To My Youth

To My Youth
BAB 79



***


Andheera pun kemudian bangkit dari tempat duduknya untuk menghormati wanita yang tengah berdiri dihadapannya, sebab wanita tersebut tampaknya tak ingin berlama-lama dan tetap berdiri di tempatnya seraya memandangi wajah Andheera.


“iya..” jawabnya lengkap dengan anggukan pelan diakhir kalimatnya.


“oke, dengar baik-baik saya tak bisa berlama-lama karena masih ada pekerjaan lain, dan saya juga tak bisa menyerahkan dokumen nya padamu jadi saya hanya akan memberitahumu saja sekali.” Ucapnya langsung pada topik pembahasan karena tak ingin bertele-tele.


Andheera hanya terdiam untuk menantikan penjelasan lebih lanjut dari sang wanita paruh baya tersebut yang mulai menampakan raut wajah seriusnya.


“tapi seragammu..” wanita paruh baya yang bernama Sanha tersebut menghentikan kalimatnya saat menyadari seragam yang dikenakan oleh Andheera sama dengan seragam milik putrinya.


“kau sekolah di Kirin school Jakarta..?” tanyanya yang malah membicarakan hal yang tak ingin gadis itu dengarkan.


“ya..” sahutnya singkat.


“kalau begitu kau pasti mengenal Hanyoora..?” tanyanya lagi seraya tersenyum sumringah sebab ia kini bertemu dengan seorang siswi yang juga bersekolah di tempat sama dengan putrinya.


“hanyoora..?” ulang Andheera seraya mengernyitkan keningnya.


“iya..


Tak mungkin jika kau tak mengenalnya, karena dia pasti sangat popular disekolah karena kepintarannya yang selalu masuk ranking teratas di sekolah.” Tambahnya membuat pembahasan menjadi berganti.


“ya aku mengenalnya, aku pernah 1 kelas dengannya saat kelas X, sekarang bagaimana dengan temanku..?” tanya Andheera yang ingin mengembalikan lagi ke topik semula.


“ahh iya lupa, maaf hehe, saya tak bisa berhenti jika sudah membicarakan putriku.


Amm.. teman mu itu hanya harus di rehab, tak ada luka serius lainnya selain yang tampak di bagian luar, tak ada yang patah atau luka memar di dalam.” paparnya.


“rehab..?” ucap Andheera mengulang kata yang terlontar dari mulut sang dokter tersebut.


“iyaa dia menyuntikan narkoba ke dalam tubuhnya, ta.. pi melihat kondisinya yang banyak luka goresan dan lebam ditubuhnya, seperti ada yang menyerangnya, ada kemungkinan juga narkoba itu disuntikan secara paksa ke dalam tubuhnya.” lanjutnya menjeleskan sedetail mungkin.


“dokter yang menangani sudah membicarakan hal ini pada kedua orang tuanya, jika ingin putrinya bebas dan tidak terjerat penjara, mereka harus menemukan pelaku yang melakukan hal keji itu pada putrinya, lalu putrinya itu baru bisa di rehab dan bukan di penjara karena menggunakan obat-obatan terlarang.”


“tapi..” Sanha tiba-tiba menghentikan kalimatnya, membuat Andheera semakin penasaran.


“tapi kenapa..?” tanya Andheera.


“sepertinya kedua orang tua temanmu itu tak memiliki cukup uang untuk mengurus semuanya, karena proses hukum itu melelahkan juga banyak mengeluarkan biaya. Jadi saya gak tau apa jalan yang akan ditempuh kedua orang tua teman mu itu nantinya.” Pungkasnya mengakhiri ceritanya.


“Oke baik aku mengerti..” respon Andheera seraya memikirkan sesuatu dalam benaknya sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Sanha lebih dulu tanpa berterimakasih.


“bukankah seharusnya ada ucapan terimakasih yang terlontar..?” ucap Sanha saat Andheera mulai melangkahkan kakinya untuk menjauh darinya.


Mendengar hal itu membuat Andheera kembali membalikan tubuhnya dan memandang wajah Sanha lengkap dengan sorot tajamnya yang mengintimidasi.


“baik terimaksih tante atas informasinya..


Aku boleh memanggil dokter tante kan..? karena tante ibu dari temanku juga.” Ujarnya seraya tersenyum penuh arti.


“ahh itu.. iya tentu, silahkan aja..” sahutnya dengan tawa yang tampak dipaksakan dan kedua tangannya yang ia masukan ke dalam saku jas putihnya seolah ia merasa canggung berhadapan dengan gadis SMA tersebut.


