The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 92: TRIK



Di Kota Jiangzhou, seluruh rakyat yang semula diungsikan sedikit demi sedikit dibawa kembali ke kota. Peperangan sudah usai, namun belum tentu benar-benar berakhir. Wei Linglong dan pasukan tantara kekaisaran memenangkan perang, namun tidak berarti bahwa musuh akan menyerah. Saat ini, mereka mungkin hanya sedang menunda rencana saja.


Berperang itu melelahkan, pikir Wei Linglong. Hampir setiap hari dia harus menaruh pedang di belakang bantal untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ada serangan mendadak seperti beberapa minggu yang lalu. Setiap malam, dia tidak pernah bisa tidur tenang dan nyenyak karena bayangan kematian para prajurit selalu menghantuinya tanpa henti.


Dia harus berbangga karena pasukan yang dipimpinnya begitu hebat. Wei Linglong harus berterima kasih kepada para jenderal yang telah mendidik mereka hingga menjadi pejuang yang tangguh dan tak gentar dalam menghadapi medan yang berbahaya. Di cerita-cerita, para jenderal kerap kali dikaitkan dengan pengkhianatan hingga kuasa militer mereka dicabut. Padahal, itu semua hanya omong kosong belaka. Jelas para jenderal lebih berkemampuan dalam militer dan memimpin prajurit, itulah sebabnya dia disegani.


“Kakak ipar, kapan kita akan pulang?” tanya Murong Yan yang baru membersihkan diri. Dia sudah rindu pada istana kekaisaran yang selama hampir satu tahun ditinggalkan. Dia ingin bertemu kakak kaisarnya dan memintanya memberi hadiah yang banyak.


“Mungkin besok atau lusa.”


Pada saat ini, rakyat Kota Jiangzhou menyiapkan sebuah perjamuan besar-besaran untuk menyambut kemenangan pasukan. Mereka berterima kasih karena berhasil mempertahankan Kota Jiangzhou dari ancaman musuh. Walaupun situasi belum tenang kembali, namun mereka setidaknya masih mempunyai rumah yang bisa mereka pertahankan.


Di sepanjang jalan yang luasnya tak seberapa itu, puluhan meja berisi makanan dan minuman berjajar rapi. Lentera-lentera menggantung di sana-sini, menerangi setiap area hingga tak ada celah untuk kegelapan. Saking terangnya, Jiangzhou dari menara kota adalah sebuah lampu hidup yang sangat besar dan terang.


Wei Linglong, Murong Yan dan keenam jenderal baru tiba. Mereka disambut tepuk tangan meriah dan sambutan hangat dari seluruh penduduk kota. Mereka yang telah mengenal Wei Linglong lebih dulu menjadi lebih bersemangat karena pahlawan mereka telah kembali menyelamatkan hidup mereka.


“Selir Chun benar-benar hebat. Tidak heran Yang Mulia begitu menyukainya,” ucap salah seorang penduduk.


“Sudah kubilang, bukan? Dia bukan wanita biasa.”


“Dia berbakat. Menurutku, dia lebih cocok jadi permaisuri negeri ini,” ucap yang lain. Perkataannya membuat orang di sebelahnya menutup mulutnya dengan telapak tangan.


“Jangan bicarakan tentang permaisuri di sini! Apa kau sudah tidak sayang pada kepalamu lagi?”


“Memangnya kenapa?”


“Kau tahu kalau Permaisuri Yi bermusuhan dengan Kaisar dan Selir Chun. Kalau sampai orang mendengarnya, kau bisa dipenggal!”


“Lagi pula, Selir Chun tidak cocok mengurusi wanita-wanita di istana. Dia lebih cocok menjadi satu-satunya wanita milik Yang Mulia.”


Perbincangan mereka terhenti tatkala Wei Linglong datang menghampiri mereka dengan senyuman usilnya. Dasar para penduduk, lelucon di istana pun mereka bicarakan dengan serius. Kalau sampai ada yang menghukum mereka karena membicarakan Permaisuri Yi, dia sendiri yang akan datang menolong mereka.


Di hati para penduduk saat ini, posisi Wei Linglong lebih tinggi dan lebih mulia daripada Permaisuri Yi. Betapa tidak, wanita itu telah berjasa besar. Tidak hanya membantu mengatasi krisis, dia juga telah memenangkan peperangan. Kalau para pejabat ingin mendebatnya pun, mereka sepertinya harus berpikir dua kali karena selain kaisar, masih ada Adipati Jing dan juga rakyat kota Jiangzhou yang menjadi pendukungnya.


Wei Linglong hanya tertawa. Dia meminta agar para penduduk tidak perlu sungkan dan jangan terlalu mementingkan etiket. Malam ini adalah malam milik mereka, milik Kota Jiangzhou. Tidak ada selir kaisar, pejabat atau apapun. Semuanya duduk setara malam ini.


“Nyonya, saya bersulang untukmu,” ucap Jenderal Yang sambil mengangkat cangkir araknya.


“Terima kasih,” balas Wei Linglong. Hanya saja, wanita itu tidak minum arak. Dia takut kehilangan kendali seperti pada saat terakhir kali.


