To My Youth

To My Youth
BAB 43



Kediaman Jiso.


Akhirnya setelah puas bermain-main setengah hari bersama Keenan, Keenan pun akhirnya mengantarkan Jiso kembali ke kediamannya.


Jiso perlahan turun dari motor seraya memandangi Keenan lekat, seolah ia tak ingin berpisah dengan Keenan saat ini.


“kau baik-baik saja?” tanya Keenan merasa ada yang aneh dengan raut wajah yang Jiso tunjukan.


Belum sempat Jiso membuka bibirnya, suara laju mobil dari belakang membuat fokusnya beralih, Jiso mendapati sosok yang sangat dirindukannya di belakang kursi yang dikemudikan oleh salah satu supir ayahnya.


Mobil itu terus melaju tanpa henti melewati Jiso yang tengah berdiri menatapnya lirih.


“ayah..” ucap Jiso sedikit terisak.


Air mata kesedihan tampak jelas tergambar dalam wajah gadis malang itu, seiring dengan mobil ayahnya yang sudah melesat pergi menghilang dari pandangannya.


Meski berusaha kuat, tapi kedua kakinya tak bisa mengimbanginya yang kemudian ia berjongkok, seraya menenggelamkan wajah diantara kedua kakinya yang mulai gemetar.


Keenan sendiri bingung apa yang harus ia lakukan disaat seperti ini, bagaimana aku harus menghiburnya ataukah aku harus membawanya pergi lagi tapi ini sudah larut.


Beberapa fikiran berkecamuk dalam benaknya, namun pada akhirnya ia hanya diam seraya memandangi teman perempuannya itu dengan tatapan lirih.


Situasi hening itu berlangsung lama hingga 15 menit.


Mereka saling terdiam sampai ada beberapa warga kompleks yang berseliweran di depan kediaman Jiso, membuat Keenan semakin cemas kalau-kalau hal yang tidak diinginkan terjadi, misalnya Jiso tiba-tiba menangis dan berteriak histeris.


                “kau tak akan masuk?” pertanyaan pertama yang Keenan lontarkan setelah keheningan yang terjadi.


Benar saja kekhawatiran Keenan tadi, begitu dirinya mengajak Jiso berbicara, gadis malang itu malah mengeluarkan semua tangis pedihnya yang berusaha ia tahan sedari tadi.


Bak pria sejati Keenan langsung membuka Jaket miliknya kemudian menutupi seluruh tubuh mungil Jiso dengan Jaketnya tebalnya.


Ia membiarkan Jiso meluapkan semua kesedihannya malam ini, meski tak begitu paham dengan permasalahan yang terjadi pada sahabatnya itu.


Namun hanya 1 hal yang pasti yang ia tahu selama ini, hubungan antara Jiso dengan Ayahnya memang tidak terlalu baik.


Seperti kebanyakan orang tua pada umunya yang sangat menyayangi dan perduli pada putri/putranya, lain hal nya dengan Jiso.


Gadis malang itu hanya mendapatkan kebutuhan secara materi, tapi tidak kasih sayang atau perhatian dari seorang Ayah.


***


Setelah makan malam selesai dikediaman Reza, Reza dan Vivian memilih untuk bermain PS sembari menunggu tubuhnya mencerna makan malamnya.


Sementara itu di kamar Andheera.


Andheera terkejut saat mendapati kakaknya tengah mengendap-endap didalam kamarnya, seraya membuka satu persatu laci meja rias miliknya layaknya seseorang yang hendak mencuri sesuatu, kedua matanya sibuk berkeliaran kesana kemari.


                “apa yang oppa lakukan di kamarku?” seru Andheera seraya menaikan satu alisnya.


"aaah.. ka.. kau sudah selesai ma.. makan? oppa sedang mencari bolpoin, bolpoin oppa semuanya habis hehehe." respon Andromeda sedikit gugup.


                “oppa tak bisa membedakan mana meja belajar dan meja rias?” balas Andheera yang keheranan dengan sikap kakaknya.


                “aah.. haha.. ini meja rias mu oppa kira ini meja belajar.” sahutnya seraya menggaruk bagian belakang kepalanya meski tidak terasa gatal.


