
Sebuah anak panah melesat, menancap di tiang Istana Yanxi. Sang pemilik istana yang kebetulan sedang di luar ruangan terkejut. Anak panah itu mengejutkan para pengawal hingga mereka memasang kuda-kuda, bersiap melindungi raja mereka. Ketika dia memperhatikannya, dia melihat sebuah kertas kecil terikat di batang anak panah itu. Dia mengangkat tangannya, meminta para pengawalnya untuk kembali menyarungkan pedang mereka.
Murong Qin langsung mencabutnya, lalu membuka ikatan kertas itu.
“Restoran Yumai, lantai dua.”
Murong Qin langsung mengganti bajunya. Wei Linglong keluar dari istana pagi-pagi sekali tanpa mengatakan ke mana dia akan pergi sampai Murong Qin khawatir. Wanita itu masih marah padanya soal Permaisuri Yi. Murong Qin sudah mengutus orang untuk mencarinya, tetapi dia menarik kembali perintahnya dan menunggu di sini dengan gelisah.
Pengirim surat panah itu pasti Adipati Jing atau anak buahnya. Tanpa ragu, Murong Qin langsung menuju tempat tersebut. Hari sudah malam, jalanan begitu lengang. Restoran Yumai yang dimaksud sedang ramai dikunjungi pelanggan. Di lantai dua, dia melihat bayangan Wei Shiji tengah duduk dengan tenang.
Pria itu naik ke lantai dua. Di meja di sudut ruangan, Wei Linglong tampak menyandarkan kepalanya ke meja. Wajah merah wanita itu cukup menjelaskan bahwa dia minum terlalu banyak. Di depannya, Wei Shiji menyambutnya dan memberi hormat.
“Apa dia mabuk?” tanya Murong Qin.
Wei Shiji mengangguk.
“Padahal dia hanya minum satu cangkir saja,” tambahnya.
“Apa sesuatu terjadi padanya tadi siang?” tanya Murong Qin.
“Adikku berkelahi dengan Tuan Muda Chen, Tuan Muda Nuo dan Tuan Muda Kong. Dia marah karena ketiga pemuda itu mengolok-oloknya dan menyinggung namamu. Long’er menghajar ketiga pemuda itu hingga babak belur. Ya, karena situasinya berubah, aku membawanya ke restoran ini,” jawab Wei Shiji.
“Maksudmu, pria yang dulu melarikan diri sebelum menikahinya?”
Wei Shiji mengangguk.
“Kalau Yang Mulia mau, kau bisa menghukum ketiga orang itu, mewakili adikku dan keluargaku yang telah dipermalukan sedemikian rupa. Ini sudah malam, Yang Mulia sebaiknya segera membawanya kembali ke istana.”
Murong Qin mengangkat tubuh mungil Wei Linglong, lalu membawanya turun. Setelah memposisikan diri, dia langsung membawanya kembali ke istana.
“Murong Qin, kamu brengsek!” gumam Wei Linglong ketika tubuhnya berada dalam gendongan Murong Qin.
“Aku brengsek? Lalu coba kau katakan seperti apa itu.”
“Kalian para pria tidak setia! Kau bilang kau menyukaiku, tapi kau tidak berani memberiku keyakinan. Murong Qin, apa kau sudah berpindah ke lain hati karena aku menolak dan mengabaikanmu? Apa kau sudah menyukai Permaisuri Yi milikmu itu?” Wei Linglong meracau tidak jelas dan memukul dada Murong Qin.
Pria itu hanya menanggapinya dengan senyuman. Murong Qin memeluknya dengan hangat. Di saat wanita ini memakinya dalam keadaan mabuk pun, Murong Qin tetap merasa kalau Wei Linglong sedang memarahinya seperti biasa. Justru dengan begini, Murong Qin semakin tahu bahwa perasaannya akan terbalas, perasaannya bukanlah perasaan sepihak.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di istana. Murong Qin hendak menidurkannya di kamar Istana Yanxi. Liu Ting yang melihat kaisar dan selirnya pulang langsung menanyakan apa yang terjadi.
“Yang Mulia, apa Nyonya Chun baik-baik saja?”
“Suasana hatinya sedang tidak baik, jadi dia pergi menghibur diri. Liu Ting, malam ini kau berjaga di luar, jangan biarkan siapapun masuk!”
“A-Ling, kau selalu membuatku khawatir. Apa kau tahu aku menunggumu dengan gelisah seharian ini?” ucap Murong Qin.
“Di hatimu jelas-jelas ada aku. Kau hanya belum mengenali perasaanmu sendiri. A-Ling, beri aku waktu sedikit lagi, aku akan membalas semua penindasan yang kau terima.”
