To My Youth

To My Youth
BAB 33



Keesokan harinya, -Apartemen Andheera.


Setelah beberapa jam menunggu Operasi Lyra, serta memastikan Lyra baik-baik saja karena sudah dipindahkan ke ruang inap, Anha menyuruh Andheera pulang dan menyerahkan semuanya pada Anha sang ketua kelas yang dapat diandalkan.


Gadis ramping itu perlahan membuka kedua mata sipitnya, ia sudah terjaga dari tidur singkatnya, namun ia merasa tubuhnya tidak dalam kondisi baik, kemudian ia memutuskan untuk sedikit berolahraga dipagi hari setelah mengganti baju tidurnya dengan setelan training pendek.


Saat ia membuka pintu kamar sudah tampak Vivian tengah membuatkan sarapan, dengan senyum lebarnya Vivian menyapa pagi Andheera yang tak begitu menyenangkan.


“apa kau bergadang semalaman Andheera?” tanya Vivian melihat Andheera yang meregangkan tubuhnya dalam perjalanannya melewati dirinya.



“hmmm..” respon seadanya Andheera sembari memakai sepatu.



“kau mau olahraga, tak kan sarapan dulu?” kata Vivian saat Andheera hendak membuka pintu.



“nanti aja, (jawab Andheera)


oiia kau juga sesekali harus berolahraga Vivian, lihatlah pertumbuhanmu bukannya keatas malah melebar kesamping.” goda Andheera diakhiri dengan senyum smirk, kemudian mulai berlari keluar menghindari amukan Vivian karena telah menganggunya.


***


Ditaman kota.


Keenan sudah lebih dulu berjogging sendiri sembari mendengarkan mp3 dari ponselnya, seolah tak perduli dengan sekitarnya yang terlihat memperhatikan Keenan berjogging.


Lelaki tampan yang memiliki tinggi 185 cm itu sudah terbiasa menjadi konsumsi publik berkat ketampanannya yang diatas rata-rata.


Mereka bukan hanya terpikat oleh ketampanan Keenan melainkan otot lengan yang dibiarkan terbuka, karena Keenan sengaja memakai kaos oblong dipadu padankan dengan celana pendek yang juga mengekspos kaki panjangnya menambah daya tarik tersendiri.


“HEYY!!” panggil Jiso dari belakang dengan sepedanya ia menyusul Keenan yang tengah berjogging sendirian.


“tadi malam kau pulang jam berapa?” tambah Jiso lagi sembari mengikuti Keenan dari belakang dengan menggoes pelan sepedanya.


“saat kau tertidur.” kata Keenan seraya melepas headphone lalu menggantungkannya dileher, merasa sudah cukup berolahraga ia memutuskan untuk berjalan sembari meregangkan kedua lengan kekarnya.



“kenapa berhenti, temani aku jogging dong.” lanjut Jiso masih ingin mengobrol dengan Keenan.



“jogging?” respon Keenan yang kemudian menghentikan langkahnya untuk memfokuskan pandangannya pada Jiso yang kini berada didepannya.



“olahraga maksudku hehehee.” Jiso meralatnya kemudian pergi meninggalkan Keenan.


Dari belakang Keenan masih memandangi punggung teman wanitanya itu yang mulai menjauh dari pandangannya, beberapa ingatan masa kecilnya mulai bermunculan kembali membuat Keenan tanpa sadar mengukir senyum manis diwajahnya.


-Kilas balik 6 tahun yang lalu.


Dilapang basket sekolah SD Keenan dan Andheera. Akhir pekan, seperti biasanya mereka sering meghabiskan waktu bersama saat akhir pekan, kali ini mereka berdua berniat mengunjungi sekolah.


Dengan mengendarai sepeda kecil milik Andheera, mereka berdua tampak bahagia menikmati perjalanannya menuju sekolah, meski Andheera yang harus memboncang Keenan namun ia tak keberatan sama sekali, gadis kecil itu malah membiarkan Keenan memeluknya erat dibelakang.


Keduanya langsung turun dari sepeda begitu sampai. Andheera kecil tampak memandangi Keenan sembari masih memegangi stang sepedanya.


“cobalah,” ujar Andheera seraya melirik kearah sepedanya.


“kau bilang akan terus memboncengku?” Keenan kebingungan karena Andheera tiba-tiba menyuruhnya untuk mengendarai sepeda miliknya.



“aku tak mungkin memboncengimu teruskan, kau juga harus belajar agar bisa memboncengiku.” Kata Andheera lagi.



“aku gak bisa” gumamnya pelan lalu menundukan kepalanya karena tak berani menatap kedua mata Andheera.



