
Aparteman Bougenville.
Saat Andheera melangkahkan kakinya masuk ke dalam aparteman miliknya, ia mengernyitkan keningnya kala melihat laci yang sebelumnya terisi oleh sepatu kets milik Vivian kini laci tersebut kosong, tampaknya karibnya itu telah pergi berangkat sekolah.
“ada apa..?” tanya sang paman yang melihat keponakannya tersebut terdiam sejenak diambang pintu.
“ahh.. tidak..” ucapnya yang kemudian melanjutkan langkahnya kembali, diikuti dengan sang paman yang ingin beristirahat sejenak di aparteman keponakannya tersebut.
“kau lapar..?
Mau pesan makanan apa..?” tanya sang paman saat ia melihat Andheera berjalan menuju kamarnya seraya melepas hodie ditengah perjalanannya dan melemparnya ke sofa yang dilewatinya.
“tidak perlu, Vivian pasti sudah memasakan sesuatu di dapur.” Sahut Andheera sebelum menarik handle pintu kamarnya.
Dan benar saja ketika Oliver melangkahkan kakinya ke dapur, kedua mata juga hidungnya sudah disuguhkan oleh beberapa hidangan di meja makan dengan aroma yang menggugah selera sudah pasti semua masakan tersebut terasa sangat lezat.
Membuat kedua mata Oliver pun berbinar lengkap dengan air liurnya yang hampir menetes, ia pun langsung bergegas mengambil piring dan menyendokan nasi ke dalam piringnya, tak ketinggalan berbagai macam lauk pauk pun ia campurkan dengan nasi yang sudah lebih dulu bersarang di piringnya.
***
Kembali ke rumah sakit Haneul.
Lebih tepatnya diruangan Hanyoora, karena sudah merasa baikan Hanyoora pun sudah berhenti menangis dan mencoba melanjutkan obrolan ringan dengan kakak keduanya. Sampai tak lama kemudian, seseorang datang membuka pintu ruangan Hanyoora, yang membuat keduanya reflex menoleh ke arah pintu ruangan tersebut.
“kak Jennie..” ucap Hanyoora kala ia melihat calon kakak nya tersebutlah yang hendak masuk ke dalam ruangannya, hingga ia pun merekahkan senyum manisnya untuk menyambut kedatangan Jennie, namun tak hanya Jennie, melainkan ada seseorang lagi yang berjalan dibelakang Jennie dan ikut masuk ke dalam ruangan Hanyoora.
Hal itu membuat kakak beradik tersebut mengernyitkan keningnya, untuk menyiratkan tanda tanya besar dalam benak keduanya.
“amm..” Jennie mencoba berjalan perlahan mengahmpiri ranjang Hanyoora begitupun lelaki asing tersebut yang masih mengikuti Jennie tak jauh dibelakangnya.
“apa kau mengenal Andheera..?” tanya Keenan yang sudah tidak sabar ingin langsung pada tujuannya.
Namun hal itu rupanya membuat Hanyoora sedikit ketakutan, dan langsung memegangi tangan kakaknya yang masih terduduk dibangku disamping ranjangnya.
“keenan, pelan-pelan, jika kau seperti ini kau hanya akan membuat Hanyoora berfikir negative tentangmu.” Timbrung Jennie, yang tidak setuju dengan sikap buru-buru Keenan.
“siapa..?” tanya Yesa yan akhirnya bersuara seraya menatap Jennie lekat.
“ini Keenan, teman SMA ku.”
“lalu apa hubungannya dengan Hanyoora, kenapa kau membawanya kemari..?” tanya Yesa kembali dengan tatapan sinis yang mengarah pada Keenan.
“jadi begini, Keenan ini punya teman perempuan, dan teman perempuannya itu kebetulan juga temannya Hanyoora, dia adalah Andheera.” Jelasnya, yang akhirnya membuat Yesa berhenti memandangi Keenan dan kini beralih pada adiknya.
“yoora, kak Keenan ini bukan orang jahat ko, dia ini temannya Andheera, dan ingin bertemu dengan Andheera, jadi bisa ngga yoora kasih tau kakak dimana alamat Andeera tinggal..?” tanya Jennie seraya mengusap kepala Hanyoora lengkap dengan tatapan lembutnya.
“tidak..” tegas Hanyoora seraya menatap wajah Keenan penuh kecurigaan.
“kenapa!...” protes Keenan namun dengan cepat Jennie mencengkram erat lengannya memberikan tanda jika ia haru sedikit lebih sabar.
