To My Youth

To My Youth
BAB 54



Para bocah yang sudah bosan bermain bola karet dihalaman depan pun ikut berlari mengikuti kedua gadis tadi yang baru saja berjalan ke halaman belakang.


Tak ingin tertinggal, Ben pun ikut mengejar para bocah selayaknya berada diusia yang sama, hanya dengan waktu beberapa menit mereka langsung akrab seolah telah berteman lama.


Kini suara gaduh yang ditimbulkan oleh para bocah tersebut telah berpindah tempat, bersamaan dengan permainan yang mereka mainkan.


Mereka semua berhamburan memilih wahana bermain yang ada dihalaman belakang, lengkap dengan suara tawa bahagia mereka yang membahana, kecuali 2 ayunan yang sudah ditempati Andheera dan Vivian.


Para bocah itu bisa menaiki ayunan kursi berwarna-warni, jungkat jungkit, perosotan pendek, perosotan panjang yang tertutup, mangkok putar, besi panjat, trampolin dan yang terakhir permainan membuat istana pasir.


Karena disana juga tersedia area kecil yang sengaja di buat seolah tengah berada di atas pasir, guna untuk menyalarukan imajinasi para anak-anak.


Vivian yang sedang menikmati ayunan bersama sahabatnya itu tak bisa melepaskan pandangannya pada semua adik-adiknya yang tengah bermain.


Layaknya seorang kakak yang bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah adik-adik kecilnya, ia pun ikut tersenyum dibuatnya.


                “apa ini semua tak terlalu berlebihan hanya untuk sebuah panti asuhan, kurasa mungkin biaya membuat taman bermain seperti ini bisa sampai puluhan juta atau lebih.” Ucap Andheera sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar.


                “semua ini adalah hadiah dari ku, atau bisa dibilang hadiah perpisahan karena ku fikir saat itu aku harus melupakan masa laluku, dan tak akan pernah kembali lagi kesini.” Sahutnya seraya mengayunkan pelan ayunannya.


Mendengar pengakuan temannya, kedua mata Andheera langsung tertuju pada wajah Vivian.


                “kau pernah malu mengakui masa lalumu yang berasal dari panti asuhan?”


Vivian mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Andheera.


“memangnya apa yang membuatmu malu dengan anak dari panti asuhan, bukan keinginan mereka juga kan tidak memiliki orang tua atau sengaja ditinggalkan orang tua mereka disini.” Tambahnya lagi.


                “Andheera.. hanya karena kau bisa berfikir seperti itu, bukan berarti kau bisa memaksakan orang lain harus memiliki pandangan yang sama denganmu, semua yang terlihat mudah bagimu belum tentu untuk orang lain juga.” Paparnya.


                “lalu apa yang membuatmu akhirnya kembali kesini?”


                “kak Brian, dia yang memaksa dan menarikku untuk kembali ke tempat asalku, awalnya aku takut mereka semua tidak akan menerimaku, tapi aku menyadari satu hal, sejauh apapun aku berusaha untuk pergi, sebuah rumah adalah tempat dirimu untuk kembali.” ujarnya seraya tersenyum manis ke arah adik-adiknya yang masih asyik bermain padahal hari sudah mulai gelap.


                “ARGHh hikss..hikss!!!!”


Tiba-tiba seorang bocah terjatuh dari jungkat jungkit yang membuat lututnya lecet, berkat suara tangisan itu semua orang berkumpul termasuk bunda marisa.


Ia berlari cepat menuju sumber suara dari dalam rumah, tak terkecuali Vivian, ia pun berlari menghampiri adiknya yang menangis sembari memegangi lututnya yang terluka.


Meski tak terlalu perduli namun Andheera tetap berjalan menyusul Vivian, mendekati kerumunan para bocah yang tengah menenangkan temannya itu.


Seolah memberikan ruang pada Andheera, para bocah yang tadinya menutupi pandangan Andheera untuk bisa melihat bocah yang terluka, kini mereka sedikit membuka jalan agar Andheera bisa masuk dan melihat keadaan bocah yang terluka tersebut.