Setelah Sanha menyelesaikan kalimatnya Andheera kembali membalikan tubuhnya karena sudah merasa cukup berbicara dengan wanita tersebut.


Namun, tak terduga gadis dengan tatapan mengintimidasi tersebut kembali membalikan tubuhnya, seolah ada hal yang terlupa untuk disampaikan seraya berjalan 1 langkah mendekat ke tempat Sanha berdiri.


“tante..


boleh aku bertanya apa hoby tante..?” tanya Andheera seraya menyunggingkan senyum selebar mungkin sampai kedua matanya membentuk garis lurus.


“hoby..?


kenapa kok tiba-tiba..” sahut Sanha yang sedikit bingung dengan pertanyaan random Andheera, namun akhirnya ia pun menjawab pertanyaannya, karena merasa bukan hal yang sulit untuk mengungkapkan aktivitas favoritenya.


“amm.. hoby tante ya, sepertinya membaca buku novel karena tante selalu menghabiskan waktu luang tante dengan membaca novel bergenre romantis.. hehe.. seperti ada yang..” ungkapnya lengkap dengan tawa renyahnya.


“begitu yaa..” sela Andheera, hingga Sanha terdiam dan tak melanjutkan kalimatnya.


“Bagaimana jika ada yang meminta tente untuk berhenti melakukan hal yang tante sukai, dan malah meminta tante untuk mengubah hoby tante, misalnya berolahraga atau hal yang tak tante sukai..?” tambahnya lagi yang berhasil membuat Sanha terkejut dan mengernyitkan keningnya.


“tentu saja akan tante jawab..


memang siapa dirinya bisa mengatur apa yang tante sukai hehe..” jawabnya masih dengan tawa renyah diakhir kalimatnya dan rasa canggung yang semakin menyelimuti hatinya.


“kalau begitu, seharusnya Hanyoora juga bisa bicara seperti itu ya pada tante..” ucapnya seraya tersenyum menyeringai lengkap dengan tatapan tajamnya yang mengintimidasi yang berhasil membuat Sanha kehabisan kata-kata.


Tawa kecil yang sedari tadi menghiasi wajah cantik Sanha lenyap bersamaan dengan berakhirnya kalimat yang terlontar dari mulut gadis yang tingginya hampir sama dengan dirinya.


***


Ruangan Sanha.


Sanha yang masih diselimuti amarah tanpa sadar telah membanting pintu ruangannya hingga seseorang yang tengah terduduk di sofa, sontak membulatkan matanya juga mengarahkan posisi duduk nya pada Sanha yang baru saja kembali ke ruangannya.


“hey.. kau kenapa..?!” tanya Hyunjie yang juga baru datang ke ruangan Sanha 10 menit yang lalu.


“aku tak mengerti, bagaimana cara orang tuanya mendidik, tapi sungguh gadis itu benar-benar sangat kasar dan lancang..!


Sial.. bagaimana mungkin dia bisa sekolah di SMA yang sama dengan Hanyoora, ini ga bisa dibiarkan..”


“apa sih yang kau bicarakan..?


Gadis SMA..? siapa..?” sahut Hyunjie yang kebingungan melihat teman satu perjuangannya itu malah mondar mandir di depannya seraya mengoceh tidak jelas.


Sanha pun kemudian berjalan menghampiri Hyunjie dan duduk di sebelahnya. “tadi..” bla.. bla.. bla..


Sanha menceritakan semua kejadian secara detail dari mulai teman lamany Oliver yang meminta bantuannya, hingga pertemuannya dengan gadis kasar tersebut.


Sedangakn Hyunjie hanya mendengarkan dengan serius seraya sesekali menganggukan kepalanya.


“tunggu.. tadi, siapa nama gadis itu..?” respon Hyunjie setelah mendengar cerita panjang dari Sanha.


“Andheera..


tunggu.. kau juga sedang apa di kantorku..?” giliran Sanha yang kini bertanya, sebab setelah kejadian menyebalkan yang menimpanya beberapa menit yang lalu ia sampai lupa untuk menanyakan tujuan karibnya itu datang ke kantornya.


“Andheera..?


Waaahhh..!!” seru Hyunjie seraya memukul sofa yang tengah didudukinya seolah ia tengah melampiaskan semua emosinya pada sofa yang tak bersalah.


“apa..?” Tanya Sanha seraya mengernyitkan keningnya.


“kau tau, tadinya aku kesini juga ingin menceritakan tentang gadis bar-bar yang baru saja ku temui di koridor, dan dia bernama Andheera..!” ceritanya penuh antusias.


“benarkah..?


