To My Youth

To My Youth
BAB 88



“kau mau kemana..?” Tanya Vivian saat Andheera masuk ke dalam kamarnya.


BRUUKKK…!!


Suara bantingan pintu dari dalam, tanda jika Andheera tak ingin Vivian mengikutinya sampai ke kamar.


Tok.. tok.. tok..!


“apa yang mau kau lakukan Andheera..!!” teriak Vivian panik seraya menggedor-gedor pintu kamar Andheera.


“YAAAKK.. ANDHEERAAA..!!” panggil Vivian yang semakin menjadi jadi sebab Andheera tak juga merespon perkataannya.


Tak kehilangan akal, Vivian pun lalu mengedarkan pandangannya ke dapur mencoba mencari cara agar bisa membuka pintu kamar Andheera. Tak menunggu lama ia pun langsung berlari ke dapur untuk mengambil apa yang dilihatnya barusan.


Namun ia tak bisa menemukan apapun disana, hingga ia kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah, dan akhirnya ia pun menemukan sebuah ide yang cukup brilliant, terbukti dari senyum dibibirnya yang mulai merekah.


Tanpa menunggu lama lagi ia pun langsung berlari menuju laci yang berada di tengah rumah, mencoba mencari sebuah klip kertas, yang nantinya akan ia coba untuk membuka kunci pintu kamar Andheera.


2 menit berlalu, akhirnya Vivian pun berhasil menemukan sebuah klip kertas yang terselip di beberapa file milik Andheera. Ia pun kembali menuju kamar karibnya tersebut seraya mencoba membentuk klip hingga memungkin untuk dijadikannya kunci cadangan.


Namun saat Vivian hendak memasukan klip yang sudah terbentuk ke lubang kunci, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, lalu muncul Andheera yang sudah memakai baju training serba hitam.



“apa yang kau lakukan..?” Tanya Andheera seraya menutup kepalanya dengan tudung hodienya.


“SIAL..!!


Kenapa kau tak menjawab perkataanku tadi, kau membuatku cemas saja..!” geram Vivian.


“aku mau lari, kau mau ikut..?” ajak Andheera seraya berjalan menuju laci yang berisikan sepatu miliknya.


“kau yakin jogging, malam-malam begini..?”


“ini masih jam 20.00.”


“ya terserah kau sajalah, tapi awas saja jika kau menyakiti dirimu sendiri, akan ku laporkan kau pada..”


“ya .. ya.. tukang ngadu..”


***


Di loby aparteman, terlihat Hyunjie tengah berjalan menuju lift seraya meregangkan lehernya beberapa kali, didukung dengan raut wajahnya yang begitu murung, sepertinya hari ini adalah hari yang sangat berat baginya.


Namun ketika pintu lift yang akan membawanya naik terbuka, seorang gadis muncul lalu berjalan melewatinya, seperti de ja vu, ia kembali teringat akan seorang gadis yang selalu berpas-pasan dengannya di aparteman ini.


Didukung dengan aroma parfume yang tak asing membuatnya langsung teringat akan 1 nama, yang akhir-akhir ini seringkali mengusik kehidupannya.


“Andheera..!” panggil Hyunjie seraya membalikan tubuhnya.


Benar saja, gadis yang mengenakan training serba hitam itu langsung menghentikan langkahnya.


“benarkan kau Andheera..!


Gadis angkuh yang berdiri di depan ruangan putraku, Keenan. Sebenarnya apa hubunganmu dengan putraku..?!” ketusnya seraya berjalan menghampiri gadis tersebut lalu berdiri di depannya.


“kenapa kau diam saja..? apa kau bisu..?!


kau ini benar-benar tak memiliki sopan santun ya, apa kau tak memiliki seorang ibu yang mendidikmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik..?!” geramnya seraya menajamkan kedua matanya.


“ya, memang aku tak memiliki ibu.” Sahut Andheera membuat Hyunjie terdiam seketika, sebab ia tak menyangka jika gadis tersebut akan menjawab seperti itu.


_____


Toserba, di depan aparteman bougenville.


Tak sampai dilobi, obrolan keduanya pun berkembang hingga Hyunjie memutuskan untuk mengajak Andheera mengobrol sejenak dibangku didepan toserba seraya menikmati teh hangat di malam hari, sedangkan Andheera memilih untuk membeli botol air mineral saja.


