To My Youth

To My Youth
BAB 80



“apa perdulimu tentangnya..?” gumam Vivian seraya membalas tatapan tajam karibnya tersebut yang berada tepat dihadapannya, dan hanya terhalang oleh sebuah meja makan kecil.


Mendengar perkataan Vivian yang diluar dugaannya membuat Andheera tertawa kecil, sebelum melanjutkan tujuan awalnya yaitu untuk meminum seteguk air mineral.


“apa karena hal itu mengingatkanmu pada tempat asal mu Vivian..?! hingga kau percaya begitu saja apa yang di ucapkan Denise padamu.” Ucap Andheera setelah meneguk air mineralnya kemudian kembali menutup botol air mineralnya.


“kau percaya apa yang dikatakan gadis munafik itu..?! kau hanya mengenalnya selama 1 tahun, kau tak akan pernah tahu bagaimana dirinya di masa lalu bukan..!” pekiknya tak mau  kalah dalam perdebatan sengit ini.


“LALU BAGAIMANA DENGANKU..!!


Kau percaya apa yang ku katakan saat itu, meskipun kau baru mengenalku, bahkan hingga sampai saat ini pun kau masih percaya padaku jika aku tak pernah menyakiti siapapun, bukan..?!”


“kau hanya membenci Yerim karena dia sudah mengingatkanmu akan tempat asal mu Vivian, kau takut suatu hari nanti Yerim akan menyebarkan fakta tersebut, fakta jika kau besar di PANTI CAMERON..!” bentaknya kemudian melempar botol yang tengah digenggamnya ke sudut ruangan hingga botol tersebut terbelah dan menumpahkan seluruh sisa air yang ada.


BBRRRUUKKKK..!!!


Vivian tak lagi menatap kedua mata Andheera dengan perasaan percaya dirinya, dirinya mulai menurunkan pandangannya sebab perkataan Andheera barusan membuat hatinya tertusuk, sungguh kebenaran yang tak dapat terelakan kembali.


“kenapa..?


Kau terkejut karena aku sampai seperti ini hanya karena Yerim..? bukannya kau sendiri yang ingin aku berteman dengannya..!”


Tanpa terasa bulir air mata mengalir membasahi kedua pipi gembil Vivian, kedua matanya masih tertunduk tak berani untuk menatap langsung wajah karibnya yang kini tengah dilanda amarah yang begitu mengejutkan dirinya.


“dan kau tahu kenapa aku tetap merahasiakan penyebab kematian kedua orang tuamu, itu karena aku ingin kau tetap membenci kakekmu, terlepas dari penyebab kematian kedua orang tuamu, kakekmu memanglah orang yang jahat Vivian..!” tukas Andheera tajam tak kalah tajam dengan sorot matanya kini.


“apa maksudmu..?” Vivian mulai menaikan kembali wajahnya agar bisa melihat ekspresi Andheera.


“kau tau..?!


kecelakaan beruntun yang terjadi 13 tahun yang lalu, kakek mu lah yang menutup kasusnya dengan memberikan kesimpulan akhir, kecelakaan beruntun akibat salah satu rem blong dari sebuah truk yang melintas. Pada kenyataannya bukan seperti itu..” Andheera menghentikan kalimatnya sejenak sebelum kembali melanjutkan apa yang ingin ia katakan.


“iyaa.. kakekmu sudah di suap oleh seseorang..” lanjut Andheera mantap.


“ngga mungkin.. kau fikir keluargaku kekurangan finansial..?! kakekku sudah memiliki segalanya untuk apa kakek menerima suap seperti itu..!” elak Vivian yang mencoba memberanikan diri untuk beradu tatap dengan Andheera.


“bukan uang..


Tapi Kimbrian..!” Jelasnya, membuat Vivian mencoba berfikir keras untuk mengartikan kalimat terakhir Andheera.


“maksudmu, pelakunya adalah orang tua kak Brian..?” tanyanya hati-hati.


“lebih tepatnya, ibu dari kak Brian yang sudah membuat kekacauan hingga mengakibatkan kendaraan pada saat itu saling bertabrakan, namun dengan mudahnya wanita itu lolos dari jeratan hukum karena bantuan kakekmu..!” paparnya.


“kenapa..?