                “kau tak lihat ada cermin sebesar itu di hadapanmu!! Kau fikir di meja belajar ada CERMIN?!” seru Andheera yang menaikan nada suaranya seraya menunjuk ke arah meja belajar dibelakangnya, sebab kakaknya itu masih saja bertele-tele.


                “oppa ingin meminta masker wajahmu satu.” ujarnya dengan satu tarikan nafas akibat shocknya mendengar adiknya yang mulai hilang kendali.


                “hah? Sejak kapan oppa perduli dengan tubuhmu? Oppa saja jarang mandi selama ini.” kata Andheera yang kemudian berjalan menghampiri kakaknya.


                “iisshh kau ini, itu kan dulu, pokoknya sejak saat ini oppa harus benar-benar merawat tubuh oppa hehehe, jadi bolehkan oppa minta 1, kau kan punya banyak.” ujarnya seraya menoel-noel bahu adiknya itu yang hendak menarik laci meja riasnya.


                “benar hanya masker?” tanya Andheera sembari mengambil semua masker dari laci meja riasnya, lalu memberikan semuanya pada Andromeda.


                “iya memangnya apa yang kau fikirkan?” sahutnya sembari tersenyum memandangi semua masker pemberian adik perempuannya.


                “tidak, kau senang sekarang?” kata Andheera yang melihat wajah kakaknya tersenyum tak ada hentinya.


                “tentu, oppa sangaaat senang makasih adikuuu.” serunya kemudian hendak berjalan keluar, karena merasa misinya sudah selesai.


                “oppa.” panggil Andheera, membuat Andromeda menghentikan langkahnya, kemudian berbalik.


                “iya.”


                “apa kau begitu sangat menyukainya?” lanjut Andheera seraya memandangi wajah kakaknya lekat.


                “siapa?”


                “gadis kasar itu.” jawabnya.


                “aah dia hehe.” Andromeda malah membalasnya dengan cengengesan.


                “sebaiknya jangan terlalu berlebihan oppa, sebab cinta pertama tidak selalu berakhir bahagia.” kata Andheera mencoba mengingatkan kakaknya yang tengah dimabum cinta.


                “Andheeraa, kalau kau ingin hubungan mu berakhir bahagia, kau harus memulainya dengan dirimu dulu, berusaha yang terbaik untuk dirinya, dan berhentilah selalu berfikir negative tidak semua orang seburuk yang kau fikirkan adikku.” tuturnya kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu respon dari adiknya.


                “jadi hubunganku berakhir dengan tragis itu karena aku yang tidak baik untuknya.” gumam Andheera pelan, seraya menatap lirih pintu kamar yang baru saja ditutup oleh kakaknya.


***


Keesokan harinya di sekolah Kirin School Jakarta.


-Kelas X-2. 


Tampak semua murid tengah asik dengan kesibukannya masing-masing, belajar, berdandan, bergosip, saling men icip-icip makanan, mereka semua saling berbaur dengan gengnya masing-masing, seperti hari-hari biasanya.


Kecuali satu orang yang tampak asik dengan dunianya sendiri, iya siapa lagi kalau bukan Andheera, ia tengah menikmati musik Mp3 miliknya, sembari sesekali mengetukan jemari ramping nya mengikuti irama musik yang ia dengarkan.


                “yang lain sudah lebih dulu ke Kafetaria, kau tak akan mengisi perutmu?” tanya Anha, merasa tidak di respon oleh Andheera Anha mencabut paksa salah satu earphone yang nyantol di telinga temannya itu.


                “aku tidak lapar kau saja.” responnya masih ingin menikmati dunianya sendiri.


                “aku tak ingin makan sendirian.” kata Anha sedikit merengek.


                “yang lainnya?”


                “Yerim sedang latihan tolak peluru, Yoora sedang diperpustakaan dan entah kenapa Vivian juga tiba-tiba ingin fokus belajar di perpustakaan.”


                “padahal hanya latihan tidak seperti akan Ujian Nasional haruskah belajar sekeras itu.” sahut Andheera masih mengutak-atik mp3nya mencoba mencari musik yang dia inginkan.


                “setidaknya mereka berusaha tidak sepertimu, sudah tahu nilaimu selalu jelek, tapi aku tak pernah sekalipun melihatmu membaca buku. Kau bahkan selalu tertidur saat guru menerangkan, bagaimana kau bisa meneruskan ke perguruan tinggi dengan nilaimu yang seperti itu.” seru Anha yang terpancing emosi akibat perkataan Andheera barusan.