“bagaimana kau bisa mengenal putraku..?” Tanya Hyunjie yang kembali mengawali pembicaraan.


“kurasa, Ray tak memiliki ibu seperti tante.” Alih-alih menjawab pertanyaan Hyunjie, Andheera malah membicarakan hal lain yang membuat Hyunjie mengerutkan keningnya.


Hyunjie sedikit terkejut sebab gadis yang di hadapannya tersebut ternyata mengetahui Keenan lebih dulu darinya. Terbukti dari perkataannya barusan jika gadis tersebut mengetahui orang tua terdahulu Keenan.


“sebenarnya kau siapa..?


Bagaimana kau tahu orang tua Keenan yang sebelumnya, dan kau panggil Keenan apa..? Ray. Tak ada yang memanggilnya dengan nama itu.” sahutnya.


“aku selalu memanggilnya dengan nama itu sejak pertama kali bertemu,


Lalu bagaimana dengan kedua orang tua aslinya di kampung..?” tanya Andheera.


“hey..! kau fikir aku ini ibu bohong-bohongannya..!


Aku ini ibu kandungnya, kedua orang tua yang kau kenal itu hanya kedua orang tua asuhnya. Dan mereka sudah tiada, saat aku menemui Keenan di kampung.” jelasnya dengan nada suaranya yanf meninggi.


Sontak Andheera pun membulatkan kedua matanya kala mendengar kenyataan tragis tersebut, sebenarnya apa saja yang sudah terjadi saat dirinya meninggalkan kampung halamannya. Mungkinkah sebenarnya saat ini Ray sedang tidak baik-baik saja.


Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam fikirannya, ia benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi teman kecilnya itu, tapi apa yang harus dilakukan, haruskah aku menemuinya sekali saja untuk memastikan keadaannya..? atau malah hal itu akan memperburuk keadaan..’fikirnya.


“hey..! Andheera.. Andheera..!” panggil Hyunjie seraya mengibaskan lengannya di depan wajah Andheera yang kelihatannya sedang melamunkan sesuatu.


“ah.. iya..?” sahutnya saat tersadar dari lamunannya sesaat.


“jadi aku cerita panjang lebar tadi, tak kau dengarkan..?!” ucapnya dengan nada kesalnya.


“bagaimana keadaan Ray sekarang, tante..?” Tanya Andheera.


“Keenan.. amm .. Keenan baik-baik saja kok, memangnya kenapa..? kau ingin menemuinya..?!


Sebaiknya tak perlu, Keenan sudah bahagia sekarang bersama kekasih barunya, Jiso.” paparnya.


“benarkah..?!” Andheera mencoba memastikan seraya memberikan tatapan yang mengintimidasi pada Hyunjie yang tiba-tiba tampak canggung saat ini.


“I.. iya tentu..!


Kenapa juga dia masih mengingatmu, kau hanya masa lalu bagi Keenan tidak lebih. Jadi jangan coba-coba kau merusak kebahagiaan putraku dengan calon menantuku, mengerti..!!” tegasnya.


“hahaha..!


Aku merasa seperti berada dalam drama, lucu sekali. Aku jadi benar-benar ingin menemuinya jika tante bersikeras melarangku seperti ini. Haha.”


“HEY..!!


Sudah kubilang Keenan tak mengingatmu sama sekali, dia juga sudah bahagia bersama masa depannya, kau ini..”


“lalu bagaimana tante tahu namaku, begitu juga hubunganku dengan Ray jika bukan Ray sendiri yang mengatakannya pada tante..?” potong Andheera.


“Tante juga sepertinya sangat terusik sekali dengan kehadiranku.” Tambahnya lagi.


“sial..! (umpatnya, sebab ia sudah ketahuan oleh Andheera)


Bagaimana mungkin gadis sepertimu menjadi begitu berharga untuk Keenan, bahkan dia lebih memilihmu daripada ibunya sendiri..!!


memang apa yang sudah kau lakukan untuk Keenan selama ini..? palingan juga hanya cinta monyet sesaat. Bukan sesuatu yang istimewa.”


Andheera pun tertawa mendengar dumelan seorang wanita yang tengah duduk dihadapannya itu.


“apa yang kau tertawakan..?! kau ini meledekku.” Pekik Hyunjue tak suka dengan respon Andheera.


“tidak, tante ini lucu sekali,


Seolah tante memiliki hak untuk mengatur kehidupan Ray, padahal tante adalah ibu yang sudah menelantarkannya.” Pungkasnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.


