
Beberapa hari kemudian.
Dorm Yeji CS..
Tiba saatnya para murid masuk sekolah setelah melewati libur panjang selama 2 pekan terakhir, begitupun dengan gadis cantik yang sedari tadi sudah bersiap memakai seragam sekolah lamanya, dan berakhir dengan memandangi dirinya sendiri dalam pantulan cermin seukuran dengan tinggi tubuhnya yang semampai.
“hoaamm..!” Yuna menguap begitu lebar tanda ia sudah sadar dalam tidurnya, kemudian menatap teman sekamarnya itu yang masih berdiri di depan cermin.
“waaah, akhirnya kau masuk sekolah juga dheera, apa kau sadar sekarang jika pendidikan itu juga penting..?” ujarnya seraya bangun dari tidurnya dan masih memandangi Andheera lekat.
“tidak juga tuh..!” ketusnya seraya melirik tajam ke arah Yuna.
“lalu apa tujuan mu masuk sekolah jika bukan untuk belajar..?” tanya Yuna seraya mengernyitkan keningnya.
“hanya.. amm.. aku sedikit bosan dengan rutinitas ini, dan ingin bersenang-senang sedikit.” Jawabnya sembari menaikan satu alisnya keatas di lengkapi dengan senyum smirknya.
“astaga, kau benar-benar gadis aneh..!” pekiknya lalu kembali menarik selimutnya dan melanjutkan tidurnya setelah melakukan percakapan singkat dengan teman sekamarnya.
Di ruang makan.
Seperti biasa Yeji selalu bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan para member, ditengah kesibukannya sebagai mahasiswa tingkat akhir di Royal college of music di Jakarta.
Meski bukan suatu kewajiban baginya, namun nalurinya sebagai member tertua merasa terpanggil untuk merawat dan menjaga adik-adiknya, jika bukan dirinya lalu siapa lagi yang akan melakukannya’ fikirnya.
Saat Andheera keluar dari kamarnya, Ryujin sang bungsu sudah berada dikursinya tengah memakan sarapan yang baru saja dihidangkan oleh Yeji, gadis itupun berjalan santai dengan ransel yang lumayan besar dipundaknya dan hampir melewati meja makan.
“sarapan dulu dheera..!” seru Yeji sedikit nyaring.
“lain kali saja..” gumamnya sembari membuka laci tempat sepatunya berada, namun..
“setelah sarapan, akan kuberikan sepatu mu.” Kata Yeji sembari duduk dikursinya untuk memulai sarapan bersama Ryujin.
Mendengar itu Andheera langsung memberikan sorot mata tajamnya pada Yeji yang tengah menikmati sarapannya dengan damai.
“cepat, kalau kau tak ingin terlambat masuk sekolah.” Lanjut Yeji,
“kakak tau, kenapa aku tak begitu suka masakanmu, itu karena masakanmu semuanya hambar..!” gerutunya seraya berjalan malas ke arah meja makan lalu duduk diantara kedua temannya.
“kau pilih hambar tapi menyehatkan untuk tubuhmu, atau enak tapi banyak membawa penyakit..?” sahut Yeji sembari memandangi wajah Andheera tak lupa juga mengunyah sarapannya yang sudah berada dalam mulutnya.
“kalau kau bisa memilih keduanya, sehat dan enak kenapa harus pilih salah satu..!” ketus Andheera tak mau kalah lalu menuangkan sesendok sayur sop ke dalam mangkuk yang sudah berisikan nasi.
“kak dheera, berangkat sekolah bareng aku kan..?” timbrung Ryujin seraya mengakhiri sarapannya dengan suapan terakhirnya.
“engga, aku mau naik sepeda.” Sahutnya sembari mengunyah sarapannya dengan terburu-buru.
“kalau manager Lukcy tau kau berangkat pakai sepeda, mungkin dia akan mengadukannya pada pak Hitman.” Ujar Yeji yang kurang setuju dengan rencana Andheera barusan.
“aku sudah dapat ijin dari pak Hitman..” paparnya.
“benarkah..? kalau begitu aku juga mau ikut naik sepeda deh.” Seru Ryujin girang kemudian meminum seteguk air dalam gelas miliknya.
“aku ga bilang kau dapat ijin kan..?” katanya dengan nada sinisnya kemudian menyelesaikan suapan terakhirnya dan meminum air mineral disampingnya seteguk.
“aku sudah selesai, sekarang mana sepatuku..!” tagih Andheera sembari bangkit dari tempat duduknya.
“ada di laci yang bawah..” sahutnya.
“apa..?!”
“seharusnya kau memeriksa seluruh laci tadi..” tambahnya lagi dengan diiringi tawa renyahnya.
“AUGHH..!!” umpat Andheera kesal.