                “hikksss.. hikksss sakit sekali kak Ben aku tak ingin main jungkat jungkit dengan kak Ben lagi!” serunya disela tangisnya ia menyalahkan Ben karena terlalu antusias bermain jungkat jungkit hingga menyebabkan bocah itu terlempar dan terjatuh.


                “maafkan aku, aku gak sengaja.” lirih Ben menahan rasa bersalahnya dan hampir menangis.


                “kau tak boleh begitu Renjun, karena kalian bermain bersama kau tak boleh menyalahkan teman bermainmu, kak Ben cuma gak sengaja membuatmu terjatuh.” Kata Vivian mencoba menengahi dengan nada lembutnya seraya memegang wajah Renjun dengan kedua tangan serta senyum manisnya.


                “tapi seharusnya kak Ben tidak menekannya terlalu keras hingga aku tidak terjatuh, ini sangat sakit kak Vivi.” Keluh Renjun disela tangisnya.


                “Renjun..” belum sempat bunda Marisa menengahi, kalimatnya keburu dipotong oleh Andheera yang juga ikut bergabung dalam kekacauan yang Ben ciptakan.


                “apa kau penggemar BTS?” timbrung Andheera seraya mencoba berjongkok dan memandangi wajah Renjun dengan penuh kehangatan,  membuat semua orang kini beralih memandanginya.


                “aahhh.. aku hanya menebak karena kau memakai kaos bergambar chimi.” Andheera menjelaskan maksud dari pertanyaannya dengan senyum manis yang terukir di akhir kalimatnya.


                “kakak juga seorang ARMY?” Renjun berhenti merengek, kemudian beralih membicarakan topik yang ia sukai bersamaan dengan tangis yang berganti menjadi sebuah senyuman lebar yang terukir di wajahnya yang imut.


                “bukan hanya Renjun yang menyukai BTS, kami semua adalah ARMY bahkan bunda Marisa juga hehehe.” Celetuk salah satu teman Renjun yang lain.


Mendengar itu, bunda Marisa hanya menyunggingkan senyum ramahnya seraya mengusap lembut kepala Renjun.


                “benarkah kalau begitu mau ku nyanyikan sebuah lagu untuk mengurangi rasa sakitmu?” ujar Andheera lagi masih dengan senyum manisnya.


                “SETUJU!!” seru mereka semua serempak, Andheera tersenyum lebar sebelum memulai aksinya.


                “tunggu, aku akan mengambil gitar.” seru Vivian lalu pergi berlari ke dalam rumah mengambil gitar milik Brian.


                “aku akan mengambil tikar agar kita bisa duduk dengan nyaman.” Seorang bocah yang lain menyusul Vivian berlari masuk ke dalam rumah.


Selagi menunggu tikar dan gitar, Andheera memandangi semua wajah para bocah panti, juga teman Vivian yang duduk dikursi roda, mereka semua tersenyum hangat ke arah Andheera membuatnya merasa dicintai tanpa alasan.


                “maafkan aku noona.” ucap Ben yang masih merasa bersalah.


                “kau harus minta maaf padanya bukan pada noona.” Kata Andheera seraya melirik ke arah Renjun yang masih bergulat dengan ingusnya akibat terlalu banyak menangis.


                “maafkan kak Ben, ya Renjun, kakak gak sengaja membuatmu terjatuh.” Ucap Ben seraya mengulurkan lengannya.


Karena sudah merasa lebih baik, Renjun akhirnya menyambut uluran tangan Ben lengkap dengan senyum lebar yang menampilkan beberapa giginya yang masih belum tumbuh sempurna.


 ----


Dan pertunjukan Andheera pun dimulai.


Setelah menyiapkan segala sesuatunya, seperti gitar alat untuk menghasilkan musik, tikar untuk alas mereka semua agar bisa duduk di pekarangan, bahkan hingga beberapa cemilan pun tak luput dari bawaan Vivian ketika ia kembali bergabung di pekarangan.