“yoora, percayakan sama kak Jennie, kak Keenan ini benar ko temannya Andheera, atau gini deh biar yoora percaya, sekarang coba yoora video call Andheera, gimana..?” saran Jennie yang masih berusaha membujuk Hanyoora agar bisa mempertemukan Andheera dengan Keenan.
Hanyoora pun melirik kakaknya mencoba untuk meminta pendapatnya, Yesa pun menganggukan kepalanya tanda ia tak keberatan dengan saran tersebut.
Perlahan Hanyoora pun mengambil ponsel dari balik selimutnya, kemudian mengklik sebuah nama yang berada dalam buku kontaknya.
Setelah berusaha menunggu diangkat oleh sang pemilih ponsel tersebut, akhirnya Hanyoora menggelengkan kepalanya tanda jika tak ada respon dari sang pemilik ponsel.
“bisa tolong 1 kali aja lagi ya, kakak mohon..” pinta Keenan lengkap dengan kedua tangannya yang disatukan untuk menambah kesan permohonannya pada Hanyoora.
Karena tak tega Hanyoora pun mencoba untuk kembali memanggil karibnya tersebut.
Sampai pada nada panggil yang ketiga, video call tersebut pun tersambung, namun..
“iya halo..” sapa seseorang dalam layar ponselnya, membuat Hanyoora sangat terkejut hingga membulatkan kedua matanya.
Iya bagaimana tidak, niat hati ingin melihat wajah Andheera, namun yang muncul saat ini malah wajah om om yang tengah mengunyah sesuatu dalam mulutnya.
“om siapa..?” tanya Hanyoora.
Mendengar kata om membuat Yesa, Jennie, dan Keenan terhentak, terlebih lagi Keenan yang langsung mendorong Jennie ke pinggir agar ia bisa lebih dekat dengan Hanyoora, dan bisa ikut melihat pemandangan yang berada dalam layar ponsel milik Hanyoora.
“benarkan ini nomor Andheera..?!” ucap Keenan seraya menatap tajam seorang lelaki yang tengah bervideo call an dengan Hanyoora.
“ohh cari Andheera, itu lagi tidur..” sahut sang lelaki tersebut seraya mengarahkan setengah kameranya pada Andheera yang tengah tertidur pulas diatas ranjang sedangkan setengahnya lagi diisi oleh perawakan dirinya yang tengah menggenggam ponsel milik Andheera.
“apa yang dilakukan Andheera dengan om-om..” gumam Jennie yang tengah berfikir keras.
“tidak, tidak mungkin, Andheera seperti itu..” sanggah Hanyoora.
“itu ayahnya mungkin yoora.” Timbrung yesa yang mencoba berfikir positif
“tidak, ayahnya tidak seperti ini.” Sanggah Keenan.
“jangan-jangan..” ucap Hanyoora seraya menggigit bibir bagian bawahnya.
Beeepp.. sambungan video call tersebut mati yang membuat Hanyoora dan juga Keenan semakin panik, dan tak hentinya saling menatap, apa yang sebenarnya terjadi pada Andheera saat ini, siapa lelaki tersebut, dan kenapa Andheera bisa tertidur disebuah ruangan bersama lelaki itu.
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam benak keduanya, tentunya bukan fikiran positif, tapi hanya fikiran negative lah yang kini menguasai benak Hanyoora juga Keenan.
“kau yakin benar-benar mengenal Andheera..?” tanya Jennie hati-hati.
“YAK..!! Andheera tak mungkin melakukan hal kotor seperti itu, ini pasti penculikan, kau tak lihat Andheera pingsan tadi..!!” bentak Keenan yang sangat tersinggung akan perkataan karibnya tersebut.
“kau tak perlu membentak Jennie seperti itu, bagaimana kau bisa yakin dia masih tetap gadis yang sama seperti yang dulu kau kenal..”
“CUKUP..!!
Hentikan, aku akan menelfon Vivian.” Sentak Hanyoora yang tak kalah ngegas sebab ia juga tak suka jika karibnya dipandang seperti itu oleh kakaknya.
***
Di koridor sekolah, tampak Vivian tengah berjalan dilorong koridor seraya memegangi setumpuk buku dalam dekapannya, sampai getaran dalam saku blazernya membuat langkahnya terhenti seketika, bersusah payah ia pun mencoba merogoh ponsel yang berada dalam saku blazernya dengan satu lengannya.
“ha.. halo..?” sapa Vivian yang langsung menaruh ponselnya ke telinga tanpa melihat lebih dahulu siapa yang menelfonnya.