“ya karena kau belum belajar, memangnya semua orang langsung bisa mengendarai sepeda dari lahir!” Andheera mulai tak sabar karena Keenan terus mengelak.



“a.. aku takut Andheera.” Keenan masih tetap pada pendiriannya.



“YAAA!!!” teriak Andheera membuat Keenan refleks menaiki sepeda miliknya dengan kedua tangan yang gemetar karena ketakutan.



“kalau begitu kau pegangi sepedanya ya.” pinta Keenan mencoba memberanikan diri untuk mulai menggoes sepedanya.



“ya cepat goes!” ketus Andheera yang sudah kehilangan kesabarannya karena Keenan terus membantahnya, sembari memegangi sepeda dari belakang menjaga keseimbangan Keenan agar tidak jatuh.


20 menit berlalu.


Andheera mulai kelelahan karena harus sedikit berlari agar bisa memegangi sepeda yang dinaiki Keenan, namun sepertinya Keenan masih belum ada kemajuan sama sekali.


Entah memang Keenan yang terlalu takut atau Keenan memnag tidak bersungguh-sungguh belajar sepeda.


Sampai Andheera pada puncaknya, gadis kecil itu sudah tak tahan lagi kemudian ia berhenti tak lagi memegangi sepeda tanpa sepengetahuan Keenan.


Keenan perlahan menjauh dari pandangannya, bocah lelaki itu masih belum sadar jika Andheera sudah tak lagi memegangi sepedanya, Keenan terus mengayuh sepedanya dengan penuh percaya diri seolah Andheera masih menjaganya dibelakang.


Namun saat Keenan hendak membelokan sepedanya ia melihat Andheera tengah memperhatikannya dari jauh, sontak ia terkejut lalu kehilangan keseimbangan, alhasil ia menjatuhkan dirinya sendiri ke atas aspal.


Mendapati Keenan yang terjatuh secepat mungkin Andheera berlari menghampiri bocah lelaki malang itu.


“kau terluka?” tanya Andheera khawatir.


Bukannya menjawab pertanyaan Andheera, Keenan malah menutup kedua matanya dengan satu tangan tanda ia akan menangis.


Mau tak mau karena takut ditinggalkan Keenan berusaha mungkin menahan tangisnya, namun tidak ingusnya yang sudah lebih dulu keluar tak terhankan hingga membentuk gelembung siap untuk berkelana hihihi.


“eoohh..!!” teriak Andheera jijik sembari mendorong tubuh Keenan menjauh darinya, untuk sesaat mereka saling bertatapan sebelum akhirnya baik Andheera maupun Keenan tertawa bersama.



“hahahhahhaaa!!” tawa mereka berdua mencairkan suasana.


“apa kau setakut itu mengendarai sepeda, aughh!! aku tak percaya kau lebih tua dariku, seharusnya aku yang menjadi kakak untukmu ciih.” keluh Andheera yang masih memandangi keadaan Keenan yang begitu menyedihkan.


***


Setelah beberapa cuplikan dimasa lalu diputar, ia kembali sadar akan kehidupannya yang kini telah berubah, lingkungan dan orang-orang yang berada disekitarnya semua terasa asing.


Ia masih sangat merindukan waktu kecilnya dahulu, meski kenyataan gadis itu meninggalkannya tapi tak dapat dipungkiri kemanapun langkahnya mencoba pergi menjauh ia tetap ingin kembali.


“tak ada hal yang ku lewatkan bersamamu, apapun yang kulakukan pada akhirnya fikiranku akan tetap tertuju padamu, gadis jahat.” Gumamnya lalu mulai melangkahkan kakinya kembali.



“tali sepatumu terlepas tuh..” ujar seseorang dari belakang yang berlari melewati Keenan, refleks Keenan langsung melihat kearah sepatunya, kemudian berjongkok untuk menalikan sepatunya yang terlepas tanpa sepengetahuannya.


5 detik berlalu, Keenan menyadari ada hal yang mengganjal dalam hatinya, suara itu, aroma itu benar-benar tak asing baginya, namun ketika Keenan bangun mencari gadis yang tadi melewatinya.


Ia menghilang seolah Keenan tengah berhalusinasi gadis itu menghilang hanya dalam hitungan detik.


Tak sampai disitu setelah Keenan menalikan sepatunya kembali, ia bertekad untuk mencari gadis tadi dalam kerumunan orang-orang yang tengah berjogging, ia yakin jika gadis itu adalah gadis yang selama ini selalu ia rindukan dan dia nyata ada disekitarnya.


Keenan terus mencari sembari sesekali menepuk bahu seseorang dari belakang memastikan wajah nya akan seperti yang Keenan harapkan, namun lagi-lagi Keenan hanya mendapatkan kekecawaan ia tak bisa menemukan gadis yang ia harapkan, membuatnya frustasi dan hampir meluapkan emosi di depan umum.