Tak ingin memperpanjang perdebatannya karena ia takut akan terlambat, Andheera mengalah kemudian pergi kembali untuk mengambil sepatu miliknya di laci yang paling bawah, di ikuti oleh Ryujin yang juga mulai memakai sepatu sekolahnya.
Area baseman dorm Yeji cs yang lebih seperti sebuah Gedung apartemen, mereka berjalan beriringan bahkan hampir saling berdempetan karena Ryujin yang selalu ingin menempel dengan Andheera.
“mobilmu kan disana, jangan mengikutiku terus dong..!” gerutu Andheera.
“aku kan sudah bilang akan ikut naik sepeda, kak dheera ayolaah..!” pinta Ryujin sembari menunjukan ekspresi wajahnya sememelas mungkin agar hati kakaknya itu luluh.
“tapi kalau kau dimarahi manager jangan salahkan aku ya..!” kata Andheera memberikan kesepakatan sebelum dirinya mengijinkan sang bungsu ikut dengannya.
“SETUJU..!” seru Ryujin dengan tawa lebarnya seolah tengah mendapatkan sebuah hadiah besar ia tak hentinya tertawa bahagia.
Akhirnya meraka pun melanjutkan perjalanannya menuju tempat sepeda terparkir, dan membiarkan sang manager menunggu lama di mobil tanpa sebuah kepaastian.
Andheera menaiki lebih dulu sepedanya untuk memulai mengayuh, kemudian Ryujin masih dengan tawa bahagianya ia menempati kursi penumpang dibelakang seraya memeluk tubuh sang kakak, meski sebenarnya Andheera tampak tak nyaman dengan pelukan dari sang adik.
Namun ia mencoba untuk mengabaikannya untuk kali ini,
“Ayooo berangkatt..!” seru Ryujin dari belakang seraya mengangkat satu tangannya tanda ia sudah siap untuk pergi.
Andheera hanya merespon dengan senyuman tipisnya kemudian kakinya mulai mengayuh sepeda favorite miliknya itu, melewati beberapa mobil yang terparkir dibaseman dorm nya.
Sampai..
“ Hey Bennedict..!” sapa Ryujin saat melewati Ben juga member lainnya yang tengah berjalan santai menuju mobil grup nya.
Melihat noona dan juga temannya yang akan berangkat sekolah memakai sepeda, membuat kedua mata Ben membulat dan terus memperhatikan mereka hingga menghilang dari pandangannya.
“ayo Ben..” panggil kakak keduanya yang bernama Yonggi, membuat pandangan Ben kembali beralih pada member lainnya yang mulai memasuki mobil.
“aku juga ingin pakai sepeda kak, boleh kan..?” rengek Ben pada sang manager yang sudah berada dibelakang kemudi.
Sang manager hanya menggeleng kepala dan menunjukan sorot mata tajamnya, memberi tanda jika ia menolak dengan tegas keinginan sang bungsu.
Tak dapat membantah Ben pun akhirnya masuk ke dalam mobil mengikuti para member yang sudah berada di dalam.
Begitu sang menager menyalakan mesin untuk memulai perjalanannya, Yonggi yang duduk disebelahnya tiba-tiba membisikan sesuatu ke telinga Bennedict.
Seolah telah mendapat energy baru, wajah Ben yang mulanya muram kini berubah menjadi senyum merekah juga kedua bola matanya yang kembali membulat, membuatnya terlihat menggemaskan hingga Yonggi juga tertawa seraya mengusap kepala sang bungsu.
“kalian akan merencanakan apa..?” ucap Seokjin setengah berbisik seraya menyembulkan kepalanya ditengah Ben dan Yonggi dari bangku belakang.
“boleh aku ikut..?” timbrung Brian yang juga menyembulkan kepalanya dari kursi belakang.
“ga ada apa-apa..” sahut Yonggi yang kemudian memalingkan wajahnya ke balik jendela mobil dan mengabaikan kedua temannya yang duduk dikursi belakang.
Sedangkan Namjoon yang duduk di kursi dekat sang manager hanya melirik ke belakang dengan sorot matanya yang penuh tanda tanya, memandangi ke seluruh membernya mencoba memahami yang akan direncanakan para temannya itu.
***
Di depan gerbang Kirin school Jakarta.
Saat Andheera hendak mengayuh sepedanya melewati gerbang sekolahnya, namun suara panggilan yang begitu nyaring membuatnya menghentikan kayuhannya dan menoleh ke arah sumber suara.
“ANDHEERAA..!!” siapa lagi kalau bukan Anha, gadis itu berlari agar bisa cepat menghampiri Andheera yang menunggunya di depan gerbang.
“kak.. Anha..?” ucap Ryujin agak ragu kemudian turun dari sepeda dan berdiri di dekat Anha.
