
Di benteng kota, pasukan kekaisaran menggempur pasukan pemberontak pimpinan Menteri Lan. Murong Yan dan Bu Guanxi turun lebih dulu, bergabung dengan pasukan kekaisaran yang sudah terjun lebih awal. Beruntungnya, meskipun pasukan musuh berjumlah banyak, namun ilmu perang mereka belum matang hingga mudah tumbang. Satu pengawal kekaisaran bisa menumbangkan lima orang musuh.
Murong Yan sangat terkejut ketika dia mengenali salah satu dari para prajurit itu. Sayang, yang dia kenal tampaknya lupa, atau mungkin terkena cuci otak karena dia seperti tidak mengenal siapapun. Aneh, pikir Murong Yan.
"Kakak Kaisar, mereka adalah para pemuda kota!" teriak Murong Yan. Murong Qin mendengarnya, lalu dia melihat lebih teliti. Benar saja, mereka adalah para pemuda yang diculik dan menghilang beberapa bulan, yang sedang berusaha dia bebaskan!
"Jangan membunuh mereka!"
Para prajurit kekaisaran mengerti titah. Mereka yang terampil menumbangkan lawan dengan melukai beberapa bagian tubuh saja, tetapi tidak akan membuat orang itu mati. Alhasil, dengan kekuatan prajurit kekaisaran ditambah pasukan khusus dan Murong Yan serta Bu Guanxi, pasukan pemberontak berhasil ditumbangkan. Murong Qin menarik anak panahnya, lalu membidik Menteri Lan yang tengah panik.
Kemudian, dia melesatkannya. Anak panah itu terbang lurus, lalu tertancap di jantung Menteri Lan. Menteri pengkhianat itu seketika tumbang dengan berlumuran darah. Melihat pemimpin mereka mati, pasukan pemberontak menjatuhkan senjata mereka, lalu menyerahkan diri dan bersedia diadili. Pasukan kekaisaran berhasil menumpas pemberontak tanpa membuka gerbang kota.
Murong Yan dan Bu Guanxi kembali ke sisi Murong Qin. Semua pasukan pemberontak dikawal pasukan kekaisaran, digiring menuju penjara istana untuk diinterogasi dan diadili. Namun, ketika melewati jalan di tengah kota, seorang bawahan melapor pada sang kaisar bahwa Adipati Jing diserang di tengah perjalanan dan sekarang masih bertarung.
Murong Qin kemudian memerintahkan pasukannya untuk membantu. Ketika orang asing berhasil ditumpas, dia menghampir Wei Shiji yang tengah terluka. Dengan napas terengah-engah, dia berkata, "Yang Mulia, adikku dalam bahaya."
Dia melupakan itu. Di istana, Permaisuri Yi dan Ibu Suri pasti sudah keluar. Murong Qin naik ke atas kuda, lalu menarik talinya hingga kuda itu meringkik. Dia melaju dengan kecepatan tinggi, melewati malam yang kelam itu menuju istana. Dia harus sampai sesegera mungkin. Gerbang istana kemudian terbuka kala para penjaga mengetahui siapa orang yang tengah duduk di atas kuda.
Murong Qin langsung menuju Istana Fenghuang. Dari kejauhan, dia mendengar suara pedang beradu secara samar. Semakin dekat, suara itu semakin nyaring terdengar. Dia sangat terkejut ketika melihat Permaisuri Yi sedang bertarung dengan Wei Linglong. Murong Qin tidak pernah menyangka kalau permaisurinya sangat mahir beladiri karena selama ini, Lan Shiyi selalu diam seperti wanita bangsawan pada umumnya.
"A-Ling!"
Murong Qin menahan tubuh Wei Linglong yang terhunyung. Melihat kaisarnya datang, Wei Linglong bernapas lega. Setidaknya, ada Murong Qin sekarang. Jika dia mati pun, dia akan tenang.
"Yang Mulia, kau begitu cepat menyelamatkan istrimu. Tetapi sayang, putramu mungkin akan menjadi manusia yang tidak berguna selamanya!" ucap Permaisuri Yi dengan lantang, diiringi suara tawanya yang mirip dengan nenek sihir.
"Permaisuri Yi, berapa banyak lagi kejahatan dan kebohongan yang kau lakukan?" Murong Qin menatapnya dengan marah.
