
Beberapa hari kemudian.
Akhirnya hari yang ditunggu pun telah tiba,
iya.. hari dimana Eunjiso harus kehilangan sang ibu dalam kecelakaan beruntun 13 tahun yang lalu. Gadis malang itu baru berusia 7 tahun saat kecelakaan naas itu terjadi.
Tak banyak memang kenangan yang dirinya miliki dengan ibunya, sebab jadwal Bella yang padat hingga ia jarang sekali ada dirumah, namun meskipun begitu ia selalu menyempatkan waktunya disaat Jiso memiliki acara disekolah, membuat Jiso merasa tak benar-benar kehilangan sosok seorang ibu yang mengasihinya.
Begitu mobilnya sampai di rumah abu, Jiso mencoba menarik nafas panjang juga menggenggam erat bucket bunga yang tengah ia genggam sedari tadi.
Meski ini bukan pertama kalinya ia berkunjung ke makam ibunya, namun tetap saja perasaan gugup juga emosi dalam dirinya begitu tak tertahankan.
Mungkin jauh di dalam dirinya, ia masih belum bisa menerima kenyataan jika kini ibunya telah tiada.
Perlahan ia menarik handle pintu mobilnya dan kemudian menapakan kakinya di area pemakaman,
“tidak perlu menunggu kali ini, bapak bisa pergi. Aku ingin lebih lama disini.” Ucapnya seraya membuka pintu mobilnya lebih lebar lagi lalu keluar setelah mendapat respon anggukan dari sang sopir.
Kali ini Eunjiso mengunjungi makam ibunya di pagi hari, tak seperti biasanya, mungkin seperti yang ia bilang dirinya ingin lebih lama bersama ibunya. Sebab tahun-tahun sebelumnya Eunjiso selalu mengnjungi makam ibunya di sore hari menjelang malam.
Masih di rumah abu yang sama namun berbeda tempat.
Seorang gadis sudah berdiri cukup lama memandangi tugu tempat para korban kecelakaan beruntun 13 tahun yang lalu.
Gadis itu tak lain adalah Andheera, setelah ia selesai mengunjungi makam ibunya, ia menyempatkan waktu untuk mendoakan para korban kecelakaan naas itu, yang telah melibatkan kerabat teman-temannya tiada.
“untuk paman ..., maaf karena kali ini sepertinya Anha akan datang terlambat mengunjungimu, (ditujukan untuk ayah Anha) dan untuk kakek nenek, maaf juga Yerim tidak bisa datang karena gadis bodoh itu sedang sakit, jadi aku disini datang untuk mewakilkan mereka berdua.” Ucapnya yang kemudian menaruh sebucket bunga didekat tugu tersebut seraya membungkuk sebagai tanda penghormatan.
Tak beberapa lama, ada seseorang yang berjalan melewatinya membuat perhatiannya pun kini teralihkan. Ia menyipitkan kedua matanya seolah ia tengah mengingat seseorang yang pernah ditemui sebelumnya.
“kenapa sekarang aku sering sekali bertemu dengannya.” Gumamnya lalu pergi setelah merasa telah selesai dengan urusannya.
***
Sesampainya di area abu ibunya, ia mendapati sosok yang familiar baginya, memakai setelan jas berwarna hitam tengah berdiri tepat di hadapan tempat guci berisi abu ibunya.
Lelaki paruh baya itu tak mengetahui jika putrinya kini sudah berada beberapa langkah dibelakangnya, ia masih tetap terfokus pada sebuah guci yang tersimpan di lemari kaca.
Seolah enggan bertemu dengan ayahnya, Eunjiso pun mengurungkan niatnya untuk mengunjungi ibunya saat ini.
Gadis itu lebih memilih untuk kembali nanti jika ayahnya sudah pergi,
namun..
“apa yang harus ku lakukan dengan putrimu, Bella..?
Meski sebenarnya Jiso tidak bersalah, namun melihat wajahnya yang kini semakin mirip denganmu membuat ku kembali teringat akan pengkhiatan dirimu.”
Kalimat yang cukup bisa membuat langkah Eunjiso terhenti dan kembali berbalik memandangi punggung ayahnya, karena tak ingin ketahuan oleh ayahnya, Eunjiso pun memutuskan untuk bersembunyi dibalik lemari kaca yang tak jauh dari tempat ayahnya berdiri.
