
Kompleks kediaman Andheera.
Gadis itu tampak tengah mengayuh sepedanya masih dengan seragam sekolah yang melekat dalam tubuhnya, juga kantong kresek yang ia taruh di keranjang sepedanya, sebab ia mampir dulu sebentar di toserba untuk membeli cemilannya yang mulai habis.
“NOONAAAAA..!!” panggil Ben yang ternyata sudah nangkring di ayunan, tepatnya ditaman bermain dekat kediaman Andheera, seraya mengemut permen lollipop ia pun melambaikan tangannya ke arah Andheera yang lewat didepannya.
“Ben.. sedang apa kau disini..?!” tanya Andheera yang langsung menghentikan kayuhannya saat mendengar panggilan dari keponakannya.
“kenapa seharian ini aku sulit sekali menghubungimu noona..?” keluh Ben seraya menunjukan raut wajah ngambek layaknya bocah tengah merajuk pada kakaknya, Andheera pun memarkirkan sepedanya di pinggir kemudian berjalan menghampiri Ben dan ikut berayun disebelahnya.
“aahh seharian ini noona sibuk sekali disekolah, Ben, dan juga kayaknya ponsel noona mati sejak tadi siang, memangnya ada apa..?” tanya Andheera seraya menoleh ke arah Ben.
“tidak, aku hanya merindukan noona, apa itu yang didalam keranjang sepeda noona..?” tanya Ben ketika pandangannya mendapati sesuatu didalam keranjang Andheera.
“cemilan, kau mau..? ambil saja.” Ujar Andheera yang kemudian dibalas dengan anggukan antusias Ben serta berlari kecil untuk mengambil keresek yang ada didalam keranjang sepeda Andheera.
“waaahh ini banyak sekali, aku gak tahu mau pilih yang mana noona..” kata Ben seraya memandangi isi kantong kresek itu dengan penuh mata berbinar dan senyum yang merekah.
“kau bawa saja semuanya.” Sahut Andheera yang ikut senang melihat keponakannya bahagia.
“beneran..?!! WAAHH.. hahaha.. hahaha..!! gomawo noonaaa saranghaeeee..!!” seru Ben seraya memeluk Andheera erat.
“iyaa.. iyaa..”
Tak cukup dengan memberikan pelukan, Ben membuang lolipop yang tengah di emutnya kemudian, melanjutkannya dengan kecupan di kedua pipi juga kening Andheera, layaknya seorang bocah yang tengah bermanja-manja dengan tantenya.
“astaga Ben.. sudahlah makan saja cemilanmu.” Seru Andheera seraya menjauhkan tubuh Ben darinya.
“hehehe.. kenapa noona baru pulang jam segini..?” tanya Ben sembari berjalan dan duduk kembali di tempatnya.
“ada pertandingan tahunan disekolah, makanya noona pulang telat.”
“begitu..” respon Ben yang mulai membuka salah satu cemilannya.
“ahhh iyaa noona, kemarin malam aku bermimpi aneh.” Ujarnya yang mulai menyemil chikinya.
“mimpi..? apa..?” tanya Andheera seraya melirik kearah Ben.
“aku berada disuatu tempat yang belum pernah ku temui, aku juga melihat noona berjalan pergi dan jauh dibelakangmu ada seorang bocah lelaki tengah mengejarmu, ia berteriak sangat kencang memanggil namamu sampai terjatuh beberapa kali tapi noona tak menoleh sekalipun.” Ceritanya masih diselingi dengan menyemil chikinya.
“bocah lelaki..? kau..?” tanya Andheera seraya menaikan satu alis tebalnya.
“bukan, dia lebih mirip si beruang item yang selalu mengikuti noona dulu.” Jawab Ben yang membuat Andheera terhentak saat mendengar sosok bocah lelaki yang dimaksud keponakannya.
“dan yang paling mengerikan adalah wajah si beruang item itu dipenuhi darah setelah noona menghilang.” tambahnya lagi lengkap dengan ekspresi ketakutannya yang ia tunjukan pada Andheera.
“bagaimana kau bisa bermimpi seperti itu..?” tanya Andheera seraya mengerutkan keningnya.
“entahlah, itu terjadi begitu saja.” Sahutnya.
“apa kau nonton film horror sebelum tidur..?”
“iyaa..”