"Tidak banyak. Aku hanya mengirim pembunuh untuk melenyapkan Wei Linglong beberapa kali. Ah, aku lupa. Aku juga membunuh tahanan milikmu. Oh, bukan hanya itu. Yang Mulia, apa kau tahu ke mana perginya semua uang Gubernur Jiangzhou dan dua ratus pejabat yang kau tangkap? Coba tebak! Aku lupa memberitahu kalian bahwa para gadis yang diculik itu sudah kujadikan penghibur dan pelayan ranjang prajurit binaan ayahku! Hahaha!"
Permaisuri Yi mengeluarkan botol penawar racun Murong Yu. Dia memamerkannya kepada Murong Qin dan Wei Linglong seolah benda itu adalah benda paling berharga di dunia. Permaisuri Yi menatap tajam keduanya, persis seperti tatapan saat dia hendak membunuh seseorang.
"Yang Mulia, turunlah dari takhtamu sekarang juga! Aku akan membiarkan putramu hidup dengan nyaman sepanjang hidupnya!"
"Beraninya kau meracuni pangeran negeri ini!"
Murong Qin tidak tahu rahasia apa lagi yang disembunyikan oleh Permaisuri Yi. Delapan tahun ini dia sudah tertipu dengan perangainya yang tampak anggun dan berwibawa. Hatinya ternyata sangat licik.
Dia tahu bahwa perubahan Permaisuri Yi hingga seperti ini karena ia pula. Namun, jika tindakannya sejauh ini, Murong Qin jadi merasa kalau wanita itu benar-benar iblis.
"Lan Fu sudah mati. Permaisuri, jika kau berhenti sekarang, aku bisa mengampuni nyawamu!" ujar Murong Qin.
"Mati? Biarkan dia mati! Orang tua tidak berguna itu juga sudah tidak ada gunanya!"
"Psikopat gila ini tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan keinginanya atau mati!" ucap Wei Linglong. Dia kemudian kembali menyerang Permaisuri Yi.
Kedua wanita itu kembali bertarung. Tiba-tiba, Wei Linglong sedikit limbung. Kepalanya terasa pusing. Tepat saat itu, Pemaisuri Yi memukul perutnya dengan tenaga dalam hingga Wei Linglong jatuh tersungkur.
Murong Qin segera menangkapnya. Aneh, ada darah yang keluar dari dalam pakaian Wei Linglong. Wanita itu tampak sangat kesakitan. Murong Qin kebingungan karena darah tersebut keluar dari tempat yang tidak seharusnya.
"A-Ling!"
"Yang Mulia... Sakit...."
Wei Linglong merintih kesakitan. Permaisuri Yi tertawa sangat nyaring di tengah malam. Rencananya berhasil!
"Wei Linglong, bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang kau sayangi?"
"Apa maksudmu?"
"Apa kau sungguh tidak tahu kalau kau sedang hamil? Arak yang kau minum tadi berisi obat pengugur kandungan! Hahahaha! Yang Mulia, bagaimana denganmu?"
Permaisuri Yi bahkan memahami medis bahkan menganalisa tanpa menyentuh?
Wei Linglong tertegun. Dia memegang perutnya yang sangat sakit. Sungguh, Wei Linglong tidak tahu kalau dia sedang hamil. Dia pikir datang bulannya terlambat karena kebiasaan. Tidak disangka di dalam perutnya tertanam janin yang kini sudah gugur tanpa sempat dia tahu.
"Murong Qin, turun dari takhtamu! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau diam-diam menulis dekret rahasia untuk mengangkat Murong Yu menjadi Putra Mahkota?"
Murong Qin, seperti dipukul bertubi-tubi di kepalanya. Dia telah kehilangan buah cintanya yang belum diketahui, lalu putra sulungnya sedang dalam bahaya, wanita gila ini juga bahkan mengetahui dekret rahasia yang dia simpan.
"Kau ingin menjadi Ibu Suri?" tanya Ibu Suri setelah terdiam menyaksikan cukup lama.
"Ya! Aku akan menjadi Ibu Suri atas kaisar baru, putra mahkotamu itu! Yang Mulia Ibu Suri, aku sudah muak denganmu! Bagaimana bisa aku memberikan kemenangan yang susah payah kudapatkan kepadamu? Kau sungguh berpikir kau akan terus berjaya?" tegas Permaisuri Yi.
