguk.” Jawabnya.


Dreedd.. dreedd ponsel Andheera bergetar didalam saku blezernya, tak membiarkannya terlalu lama, jemari rampingnya langsung merogoh saku blazernya, kemudian mengangkat telfon setelah melihat nama yang tertera di ponsel yang tak lain adalah supirnya.


                “aah begitu, iya baiklah gak apa-apa, aku juga sudah dalam perjalanan ke rumah sakit.” Papar Andheera, Jaehyun terlihat melirik sedikit ke arah Andheera penasaran dengan siapa ia berbicara di telfon.


“oiia tolong sampaikan pada ayahku jika aku akan terlambat pulang.” Tambah Andheera sebelum mengakhiri percakapannya di telfon, setelah Pak Toni mengiyakan perkataan Andheera, ia pun menutup telfon dan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku blazernya.


                “nyalakan musiknya.” Pinta Andheera namun tampak seperti memerintah, Jaehyun hanya menggeleng kepala seraya menuruti apa yang gadis kasar tersebut inginkan.


Musik play BTS- Dynamite.


                “apa kau Army? Fanboy?” tanya Andheera sembari menoleh ke arah Jaehyun yang tengah fokus mengemudi.


                “bukan, aku hanya menyukai lagu-lagu BTS karena orang yang kusukai seorang Army garis keras hahaha.”


                “benarkah? Kurasa Hanyoora tidak tertarik dengan kpop tuh.” Gumamnya seraya masih memandangi pemandangan luar dibalik jendela mobil Jaehyun.


Bukannya merespon perkataan dirinya,  Jaehyun malah terlihat tengah menahan senyum lebarnya, membuat Andheera yang menyadarinya mengernyitkan dahi, karena ia tidak tahu bagaimana harus mengartikan sikap Jaehyun barusan .


                “kau kenapa?” tanya Andheera yang menoleh kebingungan ke arah Jaehyun yang tengah fokus menyetir.


                “tidak, hanya.. aku kira kau tak banyak berbicara dengan orang lain.”


                “itu karena kau lelaki, aku hanya tak banyak bicara dengan perempuan.” Jawabnya santai.


                “Hey apa kau cabul?!” seru Jaehyun yangterkejut mendengar perkataan Andheera barusan.


                “sial!" gumam Andheera sepelan mungkin seraya memalingkan kembali wajahnya keluar.


"beberapa orang menyuruhku untuk tidak berfikir negative tentang orang lain, tapi nyatanya akulah yang selalu menjadi target fikiran buruk mereka.” Andheera melanjutkan gumamannya namun kali ini dengan nada yang lebih tinggi agar terdengar jelas oleh Jaehyun.


Jaehyun yang mendengar keluhan Andheera malah tersenyum manis seolah ia dibuat gemas dengan tingkah laku Andheera saat ini.


***


Beberapa menit berlalu.


Akhirnya Andheera sampai di Ruangan Lyra.


                “kak Lyra yakin sudah boleh pulang?” tanya Andheera yang berjalan masuk menghampiri Lyra yang sudah bersiap-siap untuk pulang.


                “tentu, lagipula aku ini kan seorang dokter, aku tahu betul kondisiku.” Ujarnya penuh percaya diri, seraya menyeletingkan tas besar yang berisikan perlengkapannya selama di rumah sakit.


                “ya ya baiklah, sini biar aku yang bawa tas kak Lyra.” Katanya seraya mengambil tas besar yang Lyra taruh di atas ranjangnya.


                “oke thank’s, tumben kau baik Andheera hihihi.” Goda Lyra diselingi tawa renyahnya.


Andheera hanya berjalan pergi tidak memperdulikan godaan dari Lyra, mereka berdua pun pergi menuju parkiran setelah menyelesaikan administrasi kepulangan, sedangkan Jaehyun diminta untuk menunggu saja di mobil selagi ia menjemput.


***


Sementara itu kembali SMA Kirin school Jakarta, tepatnya di perpustakaan.


Setelah beberapa jam tertidur di perpustakaan, Vivian terbangun dan terkejut melihat Brian yang sudah ada dihadapannya, sembari melipat kedua tangan di atas dada kemudian ia tersenyum menyeringai ke arah Vivian yang masih mencoba mengumpulkan nyawanya.


                “kau sudah bangun? Apa belajar di perpus hanya alasanmu saja untuk bisa tidur sepuasnya.” Ujar Brian.