“ku berikan semua yang kau butuhkan, apapun permintaanmu tak pernah sekalipun aku mengabaikannya, termasuk membuatkanmu sebuah istana mewah yang selalu kau impi-impikan sejak dahulu sebelum kau debut menjadi seorang aktris.
Tapi.. kenapa..?
Luka dan pengkhianatan yang kau berikan..!! bahkan sampai akhir hidupmu pun kau masih memberikan kejutan yang tak terduga untukku, bagaimana mungkin jika putri kecil yang hadir diantara kita selama ini ternyata dia bukan darah dagingku, melainkan hasil perselingkuhanmu dengan pengawalmu..!”
Deg..!!
suara hantaman yang berhasil mengenai hati Eunjiso membuatnya sontak membulatkan kedua matanya juga menjatuhkan bucket bunga yang sedari tadi ia genggam erat.
“apa ini, apa aku sedang bermimpi..?” batin Jiso yang masih mencoba untuk tenang dikala fikirannya benar-benar kacau balau.
Gadis malang itu kini akhirnya mengerti, apa yang membuat ayahnya berubah menjadi dingin dan tak perduli lagi padanya. Sejak kepergian ibunya, ayahnya memang berubah drastis bahkan ia tak lagi mau tinggal bersamanya.
Iya, beberapa hari kemudian setelah kepergian istrinya, Fero langsung mengemas pakaiannya dan pergi begitu saja meninggalkan putrinya bersama pegawai rumah tangganya.
Ia hanya mengatakan jika ia harus mengurus perusahaanya yang berada di Inggris, dan untuk sementara ini akan tinggal disana.
Namun kenyataannya ia bahkan hampir tak pernah kembali untuk menemui putri semata wayangnya, dan hanya mempercayakan segalanya pada pegawai rumah tangganya. Hingga pada akhirnya kini gadis malang itu mengetahui alasan dibalik perubahan sikap ayahnya itu.
Kebenaran yang benar-benar menyakitkan, karena ternyata dirinya bukanlah putri kandung ayahnya yang selama ini sudah memberikan kehidupan yang layak untuknya.
Meskipun memang ia tak pernah mendapat kasih sayang dari seorang ayah namun jika itu soal materi, Fero tak pernah membiarkan Jiso hidup dalam kesengsaraan, ia selalu mendapatkan yang terbaik terbukti dari tempat tinggalnya kini, makanan yang bergizi, juga pendidikan.
“maaf.. maafkan aku ayah..” ucap Jiso yang berjalan perlahan mendekati ayahnya dengan kedua mata yang mulai berair.
Mendengar suara itu Fero perlahan membalikan tubuhnya, ia sangat terkejut mendapati putrinya kini tengah berdiri tepat dihadapannya dengan berlinang air mata juga senyum yang dipaksakan. Hingga lelaki paruh baya itu tak dapat berkata-kata.
“aku selalu berfikir, apa ayah sudah memiliki keluarga baru di Inggris hingga tak pernah ingin kembali untuk menemuiku dan melupakanku begitu saja.
Aku .. aku tak tahu jika ayah menyimpan rasa sakit ini sendirian. Maafkan aku..” tambahnya dengan nada suara yang bergetar ia masih mencoba untuk tetap berdiri tegak meski tubuhnya sudah tak tahan lagi.
Fero hanya bisa memandangi putrinya dengan mata yang berkaca-kaca, sebenarnya ia ingin sekali memeluk putrinya itu dan mengatakan jika ini bukanlah salah dirinya, gadis malang itu hanyalah korban di dalam cerita hidupnya.
Namun kedua kakinya serasa berat untuk melangkah mendekati putrinya dan berakhir hanya dengan memandanginya saja tanpa berkata-kata.
Bahkan saat putrinya pergi meninggalkannya pun, Fero tak berniat untuk mengejarnya ia masih tetap berdiri di tempatnya seraya mengepalkan kedua lengannya.
***
Di atap gedung.
