To My Youth

To My Youth
BAB 50



Tepat tengah malam di ruang latihan agensi Brian.


Ia membiarkan dirinya terbaring dilantai yang dingin, setelah berlatih menari beberapa jam membuat tubuhnya merasakan rasa lelah yang amat sangat, ditambah dengan pekerjaan paruh waktu yang banyak menyita waktunya selain aktifitas disekolah.


Ia harus berjuang demi mewujudkan impiannya sendirian tanpa dukungan dari orang tua, bahkan untuk biaya sekolahnya pun, sejak Brian memutuskan pergi dari rumah meninggalkan semua fasilitas yang diberikan ayahnya, ia sudah tak memiliki apa-apa selain kata-kata penyemangat dari gadis yang disukainya.


Gadis itu yang menyadarkan dirinya jika ini adalah hidupnya, dan hanya dirinya yang berhak menentukan kemana jalan yang akan ia tempuh, meski akan terasa sangat sulit namun ini adalah hal yang diinginkannya.


‘tidak apa selama kau menyukainya kau akan baik-baik saja. 1 kalimat yang selalu bisa membuat Brian kembali percaya akan pilihannya tidak akan salah.


Lelaki berumur 18 tahun itu kembali tersenyum cerah, mengingat kalimat penyemangat dari gadis yang disukainya, kemudian ia pun kembali bersemangat untuk melanjutkan latihan tarinya ditengah malam disaat orang-orang tengah terlelap dalam tidur nyenyaknya.


Tapi lelaki muda itu bertekad untuk melakukan yang terbaik agar ia bisa sukses dikemudian hari dan usahanya dapat diterima oleh banyak orang nantinya.


Sembari memikirkan seseorang yang selalu ada dihatinya, ia terus tersenyum seiring dengan gerakannya yang semakin bertenaga, seolah tubuhnya pun merespon antusias setiap wajah manis yang terlintas dalam benaknya.


Hingga tak terhitung berapa tetes keringat yang sudah membasahi seluruh tubuhnya, membuat dirinya beberapa kali terpeleset oleh keringatnya sendiri, namun ia tetap bangkit dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlatih.


Begitulah malam-malam yang selalu Brian lewati penuh dengan perjuangan, dan juga kekhawatiran seorang lelaki muda yang tengah bersiap untuk masa depannya yang lebih baik.


Banyaknya rintangan juga hambatan yang membuat langkahnya terhenti bahkan sampai ia terjatuh, namun ia harus tetap bangkit agar semuanya bisa terlewati, dan rasa sakit itu menghilang seiring dengan kesuksesan yang ia raih dikemudian hari.


***


Kamar Andheera.


                “kau belum tidur?” tanya Vivian yang baru kembali dari kamar Andromeda.


                “belum ngantuk.” Sahut Andheera yang tengah terbaring diranjang seraya menatap layar ponselnya.


                “kau yakin gak apa-apa kakakmu dibiarin tidur sendiri?” lanjut Vivian seraya berjalan mendekati Andheera lalu duduk di sebelahnya.


                “heemm besok juga dia akan lebih baik.” Ujarnya yang masih tetap fokus menatap layar ponselnya.


                “benarkah, apa yang kau lihat?” kata Vivian seraya melepas satu earphone yang nyantel ditelinga Andheera dan memasangkan ditelinganya.


                “hanya beberapa MV BTS.” Respon Andheera lalu terbangun agar bisa mengimbangi posisi nyaman untuk Vivian yang kini juga tengah ikut menonton MV di layar ponselnya.


                “oohh, oiya mereka mau konser di Indonesia kan nanti kau sudah membeli tiketnya?”


                “masih lama Vivian tiketnya juga belum dijual lah.” dengan penuh kesabaran Andheera menanggapi semua perkataan karibnya.


                “begitu, ngomong-ngomong kau nonton drama hwarang disitu Kim taehyung ikut main drama ya walaupun gak jadi pemeran utamanya tapi lumayan sering muncul kok.” Kata Vivian yang tiba-tiba teringat satu drama yang tengah ia tonton.


                “engga.” Respon Andheera dingin.


                “kalau gitu aku ceritain dikit deh jadi.. bla.. bla..bla..”


Meski Andheera hanya menanggapinya dengan beberapa kali dehaman juga anggukan, Vivian masih terus bercerita sampai akhir.


Hingga ia pun tertidur disamping Andheera karena kelelahan, menyadari Vivian sudah terlelap dalam tidurnya sebeb ia sudah tak lagi bersuara, Andheera melirik sejenak ke arah Vivian sebelum memutuskan untuk pergi membiarkan Vivian beristirahat dikamarnya.