                “ahh kepalaku, (Vivian merasa sedikit pusing karena tertidur cukup lama)


ku fikir tadi Hanyoora akan membangunkan ku, bukannya dia tadi ada di tempat kak Brian.” jawabnya sedikit gugup.


                “engga tuh waktu aku datang dia sedang membaca buku di sebelah sana.” ujarnya seraya menunjuk dengan kedua matanya.


                “dia juga gak membangunkan ku?” tanya Vivian masih tak percaya jika temannya itu telah meninggalkannya di perpustakaan.


                “sudah, tapi ku larang.” Jawabnya rada songong.


                “kenapa?” tanya Vivian seraya mengernyitkan dahinya.


                “kau terlihat lelah.” Responnya lagi.


Mendadak perasaan itu muncul kembali menggoyahkan hati Vivian yang sudah ingin menyerah, ini gak benar aku harus cepat pergi’ fikir Vivian tanpa mengatakan apapun ia bangkit dari tempat duduknya.


Namun gerakannya terhenti saat pandangan matanya tertuju pada ransel miliknya yang tergeletak di atas meja dekat buku-buku pelajarannya.


                “kurasa tadi Andheera ada disini.” Tebak Brian yang ikut memandangi ransel milik Vivian.


                “kenapa Andheera gak membangunkanku, hanya meletakan ranselku disini.” gumam Vivian namun masih terdengar samar di telinga Brian.


                “entahlah aku juga ketiduran tadi jadi gak tahu kapan Andheera datang.” Sahutnya, meski sebenarnya itu bukan pertanyaan untuknya.


Sontak pandangan Vivian langsung beralih pada wajah tampan Brian, “kak brian tertidur juga disini?”


                “iya.” Jawab Brian kemudian ikut bangkit dari tempat duduk lalu pergi begitu saja meninggalkan Vivian yang masih berdiam diri.


                “apa Andheera melihatnya.” Vivian bergumam dalam lamunannya, tak ingin terlalu lama memikirkan hal yang tidak-tidak Vivian memilih untuk membereskan buku-buku pelajarannya lalu memasukannya ke dalam ransel miliknya.


Vivian pun berjalan keluar perpustakaan dengan ponsel yang digenggamnya, ia terlihat mencoba menghubungi seseorang dalam perjalanannya, namun sepertinya orang itu mematikan ponselnya.


Sampai Vivian tak sadar jika langkahnya sudah berada di parkiran sekolah.


“kenapa ponselnya dimatiin yah.” Vivian menghela nafas panjang seraya memasukan ponsel ke dalam saku blazer kemudian kembali melangkahkan kakinya.


Di halte Busway.


Vivian mendapati Brian tengah duduk santai di bangku halte.


                “kak Brian belum naik Busway? Apa kak Brian lupa Busway mana yang harus dinaiki?” tanya Vivian yang dapat menyusul kembali Brian, setelah beberapa menit lalu ia pergi mendahuluinya.


                “aku menunggumu.” Responnya seraya menyunggingkan box smile ciri khasnya.


                “kenapa? Busway kita kan beda?” sahut Vivian yang kembali bingung dengan sikap seniornya itu.


                “ya barangkali kau ingiin ikut bersamaku menemui teman-teman lamamu.” Ujarnya lagi.


                “aamm, aku harus belajar.” Vivian beralasan lalu duduk disamping Brian menunggu busway yang akan membawanya pulang.


                “kau merasa sudah memiliki segalanya jadi kau tak ingin kembali ke tempat itu.” Ujar Brian seraya menatap tajam kedua mata bulat Vivian.


Vivian hanya bisa mengepalkan kedua lengannya sebab apa yang di katakan oleh Brian adalah kebenarannya, tak bisa ia hindari dalam hati kecilnya ia memang sangat malu tentang kebenaran di masa lalu, gadis mungil itu pernah tinggal di panti asuhan cukup lama.


Hingga membuatnya terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Busway yang menuju panti pun muncul, dengan erat Brian menggenggam lengan Vivian, memaksanya ikut bersamanya tanpa persetujuan Vivian.


Tak memiliki tenaga untuk berontak Vivian hanya pasrah dan mengikuti keinginan Brian, untuk membawanya pulang ke tempat masa lalu yang tidak ingin ia ingat kembali.


***