Murong Qin membelai wajah cantik itu. Hanya ketika wania ini tertidur, dia bisa memandangi wajahnya sampai puas. Mata yang terpejam dengan bulu yang lentik sesekali terlihat berkedip. Alisnya melengkung sangat indah. Kulitnya sangat halus dan terawat. Bibir merah mudanya juga begitu ranum. Murong Qin tidak pernah bosan memandangnya setiap hari.
Entah keberanian yang muncul dari mana, Murong Qin mendekatkan wajahnya ke wajah Wei Linglong. Hidungnya yang mancung menyentuh hidung wanita itu. Kemudian, secara ajaib Murong Qin mencium bibir Wei Linglong sambil memejamkan mata.
Dia mengecupnya sekali, kemudian mengecupnya untuk yang kedua kali. Pada kecupannya yang kedua, tangan Wei Linglong tiba-tiba melingkar di lehernya, menekan pundaknya hingga wajah keduanya menempel. Murong Qin menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke tubuh Wei Linglong dengan kedua tangan hingga tampak seperti dia sedang mengurung tubuh Wei Linglong.
Perlahan, Murong Qin merasakan ada gerakan kecil di bibir yang kini menempel dengan bibirnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tidak disangka, Wei Linglong membalas ciumannya! Murong Qin tidak pedulia apakah ini nyata atau hanya mimpi, tetapi dia sangat bahagia. Murong Qin menggerakkan bibirnya, mencoba memberikan kenyamanan pada Wei Linglong.
Kecupan itu berubah menjadi ciuman yang agak liar. Keduanya saling memagut satu sama lain, menjelajahi ruang hampa yang selama ini belum pernah dikunjungi siapapun. Rasanya begitu manis seperti gula. Pergulatan bibir itu menimbulkan beberapa suara aneh yang tertahan di tenggorokan keduanya.
Tubuh Murong Qin ditarik hingga jatuh menimpa tubuh Wei Linglong. Tangan pria itu bergerak secara otomatis ke belakang kepala Wei Linglong, lalu beralih memegang wajah wanita itu. Pergulatan yang semakin panas menimbulkan desiran aneh di tubuh Murong Qin.
Darah prianya bergejolak. Murong Qin begitu menyukai Wei Linglong, dia tidak ingin kehilangan wanita ini. Desiran itu semakin lama semakin terasa menyiksa. Murong Qin dan Wei Linglong masih terus saling memagut, masih saling mencari kedalaman perasaan lewat sapuan bibir yang semakin lama semakin liar. Gigitan-gigitan kecil terasa, namun tidak mempengaruhi apapun.
Malam begitu larut. Musim panas menimpa tubuh kedua insan itu. Namun, ketika jubah Murong Qin terlepas di tengah pergulatan mereka, dia tiba-tiba membuka matanya. Butuh beberapa detik untuk menormalkan akal sehatnya. Murong Qin kemudian melepaskan ciuman mereka, lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Wei Linglong
“Tidak bisa! Aku tidak boleh seperti ini!” gumam Murong Qin.
“Aku menyukainya dengan tulus. Aku menghormatinya. Aku tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Jika aku melakukannya, dia akan semakin jauh hingga tidak bisa kugapai lagi.”
Murong Qin membetulkan posisi tubuhnya. Pria itu kembali duduk di pinggir ranjang. Ada perasaan bersalah menyelimutinya. Dia benar-benar tidak bisa melakukan hal itu. Dia tidak boleh melakukannya dengan cara seperti ini.
“Meskipun aku sangat menginginkannya, aku tidak boleh memanfaatkan dia dalam keadaan seperti ini. Aku tidak boleh mengambil keuntungan yang membuatnya rugi seumur hidup.”
Murong Qin terus menerus mengingatkan dirinya sendiri. Dia merasa kalau tindakannya tadi sudah kelewat batas. Murong Qin sama sekali tidak berniat melakukan sesuatu yang di luar kesadaran, entah itu kesadarannya atau di luar kesadaran siapapun. Dia tidak bisa membayangkan betapa marahnya wanita ini jika mereka melakukan sesuatu malam ini.
Mencintai memang boleh, tetapi memaksakan sesuatu untuk mencapai cinta itu tidak boleh. Murong Qin tahu betul kalau dirinya tidak boleh menyakiti wanita ini. Dia sudah berikrar bahwa dia akan menunggu sampai Wei Linglong bersedia membalas perasaannya. Jadi, hubungan yang seperti itu harus ditunda dulu.
Melakukannya di saat seperti ini hanya akan membuat Murong Qin menerima gelar baru sebagai kaisar cabul.
“A-Ling, kau harus bertanggungjawab padaku. Kelak, jika kau sudah berhasil mengenali hatimu sendiri, kau harus menebus semua hal yang kita lewatkan. Kau harus memberiku kompensasi karena kau begitu menyiksaku malam ini,” ucap Murong Qin pelan.
Pria itu membelai wajah Wei Linglong lagi. Dia menggeser tubuhnya ke samping, menyisakan ruang untuknya sendiri.
...***...