Tak ada lagi yang bisa Jiso lakukan selain terus menangis sejadi-jadinya seraya memegangi tembok pembatas, hingga 1 pemikiran liar pun memenuhi fikirannya,
Meski awalnya ia sempat meragu namun akhirnya ia memberanikan diri untuk naik ke tembok pembatas tersebut, kemudian duduk sejenak sebelum melakukan tindakan yang lebih ekstrem lagi.
“apa kau akan melompat..?”
Namun tiba-tiba saja ada seorang gadis muncul di belakangnya sembari menjilati es krim strawberry, membuat niatnya tertunda.
“kalau kau melompat disini kau tak akan mati, kau hanya akan patah tulang sedikit.” Lanjutnya lagi sembari terus menjilati es krimnya dan sesekali melihat ke bawah.
“apa perdulimu..?” pekik Jiso seraya melirik ke arah gadis tersebut lengkap dengan tatapan sinisnya.
“hahaha..!
jangan salah paham, aku hanya memberitahukan fakta jika kau berniat untuk bunuh diri, kau tak akan bisa mendapatkannya dengan melompat dari sini.
Tapi, aku bawa kater, barangkali aja kau mau pinjam.” ujar gadis tersebut yang tak lain adalah Andheera.
Tak ingin berdebat dengan gadis menyebalkan tersebut, Jiso lebih memilih untuk mengabaikannya dan kembali mengalihkan pandangannya ke halaman depan rumah duka. Seraya menggigit sudut bibir bawahnya dan mengumpulkan segenap keberanian untuk mewujudkan keinginannya.
“seperti de ja vu..” gumam Andheera lengkap dengan tatapan kosongnya, tiba-tiba saja beberapa cuplikan yang sama persis dimasa lalu begitu jelas tampak di benaknya.
“aah tidak, haha..!!” sahut Andheera dengan tawa yang dibuat-buat.
Hingga suasana kembali sepi dan canggung bagi keduanya.
“kau sedang apa disini..?
tidak akan pergi..?!” seru Jiso seraya menoleh ke arah Andheera yang masih tetap berdiri di posisinya.
“amm..
kau ingin dengar cerita tentang diriku..?” celetuknya ngasal, seolah ia tengah mengulur waktu dan membuat Jiso tetap di posisinya.
“tiba-tiba..?
memangnya aku mengenalmu..!” ketus Jiso.
“justru itu karena kita tidak saling mengenal kurasa tidak ada salahnya jika aku berbagi ceritaku denganmu, karena kita tak akan pernah bertemu kembali, bukan.” Ungkapnya.
“terserah kau saja.” Respon Jiso acuh.
“dari kecil aku jarang sekali bertemu dengan ayahku, karena pekerjaan ayahku yang membuatnya jauh dari keluarganya, kehidupanku penuh dengan kebahagiaan bersama kakek nenek, kakak laki-lakiku, juga ibuku.”
Andheera mulai mengawali ceritanya namun..
“apa kau sedang pamer..?!” potong Jiso seraya melirik tajam ke arah gadis yang tengah berdiri disampingnya sembari memegangi stik es krim yang belum dibuangnya padahal es krimnya sudah habis sedari tadi.
“sial..!
Tak bisakah kau hanya mendengarkan.” Geram Andheera yang tak kalah ketus.
“ciih..!!” Jiso mendengus.
“sampai pada saat semuanya berubah, bermula dari sikap ibuku yang tiba-tiba menjaga jarak dariku, dan terkadang mendorongku hingga terjatuh hanya karena aku mendekatinya.
Ibuku juga melarangku untuk dekat dengan kakak laki-lakiku, saat itu aku masih berusia 4 tahun, tapi setiap hal yang terjadi kala itu tak pernah bisa ku lupakan hingga sampai saat ini.” Andheera mencoba menarik nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
“puncaknya adalah ketika kecelakaan tragis 13 tahun yang lalu, saat itu ibuku hendak membawaku ke panti asuhan, setelah ibuku mendorongku hingga pingsan dan menggendongku masuk ke dalam mobil, tapi sebelum sampai di tempat tujuan, kita semua terlibat dalam kecelakaan beruntun.” Paparnya.
“iya.. aku, ibuku dan kakak laki-lakiku yang ternyata diam-diam ikut masuk ke dalam mobil, karena mungkin ia khawatir melihat adiknya terkulai lemah dalam dekapan ibuku.” Imbuhnya seraya sesekali mengedarkan kedua matanya untuk mencari seseorang yang tengah dinantinya.
