To My Youth

To My Youth
BAB 62



Tempat makan milik Ahreum ibu dari Bennedict.


Ahreum sudah banyak menyiapkan makanan sedari siang, untuk merayakan putranya yang kini menjadi trainee dari sebuah agensi besar yang ada di Jakarta.


                “sore tante..” sapa Andheera yang baru saja saja datang bersama dengan Brian.


                “ahh.. hey Andheera.” Ahreum yang tengah menyiapkan alat makan dimeja menanggapi sapaan Andheera, kemudian langsung memeluk Andheera lengkap dengan senyum hangat layaknya seorang ibu yang telah lama tidak bertemu dengan putrinya.


                “kau semakin cantik saja Andheera, tante hampir tak mengenalimu.” Tambah Ahreum yang melepas pelukannya lalu dilanjut dengan cubitan pelan di kedua pipi Andheera.


                “hay noona, kau sudah sampai.” Ujar Ben yang baru saja bergabung dengan membawa 1 wadah besar berisi hidangan laut kesukaan Andheera.


Andheera hanya membalasnya dengan senyuman kecil diwajahnya.


                “siapa.. pacarmu..?” tanya Ahreum saat baru menyadari ia belum menyapa seseorang yang datang bersama Andheera, sementara itu Bennedict sudah duduk lebih dulu serta memulai mangambil makannanya karena sudah merasa sangat lapar.


                “pengen nya sih tante hihihi.” Celoteh Brian lengkap dengan tawa lebarnya.


                “Brian.. tante, senior disekolahku.” Timpal Andheera.


                “begitu yaa, tapi kalian cocok kok.. (goda Ahreum seraya tersnyum nakal ke arah Andheera) yaudah ayo duduk, tante sudah menyiapkan semua makanan kesukaanmu.” Sambungnya seraya menarik kursi untuk di duduki oleh Andheera.


                “waahhh.. banyak banget tante, udah kayak mau ngasih makan 1 kompleks aja hehehe..” ujar Brian yang ikut duduk disamping Andheera.


                “kalian hanya berdua, tadi Ben bilang masih ada 2 orang lagi..?” tanya Ahreum.


                “kakakku dan 1 temanku lagi akan menyusul, tante..” sahut Andheera yang mulai mengambil makanannya.


                “begitu, lalu teman mu Jessy mana Ben..?” giliran putranya yang kini ditanyai.


                “dia akan datang begitu selesai mengantar pesanan mah..” sahutnya masih sembari mengunyah makanannya.


                “baiklah kalau begitu tante masuk dulu ya, ada pelanggan.” Pamit Ahreum yang melihat ada beberapa pengunjung yang baru saja datang ke restonya.


Andheera dan Brian hanya membalasnya dengan senyum juga anggukan.


                “meda akan datang noona..?” tanya Ben.


                “pagi tadi bilang nya akan ikut kesini, tapi gak tahu sejak siang tadi oppa belum bisa dihubungi.” Sahutnya.


                “bagaimana dengan Vivian..?” tanya Brian yang ikut mengajukan pertanyaan pada Andheera disela suapannya.


                “aku sudah mengirim pesan tapi dia belum membacanya.” Respon Andheera lagi.


Selang beberapa detik, entah kenapa beberapa fikiran negative terlintas dalam benaknya, membuat Andheera terusik kemudian memutuskan untuk pamit keluar sebentar, dengan dalih ingin menelfon seseorang.


                “aku harus menelfon seseorang, kalian makanlah dulu..” kata Andheera seraya bergegas berjalan keluar dari resto membuat Brian juga Ben mengerutkan dahinya untuk sesaat.


Diluar resto.


Wajah Andheera tampak sedikit tegang dengan ponsel yang menempel ditelinganya, gadis itu masih tak bisa berhenti khawatir kala telfonnya tak juga tersambung.


Sampai ia pun memutuskan untuk menghubungi sekretaris kakek dari Vivian.


                “paman.. tolong lacak ponsel Vivian sekarang juga.” serunya yang terdengar seperti perintah.


                “apa yang terjadi nona Andheera..?” sahut seseorang dalam telfon.


                “cepat lacak ponsel Vivian..!” tukas Andheera dengan nada tingginya.


                “Andheera..” panggil seseorang dari belakang yang tak lain adalah Vivian, membuat Andheera sedikit terkejut juga merasa lega secara bersamaan.