“ohh hey Ryujin, kau masih mengingatku..?” sahutnya tak percaya, padahal ia hanya sekali merias wajah gadis mungil tersebut.
“hehehe.. aku ingat karena kakak dulu juga pernah membelikan minum untukku.” Katanya lagi dengan senyum manis yang tak pernah hilang dari wajah cantiknya.
“waaahh, padahal hanya air mineral tapi kau masih mengingatnya, aku terkesan Ryujin..” ujarnya lembut seraya mengusap kepala Ryujin yang tak terlalu tinggi darinya.
Melihat pemandangan yang menurut Andheera eoh, tanpa berfikir panjang ia pun meninggalkan kedua temannya itu yang masih saling melempar senyuman.
Sontak keduanya pun terkejut dan tak percaya jika Andheera akan meninggalkan mereka begitu saja.
“astaga, gadis kasar itu benar-benar..!” kecam Anha kemudian berlari untuk mengejar Andheera, lalu diikuti Ryujin yang juga ikut berlari bersama Anha sembari tertwa.
Aula Kirin school Jakarta.
Setelah hampir 30 menit mendengar pidato dari kepala sekolah, akhirnya para siswa pun terbebas dari rasa kram juga membosankan yang sedari tadi mereka tahan, kemudian mereka semua berhamburan menuju papan madding yang terletak di salah satu koridor dekat tangga lantai 2.
Untuk mengetahui kelas mana mereka ditempatkan, mereka harus berdesakan mencari nama mereka masing-masing agar bisa lebih dulu masuk kelas dan menduduki bangku yang mereka inginkan sebelum ditempati yang lainnya.
Lain hal nya dengan Andheera, ia hanya berjalan santai masih dengan ransel dipunggungnya, lalu terdiam dengan jarak yang tak terlalu jauh dari papan madding, seraya melipat kedua tangan dan menyandarkan bahu kirinya ke dinding.
“waaah akhirnya kau kembali juga Andheera.” Ujar seseorang dari belakang seraya memandangi Andheera dari ujung kepala hingga kaki.
Andheera hanya menanggapinya dengan lirikan sesaat untuk memastikan suara siapa yang kini ada disampingnya, kemudian kembali terfokus pada kerumanan yang berada dihadapannya.
“astaga, kau masih saja kaku, huhh..” Hanyoora menggerutu lalu pergi meninggalkan Andheera dan mencoba bergabung dengan teman-temannya untuk melihat namanya di madding.
Selang beberapa menit saat kedua matanya berkeliaran kesana kemari, ia mendapati sosok yang tak asing di ujung koridor bersama dengan sekelompok gadis yang belum pernah ia lihat sebelumnya, salah satu diantaranya tengah merangkul Yerim bersamaan dengan tawa yang tampak seperti mengintimidasi.
Diikuti dengan beberapa temannya yang berjarak 2 langkah dibelakangnya yang juga tengah tertawa lepas, sementara Yerim sendiri hanya terdiam seraya menundukan kepalanya dalam rangkulan salah satu gadis dalam kelompok tersebut.
Otak Andheera mulai bekerja dan mencoba memahami situasi yang terjadi, “tidak mungkin, jika ada orang yang mengganggunya dia tentu akan melawan, dengan tenaganya yang sekuat hulk cewe-cewe itu bukan apa-apa baginya.” Andheera membatin.
“hey..! kenapa kau hanya diam disini..?” seru Anha yang baru saja keluar dari kerumunan lalu membuyarkan lamunan karibnya itu.
“ahh.. engga.. apa kau melihat namaku..?” tanya Andheera barangakali saja Anha berbaik hati mau mencarikan namanya juga di madding.
“kau IPS-2 bareng denganku dan Yerim, oh iya btw.. apa kau liat Yerim pagi ini..? semenjak aku pisah kelas dengannya selama 1 tahun ini aku jarang melihat dia di kafetaria.” paparnya.
“Yerim..? aku lihat dia tadi dengan..” respon Andheera yang keburu disambar oleh Hanyoora begitu ia selesai berdesak-desakan dalam kerumunan.
“AUGHH..!! Sial, lagi lagi aku bareng dengan cewe-cewe centil itu, iih najis..!” pekik Hanyoora seraya berjalan mendekati kedua temannya dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku blazernya.
“sudahlah hanya tinggal setahun lagi ko..” sahut Anha mencoba menenangkan.
“siapa..?” timpal Andheera tampak penasaran.
“kau tak akan tahu, karena dia datang setelah kau pergi.” Jawab Hanyoora masih dengan pandangannya yang terfokus pada layer ponsel miliknya.
“kau IPA berapa, yoora..?” tanya Anha.
“IPA 1, kau..?” Hanyoora balik bertanya kemudian memasukan ponsel ke dalam blazer karena merasa sudah cukup mengecek ponselnya.