Kau masih tak percaya dengan apa yang ku katakan..? apa kau terkejut mendapati kakekmu seburuk itu..?!”


“kecelakaan yang melibatkan dirimu saat itu..?” gumam Vivian pelan seraya mengingat apa yang pernah diceritakan oleh omma Diana 2 tahun yang lalu.


“bukan hanya ibu, kakak dan diriku, tapi.. ayah Anha, juga kakek dan nenek Yerim.” Paparnya membuat kedua bola mata Vivian semakin membulat, dan kedua kakinya tiba-tiba saja melemah hingga hampir terjatuh, namun untung satu tangannya bisa meraih sudut meja untuk menjadi tumpuannya saat ini.


Melihat Vivian yang sudah tak bisa berkata-kata kembali, Andheera memutuskan untuk mengakhiri perdebatannya dengan Vivian kemudian pergi, untuk memberikan Vivian ruang untuk dirinya sendiri.


“kamar Dandellion 1 dilantai 7, kau harus melihat keadaannya saat ini Vivian, jangan sampai kau menyesal karena sudah mengabaikannya selama 1 tahun terakhir ini.” Ucap Andheera sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Vivian yang masih terdiam di tempatnya.


Begitu Andheera menutup pintu apartemannya, samar-samar ia mendengar suara tangis yang sangat memilukan dari dalam apartemannya.


Iyaa.. sudah pasti suara tangis tersebut berasal dari karibnya di dalam, terdengar seperti sebuah tangis yang dipenuhi rasa penyesalan yang amat sangat.



***


Di rumah sakit Haneul Jakarta.


Terlihat Anha tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit, iya gadis malang itu lebih memilih untuk menemani ibunya yang masih belum sadarkan diri, sementara itu Luna sang kakak setelah menengok dirinya dan ibunya yang masih tertidur, ia langsung bergegas untuk pergi bekerja.


Tak banyak yang bisa Anha sampaikan saat pagi itu, mulutnya hanya mengucapkan kalimat sederhana seperti ‘iya baik, kakak hati-hati.’ Lalu dibalas dengan senyum teduh juga anggukan pelan dari sang kakak sebelum akhirnya ia pun pergi meninggalkan adik dan ibunya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.


Langkah kecilnya kini membawanya ke tempat meja administrasi, Anha berniat untuk menanyakan tagihan rumah sakit yang harus ia bayar sejauh ini. Ia hanya berharap uang tabungannya cukup untuk membiayai ibunya selama di rawat dirumah sakit.


Iya uang tabungan yang semula ia kumpulkan untuk membayar sebagian uang sekolahnya juga untuk biaya kuliahnya kelak. Namun kini ia harus meerelakan mimpi itu karena tak mungkin jika Luna sendiri yang membayar semua biaya rumah sakitnya.


“ada yang bias dibantu mba..?” tanya sang kasir yang melihat Anha malah melamun ketika sampai di hadapannya.


“ahh iyaa,


Aku.. aku mau lihat tagihan ibuku kak, nama pasien Kenanga ruangan Anyelir 2.” Ucapnya setelah sang kasir berhasil menyadarkannya.


“oh baik, ditunggu sebentar ya.” Respon sang kasir yang kemudian mengutak-atik tombol keyboard dan mencari data atas nama Kenanga ibu dari Anha.


“tagihan pasien dengan nama ibu Kenanga sudah lunas mba..” jelasnya.


“lunas..?!” pekik Anha merasa tidak percaya tagihan ibunya sudah dibayar lunas.


“iya, tadi malam sudah ada yang melunasi mba,” tambahnya.


‘tadi malam.. bukannya kakak baru kembali ke rumah sakit tadi pagi’ fikir Anha.


“siapa yang membayar tagihannya kak..?” tanya Anha sebab ia merasa ada yang aneh.


“yang membayar ya, tunggu sebentar, amm.. atas nama Jimin.” Katanya seraya menatap wajah Anha yang mulai membulatkan kedua bola matanya tanda ia benar-benar terkejut dengan nama yang dilontarkan oleh sang kasit tersebut.


“o..ke baik, terimakasih kak.” Ucapnya sedikit terbata-bata sebab masih tak percaya dengan apa yang baru ia dengar, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan meja kasir.


Bagaimana mungkin Jimin..