“aku belum selesai bicara..! kau ini tidak sopan sekali, Andheera..!” bentaknya seraya ikut bangkit dari tempat duduknya.


“tante ga usah khawatir, aku tak akan menemui putramu kok.


Jadi tolong berhenti mengusikku.” Ucapnya seraya terus berjalan meninggalkan Hyunjie.


“augh..!!


Aku tak bisa membayangkan jika gadis kasar itu akhirnya menjadi menantuku, hiiihhh..!! pasti kehidupanku di penuhi amarah yang terus bergejolak. Bisa streeess..!!” gerutunya kemudian pergi ke arah yang berlawanan dengan Andheera.


***


Sementara itu di Chimi café.


“ya, untuk sementara ini aku akan tinggal di aparteman temanku.” Responnya.


“bukankah seharusnya kau menjalaskan situasinya agar tante Hyunjie tak salah paham, kau juga salah Keenan.”


“entahlah..”


“hey.. kalian udah lama..?” sapa Brian yang baru saja bergabung di antara mereka berdua.


“engga kok, baru beberapa menit yang lalu, kau sudah selesai latihan..?” respon Jiso.


“iya, hufftt..!! lelah sekali.” Keluhnya seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku yang didudukinya.


“mau minum apa, biar ku pesankan..?” Tanya Jiso seraya bangkit dari tempat duduknya.


“caramel late aja, thanks Eunjiii..” ucapnya dengan nada yang sedikit manja, Jiso hanya tersenyum kemudian pergi menuju tempat pemesanan.


“sudah ku bilang untuk berhenti kerja paruh waktu kan, kau ini keras kepala sekali.” Ucap Keenan seraya memandangi Brian yang tampak sangat kelelahan.


“tujuan ku keluar dari rumah ayahku adalah untuk mandiri kan, jika aku bergantung padamu lalu apa bedanya..?” Sahut Brian yang memejamkan kedua matanya sejenak.


“ku bilang itu tidak gratis, kau bisa membayarku ketika kau sudah berhasil debut.” kekehnya.


“kau yakin, aku bisa debut..?


Aku bahkan sudah tak memiliki keyakinan itu lagi sekarang.” Ungkapnya.


“lalu apa yang membuatmu dulu ingin menjadi seorang idol..?”


“aku hanya..


Ingin menarik hati seseorang yang ku sukai, ku fikir jika aku menjadi idol dia akan tergila-gila padaku, hahaha..!!”


“jadi ini hanya untuk seorang gadis..?


Astaga kufikir kau benar-benar mencintai pekerjaan itu.” respon Keenan.


“hahaha, bercanda, aku memang menyukai bidang ini, hanya saja mungkin aku sedikit lelah.” Keluhnya lagi.


“siapa gadis itu..?” Tanya Keenan yang mulai penasaran.


“gadis..?


gadis yang mana..?!” Tanya Jiso yang kembali bergabung di tengah mereka seraya membawakan minuman pesanan Brian lalu meletakannya ke dekatnya dan kembali duduk dibangkunya.


“junior saat di SMA dulu, hehe. Kurasa kau juga pernah bertemu dengannya. Karena kita 1 agensi.” jelasnya


“benarkah..? siapa..?” tanya Jiso yang semakin penasaran.


Drreedd.. dreeddd..!!


ponsel milik Keenan yang ditaruhnya di atas meja bergetar, tak menunggu lama Keenan pun langsung mengambil ponsel dan mengangkatnya, membuat pembicaraan mereka terpotong.


“Jenie..” ucap Keenan sontak membuat Jiso langsung menatapnya lekat, tak ingin Brian maupun Jiso mendengar percakapannya, Keenan pun langsung beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan pergi keluar kafe.


“siapa Jenie..?” Tanya Brian seraya menyedot minuman yang tadi dipesankan oleh Jiso.


“mantannya..” sahut Jiso.


“mantan..?


Mereka masih saling mengabari..? kukira kalian berdua memiliki hubungan yang cukup dekat.” celoteh Brian.


Mendengar komentar tersebut Jiso hanya terdiam seraya mengaduk minumannya dengan sedotan.


“kalian berdua terjebak frienzone ya..?” celetuk Brian seraya memandangi Jiso yang masih memandangi minumannya.


“entahlah..


Ahh iya siapa nama gadis yang kau sukai itu..?” Tanya Jiso mengalihkan pembicaraannya.