Ibu Suri limbung sesaat. Seluruh tubuhnya begetar. Saking terkejutnya, dia lupa tujuannya datang kemari. Ibu Suri telah membesarkan dan memelihara seekor serigala yang sangat buas, yang bahkan memangsa tuannya sendiri!
"Ibu Suri, bagaimana rasanya... dikhianati?" tanya Wei Linglong sembari menahan sakit. Darah dari dalam rahimnya terus mengalir deras. Janin itu sudah hampir luruh seutuhnya. Tidak ada harapan tertolong lagi.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin!"
Ibu Suri kalap. Dia juga tertipu. Dia ditipu permaisuri yang diangkat sendiri olehnya. Pengkhianatan, dia mengkhianatinya di saat mereka hendak berhasil. Ibu Suri sakit kepala. Dia ditahan oleh pelayannya.
Wei Linglong tertawa, namun kemudian terbatuk. Ada darah keluar dari mulutnya. Aneh, bukankah dia hanya keguguran?
"Lan Shiyi! Apa yang sebenarnya kau lakukan pada istriku?" tanya Murong Qin dengan keras.
"Oh, sudah bereaksi, ya? Aku lupa memberitahu kalau pengugur kandungan itu juga bisa membunuh ibunya!"
Wei Linglong tidak tahan lagi. Dengan sisa tenaganya, dia meraih pedang Lanhua yang sudah terlumuri darah janinnya, lalu melemparkannya ke kaki Permaisuri Yi. Permaisuri Yi sibuk meninggikan dirinya dan menganggap dirinya menang.
Dia lupa kalau pedang Lanhua adalah pedang legendaris yang sangat ringan ketika digunakan. Sang permaisuri jahat merasa kakinya ditebas, sangat sakit hingga dia kehilangan keseimbangan.
Permaisuri Yi jatuh, botol penawarnya melayang di udara. Wei Linglong menangkapnya dengan merangkak, terlepas dari rangkulan Murong Qin yang wajahnya memerah karena marah. Ketika botol itu mendarat di tangannya, dia segera merangkak kembali kepada Murong Qin.
"A-Ling! Pengawal! Tangkap Permaisuri dan Ibu Suri!"
Wei Linglong menggenggam erat tangan Murong Qin. Dia menyerahkan botol penawar racun yang bagian luarnya berlumuran darah. Dia lega, karena Xiao Yu miliknya akan selamat.
"Yang Mulia... Cepat tolong Xiao Yu..."
Tabib Yin berlari keluar istana. Kepanikannya berlipat tatkala melihat Wei Linglong berada dalam pangkuan Murong Qin dan berlumuran darah. Tabib Yin segera menghampirinya.
"Nyonya! Mengapa bisa begini?"
"Tabib Yin... Selamatkan Xiao Yu... Yang Mulia... Penawarnya..."
Murong Qin menyerahkan botol penawar pada Tabib Yin.
"Nyonya, biarkan aku mengobatimu terlebih dahulu!"
Wei Linglong menggeleng. Dia meminta Tabib Yin menolong Murong Yu terlebih dahulu. Meski ragu, sang tabib terpaksa meninggalkan Wei Linglong untuk menyelamatkan Murong Yu.
Di pangkuan Murong Qin, Wei Linglong kembali mengeluarkan darah. Darah dari mulut, juga darah dari rahimnya. Di gerbang istana, Murong Yan, Bu Guanxi, Liu Ting dan Wei Shiji baru saja tiba.
Tanpa berkata, mereka semua menghampiri Murong Qin yang tengah memangku Wei Linglong.
"Yang Mulia... Kelak kau harus lebih banyak tersenyum. Jadikan... Xiao Yu.. seorang kaisar yang hebat, jauh lebih hebat sepertimu. Kau... sudah kehilangan putra keduamu...Jangan biarkan putra sulungmu ikut lenyap..."
Murong Qin tak mampu menahan tangis. Kepalanya menggeleng cepat. Mengapa wanita ini berkata seolah dia akan mati? Tidak! Wei Linglong tidak akan mati!
"A-Ling, bertahanlah! Cepat panggil tabib lain!"
"Yang Mulia... Terima kasih, dan... Maaf...."
"A-Ling!"
"Long'er!"
"Kaka ipar!"
"Nyonya!"
Semua orang berteriak bersamaan ketika Wei Linglong memuntahkan darah terakhirnya, lalu tangannya terkulai lemas.
....