Sementara yang lain duduk diatas tikar, Andheera sendiri memilih duduk di atas kursi kecil milik Renjun yang ditempatkan tepat di depan para penonton.


Song- Life geos on (BTS)


Eoneu nal sesangi meomchosseo..


amureon yegodo hana eopsi..


bomeun gidarimeul mollaseo..


nunchi eopsi wabeoryeosseo..


baljagugi jiwojin geori..


yeogi neomeojyeoinneun na..


honja gane sigani..


mianhae maldo eopsi..


---- Reff


Like an echo in the forest..


harugado ra ogetji..


a mu il do op tan du shi..


Yeaahh life goes on..


Like an arrow in the blue sky..


on my pillow..


on my table..


Yeaahhh life geos in Like this again..


-Arti dari lirik lagu tersebut.


Suatu hari dunia berhenti tiba-tiba tanpa peringatan apapun..


musim semi, tak tahu bagaimana harus kunanti..


datangnya tak bisa diprediksi..


jejak-jejak kaki dijalanan terhapus..


aku jatuh terbaring disini..


waktu, dengan sendirinya berlalu, tanpa permisi..


---- Reff


Layaknya gema ditengah hutan..


hari yang sama berulang kembali..


seakan tak ada apapun yang terjadi..


meski begitu, hidup ini terus berlanjut..


layaknya anak panah yang melesat dilangit biru..


hari lain datang pun akan berlalu begitu saja..


diatas bantalku..


diatas mejaku..


Hidup terus berjalan seperti ini lagi..


Seperti biasanya suara merdu Andheera mampu menyihir semua penonton kala itu, tak terkecuali Vivian yang bahkan sudah mendengar puluhan kali Andheera bernyanyi, ia masih tetap tak bisa menahan rasa kagumnya terhadap suara merdu karibnya itu yang bisa dibilang mirip seperti suara Taeyeon SNSD.


Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu, mereka semua sudah cukup puas bersenang-senang hari ini hingga tak menyadari kegelapan malam sudah menyelimuti pekarangan panti Cameron.


Meski sempat terjadi perselisihan yang tak terduga, namun Andheera bisa mengatasinya dengan baik, sebab ia tak ingin keponakannya terus merasa bersalah dengan apa yang sudah diperbuatnya.


Sampai akhirnya waktu menunjukan pukul 21:00 tepat, tanda kebersamaan itu harus benar-benar berakhir saat ini juga. Karena semua anak panti Cameron harus beristirahat dan juga para tamu panti Cameron harus pulang, seperti Andheera, Ben juga Vivian.


Di perjalanan pulang Andheera dan Ben, mereka berdua memilih untuk menuntun sepedanya sembari menikmati angin malam yang sejuk juga pemandangan langit malam yang indah.


                “noona..” panggil Ben.


                “hmm..” respon Andheera masih fokus memandangi jalanan yang dilaluinya.


                “terimakasih,” sambungnya seraya melirik ke arah Andheera yang berjalan disampingnya.


                “untuk..?” tanya Andheera.


                “semuanya.. dan juga terimakasih karena sudah terlahir menjadi kakakku, aku.. sangat bersyukur dan bahagia.” Paparnya seraya menghentikan langkahnya sejenak dan beralih memandangi Andheera lekat dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.


Menyadari Ben yang menghentikan langkahnya, Andheera pun ikut berhenti dan menoleh kebelakang karena Ben berada selangkah dibelakangnya, lengkap dengan tatapan lembut seorang kakak perempuan ia pun mengukir senyum manisnya.


***


Kembali ke lapang basket di kompleks Ray Keenan, seolah masih belum cukup berlatih bermain basket di siang hari bersama Joe teman sekelasnya.


Ia memutuskan untuk kembali bermain sendirian di lapang, sembari mencoba membayangkan hal-hal bahagia di masa lalu bersama teman masa kecilnya yang tak lain adalah Andheera.