“Andheera..!!” ucap Hanyoora dengan nada suara yang sedikit gemetar.
“Andheera..? kenapa..?
Kurasa sekarang dia masih di apartemannya.” Sahutnya santai.
“Andheera diculik om-om, Vivian..!!” serunya yang membuat Vivian sangat terkejut hingga menjatuhkan semua buku yang berada dalam dekapannya.
“Vivian kau ini kenapa..?” tanya salah satu temannya yang menghentikan langkahnya kala ia melihat Vivian tiba-tiba saja menjatuhkan semua buku-bukunya.
“hey, tolong bawakan buku-buku itu ke perpustakaan ya, tolong sekali.” Pinta Vivian seraya menepuk-nepuk bahu temannya tersebut seraya bergegas pergi setelah mematikan telfonnya juga memasukannya kembali ke dalam saku blazernya.
Namun di tengah perjalanannya menuju parkiran sekolah, ia melihat punggung Anha yang perlahan keluar dari ruangan kelasnya seraya menggosok-gosokan kain pel dilantai.
Tak berfikir panjang Vivian yang berlari melewatinya langsung menarik kerah blazernya Anha untuk ikut berlari dengannya.
“lebih penting mana piket atau menyelamatkan Andheera..?!”
“apa maksudmu..?” Anha malah semakin kebingungan.
“Andheera di culik..” seru nya saat sampai di depan mobil miliknya.
“APA..!!” pekik Anha.
“AYO CEPAT NAIK, KAU MAU IKUT TIDAK..?!” bentak Vivian yang sudah tak sabar ingin mencari keberadaan karibnya tersebut seraya membuka pintu mobilnya kemudian masuk terlebih dahulu, disusul dengan Anha yang juga buru-buru masuk ke dalam mobil meski sebenarnya ia masih belum mengerti situasi yang terjadi saat ini.
“kau yakin Andheera di culik..?” tanya Anha yang masih tak percaya.
“hallo..!
Pak Yudha, tolong lacak ponsel Andheera sekarang juga..! ku tunggu.” Perintah Vivian dalam telfon dan mengabaikan Anha disebelahnya.
Sementara itu, kembali ke rumah sakit Haneul Jakarta.
Terlihat Hanyoora sudah siap mengganti pakaian seragam rumah sakitnya dengan pakaian casual miliknya, seraya memainkan ponsel miliknya.
“hallo Vivian..” ucap Hanyoora yang lansung mengangkat panggilan telfon dari Vivian.
“apa..? oke aku akan kesana sekarang..!” seru nya yang langsung mematikan telfon.
Sedangkan Yesa, Jennie dan Keenan hanya bisa terdiam seraya menunggu aba-aba dari Hanyoora.
“kau yakin akan ikut mencari Andheera, yoora..?” tanya Yesa kembali yang khawatir sebab Hanyoora belum pulih total.
“ya tentu, kakak lupa..?
Siapa yang menyelamatkan aku dari tindakan bodohku ini..!!” katanya seraya menunjukan lengannya yang masih terbalut kain kassa, kemudian berjalan pergi mendahului semuanya.
Tak ingin ketinggalan Keenan pun bergegas pergi dan berjalan disamping Hanyoora dengan langkah yang semakin cepat mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk berlari kecil menuju lift yang hampir menutup di depannya.
Disusul dengan Yesa juga Jennie yang ikut berlari sekuat tenaga melihat keduanya berlari menuju lift.
“yoo.. ra.. huh..hah.. memang .. nya kau sudah tahu dimana Andheera berada..?” tanya Jennie yang akhirnya berhasil menyusul Keenan dan Hanyoora sebelum pintu lift itu benar-benar tertutup.
“iya.. Vivian mengirimkan alamatnya padaku, dia berada di aparteman bougenville.” Jawabnya seraya menatap layar ponselnya yang tengah menunjukan lokasi keberadaa karibnya tersebut.
“apartemen bougenville..?!” timpal Keenan, merasa tidak asing dengan nama aparteman tersebut.
“iya, kenapa..?” tanya Hanyoora seraya menoleh ke arah Keenan.
“itu apartemanku..” sahutnya yang kemudian saling melempar tatapan dengan Hanyoora.
***
Sesampainya di baseman aparteman Bougenville.
Begitu rombongan Keenan keluar dari mobil secara berurutan, tak jauh dari tempat mereka berada juga ternyata Vivian dan Anha sudah tiba disana.