“beruntung aku dan kakak laki-lakiku selamat, hanya saja ibuku yang mengalami koma, disaat ratusan korban lainnya tewas ditempat, begitu juga dengan tenaga medis dan tim bantuan lainnya,
karena tiba-tiba terjadi ledakan yang begitu mengerikan yang menyebabkan kebakaran pada seluruh mobil yang ada di lokasi kejadian.”
Andheera mengkhiri ceritanya saat ia mendapati seseorang tengah berlarian di area halaman rumah abu, membuatnya kini bisa bernafas lega.
“kecelakaan tragis 13 tahun lalu..?” ucap Jiso memastikan apa yang didengarnya seraya menoleh ke arah Andheera.
“iya, kecelakaan bersejarah yang terjadi di jembatan dekat Bandara Incheon Jakarta.” Responnya.
“lalu bagaimana dengan ibumu..?
Apa ibumu baik-baik saja..?” Tanya Jiso dengan raut wajah simpati nya.
“tidak.. dia sudah meninggal.” Jawab Andheera.
“ibumu tidak bisa bertahan saat itu..?” Tanya Jiso lagi kemudian mulai memiringkan posisi duduknya dan terus memandangi wajah Andheera.
“tidak..
Kakak laki-lakiku yang membunuhnya.” Ucap Andheera seraya menatap tajam kedua mata Eunjiso.
Begitu terkejutnya Eunjiso saat Andheera melontarkan kalimat terakhirnya, hingga ia pun membulatkan kedua matanya.
Brrraakkk..!!
Suara hantaman pintu membuat Eunjiso mengalihkan perhatiannya, lagi-lagi Eunjiso terkejut saat melihat seseorang yang membanting pintu tadi adalah Keenan, bersamaan dengan berlarinya Keenan menghampiri Jiso, Andheera pun memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan Jiso.
Sampai saat mereka berdua berpas-pasan pun Keenan sama sekali tak menyadarinya, sebab kini Jiso yang menjadi focus utamanya, ia tak ingin terlambat untuk menarik lengan Jiso dan menurunkannya dari dinding pembatas.
Gerakan Keenan begitu cepat hingga Jiso tak dapat mengelak dan hanya pasrah digendong oleh Keenan, pandangannya pun masih kosong dalam beberapa saat.
“HEY..!!
JISO.. !! EUNJISO..!!” panggil Keenan seraya menguncang tubuh Jiso.
“hah.. apa..?” Jiso mulai sadar dari lamunannya.
Mendengar Jiso mulai bersuara membuat Keenan bernafas lega lalu memeluknya erat.
“syukurlah aku ga terlambat.” Ucap Keenan yang masih memeluk Jiso dengan dipenuhi rasa khawatirnya.
“bagaimana kau bisa ada disini..?” Tanya Jiso yang merasa kebingungan akan kehadiran karibnya tersebut.
“Brian yang memberitahuku, kalau kau akan mencoba bunuh diri..”
Pernyataan tersebut malah membuat Jiso semakin kebingungan.
“lalu dari mana Brian tau kalau aku ada disini, apa kau fikir orang yang akan bunuh diri akan memberitahukan tujuannya..”
“ahh sudahlah itu tak penting..!
yang penting sekarang kau baik-baik saja.” Seru Keenan kemudian melepas pelukannya, dan beralih dengan menggenggam erat kedua bahu Jiso.
Saat Jiso mengalihkan perhatiannya ke area halaman rumah abu, ia melihat Andheera tengah berjalan menuju gerbang depan untuk meninggalkan area rumah abu, seolah merasa ada yang janggal kedua matanya tak dapat berpaling dari sosok gadis misterius tersebut.
***
Sementara itu di depan gerbang rumah abu.
“Andheera..” panggil seseorang dari samping, yang ternyata adalah suara neneknya yang baru saja keluar dari mobil.
Alih-alih merespon panggilan neneknya, Andheera hanya menoleh dan memandangi neneknya untuk beberapa saat, seakan tak percaya dirinya bisa bertemu dengan neneknya setelah sekian lama.
bersambung...
Terimakasih sudah mampir, ditunggu bab selanjutnya ya chinggu.. ^_^