“kau ini, pantas saja mimpimu tak masuk akal..!” gumamnya seraya berdecak dan menggelengkan kepalanya.
-Kilas balik 4 tahun yang lalu di Bandung, tepatnya di belakang kediaman Diana atau omma dari Andheera.
Tampak 2 remaja yang masih mengenakan seragam sekolahnya tengah berlatih mengendarai sepeda, yang tak lain adalah Keenan dan Andheera.
Meski merasa sangat lelah namun Andheera masih tetap menemani Keenan berlatih mengendarai sepeda milik dirinya.
“kau sudah banyak belajar sepeda dari sepulang sekolah, apa kau tak lelah..?” keluh Andheera yang masih terus memegangi bagian belakang sepeda yang dinaiki temannya.
“tidak..” seru Keenan yang masih mencoba fokus untuk bisa menyeimbangkan sepedanya.
“iyaa tentu, akulah yang lelah disini, karena harus terus memegangi sepedamu..!” gerutu Andheera yang kemudian melepas sepedanya sebab sudah tak tahan lagi.
“sedikit lagi okee.. aku janji akan membocengimu nanti, makanya jangan dilepas lagi seperti waktu itu..!” ujar Keenan yang bicara sendiri sebab Andheera sudah jauh berada dibelakangnya.
Merasa suasanannya seperti de ja vu, ia pun memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, dan benar saja Andheera tengah duduk santai seraya mengipas-ngipas wajah cantiknya dengan tangannya sendiri.
Membuat Keenan kembali oleng karena tak percaya diri, kemudian menabrak semak-semak yang ada dihadapannya.
Melihat temannya yang lagi-lagi terjatuh, dengan sigap Andheera langsung berlari menghampirinya dengan rasa cemas yang menghantuinya.
Takut jika Keenan terjatuh mengenai batu atau hal buruk lainnya, namun ketika Keenan memunculkan kepalanya dari balik semak-semak lengkap dengan raut wajah masamnya juga dedaunan yang memnuhi rambut tebalnya, tawa nya pecah seiring dengan raut wajah Keenan yang sudah ingin menangis.
“sudah kubilang untuk berhenti bukan, aku sangat lelah..!” gerutu Andheera membela dirinya sendiri, seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Keenan berdiri, namun tak diduga Keenan malah menarik tangannya hingga mereka berdua kini terjebak di dalam semak-semak.
“HAHAHA..!! aku tak pernah melihatmu selemah ini..” ujar Keenan yang cekikikan melihat Andheera yang duduk disampingnya.
“itu karena kau sudah menghabiskan energy ku hari ini.. huhhh..!!” ketus Andheera seraya memicingkan mata sipitnya ke arah Keenan yang masih tertawa cengengesan.
“yaudah kalau begitu aku ga akan belajar sepeda lagi.” Keenan merajuk seraya melipat kedua tangan diatas dadanya dan memalingkan wajahnya.
“jadi kau akan berangkat sekolah dengan berjalan kaki saja..?”
“kau kan bisa memboncengiku..!!” seru Keenan seraya menatap tajam Andheera.
3 detik kemudian mereka tertawa bersama.
“hahahaa..!! lihat wajah mu kucel sekali jadi makin jelek tahu..!” goda Andheera.
“kau juga..!! hahahaha..” balas Keenan seraya menunjuk ke arah wajah Andheera yang kucel akibat terjatuh ke dalam semak-semak.
***
Kembali ke taman bermain di kompleks kediaman Andheera.
“sudah malam, biar noona antar kau pulang.” Ucap Andheera seraya bangkit dari tempat duduknya.
“gak mau.” Jawabnya.
“kenapa..? apa ada masalah dengan ibumu..?” tebak Andheera.
“tidak, kubilangkan aku merindukan noona, sudah lama sejak kita tidak bertemu.” Tuturnya seraya menunjukan ekpresi seimut mungkin.
“kau ingin menginap dirumah noona..?” tanya Andheera.
“tidak..” sahutnya lagi seraya menggeleng kepalanya.
“hmm.. baiklah, ayoo..” seru Andheera yang berjalan menuju sepedanya.
“kemana..?” tanya Ben seraya bangkit dari ayunan kemudian menyusul Andheera.