Perjamuan tersebut berlangsung hingga tengah malam. Usai perjamuan, semua orang kembali ke kediaman masing-masing. Hanya tinggal beberapa orang yang masih mengobrol di jalan tersebut. Wei Linglong kemudian membawa Murong Yan ke sebuah restoran yang masih buka untuk membicarakan sesuatu.


“Pangeran, ayo tukar posisi!” ucapnya.


“Apa maksudmu?”


“Kita akan berangkat besok pagi. Aku tidak yakin masih bisa menjaga kepalaku jika aku tidak bertukar posisi denganmu.”


“Maksudmu, perjalanan kita tidak akan lancar?”


Pembicaraan itu menjadi serius. Murong Yan dan Wei Linglong sepakat untuk bertukar posisi. Besok pagi, Wei Linglong akan naik kereta Murong Yan dan pergi ke ibukota melalui jalan lain. Murong Yan akan menggunakan kereta Wei Linglong dan pergi ke ibukota melalui jalan resmi. Murong Yan membawa Kavaleri Huang, sementara Wei Linglong membawa pasukan rahasia milik Murong Qin bersamanya.


Dia yakin, di tengah perjalanan mereka pasti akan diserang. Jalan pulang kali ini tidak akan semulus itu dan semudah itu dilalui. Ibu Suri dan Permaisuri Yi pasti sudah menyiapkan jebakan agar dia tidak kembali ke istana. Kalau Wei Linglong tidak bermain trik, dia bisa mati. Dia tidak mau mati karena diserang pembunuh. Baginya, mati di medan perang itu lebih terhormat.


“Pangeran, apa kau tidak marah?”


“Untuk apa?”


“Aku bermusuhan dengan ibundamu. Apa kau merasa kau baik-baik saja?”


“Kakak ipar, jangankan marah. Aku sendiri pun sudah lelah. Kau tahu, ambisi ibundaku memang terlalu besar. Aku hanya ingin hidup dengan bebas. Sama sekali tidak menginginkan posisi Kaisar, apalagi merebut takhta kakakku.”


“Andai semua pangeran sepertimu. Mungkin, dunia ini akan damai.”


“Kakak ipar, dunia tidak akan pernah damai. Jika bukan karena orang sepertiku, masih akan ada orang lain yang hati dan pikirannya sempit.”


Entah mengapa, Wei Linglong dan Murong Yan malah hanyut dalam perbincangan mengenai kekuasaan dan takhta. Lewat perbincangan ini, Wei Linglong jadi tahu seperti apa sosok Murong Yan yang sebenarnya. Dia memang seorang pangeran yang bebas dan tidak ingin terikat. Pantas saja hubungannya dengan Murong Qin begitu baik, tidak seperti hubungan kaisar dengan saudara pangerannya dalam drama-drama.


“Kakak ipar, jangan terlalu formal denganku. Kau bisa memanggil namaku jika kau mau,” ucap Murong Yan.


“Ah Yan? Begitu?”


“Tidak buruk juga.”


Wei Linglong dan Murong Yan tertawa bersama. Di bawah cahaya bulan, dua saudara ipar itu menghabiskan waktu dengan berbincang santai layaknya teman lama.


***


“Apa kau sudah mengaturnya?”


Permaisuri Yi mengangguk sambil mengaduk tehnya. Di istananya, dia tengah berbincang bersama Ibu Suri. Kabar mengenai kepulangan Selir Chun dan pasukan sudah sampai ke telinganya, bahkan menjadi topik hangat di Istana Dalam. Para selir dan Nona Kekaisaran yang sebelumnya membenci Selir Chun kini berbalik mengaguminya.


Halaman Istana Dalam dipenuhi barang-barang berharga yang siap dipersembahkan untuk menyambut kepulangan Selir Chun. Hal tersebut membuat Permaisuri Yi geram. Dia ingin menghukum mereka, namun tidak bisa karena berita tentang Selir Chun adalah sebuah berita besar yang tidak bisa disangkal. Permaisuri Yi hanya bisa mengeluh kepada Ibu Suri.


Permaisuri Yi semakin membenci wanita itu. Kalau dia berhasil pulang esok hari, maka sudah dipastikan semua rencana yang dia susun bersama Ibu Suri gagal total. Wanita itu akan mendapatkan penghargaan, pujian dan juga kepercayaan banyak orang hingga akan sulit disentuh dan diganggu. Permaisuri Yi tidak ingin itu terjadi hingga dia menyiapkan kejutan untuk menyambut Selir Chun.


“Jika kali ini gagal, kita hanya bisa menunggu waktu,” ucap Ibu Suri. Ibu Suri tak kalah marah. Dia pikir rencananya akan berjalan mulus sampai tujuannya tercapai.


Wei Linglong adalah halangan terbesarnya. Dia seperti batu sandungan yang muncul kapan saja.


“Kita lihat saja, apakah Selir Chun bisa pulang dengan selamat atau tidak.”


Permaisuri Yi meneguk tehnya dengan santai. Orang-orang suruhannya memiliki kemampuan luar biasa, pasti bisa menghabisi Selir Chun dan mencegahnya pulang ke istana. Dia sangat berharap wanita itu musnah selamanya.


***