Gadis yang selalu menghiasi mimpi nya di setiap malam, tanpa pemanasan lebih dulu Keenan langsung memulai permainan basketnya.


Tak butuh waktu lama, kepingan puzzle cerita masa lalunya pun bermunculan memenuhi fikirannya saat ini.


Senyum, tawa nyaring seorang gadis kecil terus berputar-putar dalam benaknya, membuat Keenan semakin memacu adrenalinnya untuk melampiaskan kekacauan yang ada dalam hatinya.


-kilas balik 4 tahun yang lalu, di dekat danau belakang rumah Andheera.


Untuk sedikit menghibur temannya yang tengah badmood, Andheera membiarkan Keenan yang menaiki ayunan miliknya, sementara dirinya mencoba mengayun pelan ayunan yang dinaiki Keenan sembari sama-sama menikmati angin malam yang menyejukan.


                “suatu saat nanti aku ingin melihatmu bermain basket dengan benar, dan bukan menjadi pemain cadangan.” Ucap Andheera seraya terus mengayun ayunan yang dinaiki Keenan.


Keenan yang baru saja pulang bertanding basket disekolahnya, namun seperti biasanya karena dia hanya cadangan, tak ada yang memperhatikannya, ia hanya duduk diam dipinggir lapangan melihat teman-teman nya berjuang melawan tim sekolah lainnya.


                “aku akan terus berlatih…” gumamnya lirih seraya menundukan kepalanya mencoba menahan air mata kesedihannya.


                “kau pasti bisa Ray.. kau bukan pecundang! kau bahkan lebih kuat dan lebih pintar dari mereka, jangan sampai mereka memandang rendah dirimu lagi.. mengerti!” Andheera terus menyemangati temannya itu yang tampak masih murung.


                “terimakasih dan juga maafkan aku, karena sering menjadi tamengku, banyak orang yang ikut membencimu juga, kau terus berada disisiku meski itu sulit.. terimakasih Andheera.” paparnya sedikit terisak seraya menutup wajahnya dengan satu tangannya.


                “heemm.. aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri, sekarang atau dimasa depan.” Ucap Andheera yang akhirnya mampu menenangkan hati Keenan kala itu.


Selagi Keenan menyeka air mata pedihnya, Andheera yang berada dibelakangnya terus mengayun seraya menyanyikan beberapa bait lagu favorite Keenan, dengan suaranya yang merdu kini Keenan sudah merasa jauh lebih baik.


***


                “PEMBOHONG!!!” teriak Keenan seraya melempar bola basket dengan segenap kekuatannya hingga bola itu terpental jauh dan tak lagi terlihat keberadaannya.


Berusaha mungkin ia tetap mengendalikan dirinya, dan meyakinkan dirinya jika ia akan baik-baik saja, namun pada akhirnya semua yang ia lakukan akan kembali tertuju pada gadis tersebut.


                “aku sudah lebih baik Andheera, kau tak perlu menjadi tamengku lagi, aku yang akan melindungimu sekarang, maukah kau kembali.. aku.. aku.. sangat merindukanmu.” Lirihnya seraya menutup wajahnya dengan siku lengannya sebab ia merasa air matanya sudah tak bisa lagi ia tahan.


Suasana semakin mendukung kala sudah tak banyak orang yang melewati jalanan itu, membuat Keenan leluasa melampiaskan tangis pilu juga kerinduannya yang tak berujung pada Andheera.


Namun sayang nya cuaca kala itu yang sedari tadi baik-baik saja, seolah ingin mewakili perasaan Keenan saat ini, rintik hujan mulai turun dan perlahan membasahi baju Keenan sepenuhnya.


Di sisi lain, tempat yang tak jauh dari Keenan berada, tampak Jiso tengah berdiri sembari memegangi payung merahnya, seolah banyak sekali fikiran yang berkecamuk dalam benaknya, gadis manis itu hanya memandangi Keenan dari kejauhan dengan tatapan lirihnya.


***


Ray Keenandhra.



Eunjiso