“ikut saja..!” kata Andheera. “taruh kantong kreseknya dikeranjang.” tambahnya
“baiklah..” sahut Ben yang kemudian menaruh cemilannya di keranjang sepeda dan duduk di kursi penumpang seraya memeluk erat gadis yang tengah memboncengnya.
***
Kamar Ray Keenan.
Karena pakaian dan barangnya sudah banyak dibawa lebih dulu bersama barang-barang milik ibunya, kini ia hanya tinggal mengemas sisa pakaiannya di lemari ke dalam kopernya.
Took.. took.. ! suara ketukan pintu terdengar nyarng dari luar, tanpa menunggu sahutan dari dalam kamar seseorang dibalik pintu langsung membuka pintu kamarnya serta memunculkan sedikit wajahnya.
“penerbangannya jam 09:00 pagi ya..!” kata Hyunjie, namun putranya itu masih tak bergeming ia masih mengemas pakaiannya dengan tatapan kosong, membuat Hyunjie mengerutkan dahinya dan berfikir untuk masuk ke dalam kamar putranya.
“Keenan..?! kau baik-baik saja.” Tambah Hyunjie seraya berjalan menghampiri Keenan.
“iya.” Sahutnya seadanya.
“iya.” Sahut Keenan lagi dengan nada yang sama.
“apa terjadi sesuatu..? kau ingin menunda keberangkatanmu..?” tanya ibunya lengkap dengan perasaan khawatir seorang ibu.
“tidak.. aku akan pergi besok dengan mama.” Ungkapnya seraya menatap wajah ibunya dengan sedikit senyuman yang terukir dalam wajahnya.
“hmm.. oke, apa kau perlu bantuan..?” tanya nya lagi sebelum ia keluar dari kamar putranya.
“tidak, aku hanya mengemas sedikit lagi.” Sahutnya yang kemudian beralih kembali pada barang-barangnya.
“baiklah, kau ingin makan apa..? biar mama pesankan sekarang.” Katanya seraya berjalan menuju pintu lalu berbalik sesaat untuk mendengar jawaban dari putranya.
“apa saja.” Responnya.
“okay..” ujarnya kemudian berlalu pergi.
***
Apartemen Andheera.
Saat Andheera sampai di Apartemennya ia mendapati sepasang sepatu yang tak asing bagi kedua matanya.
“apa ini apartemenmu noona..?” tanya Ben yang baru sampai 1 menit lebih lambat dari Andheera.
“iya, taruh sepatumu di laci dan pakai sandalnya..” ujar Andheera seraya melakukan hal yang sama seperti yang ia katakan pada Ben.
Masih dengan tawa lebarnya Ben menuruti semua perkataan Andheera dengan baik, kemudian menyusul Andheera yang lebih dulu masuk.
“Hey..! kembalikan card key ku..!” seru Andheera pada Vivian yang tengah memakan beberapa potong kue milik Andheera di dapur.
“gak mau..! kau sendiri yang memberikannya padaku.” Sahutnya tak ingin kalah sembari mengunyah makanan milik Andheera.
“Hey kak Vivi..!!” sapa Ben yang ikut masuk ke dalam perdebatan antara kedua gadis tersebut.
“setidaknya isi kulkasku, jangan hanya bisa mengosongkannya..!!” seru Andheera lagi dengan nada tingginya.
“HEY..!! kau ini pelit sekali, kau takan jatuh miskin hanya karena semua makanan yang ku makan..!!” bentak Vivian tak kalah ngegas.
“AUGHHHH..!!”
“noona aku lapar..” timbrung Ben dengan polosnya seolah ia tak perduli dengan perdebatan yang terjadi dihadapannya.
“beri makan tuh keponakanku..! kalau tidak, aku akan membuat daftar tagihan untuk semua makanan yang sudah kau habiskan..!” seru Andheera yang kemudian pergi meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamarnya.
“astaga, gadis itu benar-benar..!” gumamnya seraya menatap tajam punggung Andheera, kemudian mengalihkan perhatiannya pada bocah lelaki yang berdiri tak jauh disampingnya.
“kau mau ku masakan apa Ben..?” tanya Vivian lembut lengkap dengan senyum ramahnya. “apa itu yang kau bawa..?” sambung Vivian saat kedua matanya melirik kantong kresek besar yang dijinjing Bennedict.
“aahh ini.. cemilan.” Jawabnya seraya menunjukan lebih dekat kantong kreseknya ke depan wajah Vivian.