“Andheera..”


Deegg..! seperti ada yang menampar keras pipinya, membuat Jiso kembali terdiam tanpa kata, seolah ia teringat nama seseorang yang selalu menghantui kisah percintaannya.


Karena pada nyatanya seseorang yang menjadi saingannya untuk mendapatkan hati Keenan, bukanlah Jenie, melainkan seorang gadis yang bahkan ia juga tak pernah melihatnya.


“Andh… dheera..?” Jiso mengulangi mencoba memastikan nama yang di dengarnya barusan benar Andheera.


“iya, dia juniorku saat di Kirin school, kenapa..?


Kau mengenalnya..?” giliran Brian yang kini bertanya.


“ah.. ti.. tidak..


Kau masih menyukainya sampai sekarang..?”


“tentu, aku berharap saat aku sukses nanti, dia mau kembali padaku.”


“apa dia sangat cantik..?”


“hahaha..!!


Dibanding denganmu, jelas lebih cantik Andheera, yaa walaupun kau juga cantik sih, tapi..”


“kalau begitu jangan pernah kau ceritakan Andheera pada Keenan, karena..” sela Jiso.


“memangnya kenapa..?


Kurasa Keenan bukan lelaki seperti itu, Keenan mana mungkin merebut Andheera dariku, tapi kalau Andheera sih, sudah pasti dia akan ngejar-ngejar Keenan, karena Andheera selalu terobsesi dengan lelaki tampan… hufftt..”


“naah iya itu, sebaiknya kau merahasiakan dari keduanya aja, itu lebih baik kan. Kau tak pernah tau apa yang terjadi bukan, bagaimana jika hubungan kalian seperti yang ada pada drama..?!”


“sepertinya kau terlalu banyak menonton drakor deh, haha.”


Dreeddd..dreedd..!!


Kini giliran ponsel Brian yang bergetar di dalam saku celananya, buru-buru ia pun merogoh saku celananya kemudian melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselnya.  


Tampak kedua sudut bibirnya terangkat lengkap dengan matanya pun yang kini berbinar, seolah di telfon oleh seseorang yang tengah dinantikannya.


Jiso pun memberi isyarat dengan matanya, menanyakan siapa yang menelfon Brian.


“adikku..” ucap Brian sebelum ia mengangkat telfonnya seraya beranjak dari tempat duduknya.


“Iyaa Tsuyuu..!!” seru nya seraya berjalan keluar meninggalkan Jiso sendirian di meja.


“bagaimana mungkin nama mereka bisa sama, apa mereka orang yang sama atau..” Jiso bergumam sendiri seraya menggigit bagian sudut bawah bibirnya.


“ada apa ini, kenapa hatiku terasa sakit kembali, bukankah aku sudah bertekad untuk melupakannya, tapi kenapa aku masih belum bisa merelakannya untuk orang lain.”


Tiba-tiba saja sebuah cuplikan terlintas dalam benaknya, kala ia tengah di ambang kematian, seorang gadis muncul entah darimana dan berhasil menggagalkan niat Jiso untuk mengakhiri hidupnya.


Kemudian tak lama Keenan pun berlarian diatap untuk menariknya turun dari dinding pembatas.


Seolah gadis tersebut tengah mengulur waktu, ia pun pergi bersamaan dengan Keenan yang berlari datang padanya. Dan yang lebih tidak masuk akal adalah, Keenan mengetahui keberadaan Jiso saat itu dari Brian, tapi bagaimana mungkin..?


Sebab Brian tak pernah tahu tentang peringatan kematian ibundanya, bahkan saat ditanya apakah dia yang mengirim pesan pada Keenan saat itu, Brian benar-benar terlihat kebingungan, karena pesan itu pun langsung menghilang begitu saja dari dalam kotak masuknya.


Lalu sebenarnya siapa gadis tersebut..?


Apa gadis itu mengenal Brian juga Keenan..?


“mungkinkah gadis itu..


Ahhaha.. tidak.. tidak mungkin.”


Untuk sesaat ia berfikir jika gadis tersebut adalah Andheera, namun logikanya menentang keras pemikiran tersebut. Sebab jika gadis itu benar Andheera, tidak mungkin dia hanya berjalan melewati Keenan begitu saja kala itu.


“pertama aku harus menemukan gadis yang bernama Andheera itu..” gumamnya kemudian kembali menyedot minuman miliknya lagi.


***