Saat Andheera hendak turun dari ranjangnya, tiba-tiba Vivian kembali bersuara namun kali ini dengan nada lirih dan masih memejamkan kedua matanya, seolah ia tengah berbicara dalam tidurnya.


           “kau sudah melaluinya dengan baik Andheera.. aku akan selalu disampingmu.” Gumamnya.


Mendengar itu, untuk sesaat Andheera menoleh kearah Vivian sebelum ia benar-benar pergi dari kamarnya.


 *** 


Pagi hari di kamar Andromeda.


                “AAAAAAAAA!!..” teriak Andromeda yang terdengar begitu nyaring, kala ia membuka matanya Andromeda benar-benar terkejut mendapati sebuah wajah tepat dihadapan wajahnya hingga refleks membuatnya menendang adiknya sendiri sampai tersungkur ke bawah.


                “aawww.." ringis gadis malang itu yang masih setengah sadar, sembari mengusap bokongnya Andheera mencoba bangun lalu menatap tajam kearah Andromeda.


"OPPAA!! Aku ini adikmu!!” geram Andheera seraya menyipitkan kedua matanya tanda ia benar-benar kesal pada kakaknya.


                “ya oppa gak tahu, lagian kenapa juga kau tidur diranjang oppa.” Dalihnya mencoba keluar dari amukan adiknya.


                “ada Vivian dikamarku, AAugghh..!!” Andheera mencoba berdiri masih memegangi bokongnya yang tampak sangat kesakitan akibat serangan tiba-tiba dari kakaknya.


                “apa di kehidupan sebelumnya kalian pasangan kekasih, kenapa kebiasaan kalian berdua tak ada bedanya, huftt menyebalkan.” Andheera menggerutu sembari berjalan keluar kamar Andromeda.


                “tanganmu kenapa lagi Andheera?” tanya Andromeda yang menyadari telapak tangan Andheera lagi-lagi ditempel plester besar yang hampir menutupi seluruh telapak tangan adiknya itu.


                “aku terjatuh.” sahut Andheera sekenanya.


                “apa kau ini masih anak-anak selalu saja terjatuh dan melukai tubuhmu sendiri.” Ujar Andromeda.


                “oppa mau sarapan apa?” tanya Andheera sebelum keluar dari kamar kakak nya ia membalikan badannya ke arah Andromeda yang masih terduduk di ranjangnya.


                “kau mau buat sarapan?” Andromeda malah balik bertanya.


                “kan ada Vivian.” ucap Andheera.


                “aaahh benar juga, terserah saja, karena apapun yang dibuat Vivian pasti enak hehehe.” Kata Andromeda seraya membayangkan semua makanan lezat di dalam kepalanya.


                “okee, cepat mandi dan lap air liurmu itu.” Ujar Andheera mengakhiri percakapannya dipagi hari kemudian menutup pintu kamar Andromeda dengan sedikit bantingan.


***


Sementara itu di kediaman Hyunjie -Yogyakarta.


Keenan terlihat sangat sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan, lain hal nya dengan ibunya yang baru saja siuman, wanita berparas cantik itu berjalan menghampiri putranya di dapur dengan raut wajah berseri-seri, sebab ia sudah mencium aroma wangi masakan yang dibuat oleh Keenan, Hyunjie sudah tak tahan ingin segera mencicipinya.


                “sangat beruntung wanita yang akan menjadi istrimu nanti Keenan, tak ada satu pun hal yang tak bisa kau lakukan, mama jadi merasa gak rela melepasmu hehe.” Ujar Hyunjie sembari memperhatikan Keenan yang tengah memasak dengan membelakanginya.


                “cuci wajah dan sikat gigi dulu mah.” Ujar Keenan yang melihat ibunya malah asyik nangkring di meja makan masih dengan wajah bangun tidurnya.


                “aah iya baiklah hehe, tunggu mamah ya jangan dihabiskan.” Serunya kemudian berlari kecil menuju kamar mandi, Keenan hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.


***


30 menit kemudian akhirnya Andromeda keluar dari kamar, ia berjalan menghampiri meja makan untuk bergabung bersama ayah dan juga adiknya yang sudah lebih dulu berada di meja makan.


                “waaaahh wangi banget, mana Vivian katanya dia nginep disini.” Ujar Andromeda yang kemudiab duduk bergabung dengan keluarga kecilnya.


                “dia pergi setelah bikin sarapan.” Sahut Andheera yang tengah menyantap sarapan paginya.


                “kok gitu, gak ikut sarapan?” tanyanya seraya mengerutkan keningnya.


                “dia bawa sebagian makanannya kok, mungkin dia mau makan sama orang lain.” Kata Andheera lagi.


                “Augh..!!!” geram Andheera sebab kakaknya itu tak kunjung berhenti bertanya padanya.