“kau taruh saja di meja, tenang aku takan mengambilnya kok aku sudah kenyang hihihi..” ujarnya seraya menaruh sisa kue kembali kedalam kulkas, dilanjutkan dengan mengeluarkan bahan-bahan masakan.
“okee.” Ben menurut kemudian menaruh kantong yang berisikan cemilannya di meja.
“aku makan apa saja kecuali makanan laut, kak Vivi..” kata Ben menjawab pertanyaan Vivian sebelumnya, lalu duduk dikursi sembari memperhatikan Vivian yang tengah memotong berbagai macam bumbu.
“kau alergi..?” tebak Vivian seraya melirik sesaat ke arah Ben.
Ben hanya membalasnya dengan anggukan juga senyum lebar yang menampilkan 2 gigi kelincinya, membuat Vivian ikut tersenyum karena gemas.
“Ben..” panggil Vivian disela memasak.
“iya..” sahut Ben.
“apa kau memiliki mimpi..?” tanya Vivian yang tiba-tiba ingin membahas soal mimpi keponakan dari temannya.
“punya dong..! setiap orang pasti memiliki mimpi.” Serunya dengan penuh antusias.
“apa mimpimu..?” tanya Vivian yang sesekali melirik ke arah Ben.
“menjadi Idol hehehe..” jawabnya diiringin dengan tawa renyahnya.
“benarkah.. waaahh..! cocok sih, kau tampan dan juga suaramu udah gak diragukan lagi, kau mirip sekali dengan noonamu.” Paparnya. “apa kau sudah mencoba untuk audisi..?” tambahnya lagi.
“belum, rencananya akhir pekan nanti, akan ada audisi yang diselanggarakan oleh agensi BangQit.” Sahutnya.
“BangQit..? aahh, agensi tempat kak meda bekerja.” Ujarnya memastikan.
“iya, noona yang memintaku untuk mencoba audisi di agensi itu.” Jawabnya lagi.
“apa kau selalu menuruti apa yang noona mu katakan..?” tanya Vivian yang mengalihkan pembicaraannya pada seseorang yang tidak ada disana.
“iyaa hehehe..” sahutnya lagi masih dengan senyum lebarnya.
“kenapa..?” tanyanya seraya mematikan kompor gas kemudian menuangkan masakannya ke dalam mangkuk.
“karena dia noonaku hehe..” sahut Ben yang kemudian berjalan mendekati Vivian untuk mencoba mengambil nasinya sendiri.
Vivian pun menaruh masakannya di atas meja seraya menunggu Ben yang tengah berjalan lengkap dengan piring yang berisikan nasi ditangannya. Mereka berdua pun duduk secara bersamaan.
“kak Vivi gak ikut makan..?” tanya Ben seraya menciduk sayur bikinian Vivian.
“engga, aku sudah kenyang, kau saja, makan yang banyak ya.” ujar Vivian seraya mengusap lembut kepala Ben yang tengah menyuap makanannya dengan lahap.
“makasih kak Vivi..” ucap Ben masih dengan mulut yang penuh berisikan makanan.
Vivian hanya membalasnya dengan senyuman hangat, seolah ia benar-benar memiliki seorang adik lelaki yang menggemaskan, ia tak bisa berhenti memandangi Ben yang tengah asyik melahap makanannya.
***
Di ruangan kerja Andromeda.
“akhir pekan nanti mau ku jemput dibandara..?” tanya Andromeda pada seseorang di telfon.
“gak usah, kita bertemu di taman kota saja.” Katanya.
“baiklah, jangan membuatku menunggu lama..!” serunya dengan sedikit penekanan dalam kalimatnya.
“nee chagiya.. hihihi.” Goda Tsuyu diiringi dengan cekikikan diakhir kalimatnya.
“hah, apa kau bilang..?!”
Beep.. telfon pun dimatikan secara sepihak oleh Tsuyu, membuat Andromeda berdecak kesal.
“ciihh..! apaan sih..!” gerutunya seraya memandangi layar ponselnya yang berwallpaperkan foto gadis tersebut.
***
Note : arti dari nee chagiya adalah iya sayang dalam bahasa Korea. ^_^
Kimtsuyu..
Andromeda..
Terimakasih sudah membaca ^_^