                “kudengar kau KPOPERS siapa biasmu?” tak ingin menyerah begitu saja, Anha kembali melepas salah satu earphone yang baru dipakai oleh Andheera.


tak ingin terpengaruh lagi, Andheera malah berpura-pura tidur dengan menempatkan kepalanya diatas meja.               


“bangunkan aku saat aku perduli.” sahut Andheera yang berpura-pura memejamkan matanya.


                “kau ingin melihat ABS para kakak senior, mereka juga gak kalah ganteng dari Idolamu lho.” bisik Anha lengkap dengan raut wajah nakalnya.


Kreettt..  Andheera hampir saja menjatuhkan kursinya, karena begitu mendengar kata ABS gadis ramping itu refleks bangkit dari tempat duduknya, dengan semangat yang membara terpancar jelas dari kedua matanya yang sipit, seolah mendapat suntikan energy, langkah nya begitu semangat keluar kelas.


Anha tersenyum nakal di belakang seraya menyamakan langkahnya dengan Andheera yang sudah mendahuluinya.


                “hey tunggu aku.” Seru Anha seraya mempercepat langkahnya.


Sesampainya di tempat target, mereka berdua sengaja melambatkan langkahnya agar bisa lebih lama menikmati pemandangan yang jarang terjadi.


Kelas XII, yang memang pada saat itu para siswa lelakinya tengah berganti pakaian olahraga didalam kelas, beberapa diantara mereka menyadari ada yang janggal dari sikap 2 gadis yang sedang berjalan perlahan di depan kelasnya, ditambah sesekali mereka dengan sengaja melirik ke arah kelasnya dengan tatapan yang mencurigakan.


                “AAAAAAA..!!” teriak beberapa siswa yang menyadari jika mereka sedang diintip oleh kedua gadis nakal itu, membuat siswa lainnya pun tersadar dan ikut serta dalam paduan suara, seraya menutup dada bidangnya dengan kedua tangan mereka.


Sontak baik Anha maupun Andheera mereka terkejut karena para siswa lelaki itu tiba-tiba menjerit histeris, selagi Andheera masih berdiam diri menikmati pemandangan yang ada, Anha malah kabur duluan meninggalkan temannya sendiri.


                “Hey apa kau cabul!” geram Brian yang muncul entah darimana, 1 tangan besar Brian dengan paksa menutup kedua mata Andheera agar gadis nakal itu menghentikan aktifitas tidak senonohnya, kemudian Brian membawa paksa Andheera menjauh dari kelasnya.


                “aaaa aa.. sakit Kak Brian.” rengek Andheera sembari mencoba melepas tangan yang menutupi hampir seluruh wajahnya, karena Andheera memiliki wajah yang cukup kecil membuat tangan Brian tampak besar dibandingkan dengan ukuran wajah dirinya.


                “kau sadar apa yang sudah kau lakukan tadi?” gerutu Brian.


                “aah sudahlah aku lapar, bye kak Brian.” Andheera malah mengabaikan Brian lalu menyusul Anha ke Kafetaria dengan sedijit berlari kecil.


***


Saat Andheera hendak masuk, dan menghampiri Anha karena mata elangnya sudah bisa menemukan keberadaan Anha di dalam, namun ia harus berpas-pasan dengan Jaehyun yang baru saja selesai makan siang bersama teman-temannya.


                “Hey gadis sombong!” sapa Jaehyun lengkap dengan wajah songongnya, serta mendorong sedikit bahu Andheera hingga membuat langkahnya terhenti sesaat untuk mendengarkan apa yang ingin Jaehyun katakan.


“meski kita akan duet nanti tapi aku gak sudi latihan denganmu kita hanya akan bertemu di perlombaan. Hafalkan saja lagu The truth untold-BTS kau pasti tahu kan karena kau KPOPERS.” Lanjut Jaehyun dengan nada tegas.


                “gak mau tuh.” Respon Andheera tak kalah songong dari Jaehyun.


                “kau.. !! (Jaehyun berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya) lalu kau ingin bagaimana?”


                “kalau duet, ya tentu saja harus latihan kecuali kau ingin bernyanyi sendiri.” jawabnya.