Dari mana dia tahu jika ibuku dirawat, dan kenapa…’dalam fikirannya terus berkecamuk beberapa pertanyaann yang tak dapat ia temukan jawabannya.


***



Sepertinya gadis itu pun absen dari sekolah terlihat dari mobil pribadi miliknya yang sering dipakai ke sekolah kini masih terparkir di garasi bersama deretan mobil lain milik keluarganya.


Entah bagaimana caranya, namun yang pasti kini 3 orang satpam yang berjaga di area pekarangan juga pintu masuk sudah berhasil dibuat tidur oleh Andheera, juga seluruh CCTV yang berada dalam pengawasan rumah Denise sudah dikacaukan hingga tak ada yang tampak mencurigakan di area pantauan CCTV.


Andheera masih tampak bersembunyi di balik semak-semak mencoba mencari ruangan yang tak lain adalah kamar Denise. Gadis itu pasti masih berdiam diri dikamarnya setelah mendapati hal yang mengejutkan beberapa hari yang lalu.


Akibat perbuatan kejam Andheera, Denise harus kehilangan Anjing kesayangannya dengan cara tragis yang tak pernah ia bayangkan. Hingga membuat Denise masih sangat shock dan mengurung dirinya dikamar juga tak mau pergi sekolah.


“apa yang akan kau lakukan padanya..?” tanya seseorang dari belakang Andheera, reflex gadis itu langsung berbalik seraya menodongkan pisau kecil tepat ke arah leher lelaki tersebut.


“Hey..!!” pekik Oliver yang terkejut bukan main saat keponakannya itu hampir saja memutus urat nadi yang berada di lehernya.


“aku ini pamanmu..!” lanjutnya setengah berbisik.


“Augh shittt..!!” umpat Andheera yang sama-sama terkejut, dirinya fikir sudah ketahuan.


“lagipula kenapa paman bisa ada disini..?!” tanya Andheera yang kemudian menurukan pisaunya dan memasukannya kembali ke dalam saku jaketnya.


“aku khawatir padamu tau, makanya aku memutuskan untuk terbang jauh-jauh kesini kemarin malam, aku takut kau berbuat..”


“kau khawatir pada gadis itu bukan..?” sela Andheera yang kemudian kembali berbalik untuk mengamati situasi.


“kau takut aku akan membunuhnya..” lanjut Andheera.


“hey, bukan begitu..”


“menunduk..” perintah Andheera seraya menundukan kepala pamannya seperti tengah menundukan kepala seorang bocah, sebab ukuran tubuhnya lebih tinggi 3 cm dari pamannya.


“hey..! kau benar-benar keponakan yang tidak beradab..!” pekik Oliver sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh 1 pengawal yang tengah berpatroli di area luar rumah Denise.


“paman tidak perlu ikut masuk, diam disini aja.” Ucap Andheera seraya kembali bangkit setelah 1 pengawal itu pergi dan tak terlihat.


“tunggu, kau pakai ini.. (seraya memberikan sebuah alat kecil ke telapak tangan keponakannya tersebut) aku bisa mendengarmu jika kau butuh sesuatu.” Jelasnya sembari menunjukan 1 alat yang sama yang sudah dipakainya di telinga.


Andheera masih memandangi alat yang diberikan oleh pamannya itu yang tampak seperti earphone, sebelum akhirnya ia pun memakainya.


“hati-hati, paman akan berjaga-jaga dibawah, jika sudah selesai mobil paman ada di belakang oke..!” ucapnya lagi begitu Andheera mulai mengendap-endap mendekati kediaman Denise.


“astaga..!!” kaget Oliver saat keponakannya tersebut mencoba memanjat dinding kediaman Denise.


“apa di kehidupan sebelumnya dia adalah spiderman..? tapi itu tidak mungkin karena spiderman adanya di zaman modern.” Ocehnya sembari terus memperhatikan keponakannya yang berusaha memanjat sampai ke lantai 3.


***


Kembali ke rumah sakit Haneul, lebih tepatnya di ruangan Yerim.


Karena kedua adik kembarnya harus pergi sekolah, juga ayahnya yang harus membuka toko roti, jadi hanya tersisa sang ibu dan adik bungsunya Uju yang kini tampak tengah duduk di sebelah Yerim.