                “kemarin kalian jadi berangkat berdua?” timbrung Reza.


                “kemarin..?” sahut Andromeda kebingungan.


                “tentu kemarin sangat seru sekali bukan oppa, meskipun cuma aku dan oppa tapi kita bersenang-senang ayah.” Timpal Andheera membuat Andromeda semakin kebingungan dengan apa yang terjadi sebenarnya kemarin.


                “maaf ya, lain kali ayah janji akan menyempatkan waktu untuk kalian berdua.” Ujarnya kemudian meneguk air mimnumnya beberapa kali.


                “kalau begitu luangkan waktu ayah untuk nanti tanggal 32 Juli, 2 pekan lagi, untuk nonton konser BTS.” Sahut Andheera mencoba memberikan saran agar ayahnya bisa menebus kesalahannya.


                “okee ayah janji.” Serunya dengan penuh percaya diri.


                “bagaimana kalau kita pakai t-shirt couple warna pink hehehe.” Kata Andhromeda penuh antusias.


                “oppa saja yang pakai dengan ayah.” Respon Andheera ketus.


                “ayoolah oppa selalu ingin memakai t-shirt couple dari dulu tapi belum kesampean juga.” Ujarnya dengan nada lirih.


                “gak mau, lagipula pink? Oppa tak malu memakai t-shirt warna pink?”


                “kenapa harus malu, warna pink itu menandakan kalau oppa lelaki yang manis." ujarnya seraya menunjukan ekspresi seiumt mungkin pada adik dan ayahnta.


                “ciih!” Andheera membuang muka lalu bangkit dari tempat duduknya untuk mengakhiri sarapan di pagi hari bersama keluarga kecilnya.


                “apa kau tidak ada kegiatan hari ini Andheera?” tanya Ayahnya ketika Andheera mulai melangkahkan kakinya.


                “hanya bermain-main ayah.” kata Andheera sembari berjalan menuju kamarnya.


                “akhir-akhir ini ayah kelihatan sibuk sekali bahkan weekend pun ayah masih tetap bekerja, apa perusahaan baik-baik saja ayah?” tanya Andromeda yang tiba-tiba saja menyinggung soal keadaan perusahaab ayahnya.


                “tentu, semuanya baik-baik saja kau tak perlu khawatir, jaga saja adikmu, ayah pergi.” Pungkasnya kemudian bangkit dari tempat duduknya.


                “ammm.. jika ayah butuh bantuan, ayah bisa bilang padaku, ayah tahukan putra ayah ini sangat pintar aku bisa mempelajari apapun dengan cepat.” Imbuhnya kala Reza membalikan tubuhnya.


Reza hanya merespon dengan senyum manisnya, kemudian mengusap kepala Andromeda sebelum akhirnya pergi meninggalkan Andromeda sendiri di meja makan.


                “apa hanya perasaanku saja, ayah terlihat semakin kurus.” Gumam Andromeda seraya memandangi punggung ayahnya yang tengah berjalan.


Tak ingin berfikir yang aneh-aneh Andromeda beranjak dari tempat duduknya, setelah menyelesaikan sarapan paginya, ia pun meninggalkan meja makan dengan membawa gelas yang berisikan sisa susu yang akan ia minum dalam perjalanannya menuju kamar untuk membawa kunci motor.


***


Kembali ke kediaman Hyunjie -Yogyakarta.


Hyunjie dan Keenan tampak telah siap untuk menyantap sarapan paginya, ketika Keenan ingin menyantap suapan pertamanya tiba-tiba saja suara bel berbunyi, membuat tangannya refleks menaruh kembali sendok yang hampir masuk ke dalam mulutnya, ia lebih memilih untuk melihat siapa yang berkunjung kekediamannya pagi-pagi buta begini.


Dengan langkah yang malas ia langsung membukakan pintu rumahnya.


                “hey hehehe,” sapa Jiso sembari melebarkan senyumannya.


Keenan mengernyitkan dahinya melihat sosok yang tidak diundang tengah berdiri dihadapannya, dan yang lebih mengejutkannya lagi gadis itu masih memakai piyama tidur juga rambut yang sedikit kacau.


Keenan sempat berfikir jika temannya itu tidur sambil berjalan, namun melihat deretan gigi Jiso dan juga mata senyumnya membuat ia yakin jika Jiso sepenuhnya tersadar.


                “kau tak akan membiarkanku masuk?” tambah Jiso melihat Keenan yang terus berdiri didepannya hingga menghalangi pintu masuk, Keenan pun akhirnya sedikit memiringkan tubuhnya membiarkan gadis itu masuk bersamaan dengan aura cerahnya.


Jiso langsung duduk di meja makan setelah menyapa ibu Keenan seolah ia juga penghuni rumah ini, ia tidak canggung sama sekali.