“tidak..! aku tau namanya dari name tag yang ada di blazernya, tapi sepertinya Keenan mengenalnya, sampai dia bersikeras untuk mencari gadis bar-bar itu sampai berkeliling ruangan coba kau bayangkan..?!


disaat kondisi tubuhnya sekarang pun masih kurang baik.” Paparnya.


“tidak..!


ini tidak boleh terjadi. Jangan sampai putramu bertemu dengan gadis kasar itu, Hyunjie. Bisa jadi kan kalau ternyata gadis kasar itu mantan pacarnya atau ya semacam nya lah, mengingat dia sedang sakit pun masih ingin mencari nya, sudah pasti hubungan mereka bukan hanya sekedar teman biasa.” Fikir Sanha membuat Hyunjie semakin gelisah akan sosok gadis misterius tersebut.


“iya juga sih..” respon Hyunjie seraya menggigit bibir bawahnya.


“kau harus mencegahnya agar mereka tidak bertemu, huh.. aku tak bisa membayangkan putramu bergaul dengan gadis kasar seperti itu. Pokoknya mereka tidak boleh sampai bertemu..!” tegasnya seraya melipat kedua tangan diatas dadanya lalu bersandar di sofa.


“tentu, kau tak perlu khawatir aku juga tak akan membiarkan putraku berkencan dengan gadis bar-bar seperti itu, ya meskipun dia cantik tetap saja dia tidak memiliki attitude, lagipula Jiso juga tak kalah cantik nya tuh dengan gadis itu.” Gerutunya lagi.


“hahaha.. iya benar-benar, aku juga lebih mendukung Keenan dengan Jiso, sudah cantik dari keluarga terpandang juga, tak ada celah sama sekali. Beruntung jika kau bisa menjadikannya menantumu hahaa..!” seru Sanha yang sangat mendukung pilihan karibnya tersebut dengan menjodohkan Keenan dan Eunjiso teman SMA nya dahulu di Yogya.


“lihat saja nanti, aku akan berusaha untuk menyatukan mereka apapun yang terjadi..!” Ucapnya mantap seraya mengepalkan satu lengannya tanda ia tak akan menyerah begitu saja dan akan terus memperjuangkan cinta Eunjiso untuk putranya.


***



Waktu menunjukan pukul 00:00 tepat tengah malam, namun kedua kakak beradik itu masih terlihat duduk santai di bangku atap rumah sakit, iya.. siapa lagi kalau bukan Jesy dan Joan, karena peraturan rumah sakit yang tidak memperbolehkan penunggu pasien lebih dari 2 orang.


Akhirnya mereka pun mengalah untuk keluar dari ruangan dan membiarkan kedua orang tuanya yang menjaga kakaknya malam ini.


Meski kedua orang tuanya sudah menyuruh mereka pulang saja dan menunggu dirumah, namun mereka berdua bersikeras ingin tetap di rumah sakit sampai kakaknya terbangun.


“selamat ulang tahun Jesy..” ucap Joan seraya mengacungkan botol minuman yang berisi cola, dengan senyuman yang merekah Jesy pun menerima ajakan Joan untuk bersulang dengannya.


Keduanya pun mengadukan botol minuman colanya seraya tertawa kecil, kemudian kembali memandangi langit seraya meneguk minumannya beberapa kali.


“dia benar-benar melupakannya ya..?” gumam Joan seteleh meneguk minumannya lalu melirik sejenak ke arah kembarannya tersebut.


“he,emm..” responnya masih dengan pandangan yang menatap lurus ke arah langit malam.


“kau baik-baik saja..?” tanya nya lagi seraya menaruh botol minuman yang tinggal setengah di sampingnya.


“menurutmu..” sahutnya dengan suara yang terdengar parau, seolah gadis malang tersebut tengah menahan air mata kesedihannya.


“seharusnya kau katakan saja kalau kau menyukainya, tak perlu menunggunya seperti ini, bukankah sudah tidak jaman jika hanya menunggu lelaki datang padamu, banyak kok sekarang seorang gadis menyatakan cintanya duluan.” Saran Joan.


“gak apa-apa, gak usah terburu-buru, aku akan tetap menunggunya..” ucapnya mantap seraya menoleh ke arah Joan dan menyunggingkan senyum termanisnya, seolah ia ingin mengatakan jika Joan tak perlu khawatir karena semuanya akan baik-baik saja.


“hmm.. baiklah, semangat semoga kau berhasil.” Kata Joan yang kemudian kembali meraih botol minum dan meneguknya beberapa kali.


***



Keesokan harinya.