“VIVIAN..!!” panggil Hanyoora seraya berlari kecil menghampiri kedua temannya yang lebih dekat dengan pintu masuk menuju lift.
“kau yakin sudah baik-baik aja..?” cemas Anha yang mengkhawatirkan kondisi Hanyoora.
“ini tidak lebih penting dari Andheera sekarang, ayo..!!” seru Hanyoora yang kini memimpin berlari di depan.
Anha hanya bisa menggelang kepalanya, sebab masih terasa ada yang janggal dan tidak benar.
“apa hanya aku yang ragu jika Andheera benar-benar diculik, om-om.” Gumam Anha yang kemudian langsung bergegas menyusul kedua temannya yang sudah berlari lebih dulu.
Disusul dengan Yesa, Jennie juga Keenan yang ikut berlari, menyusul Hanyoora dan kedua teman lainnya yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan mereka.
Sesampainya di depan lift, merasa sudah tidak sabar lagi untuk menunggu lift yang terbuka, Vivian memutuskan untuk berlari menuju tangga darurat disusul dengan Hanyoora dan Anha yang juga ingin mengikuti jejak Vivian untuk menaiki tangga darurat.
Melihat ketiganya menaiki tangga, Yesa, Jennie juga Keenan yang baru sampai pun malah ikutan berlari menaiki tangga menyusul ketiganya dengan cepat.
Dan..
“teman-teman tunggu..!” seru Anha begitu mereka semua sampai di depan aparteman yang diduga lokasi dimana Andheera di sekap.
“ada apa lagi..?!” ketus Vivian yang hendak memencet pintu bel aparteman tersebut.
“apa ga sebaiknya kita telfon polisi aja..?” saran Anha.
“aah kelamaan, biar aku saja..!!” seru Keenan seraya menyingkirkan ketiga perempuan yang berada di depan aparteman tersebut.
Brugggghh bruuggghh..!! bukannya mengetuk, Keenan malah menggedor-gedor pintu aparteman dengan ganas nya seolah ingin mendobrak pintu tersebut.
“tenanglah Keenan..” ucap Jennie seraya mencoba menahan lengan karibnya itu yang terus menggedor pintu aparteman.
Sementara itu di dalam aparteman.
“duuuh.. ada apa sih..?” keluh Andheera yang berjalan keluar dari kamarnya seraya mengucek-ucekan kedua matanya.
“entahlah, mungkin tetanggamu ada yang bertengkar.” Sahut pamannya yang tengah bersantai diruang tamu seraya menonton siaran televise favoritenya lengkap dengan beberapa cemilan yang ia ambil dari lemari penyimpanan makanan Andheera.
“tidak, kurasa, ada yang menggedor-gedor pintu aparteman..” ucap Andheera seraya memandangi pintu apartemannya.
“benarkah..?” tanya sang paman seraya menoleh ke arah Andheera berdiri.
Andheera pun memutuskan untuk berjalan perlahan menuju pintu dengan penuh tanda tanya, sebenranya apa yang tengah terjadi dibalik pintu apartemannya.
“tunggu..” cegah Oliver seraya menahan lengan Andheera yang hendak membukakan pintu.
“jangan dibuka, mungkin saja mereka berniat jahat.” Imbuhnya.
Tidak perduli dengan perkataan paman nya tersebut, Andheera pun tetap melanjutkan niatnya yang akan membukakan pintu apartemannya.
Saat pintu itu hampir terbuka, tiba-tiba saja sang paman langsung menarik Andheera ke belakang tubuhnya, kalau-kalau kecurigaannya itu benar jika yang bertamu saat itu adalah orang-orang yang berniat jahat, maka dirinyalah yang akan melangkah maju didepan.
Benar saja ketika pintu tersebut terbuka sepenuhnya, Keenan yang berada paling depan pun langsung meninju Oliver dengan sekuat tenaga, karena berfikir lelaki tersebut adalah pelaku penculikan Andheera, hingga Oliver pun terjatuh tersungkur tak berdaya dan pingsan seketika dengan darah yang keluar dari hidungnya.
Membuat dinding pembatas diantara Andheera dan Keenan pun kini telah hilang dengan terjatuhnya Oliver tepat dihadapan mereka berdua.
“Ray..” gumam Andheera pelan seraya membulatkan kedua matanya.
“akhirnya aku menemukanmu..” ucap Keenan yang kemudian melangkahi lelaki yang telah tumbang dihadapannya lalu memeluk Andheera dengan eratnya.
***
bersambung...