“IPS 2, waah kelas kita sepertinya berjauhan lagi..” sahutnya,
Sementara itu ada 1 gadis yang kebingungan mendengar percakapan kedua temannya.
“kau pindah jurusan Hanyoora..?” timbrung Andheera.
“iya, tiba-tiba saja ibuku ingin aku kuliah kedokteran, huhh.. seharusnya dari awal saja ibuku melarangku masuk IPS, menyebalkan..!” gerutunya seraya memonyongkan mulutnya lalu melipat kedua tangan diatas dadanya.
“Hey..! kudengar ada trainne dari agensi BangQit di halaman sekolah, ayo kita lihat seberapa tampannya mereka hahaha..!” seru salah seorang murid pada temannya yang berjalan melewati tempat 3 serangkai itu berdiri.
“waaah.. benarkah!!.. aku juga ingin lihat.” Sahut seorang gadis lainnya yang tiba-tiba keluar dari kerumunan, kemudian berlari kecil menyusul kedua temannya yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
“apa katanya tadi, ada trainne..?!” timpal seseorang lagi yang juga mendengar apa yang tengah diributkan oleh temannya yang sudah berlalu.
Tak disangka kabar itu menyebar begitu cepat hingga semua siswi yang tengah focus mencari nama mereka di madding pun teralihkan, dan dengan cepat mereka semua tanpa terkecuali saling berlarian menuju halaman sekolah untuk memastikan kebenaran kabar yang mereka dengar.
Sementara itu ketiga serangkai yang tengah bersantai tak jauh dari papan madding pun dengan gesit berpindah tempat mendekat ke dinding, agar tak menghalangi murid lainnya yang akan berlari melewati mereka.
“Astaga..! cewe-cewe jaman sekarang benar-benar alay banget sih..!” gerutu Hanyoora yang kesal dengan kelakuan teman-temannya.
“kau yakin gak mau liat siapa trainne nya..? aku sih penasaran juga.” Celetuk Anha yang kemudian ikut menyusul teman-temannya namun dengan gaya yang lebih elegan hahaha.
“yaa.. yaa.. penasaran sih.” Saut Hanyoora yang akhirnya ikut menyusul Anha seraya menarik lengan Andheera dengan paksa.
“apa sih..! aku ga tertarik.” Tolak Andheera seraya menarik kembali lengannya.
Namun tak diduga Hanyoora malah menggigit lengannya lengkap dengan kedua sorot matanya yang tajam, membuat Andheera mengernyitkan keningnya.
“okee.. okee.. aku ikut, tapi lepaskan..!” ujar Andheera seraya mencoba menjauhkan kepala Hanyoora dari lengannya.
“janji..!” Hanyoora ingin memastikan sekali lagi.
“yaa.. yaa.. lepaskan..! lengan blezerku sudah terkontaminasi jigongmu augh..!” pekik Andheera.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju sumber suara teriakan histeris dari teman-temannya dihalaman sekolah, selagi beberapa trainne itu berjalan menuju parkiran dengan ditemani sang manager, semua murid perempuan tak hentinya berteriak histeris karena ketampanan yang mereka miliki.
“UUHH OPPAA..!!” teriak salah satu siswi.
“OPPA godain aku dong..!!” saut siswi lainnya yang disambut gelak tawa oleh para trainne tersebut.
“kenapa kau diam..? katanya ingin melihat oppa.” Ujar Andheera seraya melirik kearah temannya yang tampak sangat tenang, tidak seperti beberapa menit yang lalu.
Yonggi salah satu member Namjoon CS.
“Yonggi..” gumam Hanyoora seraya memandangi beberapa trainne tersebut hingga mereka masuk ke dalam mobil.
“kau mengenal kak Yonggi..?” sahut Andheera yang lagi-lagi mengerutkan keningnya.
“tidak, amm.. aku masuk kelas duluan ya, sampai nanti.” Pamit Hanyoora dengan nada yang tergesa-gesa kemudian pergi tanpa menunggu respon dari temannya.
“apa sih..” ketus Andheera seraya menggelangkan kepalanya melihat sikap aneh temannya tersebut.
Saat Andheera hendak berbalik berniat untuk kembali masuk, tiba-tiba sekilas kedua mata elangnya mendapati sosok Yerim kembali, gadis itu tengah berjalan dari area belakang sekolah dengan langkah kaki yang sedikit dipaksakan juga rambutnya yang terlihat seperti terkena guyuran air seember.
Membuat Andheera berfikir keras hingga menggigit bagian bawah bibirnya yang tipis seraya memicingkan kedua matanya, ‘apa yang sebenarnya terjadi’ fikirnya.
Meski dirinya mencoba untuk tidak perduli, namun tanpa ia sadari hati kecilnya benar-benar terusik dan tak bisa tinggal diam begitu aja.
***