Di apartemen Bougenville, seorang gadis tengah bersiap seraya memandangi tubuh semampainya lewat pantulan cermin berukuran besar di hadapannya yang hampir menyamai tinggi tubuhnya.


Alih-alih memakai seragam sekolah, dirinya kini tampak memakai setelan casual, kaos hitam berlengan pendek yang berukuran cukup besar dari tubuhnya juga di padupadankan dengan celana jins pensil hitam yang memperlihatkan kedua kaki jenjangnya.


Setelah beberapa bulan terakhir ini dirinya disibukan oleh jadwal latihan tari maupun vocal, tiba saat nya kini ia mendapat jatah libur selama 3 hari penuh, tidak seperti member lainnya yang lebih ingin focus pada pendidikannya, Andheera malah tak berniat untuk masuk sekolah hari ini.


Drreeedd.. dreedd..


Ponsel miliknya bergetar di atas meja riasnya, tak butuh waktu lama ia pun lansung berbalik untuk meraih ponsel lalu mengecek isi pesan tersebut. Gadis itu tampak tersenyum menyeringai sebelum akhirnya memasukan ponsel ke dalam saku celananya dan melangkahkan kakiknya keluar kamar.


Begitu ia keluar dari kamar, kedua matanya langsung tertuju pada hodie hitam miliknya yang ditaruh diatas sandaran sofa, dengan santai ia pun meraih hodie lalu mengenakannya lengkap dengan tudungnya membuat wajah kecilnya kini sedikit tenggelam.


Ia pun kembali berjalan menuju pintu keluar dan mengambil sepatu yang akan dipakainya didalam laci dekat pintu, namun saat tubuhnya membungkuk untuk memakai sepatu..


Dingg.. dongg..!


Terdengar suara bel yang membuat perhatiannya kini beralih pada pintu apartemennya, saat lengannya hendak menarik handle pintu, namun tiba-tiba saja pintu itu lebih dulu terbuka.


Terlihat seorang gadis tengah berdiri di hadapannya dengan kedua mata sembab layaknya seseorang yang telah menangis semalaman.


Andheera mengerutkan dahinya sejenak sebelum bersuara..


“darimana kau tau aku ada disini..?” tanya Andheera.


“ahh iya, aku hampir lupa, bukan hal yang sulit bagimu untuk melacak keberadaan seseorang..” tambah Andheera seraya memutar kedua bola matanya ke segala arah.


“sampai kapan kau akan menyembunyikannya dariku Andheera..?” tanya Vivian yang masih berdiri di ambang pintu.


Andheera menaikan satu alisnya untuk menanggapi pertanyaan karibnya tersebut, kemudian menurunkan tudung hodie yang menutupi keningnya agar bias lebih jelas memandang kedua bola mata karibnya tersebut.


“kebenaran tentang kematian kedua orang tuaku, kau sudah mendengarnya dari kakek bukan..?” lanjut Vivian seraya memandangi kedua bola mata Andheera yang mulai membulat.


“lalu..?” respon Andheera mencoba kembali tenang.


“lalu..?!” ulang Vivian lengkap dengan tatapan tajamnya.


“jika bukan karena aku tak sengaja mendengar pembicaraan kakek dengan om Bima mungkin aku tak akan pernah tau penyebab sebenarnya kedua orang tuaku meninggal, mungkin.. mungkin aku akan terus menyalahkan kakekku seumur hidupku..!” pekiknya seraya menumpahkan semua emosinya pada Andheera.


“masuklah dulu..” ajak Andheera saat menyadari perdebatannya dengan Vivian menjadi pusat perhatian orang-orang yang berseliweran di koridor apartemennya, hingga membuat dirinya tidak nyaman. Dan lebih memilih menunda rencananya untuk keluar.


Vivian pun menurut, untuk masuk terlebih dahulu agar Andheera bisa menutup pintu apartemennya.


“apa aku lelucon bagimu Andheera..?!


Kau benar-benar gadis yang sangat jahat..!” tambah Vivian seraya berjalan memasuki ruang tengah.


“lalu bagaimana denganmu Vivian..?”


Mendengar respon Andheera seperti itu membuat Vivian sontak berbalik ke arah Andheera yang tengah berjalan santai ke dapur untuk mengambil botol mineral di kulkas.


“apa maksudmu..?” tanya Vivian seraya berjalan menyusul karibnya tersebut ke dapur.


“kau yakin benar-benar tidak tahu, tentang pembulyan Son Yerim..?!” ucapnya seraya memutar tutup botol air mineral juga tersenyum penuh arti sebelum kedua bola matanya mengarah tajam ke wajah karibanya yang kini tak berada jauh dihadapannya.


 



Vivian..


to be continue..