                “kau sudah lebih baik?” tanya Keenan begitu menutup pintu rumahnya ia berjalan menuju dapur untuk mengambil piring tambahan karena ada tambahan jiwa yang perlu diberi makan.


                “tidak, kenapa kau tak menjenguk ku?”


                “sudah banyak yang merawatmu disana,” jawab Keenan seraya menaruh piring juga alat makan di depan Jiso.


                “tapi..”


                “berhenti merengek dan makan.” Tegas Keenan kemudian kembali melanjutkan sarapan paginya yang sempat tertunda, Jiso pun terdiam dan mengalah untuk tidak mempermasalahkannya lagi.


                “kau ada kegiatan hari ini, bisa temani tante shoping?” Hyunjie mencoba membuat situasi kembali mencair.


                “tentu, aku bisa tante hehehe.” Seru Jiso yang kembali tersenyum setelah di omeli Keenan beberapa detik yang lalu.


***


Di panti asuhan.


Hari ini sengaja Vivian bangun pagi untuk membuat banyak makanan, selain menyiapkan sarapan untuk keluarga Reza, gadis manis itu berniat untuk membawa sebagian besar masakannya ke panti asuhan agar semua teman dan adiknya bisa mencicipi masakan yang dibuatnya dengan sepenuh hati.


Benar saja kedatangan Vivian disambut hangat oleh semua penghuni panti asuhan, tak terkecuali dari bunda Marisa yang kemarin tak sempat bertemu karena bunda Marisa berada diluar kota.


Kini mereka semua berkumpul di pekarangan belakang panti asuhan, dengan menggelar tikar mereka sangat menikmati semua makanan yang Vivian bawa sampai habis tak tersisa.


Sama halnya dengan anak-anak lain setelah mereka menghabiskan makanannya, anak-anak yang masih berumur 7 sampai 10 tahunan itu bermain kejar-kejaran.


Tawa kebahagiaan itu begitu nyata seolah baru kemarin Vivian pergi meninggalkan keluarga besarnya disini, tak pernah terfikirkan ia akan kembali pada tempat ini, iya tempat dimana ia menemukan keluarga yang begitu tulus menyayanginya lebih dari siapapun.


Sementara adik-adiknya bermain dengan 1 temannya yang bernama Elis, permainan yang umum, Elis yang matanya ditutupi oleh ikatan hingga tak bisa melihat ia harus berusaha menemukan adik-adik kecilnya yang tengah mengelilinginya, sembari menggodanya dengan menoel Elis mencoba memberi tanda jika mereka berada tidak jauh dari Elis.


Vivian dan Nayung masih duduk dipekarangan yang beralaskan tikar sembari menyaksikan kebahagian yang berada didepannya, senyum, tawa itu begitu nyaring terdengar membuat keduanya ikut merasakan kebahagiaan itu.


                “tunggu aku..”


                “hah..” respon Nayung sembari menoleh, Vivian yang tiba-tiba bicara membuat Nayung tak begitu mendengarnya.


                “aku janji, aku akan membuatmu bisa berjalan kembali suatu hari nanti.” Giliran Vivian yang kini melirik ke arah Nayung lengkap dengan senyum yang diiringi kedua mtanya yang mulai berkaca-kaca.


Meski sedikit terkejut dengan ungkapan Vivian, namun Nayung malah membalasnya dengan senyum lebar penuh ketulusan.


                “terimakasih Vivian, tapi kau tak perlu melakukan itu karena aku baik-baik saja sekarang, kau lakukan saja apa yang membuatmu bahagia, dulu kau pernah bilang ingin belajar diluar Negeri, kau ingin sekali menjadi chef bukan, dengan rasa masakanmu itu ku yakin kau akan sukses nantinya bahkan mungkin kau bisa menggantikan chef Renata di master chef hiihihihi.” Goda Nayung sembari menyenggol lembut bahu temannya itu.


                “maafkan aku Nayung, aku sempat berfikir untuk tak pernah kembali hiksss.. hiksss.." mendengar perkataan Nayung membuat hati Vivian seakan teriris-iris, ia membayangkan betapa jahatnya dirirnya dulu, hingga dirinya tak mampu menahan isakan tangis yang mulai menyerang kemudian memeluk Nayung erat.


"jika bukan karena kak Brian..”


                “karena kau sudah menemukan jalan pulang, jadi berhenti terus menyalahkan dirimu sendiri Vivian, kau juga sudah banyak menangis kemarin jadi mari kita hanya bahagia sekarang okee.” potong Nayung.


Vivian mengangguk pelan dalam pelukan Nayung, ia masih mencoba menahan tangis penyesalan juga bahagia yang menjadi satu.


***