                “kenapa kau ingin melacak ponsel ku..?” lanjut Vivian yang mendengar percakapan Andheera barusan.


Tanpa mengucapkan kalimat penutup pada sang sekretaris, Andheera pun langsung mematikan telfonnya, masih seraya memandangi Vivian lekat.


                “dan siapa yang kau telfon..?” tambah Vivian lagi seraya melirik ke arah ponsel yang digenggam Andheera.


                “Heyyy..!! Andheera eonnii..” sapa Jessy yang baru saja datang dengan sepedanya.


                “siapa ini..?” Jessy beralih pada Vivian setelah memarkirkan sepedanya.


                “Hey..! Vivian.” ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Jessy, dengan senyum cerahnya Jessy menerima uluran tangan Vivian.


                “Jessy..! kenapa kalian berdua diluar..? ayoo masuk..! anggap saja rumah sendiri hehehe.” Celetuk Jessy seraya mendahului keduanya untuk masuk ke dalam resto.  


Seolah Vivian sudah melupakan hal yag terjadi sebelumnya, ia hanya berjalan masuk mengikuti langkah Jessy dan melewati Andheera yang masih terdiam ditempatnya.


Saat dirinya hendak menyusul kedua temannya, langkahnya terhenti kala ponselnya bergetar.


                “iya ada apa paman jika tidak penting akan ku tutup..”


                “Darren Erlingga.. seorang mantan jaksa yang dulu menangani kasus kecelakaan beruntun saat itu, dan dia juga yang memutuskan untuk menutup kasus tersebut sebagai kasus yang tak terpecahkan.” Tutur Oliver ayah dari Bennedict membuat Andheera membelalakan kedua matanya dengan apa yang baru saja ia dengar.


                “baiklah, aku mengerti, terimakasih paman.” pungkasnya.


                “hey.. kau tak akan melakukan sesuatu yang buruk kan Andheera.” ujarnya lagi memastikan.


Beeppp.. Andheera langsung mematikan telfonnya begitu saja, kemudian memasukannya kembali ke dalam celana jinsnya dan berjalan masuk ke dalam resto.


                “Benn..” panggil Andheera yang baru saja bergabung kembali, ia melihat lengan keponakannya hendak mengambil beberapa cumi kering milik Andheera.


                “hanya sedikit noona..” rengek bocah tersebut seraya menunjukan raut wajah seimut mungkin.


                “tidak..!” tegas Andheera seraya duduk kembali di kursinya lalu melanjutkan makannya yang sempat tertunda akibat kekhawatiran yang tidak perlu.


Meski sedikit kesal pada Andheera namun Ben tetap mematuhinya dan mengurungkan niatnya untuk mengambil beberapa cumi kering, lalu melnajutkan dengan makanan yang boleh ia makan.


                “kenapa kau sangat terlambat Vivian..?” tanya Andheera di sela makannya.


                “ahh.. aku harus mengambil pesanan gaunku dulu di Flower butik.” Jawab Vivian yang juga sangat menikmati makanannya.


Sementara Andheera dan Vivian mengobrol, Benn juga sepertinya tampak asyik menikmati percakapan sederhananya dengan Jessy juga Brian.


                “kau benar-benar lolos dalam audisi BangQit..?” tanya Jessy lagi untuk memastikan.


                “kau ini..! sudah berapa kali ku bilang, iya aku lolos bersama kak Brian dan juga noona, kita bertiga akan menjadi trainee di BangQit.” Tuturnya lagi masih dengan sabarnya ia menjawab pertanyaan teman sekelasnya.


                “waaahhh..!! aku udah gak sabar menantikan kalian bertiga debut hahahha..!! pasti sangat menyenangkan jika memiliki teman seorang idol..!! pokoknya aku janji akan tetap setia stan kalian sampai akhir YEAAH..!” seru Jessy sangat exited mendengar kebenaran tentang teman-temannya yang akan menjadi idol membuat dirinya juga merasakan bahagia yang luar biasa.


                “apa kau bilang..? bertiga, Andheera kau juga ikut audisi..?” tanya Vivian yang mendengar seruan Jessy membuat dirinya berhenti mengobrol dengan Andheera dan beralih menunggu jawaban dari Jessy.


                “iya kita bertiga sudah menjadi trainee di BangQit agensi.” Timpal Brian yang mewakili Jessy untuk menjawab pertanyaannya.