“Keenan..” panggil seseorang dari belakang masih dengan sepedanya Jiso menggoes mendekati Keenan.


“ada apa, kau baik-baik saja?” tanya Jiso saat melihat Keenan tampak kebingungan, Keenan mengabaikan Jiso, ia malah pergi tanpa melihat ke arah Jiso sedikitpun.


“Keenan, kau kenapa? Mau ku bonceng.” Jiso masih mengikuti Keenan dari belakang.


“tidak, aku ingin sendiri.” tegasnya sembari terus berjalan dengan pandangan lurus kedepan.


Jiso menghentikan sepedanya mencoba berfikir. “ dia kenapa sih, padahal hanya ku tinggal beberapa menit tapi sikapnya jadi aneh. Kurasa dia benar-benar makhluk dari dunia lain.” Jiso bicara sendiri.


***


Rumah sakit Haneul Jakarta.


Di depan ruangan Lyra, meski Anha sudah memberitahunya untuk pulang saja beristirahat dan biarkan Anha yang akan mengurus semuanya.


Namun Andheera tak bisa menahan langkahnya untuk kembali melihat keadaan Lyra. Melihat Lyra sudah bisa duduk dan tersenyum, membuat Andheera merasa lega sekaligus bersyukur Lyra baik-baik saja.


“kakak yakin baik-baik saja? Tak perlu memberitahu orang tua kakak.” Ujar Anha yang khawatir pada keadaan Lyra.



“hhahaaha meski kau memberitahu mereka, mereka tak akan datang.” Balas Lyra diiringi dengan senyumnya diakhir kalimat.



“kenapa begitu, bukankah keluarga selalu ada.” Kata Anha lagi.



“amm, bolehkah aku menceritakan sedikit kisah hidupku padamu.”



“kalau kakak ga keberatan, aku akan mendengarkannya.”



“hhahhaha baiklah, kedua orang tuaku sudah bercerai saat aku masuk SMA, seperti kebanyakan anak-anak lainnya kau tahu, anak yang broken home aku sangat hancur tapi mereka tak perduli sama sekali akan perasaanku,"


"Aku ikut dengan ayahku, dia sering meninggalkanku karena sibuk dengan pekerjaannya bahkan untuk meluangkan waktunya sedikitpun tak pernah bisa, jadi aku melakukan hal buruk agar mereka berdua memperhatikanku.” Paparnya.


“hal buruk?” Anha merespon cerita Lyra.



“iya, aku menjadi preman disekolah, sering membully anak-anak lemah, main sampai larut malam kadang juga tak pulang, dan yang paling buruk, usahaku yang terakhir agar mereka melihatku aku memakai narkoba, menyedihkan bukan.” Lirihnya masih tetap mencoba memberikan senyum hangatnya pada Anha.


Diluar ruangan.


Andheera juga mendengar jelas apa yang diceritakan Lyra pada Anha, ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan, tanpa sadar ia merasakan air mata mengalir membasahi pipinya.


Walau Andheera tak menampakan ekspresi apapun dalam wajahnya, gadis cantik itu berusaha menahan rasa sakit yang tiba-tiba menusuk hatinya.


Merasa sudah puas dengan melihat Lyra dari luar, Andheera berniat untuk kembali pulang, namun saat ia membalikan tubuh rampingnya.


“apa kau dekat dengan Andheera?” lanjut Lyra.


Kalimat yang menghetikan langkah Andheera diluar, kemudian melirik kembali ke dalam ruangan Lyra.


“tidak, mungkin dia menghubungiku karena aku ketua kelas hehe, Andheera bukan gadis yang mudah didekati.” Ujar Anha.



“begitu ya, bagaimana menurutmu dengan Andheera?” tanya Lyra, yang lagi-lagi menyinggung soal Andheera.



“emm, jujur dia sedikit menakutkan hehehe dan juga misterius.”


Lyra tersenyum mendengar pendapat Anha tentang andheera.


“apa yang menakutkan dari Andheera?” seolah ia sangat tertarik pada gadis kasar tersebut, ia begitu bersemangat kala menyebut nama Andheera.


“sorot matanya, ketika ada yang menyapa atau mengajaknya ngobrol dia hanya akan terdiam sambil melotot hihihi, ku kira dia pandai berkelahi juga tapi saat ku dengar dia dibully oleh senior kelas sampai babak belur, membuat aku berfikir kembali ternyata dia hanya mengandalkan sorot matanya yang tajam untuk menakuti orang-orang. Karena nyatanya dia sangat lemah hahahaa.” Tuturnya dengan percaya diri, seakan dirinya benar-benar mengenal sosok Andheera.


***