                “uuuhhh sepertinya Andheera juga menyukaimu Jae hahaha.” Goda beberapa temannya membuat Jaehyun risih.


                “apa sih sudah sana duluan saja.” Gerutu Jaehyun seraya mendorong teman-temannya dengan kasar.


                “kenapa? Kau ingin menyatakan perasaanmu yah hahahaha.” Timpal Lucas.


                “kubilang pergi!!” Jaehyun menaikan nada suaranya tanda ia sedang tak ingin diganggu.


                “oke oke galak banget sih, tapi jangan galak sama Andheera ya hehehe.” Tambah lucas lagi ketika mereka mulai meninggalkan Jaehyun dan Andheera.


                “Sial!” umpat Jaehyun masih memperhatikan punggung teman-temannya.


                “sudahkan? Aku lapar.” Kata Andheera ingin mengakhiri percakapannya dengan Jaehyun.


                “tunggu.” Jaehyun menghentikan Andheera dengan menggenggam lengan Andheera.


                “apa lagi?” Andheera menepis lengan Jaehyun.


                “dengar ya Gadis sombong jika bukan karena Anha, kau fikir aku mau duet denganmu dan 1 lagi yang mungkin perlu ku perjelas. Kau bukan typeku!” Jaehyun menekankan untuk kalimat terakhirnya agar Andheera tidak salah paham.


                “hahahaha..” namun Andheera malah tertawa mendengarnya.


                “kenapa kau tertawa.” Jaehyun kebingungan seraya mengerutkan dahi paripurnanya.


                “tentu saja bukan aku, tapi Hanyoora.” Andheera menjelaskan maksud dari tawanya barusan.


Jaehyun sontak terkejut hingga kedua bola matanya hampir saja meloncat keluar, melihat ekspresi shock Jaehyun Andheera malah tertawa nakal kemudian pergi meninggalkan Jaehyun yang masih terdiam tak dapat berkata-kata.


***


UKS sekolah XXX Surabaya.


Sudah dari jam istirahat Jiso merasa tidak enak badan hingga ia memutuskan untuk menunggu sekolah berakhir di UKS, awalnya ia hanya ingin berbaring namun rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya ditambah demam yang tak kunjung mereda padahal ia sudah meminum obat dari penjaga UKS.


Sampai akhirnya suara nyaring bel pulang sekolah membangunkan tidur lelapnya, Jiso bangkit dan mencoba mencari posisi duduk yang nyaman masih mencoba mengumpulkan segenap jiwa raganya.


Tap.. tap.. tap.. suara langkah kaki yang mendekat ke arah gadis yang masih sangat lemah tersebut.


                “kau sudah bangun?” sapa Keenan yang terlihat membawakan ransel Jiso karena kelas telah berakhir beberapa menit yang lalu.


                “iya kau sudah mau pulang?” tanya Jiso seraya memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


Keenan meletakan ransel Jiso di sebelah Jiso sembari mengamati kondisi Jiso yang masih terlihat kurang baik.


                “kau bisa berdiri? Kulihat supirmu sudah menunggumu di parkiran.” Keenan mengkhawatirkan Jiso.


                “apa kau khawatir Keenan?” namun Jiso malah menggoda Keenan yang membuat Keenan berfikir Jiso baik-baik saja karena gadis itu masih bisa menggodanya.


                “aku hanya tak ingin kau merengek lagi padaku.” kata Keenan dengan nada dingin seperti biasanya.


                “sial.”


                “karena kau sudah bisa mengumpat, aku pergi.” ujarnya.


                “aku benar-benar masih pusing Keenan, kau tak lihat wajahku yang pucat?” rengek Jiso mencoba semenyedihkan mungkin.


                “kau ingin digendong sampai ke mobilmu?” tawar Keenan.


                “tentuuuu.” Seru Jiso sangat antusias seraya merebahkan kedua tangannya, melihat sikap Jiso Keenan malah mengernyitkan keningnya.


                “aku akan memanggil supirmu untuk menggendongmu.” Ujarnya lalu berbalik meninggalkan Jiso dengan ekspetasinya yang tlah hancur berkeping-keping.


                “brengsek!” umpat Jiso pelan seraya memandangi kepergian Keenan.


***