                “kau akan menyanyi dan menari di depan semua orang..?! waahh daebak..!! apa kau benar-benar Andheera yang ku kenal..?” ujar Vivian seraya menatap temannya itu dengan perasaan yang tidak percaya sama sekali dengan berita yang baru ia dengar.


                “terpakasa kenapa..?” timbrung Jessy penasaran.


Begitupun dengan yang lainnya, yang ikut menunggu jawaban dari Andheera mereka terus menatap Andheera dengan pandangan yang mengganggu.


                “rahasia..” respon Andheera datar membuat yang lainnya langsung berdecak kesal kemudian melanjutkan kembali menyantap makanannya.


                “kak meda ngga akan datang..?” tanya Vivian.


                “kurasa engga, dia pasti sedang menangis dipojokan.” celoteh Andheera, membuat Vivian kebingungan dengan jawabannya.


                “karena kekasih kecilnya tidak jadi menemuinya.” Tambahnya lagi untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.


                “meda punya pacar..? waaah seperti apa seleranya noona punya fotonya..?!” seru Ben masih dengan mulut yang dipenuhi makanan.


                “ammm.. minta saja pada kakakmu.” Sahut Andheera.


                “isshh.. ayolah noona, meda tak akan memberitahuku.” Rengek Ben.


                “apa kau memiliki masalah dengan kak meda, kurasa kau tak terlalu akrab dengannya.” Timbrung Vivian.


                “dia sangat menyebalkan, waktu kecil dulu dia selalu merebut semua makanan juga mainan yang diberikan omma padaku.” Ungkapnya lengkap dengan raut wajah yang sangat mendukung.


                “bener juga sih, kak meda memang sedikit menyebalkan, saat bermain game juga dia tak pernah mau mengalah sekalipun..!” balas Vivian yang tak kalah julidnya membicarakan seseorang dibelakang.


                “dan juga kak Vian tahu, saat dia tidur dia sering sekali mengigau bahkan sampai pernah menendangku hingga aku terjatuh..! uhh.”


Jessy dan Brian hanya bisa tersenyum renyah mendengar kekompakan mereka berdua menjelekkan kakak Andheera.


                “hey.. apa kau tak ingat, dulu kau sering diam-diam mengendap masuk ke kamar noona dan tidur dikamar noona, ditambah selama kau tidur tak pernah sekalipun kau bergerak, membuat noona berfikir apa kau masih hidup atau sudah mati.” Timbrung Andheera, membuat yang lainnya cekikikan akibat tingkah laku Ben kecil dahulu.


                “aku tidur dikamar noona, karena aku tak ingin terlambat ke sekolah.” Pembelaan Bennedict.


                “kau yakin..? bukan karena kau malas membereskan tempat tidurmu..?” timpal Vivian yang ikut menggoda Ben.


Tak dapat berkata-kata lagi Ben hanya menunjukan raut wajah merajuknya, sedangkan yang lain masih tak dapat menghentikan tawa renyahnya seraya memandangi bocah lelaki tersebut.


***


Malam harinya, di apartemen Hyunjie.


Setelah beres merapihkan semua pakaian putranya ke dalam lemari pakaiannya, ia pun keluar dari kamar Keenan dan berjalan menuju ruang tengah, bersiap untuk menonton drama favoritenya yang sebentar lagi akan tayang, ditemani dengan cemilan keripik yang sudah ditaruh di meja sebelumnya.


Kreett.. suara pintu terbuka tanda seseorang yang telah ditungguinya telah pulang.


                “kau darimana saja Keenan..?” tanya ibunya begitu putranya berjalan melewati dirinya.


                “mencari seseorang..” sahutnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


                “dia kenapa, apa terjadi sesuatu.” Gumam Hyunjie, kemudian kembali beralih pada drama favoritenya yang sudah dimulai dan melupakan sikap putranya.


Di kamar mandi.


Layakanya adegan dalam drama korea, seorang cast lelaki yang memperlihatkan scene dirinya tengah bertelanjang dada, seraya diguyur oleh air shower yang membuat tubuhnya basah seketika, ditunjang dengan tubuh atletis juga roti sobeknya yang sudah lama terbentuk setelah ia melakukan diet ketat dan olahraga rutin.


Dengan tinggi yang cukup mumpuni juga visual yang tidak diragukan lagi, sebenarnya ia bisa saja dengan mudahnya masuk dalam dunia entertaint seperti hal nya Eunjiso yang memutuskan untuk menjadi selebriti.