“kakak mau duduk..?” ucap ibunya yang langsung sigap memahami apa yang putrinya inginkan dan membantunya untuk duduk tegap bersandar di bantalnya.


“maaf karena kakak sudah menyusahkan semuanya..” ucapnya lirih seraya memandangi wajah teduh ibunya.


“kenapa kakak bilang seperti itu, mama yang seharusnya meminta maaf karena tidak bisa menjaga kakak, hingga kakak bisa seperti ini.” Respon ibunya yang seolah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putri sulungnya itu.


Selagi kakak dan ibunya saling bertatapan juga berpegangan tangan, Uju hanya bisa memperhatikan secara bergantian bagaimana ekspresi kakak dan ibunya yang tampak saling menguatkan kini.


“mah, memangnya kak Yerim kenapa..?


Kata kak Jesy, kak Yerim lagi ga sehat ya..? makanya kak Yerim ga bisa ikut pulang ke rumah.” Ucap Uju seraya memakan sepotong apel yang sudah di potongkan oleh ibunya sebelumnya.


“kak Yerim cuma sedikit sakit kok, beberapa hari lagi juga sembuh, nanti kita pulang dan main lagi ya.” Respon Yerim seraya mengusap pelan kepala Uju yang duduk disampingnya.


“benar ya, janji lho, soalnya Uju udah beli mainan baru buat di mainin sama kak Yerim.” Serunya masih dengan mulut yang dipenuhi kunyahan apel.


Yerim juga ibunya hanya bisa tersenyum kecil saat melihat Uju yang antusias ingin memainkan mainan barunya bersama dengan kakak tertuanya.


***


Masih di rumah sakit Haneul, namun diruangan yang berbeda.



Tampak seorang lelaki tengah mengenakan kaos oblong berwarna hitam yang dilanjut memakaikan wajahnya sunblock yang ia ambil dari pouch kecil yang ia taruh di atas ranjangnya, kemudian menepuk nepukan ke kedua pipinya tanpa berkaca.


“kau sudah selesai Keenan..?” Tanya ibunya yang baru saja masuk ke dalam ruangannya lengkap dengan jas putih dinasnya.


“iya,” jawabnya singkat kemudian merogoh botol parfume kecil dan langsung menyemprotkan ke bagian tubuhnya.


“aku bisa titip ransel ku di ruangan mama kan..?” Tanya Keenan begitu ibunya duduk di atas ranjangnya.


“memangnya kau mau kemana dulu..?” giliran Hyunjie yang kini bertanya padanya.


“aku ingin mencari Andheera sekali lagi.” Ucapnya mantap seraya merestelingkan ransel besarnya setelah memasukan pouch kecil yang berisikan skincare miliknya ke dalam ransel besarnya.


“apa..?! kau ini benar-benar ya.


Siapa sih gadis itu, mama gak mau ya kalau sampai kau berteman apalagi ternyata dia adalah pacarmu. Gadis itu benar-benar tidak memiliki sopan santun Keenan..!” seru Hyunjie seraya meninggikan suaranya juga bangkit dari ranjang rumah sakit.


Tak di duga, setelah Hyunjie melontarkan kalimat tersebut, Keenan reflex melemparkan tatapan tajam layaknya seseorang yang tengah menyimpan amarah yang akan meledak sewaktu-waktu. Menyadari hal itu Hyunjie langsung sedikit melunak.


“ma.. maksud mama, kau harus memikirkannya kembali, apa gadis itu benar-benar pantas untukmu Keenan..” imbuhnya dengan nada lembut berbeda seperti sebelumnya.


“Andheera bahkan jauh lebih berharga dari mama.” Tegasnya masih dengan tatapan tajamnya, kemudian pergi berlalu seraya menyambar sweater hitam miliknya yang di taruh di atas bantal, tanpa menoleh kembali ia pergi begitu saja meninggalkan ibunya yang tiba-tiba terdiam seribu bahasa.


Seakan tertusuk pisau belati, hatinya terluka begitu dalam akibat perkataan putranya tersebut.


“apa yang membuat gadis itu begitu istimewa, hingga kau bisa berkata kasar pada mama, Keenan.” Lirihnya saat Keenan telah hilang dari pandangannya.


to be continue...