Namun lelaki yang baru saja menyelesaikan studi akhir di SMA Shinwa itu, tak memiliki niat sedikitpun untuk mengikuti jejak teman sekelasnya.


Baginya menjadi keren itu adalah menjadi seorang atlet basket, karena teman kecilnya Andheera sangat menyukainya.


                “2 minggu itu waktu yang sangat lama, dan juga bisakah aku menemukannya.” Gumam Keeenan yang masih menikmati guyuran air shower sembari sesekali menyibakan rambutnya ke belakang.


***


Kembali ke resto Ahreum, tepatnya didapur.


Tampak Brian dan Bennedict tengah mencuci piring bersama setelah menghabiskan begitu banyak hidangan yang tersedia di meja makan, mereka juga harus bertanggung jawab pada piring dan mangkuk yang kotor, agar terlihat seperti anak yang berbakti hihi.


Beberapa menit sebelum baku hantam terjadi..


                “kak Brian..” panggil Ben pelan sembari membilas piring yang sudah dibersihkan sebelumnya oleh Brian.


                “iyaa.” Sahut Brian.


                “apa kau menyukai noona..?” tanya Ben yang membuat Brian sedikit terkejut.


                “enggak tuh, aku menyukai Jessy kecil.” Goda Brian diiringi dengan tawa renyahnya.


                “aku serius kak Brian..!” seru Ben seraya menaikan nada suaranya.


                “hehehe.. memangnya kenapa, tiba-tiba kau menanyakan hal itu..?” Brian malah bertanya balik alih-alih menjawab pertenyaan Ben.


                “hanya ingin memperingati kak Brian saja, kalau-kalau kak Brian sampai menyakiti noonaku, aku tak akan tinggal diam..!” tegasnya seraya menunjukan sorot matanya yang tajam juga kedua jarinya yang didekatkan tepat ke kedua mata Brian seolah mempertegas apa yang baru saja ia katakan.


                “iyaa.. iyaa baiklah hahahaha..!!” sahutnya seraya menoel wajah imut Ben dengan busa sabun yang ada ditangannya.


Tak ingin kalah begitu saja, Ben membalasnya dengan cipratan air dari keran yang mengalir membuat wajah Brian basah seketika.


Dan baku hantam pun terjadi begitu Brian kembali membalas perlakuan Ben padanya, begitu seterusnya sampai area dapur dipenuhi oleh busa sabun juga cipratan air dimana-mana.


Tak ada yang mau mengalah keduanya sama-sama gigih saling membalas, dengan dibumbui tawa dan teriakan yang membuat setiap orang di ruang tengah terusik.


                “HEY..!!” seru Vivian yang sangat terkejut mendapati area dapur penuh dengan kekacauan yang dibuat oleh 2 makhluk aneh tersebut.


Namun keduanya tak perduli sama sekali dengan kehadiran Vivian dan tetap melanjutkan bersenang-senang dengan saling melempar busa sabun hingga membuat lantai licin.


                “biarkan saja, lagipula mereka juga yang akan membereskan kekacauannya, iya kan Bennedict..!” timpal Andheera yang baru saja datang untuk menaruh piring kotor berisikan kulit semangka.


Sontak baik Ben maupun Brian menghentikan aktivitasnya seketika, dan memandangi Andheera yang berjalan melewatinya untuk menaruh piring di wasteful lengkap dengan sorot mata tajamnya.


Merasakan aura yang menyeramkan, refleks lengan Ben menekukan leher Brian untuk melakukan setengah membungkuk pada Andheera bersamanya, tanda mereka berdua menyesali perbuatannya.


                “iyaa noona..” sahut Ben.


Melihat tingkah laku keduanya Vivian hanya menggeleng kepala kemudian pergi bersamaan dengan Andheera yang menyusul dibelakangnya, setelah memastiakn jika kekacauan itu akan segera dibereskan oleh kedua makhluk tersebut.


                “Hey..! aku lebih tua darimu tahu.” Seru Brian yang tak terima dengan perlakuan Bennedict barusan yang terbilang kurang sopan.


                “aku menyelamatkan nyawa kak Brian tahu..!” sahut Ben yang kemudian berhenti bermain dan mulai membersihkan area dapur.


                “cihhh..!” ketus Brian yang masih merajuk seraya melipat kedua tangannya, sebelum akhirnya ia juga ikut membersihkan kekacauan yang ada.


***